
Mereka berdua lalu bersiap - siap untuk berangkat ke kantor masing - masing, dan Liam mengantarkan Jane ke kantornya terlebih dahulu karena dirinya memaksa agar Jane mau menerima tawarannya. Sesampainya di kantor Robinson Group Liam kemudian berjalan menuju ruangannya, tetapi sebelum masuk ke ruangannya Liam berhenti di depan meja milik Yunna untuk menyapanya dan memberi bingkisan buah tangan untuk Yunna. Setelah itu Liam baru masuk ke dalam ruangannya dan duduk di kursinya. Tidak berselang lama Yunna lalu masuk ke dalam ruangan Liam untuk memberitahu jadwal Liam hari ini dan memberikan berkas - berkas dokumen yang harus di tandatangani olehnya. Liam membaca sebentar berkas - berkas dokumen tersebut sebelum dia menandatanganinya untuk memastikan bahwa tidak akan terjadi kesalahan di dokumen tersebut karena Liam orangnya sedikit perfeksionis apalagi dalam hal pekerjaan.
Selesai menandatangani berkas dokumen tersebut Yunna kemudian memberikan dokumen lain yang harus dipelajari sebagai bahan rapat nanti. Setelah mengambil berkas dokumen yang sudah ditandatangani oleh Liam, Yunna kemudian meminta izin untuk kembali ke ruangannya dan melanjutkan pekerjaannya. Liam kembali mempelajari berkas dokumen bahan rapat nanti, dan setelah selesai membaca berkas dokumen tadi Liam kemudian meletakannya di atas meja. Liam lalu menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi dan menarik nafasnya panjang. Liam berfikir jika dahulu dirinya memiliki niat hanya ingin bercanda kepada Jane, namun tiba - tiba setelah melihat perlakuan Jane kepadanya Liam menjadi suka kepada Jane bahkan ingin menikahinya karena sudah merasa nyaman kepadanya. Dibalik wajahnya yang terlihat sangat judes, ternyata Jane adalah wanita yang sangat baik dan penuh perhatian. Orang - orang akan mengira jika Jane adalah wanita kota yang bersikap sangat cuek namun ternyata itu berbanding terbalik dari pemikiran orang lain yang belum sepenuhnya mengenal dirinya lebih dekat.
Jane adalah wanita yang baik hati, ceria dan selalu tulus dalam berbuat sehingga membuat Liam dengan mudah jatuh cinta kepadanya. Liam berjanji kepada dirinya sendiri bahwa dia tidak akan menyerah untuk meluluhkan hati Jane sehingga Jane mau menerima ajakannya untuk menikah. Bagaimana tentang Nat? entahlah Liam juga bingung sekarang, mungkin karena sudah terlalu lama menjalin hubungan persahabatan jadi Liam memilih untuk tetap menganggap Nat sebagai sahabatnya saja. Lagipula menurut bisikan hatinya, dia lebih memilih Jane daripada Nat karena setiap menatap Jane jantung Liam berdegup lebih kencang dari biasanya. Liam masih melamunkan hal tersebut hingga dia tidak menyadari jika Yunna sudah berdiri di depannya. Seketika lamunan Liam menjadi buyar ketika Yunna menepuk bahunya karena sedari tadi Liam tidak merespon ketika Yunna memanggilnya.
"Apakah sudah akan dimulai rapatnya?" tanya Liam.
"Belum, masih 30 menit lagi."
"Lalu?"
"Ah saya tadi melihat dari luar jika anda sedang terlihat bingung, jadi saya menghampiri ruangan anda karena saya kira anda sedang kebingungan tentang dokumen yang sedang anda pelajari."
"Tidak kok, semua dokumen ini sudah selesai aku pelajari dari tadi dan aku hanya sedang melamunkan hal lain saja."
Yunna merasa kagum "benarkah? anda sudah selesai mempelajari semua tumpukan dokumen ini dari tadi?"
"Iya, memangnya kenapa?"
"Saya hanya merasa kagum saja kepada anda karena sudah mempelajari semua tumpukan dokumen ini dengan cepat tanpa membutuhkan waktu yang lama."
"Ah itu hanya biasa saja, tidak perlu kagum sampai segitunya."
"Hahaha baiklah."
"Aku ingin bertanya kepadamu."
"Apa?"
"Duduklah!"
"Baik." Yunna lalu duduk di depan Liam.
"Kamu kan seorang wanita, lalu bagaimana caranya agar meluluhkan hati seorang wanita menurut pandanganmu?"
Yunna berfikir sejenak "menurut pandangan saya, anda harus memberi perhatian yang lebih kepadanya dan juga memperlihatkan kepadanya bahwa dia itu sangat spesial dimata anda."
