
Jevin menatap karyawan tersebut bingung. "Tentu saja saya pernah pacaran. Memangnya ada hubungannya saya pernah pacaran atau tidak dengan lia?." Tanya xing bingung.
Karyawan tersebut menghela nafasnya dan menatap jevin malas. "Pak, sangat terlihat jika lia merasa tidak nyaman saat dekat dengan anda. Apa lagi kemarin anda sangat agresif sekali, pelan-pelan lembut gitu dekatinya. Jangan asal nubruk gitu." Jelas karyawan tersebut.
"Saya hanya tidak ingin kedahuluan orang lain." Ucap xing tak mau kalah dengan argumen dari karyawannya itu.
"Memangnya bapak suka dengan gadis yang agresif?." Tanya karyawan tersebut datar.
Jevin menegang saat baru sadar dengan apa yang di katakan oleh karyawannya tersebut.
'Benar juga, tidak ada yang mau memiliki pasangan yang agresif.' Batin jevin.
Dia menengok menatap sammy, seakan menanyakan apakah benar dengan apa yang di katakan oleh karyawannya tersebut.
Sammy menganggukkan kepalanya. "Dia mungkin benar boss. Tidak ada orang yang mau memiliki pasangan yang agresif boss. Dan apa yang sudah anda lakukan kemarin itu terlalu terburu-buru dan agresif." Ucap sammy tak enak hati. Bagaimana pun dia tengah berbicara kepada bossnya, meski mereka telah bersahabat sangat lama.
"Pak boss, kalau memang anda yakin lia adalah jodoh anda. Berdoa berserah diri kepada tuhan, dia yang memiliki lia, dia pula yang tahu apa yang terbaik baginya. Jadi anda cukup berdoa kepada tuhan untuk menjaganya agar kelak saat kalian di takdirkan untuk bersatu kalian berada dalam keadaan yang baik." Sahut karyawan tersebut memberi nasihat kepada jevin.
"Ingat pak jangan maksa, jangan agresif. Dan satu lagi pak, lia pasti akan menjawab atau menanggapi segala yang anda lakukan karena anda bossnya, jadi dia takut di pecat." Lanjut karyawan tersebut.
Jevin tersenyum tipis dan menganggukan kepalanya. Setelah itu jevin berjalan ke ruangannya dengan di ikuti sammy di belakangnya.
'Cinta ternyata merubah segalanya.' Batin sammy.
Dia benar-benar tak habis fikir dengan jevin, bisa-bisanya dia yang biasanya mendekati banyak gadis dengan mudah sekarang malah di buat jadi bodoh seperti itu.
"Kenapa aku tidak pernah terfikirkan. Benar juga dia pasti terpaksa membalas segala yang aku lakukan karena takut di pecat. Ishh kenapa aku bisa bodoh dan tidak peka seperti ini." Gumam jevin merutuki kebodohannya sendiri.
Sammy yang mendengar gumaman jevin pun hanya bisa geleng-geleng kepala.
'Makanya kerja yang benar dulu boss baru mikir jodoh.' Teriak sammy dalam hati. Ingin sekali dia meneriakinya, tapi apa daya dia tidak berani berbicara seperti itu, masih sayang pekerjaan.
"Tidak usah aneh-aneh sam. Saya bisa tahu apa isi hatimu." Ucap jevin dingin.
__ADS_1
Sammy mematung, dia menatap jevin dengan tatapan yang tidak percaya.
'Apa dia cenayang ya.' Batin sammy.
"Saya bukan cenayang sam." Ucap jevin.
Sammy menahan napas saat lagi-lagi jevin mengetahui isi hatinya.
"**.. Tidak boss. Saya tidak mengatakan apa-apa." Ucap sammy gugup.
"Baguslah kalau begitu. Kerja yang benar!." Ucap jevin datar, dia lalu berjalan dengan cepat ke arah kantornya.
'Kamu pikir saya tidak tahu apa yang kamu pikirkan. Terlihat jelas dari wajahmu samny.' Batin jevin.
Sammy bernafas lega saat jevin berlalu dengan cepat dari hadapannya.
"Kok dia bisa tahu ya." Gumam sammy bingung sekaligus bergidik ngeri.
"Aku harus berhati-hati kalau di dekatnya. Tidak baik untuk kesehatan jantungku."
***
Di lain sisi lia hanya bisa menatap bunga yang ada di tangannya dengan tatapan yang sulit di artikan.
'Ya allah jika memang dia jodohku, tolong jaga dia sampai saat itu tiba. Berikan petunjukmu ya allah, hamba tidak ingin terlalu banyak berharap.' Batin lia berdoa agar dia menjaga jevin jika memang dia jodoh yang telah di siapkan untuknya.
"Kenapa malah bengong sih? Harusnya senang dong kalau dapat bunga dari pak jevin. Ngelamunin apa hmm." Viona tiba-tiba datang hingga mengejutkan lia.
