Chicken VS Kitten

Chicken VS Kitten
CknVSKtn #214


__ADS_3

Tangan Liam kemudian beralih menyentuh pipi Jane serta mengusapnya. Setelah itu Liam menatap Jane sangat dalam dan kembali mencium bibirnya dengan lembut. Tangan Liam mulai bergerilya menyentuh setiap inchi bagian tubuh Jane, sedangkan Jane hanya terdiam sembari menikmati sentuhan dari jari jemari Liam. Tidak lama setelah itu Liam mengambil remote lalu mematikan semua lampu di rooftop rumahnya dan hanya diterangi oleh sinar bulan purnama pada malam itu. Liam juga memutar lagu jazz sebagai pemanis suasana hahaha asek. Liam sudah tidak tahan lagi dan dia langsung menggendong Jane menuju ke sofa yang berada di rooftop tersebut, lalu bercinta dengannya. Tiba - tiba saja telepon milik Jane berdering saat mereka berdua sedang asyik bercinta. Jane lalu mengusap pipi Liam untuk memberi tanda bahwa dia ingin mengangkat telepon tersebut, dan Liam kembali masuk ke dalam jacuzzi sembari mengumpat.


Liam merasa sangat kesal sekali karena ada saja pengganggu saat dirinya sedang sangat menginginkan Jane. Liam menyandarkan kepalanya di tepi jacuzzi dan menyantaikan tubuhnya sebentar saat nafsunya sedang berada di puncak sembari mengusap dahinya. Karena dirinya merasa haus, Liam lalu berjalan mengambil sebotol alkohol di mini barnya dan dia kembali berendam di jacuzzi sembari meminum segelas wine. Liam terus meminum alkohol itu sembari menatap istrinya yang sedang sibuk bertelepon di tepi rooftop. Semakin dilihat semakin membuat Liam kesal, apalagi istrinya itu bertelepon dengan durasi yang lumayan lama sembari bercanda ria dengan lawan bicaranya di telepon. 30 menit kemudian Jane kembali menghampiri Liam dan duduk di depannya sembari menyandarkan kepalanya di dada Liam yang bidang itu. Liam hanya diam saja dan terus meminum alkohol hingga matanya mulai memerah. Menyadari jika suaminya hanya diam tanpa mengeluarkan sepatah kata apapun dan lebih memilih menenggak alkoholnya itu, Jane membalikkan tubuhnya lalu mengambil botol alkohol itu dari tangan suaminya.


"Kita kan sudah sepakat untuk tidak meminum alkohol malam ini," ucap Jane mengusap pipi Liam.


"Kesepakatan kita berakhir saat kamu lebih memilih untuk pergi mengangkat telepon ditengah - tengah kita sedang bercinta."


"Maaf, tadi itu telepon penting hubby."


"Oh jadi aku tidak penting, begitu? okay."


"Bukan begitu hubby, kamu juga sama pentingnya bahkan lebih penting namun...."


"Namun apa?" tanya Liam mulai menaikkan nada bicaranya.


"Ada sesuatu hal yang harus aku selesaikan."


"Sudahlah, memang lebih baik aku tadi tetap berada di cafe bersama teman - temanku."


Jane kembali mengusap pipi Liam "sepertinya kamu sudah mulai mabuk hubby, ayo kita pergi ke kamar saja untuk tidur."


"DIAMLAH!!" teriak Liam.


Jane tertunduk takut "hu-hubby, maaf."


Liam merasa jika emosi mulai menguasai tubuhnya, sehingga dia pergi mengambil bajunya di sofa "lebih baik kamu tidur saja dan jangan menungguku."


"Hubby ingin pergi kemana? ini sudah larut malam."


"Bermain game dibawah."


Selesai memakai semua bajunya, Liam kemudian pergi meninggalkan Jane dan pergi ke ruangan pribadinya. Liam melakukan itu semua hanya semata - mata agar tidak ada kejadian atau hal - hal yang tidak diinginkan terjadi, apalagi saat ini emosi sedang menguasainya. Liam lalu bermain game untuk melampiaskan semua rasa kesalnya serta amarahnya, karena dia tidak ingin jika tanpa sadar dia tiba - tiba melukai Jane. Keesokan harinya saat bangun dari tidurnya, Jane lalu meraba di sampingnya dan berharap Liam sedang tertidur disana. Namun saat dia membuka matanya ternyata Liam tidak berada di sampingnya dan bahkan ranjang itu masih dingin, yang artinya Liam tidak tidur disana semalam. Dengan masih memakai piyamanya, Jane kemudian turun dan pergi ke ruangan pribadi suaminya dan betapa terkejutnya Jane saat melihat suaminya itu masih sibuk menatap layar komputernya bermain game.


