
Setelah jam makan siang selesai, jevin langsung kembali ke pabrik. Tak lupa dia membawa kotak bekal milik lia untuk di kembalikan kepada lia.
Setelah sampai di pabrik, jevin meletakkan kotak bekal yang ada di tangannya ke dalam loker tempat lia menyimpan tasnya.
"Semoga kamu menyukainya." Gumam jevin, dia langsung kembali ke kantor dan berkerja.
"Bagaimana, enak tidak makanannya?." Tanya sammy saat melihat jevin.
"Enak, enak sekali sampai aku habis minum susu satu kotak berukuran satu liter." Jawab jevin dengan datar.
Sammy mengreyitkan dahinya, menatap jevin dengan bingung. "Apa hubungannya dengan susu boss?." Tanya sammy bingung.
"Tadi saya mencampur seluruh sambal, nasi dan sup menjadi satu. Saya tidak menakar atau mencicipi sambalnya terlebih dahulu, jadi makanannya menjadi sangat pedas." Jawab jevin lugas.
"Bagaimana bisa anda sangat ceroboh seperti ini boss." Ucap sammy dengan heran.
Jevin menatap sammy dengan wajah datarnya. "Tidak perlu banyak tanya sam! Katakan apa agenda saya sekarang." Perintah jevin.
Dia tidak ingin sammy mengetahui mengenai hal ini lebih lanjut agar tidak menjadi bahan tetawaan oleh sammy.
'Menyebalkan.' Batin jevin.
Sammy menelan salivanya kasar saat mendapat tatapan serta aura dingin yang di keluarkan oleh jevin.
'Ishh.. Kenapa dia jadi sangat serius seperti ini, apa aku melakukan hal yang salah.' Batin sammy cemas.
"Bb-baik tuan, satu jam lagi kita akan ada meeting dengan nona cassie dari PT Amathyz untuk membicarakan mengenai kerja sama dengan perusahaan tersebut." Ucap sammy dengan serius.
Dia langsung memanggil jevin tuan sebagi tanda jika mereka mengatakan hal yang sangat serius. Karena sangat jarang baginya memanggil jevin tuan jika mereka tidak sangat serius. Hanya saat santai saja dia memanggil jevin boss.
Jevin menatap sammy dengan tajam. "Bukankah saya sudah menolak proposal yang perusahaan tersebut ajukan. Saya tidak ingin ada kerugian karena banyak point yang sangat merugikan pabrik ini jika saya menerima proposal tersebut." Ucap jevin dengan suara rendahnya.
"Benar tuan, tapi pihak dari PT Amathyz ingin bertemu langsung dengan anda. Untuk memastikan jika proposal yang mereka ajukan benar-benar anda yang menolaknya. Mereka tidak percaya jika anda menolaknya." Jawab sammy.
Jevin berdecih pelan. "Mereka pikir mereka siapa, bisa meragukan penolakan tersebut. Ini bukan pabrik nenek moyangnya yang harus menuruti keinginan mereka." Sarkas jevin.
__ADS_1
"Bagaiman tuan, anda ingin tetap bertemu atau saya meng-cancel saja pertemuannya." Tanya sammy.
"Tidak perlu. Saya akan tetap bertemu dengan mereka, saya ingin melihat apa yang membuat mereka semua bisa dengan begitu sangat percaya diri jika saya akan menerima proposal yang mereka ajukan. Sedangakan isi-nya saja sangat merugikan pabrik ini." Ucap jevin dingin.
'Mereka tidak memiliki kaca tidak sih.' Batin jevin kesal.
"Baik tuan. Nanti kita akan bertemu dengan mereka restoran grand palace." Ucap sammy.
"Hmmm.."
******
Di lain sisi lia yang tengah berkerja pun di buat tidak fokus. Karena mengingat jevin yang semakin hari semakin aneh menurutnya.
'Ishh.. Kenapa aku jadi memikirkannya. Fokus lia, kamu di sini untuk berkerja. Bukan untuk memikirkan boss aneh bin ajaib kayak pak jevin. Mungkin dia spesies keturunan terakhir.' Batin lia.
"Li.. Enak tidak dapat perhatian dari pak jevin, dia idola baru emak-emak lho."
Lia memandang datar ke arah karyawan yang menggodanya tersebut. Pasalnya sejak pak jevin yang tiba-tiba mengajaknya menikah waktu itu, banyak karyawan yang menggodanya hingga membuatnya jengah. Hal tersebutlah yang membuatnya menjadi kesal dan marah saat melihat jevin.
