
Liam lalu tidur meringkuk dengan posisi miring ke kanan dan membelakangi Jane karena dia masih malas dengan Jane, sedangkan Jane hanya bisa tersenyum melihat tingkah suaminya yang kekanakan itu. Jane tahu jika suaminya itu sedang mengambek kepadanya karena merasa cemburu saat semalam dia berpura - pura pergi menginap ke rumah temannya yang merupakan seorang pria lain, padahal sebenarnya semalam Jane tidur di kamar sebelah. Di dalam hati Jane, dia semakin menertawakan suaminya itu dikala dirinya harus menghadapi sikap manja yang semakin dia tunjukkan saat sedang sakit. Saat Jane sedang mandi sebentar, tiba - tiba saja dia di telepon oleh Liam melalui telepon rumah untuk memintanya segera menyelesaikan kegiatannya itu.
Beberapa kali Liam menghubungi Jane saat dirinya sedang mandi, dan terus seperti itu saat Jane mematikan teleponnya sebelum dia selesai berbicara. Semakin lama Jane semakin geram dengan Liam hingga dirinya memutuskan untuk mencabut atau mematikan telepon tersebut agar Liam tidak mengganggunya saat sedang mandi, hal itu juga membuat Jane semakin berlama - lama di kamar mandi untuk mengerjai Liam yang berubah menjadi seorang pria pengganggu. 45 menit kemudian Jane yang baru selesai mandi serta berpakaian, dia lalu membuka gorden yang berada di kamar utama. Jane tidak memperdulikan Liam yang sedang menggerutu sembari melihatnya membuka gorden jendela. Setelah itu di duduk di tepi ranjang sembari nenyilangkan kakinya dan mencium pipi Liam yang sedang berbaring membelakanginya.
"Ingin makan apa untuk sarapan?" tanya Jane sembari mengusap rambutnya.
"Malas."
"Kok begitu? nanti sakitnya tidak akan sembuh lho kalau kamu tidak mau makan."
"Biarin saja, waktu itu kamu juga berkata seperti itu saat sedang ngambek kepadaku."
"Oh jadi ceritanya sedang balas dendam ya?"
"Fikir saja sendiri."
"Mau aku buatkan bubur untuk sarapan?"
"Bubur apa?"
"Bubur ayam yang putih - putih itu."
"Tidak mau!!"
"Ya sudah, kalau begitu apa maumu heum?"
"Bubur bayi yang rasa beras merah."
Jane lalu tertawa karena mendengar permintaan Liam yang aneh itu hingga membuat Liam memanyunkan bibirnya.
"Ya sudah kalau tidak mau membuatkan, tidak perlu makan saja kan lebih mudah."
"Iya tunggu sebentar, aku akan membuatkannya untukmu."
"Hmmm."
"Setelah ini minum obat juga ya?"
"Tidak mau, tidak suka obat."
"Nanti tidak akan sembuh sayang."
"Biarin biar lebih cepat mati, bukankah kamu akan merasa senang jika aku tidak ada? maka kamu akan bisa terus menginap di rumah temanmu seperti semalam."
Jane tertawa.
"Eh tidak boleh berkata seperti itu, tidak baik hubby."
__ADS_1
"Biarin."
"Aku tinggal sebentar untuk membuatkan kamu sarapan serta mengambilkan obat untukmu."
"Hmm pergi saja yang jauh."
Jane kemudian pergi meninggalkan Liam terbaring sendirian di kamarnya untuk membuat sarapan untuk Liam. Sesampainya di dapur, Jane meminta tolong Pak Kang pergi ke warung sebentar untuk membelikan bubur bayi rasa beras merah yang merupakan permintaan dari Liam. Sembari menunggu Pak Kang pulang dari warung, Jane lalu sarapan terlebih dahulu untuk mengisi energi di tubuhnya karena dia tahu bahwa nanti dia akan menghadapi permintaan Liam aneh - aneh. Tidak lama kemudian Pak Kang kembali ke rumah dan memberika pesanan Jane tadi. Lalu setelah itu dia kembali ke kamar setelah membuatkan Liam bubur bayi rasa beras merah serta membawa obat paracetamol. Sesampainya di kamar ternyata Liam malah tertidur dan dia merasa iba kepada suaminya setelah menatap wajah polosnya ketika sedang tertidur.
"Hubby," ucap Jane membangunkan Liam.
"Nggg."