"Hubby, kamu semalam tidak tidur?"


"Apa urusanmu menanyakan hal itu?" tanya Liam ketus.

__ADS_1


Jane menghampiri Liam "kalau kamu tidak tidur semalaman, nanti kamu akan sakit hubby."


"Bodo amat."


"Hubby kumohon jangan seperti ini, maaf aku salah."


"Diam, aku sedang sibuk!" ucapnya memperingatkan Jane.


"Ka-kalau begitu a-aku buatkan kamu sarapan sebentar, lalu habis itu kamu tidur saja."


"Terserah," ucapnya dingin.


Jane lalu berlari ke dapur dan membuat sarapan untuk Liam. Namun tiba - tiba saja tangan Jane tergores pisau saat dia sedang memotong daging sehingga membuatnya meringis kesakitan, dan hampir menangis. Liam yang melihatnya dari jauh, dia langsung menghampiri Jane dan memegang jari Jane yang masih mengeluarkan darah walaupun sudah dicuci dengan air mengalir.


"Sudah kubilang jangan ceroboh masih saja ceroboh," ucapnya sedikit berteriak lalu dia mengulum tangan Jane agar darahnya bisa berhenti mengalir sehingga dia bisa memberinya obat merah.


"Maaf," ucap Jane hampir menangis.


Liam lalu meludah di wastafle dan membilas jari Jane dengan air bersih "kalau sudah seperti ini aku juga yang repot."


Liam lalu pergi mengambil kotak P3K dan mengulurkan tangannya "kemarikan jarimu!!"


"A-aku bisa sendiri kok."


Liam berdecak "ck kemarikan, memangnya kamu mau jarimu ini diamputasi karena infeksi heum?"


Jane menggeleng sembari masih menangis "hiks tidak."


"Maka dari itu, turuti saja apa kataku."


Jane lalu mengulurkan tangannya dan Liam langsung mengobatinya dengan obat merah terlebih dahulu sembari meniup - niup jari Jane yang tergores pisau itu. Setelah itu baru Liam membalutnya dengan handsaplast bergambar dinosaurus.


"Sudah selesai, sekarang duduklah dan aku yang akan memasak sarapan."


"Tapi hubby."


"Tidak ada tapi - tapian, turuti saja ucapanku dan duduklah dengan tenang."

__ADS_1


"Iya hubby."


Liam menghela nafasnya, lalu dia mengambil tissue dan mengusap air mata Jane "sudah jangan menangis."


Jane mengangguk "i-iya."


Tidak lama kemudian Liam telah selesai memasak dan sedang menyajikan hidangannya di atas meja makan "ini sarapan yang rendah kalori namun tetap menyehatkan, makanlah!"


"Terima kasih."


"Aku tau kamu pasti sedang menjaga berat badanmu agar tetap terlihat bagus dan aku tidak ingin kamu diet ketat yang bisa menyiksa tubuhmu sendiri, maka dari itu aku membuat sarapan ini. Tenang saja, ini sangat lezat."


"Iya terima kasih hubby." Jane lalu mencicipi sarapan yang dibuat oleh Liam.


"Bagaimana rasanya?" tanya Liam sembari mengunyah makanannya.


Jane tersenyum "sangat lezat."


"Aku akan selalu membuatkan kamu makanan yang rendah kalori dan sangat lezat agar kamu tidak perlu diet secara ketat."


"Eh tidak perlu terlalu sering."


"Kenapa?"


"Aku hanya tidak ingin merepotkan kamu."


Liam menghela nafasnya "apa karena ucapanku tadi?"


"I-iya."


"Aku minta maaf, aku tidak berniat untuk berkata seperti itu karena itu hanya ucapan sesaatku saat sedang emosi."


"Tidak apa - apa, lagipula besok minggu depan kamu akan mulai sibuk bekerja lagi dan pasti setelah pulang kerja kamu akan lelah sehingga tidak ada waktu untuk memasakkan aku."


"Kita lihat saja kedepannya bagimana."


"Baik hubby."

__ADS_1


__ADS_2