"Oh begitu," ucap Liam mengangguk sembari memegang dagunya.
__ADS_1
"Tetapi anda juga jangan memberinya perhatian yang berlebih, maksud saya sewajarnya saja."
"Iya aku paham, lalu?"
"Hanya itu saja yang saya tau sih."
"Ah kamu ini."
"Oh iya, dan anda juga harus memberi perhatian dalam hal - hal kecil contohnya seperti membukakan tutup botol ketika dia kesulitan untuk membukanya lalu membawakan tasnya."
"Itu mau jadi bodyguardnya atau jadi pacarnya?"
"Ya sudah terserah anda saja jika ingin menerima saran dari saya atau tidak."
"Begitu aja langsung mengambek."
"Saya tidak ngambek. Eh tetapi apakah anda sudah mempunyai hubungan dengan nona Jane?"
"Belum, maka dari itu aku bertanya kepadamu bagaimana caranya untuk meluluhkan hatinya karena dia belum kunjung menerima lamaranku."
Yunna langsung terkejut mendengar ucapan dari Liam tersebut "lamaran?"
"Anda pasti tau sendiri kan jika pernikahan itu bukanlah hal yang main - main, jadi dia mungkin harus mempertimbangkannya secara matang - matang apalagi dia juga seorang model yang terkenal."
"Iya aku tau," ucap Liam lesu.
"Walaupun begitu anda tidak boleh menyerah begitu saja jika benar - benar mencintainya."
"Iya kamu benar."
"Ya sudah mari kita pergi untuk rapat."
"Baiklah. Nanti bisa temani aku untuk ke toko furniture sepulang kerja kan?"
"Bisa."
Liam dan Yunna lalu berjalan bersama menuju ruang rapat. Beberapa jam kemudian rapat telah selesai dan Liam lalu bergegas pergi untuk makan siang bersama dengan Jane karena sebelumnya mereka berdua sudah memiliki janji untuk makan siang bersama. Selama makan siang Liam hanya diam saja memperhatikan dan mendengarkan Jane yang sedang bercerita mengenai banyak hal. Saat itu Liam sedang tidak ingin untuk banyak bicara seperti biasanya karena dia merasa sedikit lelah setelah selesai rapat tadi. Semua fikirannya sudah terkuras untuk mempelajari berkas - berkas dokumen bahan rapat tadi, jadi dia memilih untuk diam karena dia takut jika akan melukai perasaan Jane saat dia berbicara dalam keadaan lelah apalagi jika sudah terbawa emosi. Jane yang menyadari jika Liam tidak seperti biasanya lalu bertanya kepadanya untuk memastikan bahwa Liam baik - baik saja.
"Kenapa sedari tadi diam saja?"
__ADS_1
"Tidak apa - apa aku hanya sedang lelah saja," ucapnya disertai dengan senyuman tipis di bibirnya.
"Oh begitu, maaf ya jika aku terkesan memaksamu untuk pergi makan siang denganku."
"Aku tidak merasa jika kamu memaksaku, aku hanya ingin datang dengan kemauanku sendiri karena siapa tau rasa lelahku ini akan hilang setelah melihat senyumanmu."
"Kamu ini, masih sempat - sempatnya berbicara seperti itu saat sedang lelah."
"Ya tidak apa - apa."
"Nanti kamu akan pulang ke rumah atau apartement?"
"Belum tau, tetapi nanti sepulang kerja aku ingin pergi bersama sekretarisku ke toko furniture."
"Untuk apa?"
"Untuk membeli sembako," ucap Liam bercanda.
"Tidak ada sembako di toko furniture."
"Sudah tau kalau pergi ke toko furniture itu untuk membeli furniture, kenapa kamu masih tanya juga untuk apa."
"Ya kan aku hanya ingin tau saja, siapa tau kamu pergi kesana berniat untuk investasi."
"Tidak, aku ingin melihat dan membeli untuk calon rumah baruku."
"Wah, besok kamu harus mengundangku saat pesta rumah baru."
"Aku bukan hanya mengundangmu, tetapi aku berniat untuk menjadikan kamu sebagai ratu di rumah baruku nanti."
Jane merasa terkejut "apa?"
"Ya, aku tetap menginginkan kamu untuk menjadi istriku dan ratuku di rumah baruku itu."
"Tetapi sekali lagi aku meminta maaf Liam, aku belum bisa memberimu kepastian tentang hal itu."
"Tenang saja aku akan tetap menunggu jawabanmu itu."
"Tapi Li?"
__ADS_1
"Sudah, sekarang mari kita kembali ke kantor."