Lia mendelik menatap viona tajam. "Loe itu bisa tidak sih tidak kayak jin. Tiba-tiba datang tanpa di undang." Omel lia kesal dengan kelakuan sahabatnya itu.
"Hehe.. Maaf li, lagian aku tadi sudah memanggilmu tapi kamu tidak mendengar sih. Lagi pula ngapain kamu bengong kayak gini hmm." Kekeh viona.
Lia memandang viona dengan malas. "Tidak apa-apa, hanya berdoa saja jika memang pak jevin jodohku tolong jaga dia sampai saat itu tiba." Jawab lia lembut.
__ADS_1
Viona terbelalak menatap lia ngeri. "Kok loe berdoanya kayak gitu sih li. Harusnya tuh ya berdoanya kalau kita memang berjodoh dekatkanlah, tapi kalau memang dia bukan jodohku jauhkanlah. Gitu dong, kamu doanya setengah-setengah, salah lagi." Cerocos viona yang tak suka dengan doa lia.
"Salah bagaimana?." Tanya lia bingung.
"Ya iyalah, kalau tidak dekat bagaimana kita tahu caranya untuk memantapkan hati kita kalau memang dia adalah jodoh kita. Kita juga butuh masa pengenalan lia." Jawab viona gemas sendiri.
"Viona aku memang bukan orang yang religius, aku belum memakai jilbab. Tapi aku tahu jika kita sebagai manusia hanyalah titipan. Aku berdoa agar pak jevin menjaganya, menjaga kesehatannya, menjaga hatinya, menjaga komitmennya, menjaga kesehatannya, menjag dia agar selalu baik-baik saja. Allah maha besar dan maha tahu, dia yang menjaga seluruh dunia. Dan kita hanya bisa berpasrah diri menjadi yang lebih baik, dia tahu segala yang terbaik bagi makhluknya, termasuk kita manusia." Jawab lia memberi penjelasan kepada viona.
Viona menatap lia dengan kagum. Tidak pernah terpikirkan baginya untuk berpikir sedewasa itu. Terkadang dia tidak sadar jika dia sedang berbicara dengan orang yang usianya bahkan lebih muda darinya.
"Aku hanya berpikir sama dengan orang lain. Rata-rata dari kita, kita selalu berdoa seperti itu. Padahal tuhanlah yang maha tahu. Berdoa seperti itu hanya memaksakan kehendak." Ucap viona.
"Iya, tidak salah jika kita berdoa seperti itu. Tapi nanti kita hanya akan kecewa saat doa itu tidak terkabul. Mendekatkan atau menjauhkan seseorang itu seperti kita memutus tali silaturahmi. Maksudku, kita dekat dan suka dengan seseorang sehingga kita berdoa seperti itu, tapi bagaimana jika dia bukan jodoh kita dan tuhan mengabulkan agar orang itu menjauh dari kita. Bukankah hanya rasa kecewa yang akan kita dapat." Ucap lia dengan lembut.
Viona tersenyum tipis. "Aku tidak pernah berpikir sejauh itu dari dampak suatu doa."
"Bukan seperti itu, tidak masalah kita berdoa seperti itu, hanya sudut pandang kita saja yang berbeda dalam menafsirkan suatu makna. Yang terpenting kita berdoa yang baik dan tulus saja itu jauh lebih penting."
"Aku sangat beruntung memiliki sahabat sebaik kamu li."
"Aku yang harusnya merasa bersyukur karena memiliki sahabat seperti kamu. Kamu yang menolongku saat aku pertama kali memijakkan kakiku di kota ini. Aku tidak tahu akan bagaimana nasibku jika aku tidak bertemu denganmu."
Viona menghela nafasnya. "Sudah, kita kerja lagi. Malah ngobrol kita. Untung supervisornya kagak galak ye kan."
"Untung saja." Ucap lia.
"Jangan buang bunganya, simpan baik-baik." Viona pergi meninggalkan lia sendirian.
Lia menatap bunga yang ada di tangannya sebentar, senyum tipis menghiasi bibirnya saat mengingat bagaimana jevin memberikan bunga tersebut kepadanya.
"Agar semangat ya, setangkai bunga untuk satu hari. Lalu berapa tangkai bunga lagi yang akan anda berikan kepada saya. Jangan terlalu manis pak jika hanya untuk main-main. Cukup doa dan usaha, tapi jangan terlalu agresif ya. Itu membuatku tidak nyaman." Gumam lia sembari menatap bunga tersebut.
Kemudian lia kembali berkerja dengan membawa setangkai bunga mawar putih di tangannya. Tidak pernah sekali pun bunga tersebut terlepas dari tangannya.
__ADS_1
...****************...
Jangan lupa dukungannya teman-teman 😘😘