"Ayo sarapan dulu, aku sudah membuatkan bubur beras merah sesuai keinginanmu."
"Oh ya," ucap Liam saat duduk, dan kemudian di bantu oleh Jane.
"Keinginanmu seperti ini bukan?"
Liam mengangguk.
"Iya," jawabnya singkat.
Jane kemudian menyuapi Liam bubur tersebut sedikit demi sedikit.
"Setelah ini minum obat dan istirahat."
"Kamu bisa sakit begini pasti karena kelelahan, atau bisa saja kamu masuk angin karena mandi malam - malam."
Sniff!! Sniff!! Hidung Liam tiba - tiba pilek.
"Sini dibersihkan dulu," ucap Jane sembari mengusap hidung Liam yang pilek.
"Kenapa rasanya menjadi pahit sih," gumam Liam.
"Itu karena kamu sedang sakit."
"Biasanya tidak sampai seperti ini. Mmmm apakah kamu tidak ada jadwal pemotretan?"
"Hari ini sedang tidak ada, mungkin besok baru ada syuting untuk iklan produk kecantikan."
"Oh, setelah ini aku akan mandi saja."
"Memangnya tidak apa - apa, atau mau di basuh menggunakan air hangat dan memakai kain saja bagaimana?"
"Tidak perlu, aku akan mandi seperti biasanya saja."
"Oh baiklah."
__ADS_1
Uhuk!! Uhuk!! Liam kembali batuk.
Dengan cepat Jane langsung mengambilkan segelas air di atas meja.
"Ini minum dulu hubby."
Liam langsung minum dan dia kembali melanjutkan memakan buburnya sampai habis, lalu setelah itu dia meminum obat agar cepat sembuh. Jane kemudian menyingkirkan gelas serta mangkuk itu dan dibawa ke dapur, sedangkan Liam pergi mandi. Setelah itu dia kembali naik ke atas ranjang karena kepalanya sudah terasa pusing. Jane lalu menyelimuti tubuh Liam dan mengusap kepalanya dengan lembut agar rasa pusingnya hilang. Liam yang terlanjur merasa nyaman kemudian dia langsung tertidur sembari memeluk Jane.
Tiba - tiba saja handphone Jane berdering yang ternyata dari managernya yang meminta Jane untuk segera ke studio karena syuting akan segera dimulai. Sontak hal itu membuat Jane terkejut lantaran di jadwal sudah tertulis bahwa jadwal syutingnya besok, dan setelah berdebat panjang ternyata photografernya yang meminta untuk dimajukan syutingnya. Mendengar suara bising dari balcony kamarnya, Liam lalu terbangun dari tidurnya dan ternyata suara bising itu berasal dari perdebatan antara Jane dengan seseorang yang sedang bertelepon dengannya.
"Ada apa?" tanya Liam mendekati Jane.
"Eh hubby, tidak ada apa - apa kok."
"Apa jadwalmu dimajukan?"
Jane mengehela nafasnya kasar.
"Iya hubby."
"Pergilah ke studio."
"Aku tidak bisa hubby."
"Kenapa? apa karena aku sedang sakit?"
Jane mengangguk.
"Iya, aku tidak bisa meninggalkan kamu saat kondisimu sedang sakit seperti ini."
"Tidak apa - apa, lagipula aku hanya sakit biasa kok dan bukan sedang sakit keras santai saja."
"Baiklah, nanti kalau ada apa - apa atau membutuhkan sesuatu tinggal telepon aku saja okay?"
"Siap ibu boss, ya sudah sana bersiap - siaplah."
"Okay."
Jane kemudian pergi untuk bersiap - siap, sedangkan Liam memilih untuk duduk di balcony kamarnya sembari berjemur. Liam merasa bahwa jika dia hanya terus tidur saat sedang sakit justru sembuhnya akan semakin lama, berbeda saat sedang sakit dia memilih beraktivitas ringan maka sembuhnya akan semakin cepat. Tidak lama kemudian Jane yang sudah selesai bersiap - siap, kemudian dia menghampiri Liam yang tengah duduk di balcony kamarnya.
"Tidak apa - apa aku tinggal?" tanya Jane sekali lagi.
"Iya santai saja, besok aku pasti akan langsung sembuh."
"Kalau begitu aku pergi dulu," ucap Jane sembari mencium bibir Liam sekilas.
"Iya hati - hati dijalan."
__ADS_1
"Okay hubby."