"Ishh.. Jangan bilang seperti itu, kita sebagai bagian dari komunitas jellyly kawal sampai halal. Sangat mendukung dan selalu mendoakan kelanggengan kalian tahu."
Lia hanya memutar bola matanya malas saat mendengar berbagai ocehan serta godaan yang di lontarkan untuknya. Dia lebih memilih untuk fokus berkerja dan tidak menghiraukan celetukan mereka semua.
'Bikin tensi gue naik saja, untung gue punyanya riwayat darah rendah. Kalau gue punya riwayat darah tinggi tamatlah kalian semua.' Batin lia kesal.
Viona yang melihat lia yang cemberut sedari tadi pun hanya bisa terkikik geli. Mau ketawa tapi takut dosa, tapi lia terlalu lucu untuk tidak dia tertawakan.
'Kasian juga tuh anak. Di jadiin bulan-bulanan penghuni pabrik ini. Nasib lu mujur bener deh li.' Batin viona.
Saat melihat lia yang berjalan ke arah kantor untuk mengirimkan laporan target, viona langsung menghampirinya.
"Lii.. Gue mau tanya sesuatu dong." Ucap viona.
"Apa?." Jawab lia dengan wajah datarnya.
__ADS_1
"Sekarang loe kok biasa aja kalau berdekatan dengan pak jevin, dulu saat pertama kali kamu dekat dengan dia kamu langsung gemeteran dan berkeringat dingin lho li." Ucap viona dengan serius.
Sontak saja lia langsung berhenti berjalan, wajahnya seketika berunah pias saat mendengar penuturan dari viona. Dia baru menyadari jika phobianya tidak kambuh saat dekat dengan jevin. Hanya sekali dia kambuh, itu pun saat pertama kali dekat.
'Kenapa aku baru menyadarinya, aku tidak mengalami panic attack saat dekat degan pak jevin alhir-akhir ini.' Batin lia mencelos saat menyadari hal tersebut.
"Apa karena sikapnya yang menyebalkan itu yang membuatku tanpa sadar merasa nyaman saat dekat dengannya. Rasa terganggu dan kesal yang aku alami saat melihatnya tanpa sadar mengalihkan rasa panic tersebut. Aku baru menyadarinya vi.." Ucap lia dengan lirih.
Viona menatap lia dengan tatapan teduhnya. "Mungkin pak jevin adalah jawaban dari doa yang kamu panjatkan setiap malam. Terbukti kamu tidak mengalami panic attack saat dekat dengannya." Ucap viona dengan lembut.
Lia menghela nafasnya. "Mungkin kamu benar, tapi aku tidak ingin terlalu berharap vi. Aku hanya berharap kepada tuhan untuk memberiku imam yang mau menerimaku apa adanya. Mungkin orang tersebut bisa pak jevin, bisa juga orang lain. Rencana tuhan tidak ada yang tahu, yang bisa kita lakukan hanyalah pasrah menerimanya. Jika di rasa tidak sanggup, baru kita mengeluh dan protes kepada-Nya. Dia maha tahu lagi maha besar vi." Ucap lia.
"Kamu benar, kita tidak bisa menerka-nerka sesuatu hal. Yang bisa kita lakukan hanyalah menjalaninya. Jadi aku harap kamu mau menjalaninya, dekat dengan kandidat calon jodoh tidak apa-apa bukan. Siapa tahu dengan ini kamu juga bisa menghilangkan phobia kamu sedikit demi sedikit." Ucap viona dengan bijak.
Lia tersenyum tipis. "Ya, mau tidak mau aku harus mau menjalaninya. Dia itu pemaksa, jadi gue terpaksa harus dekat dengannya. Akal bulus pak jevin itu banyak." Ucap lia.
Viona hanya terkekeh geli dengan ucapan lia tersebut. Dia menepuk pundak lia sebentar dan pergi meninggalkan lia.
"Semangat.." ucap viona.
"Semangat.." Jawab lia dengan lesu.
Kemudian lia berjalan dengan gontai ke kantor untuk memasukkan laporan target yang sudah dia tulis.
'Apa benar pak jevin adalah jawaban dari doa ku selama ini. Tapi, apa tidak terlalu berlebihan. Aku merasa tidak pantas untuk dekat dengannya.' Batin lia berkecamuk.
"Ya allah, rencana apa yang engkau berikan kepada hamba mu ini. Berikanlah yang terbaik untuk hamba, hamba tahu engkau tidak akan pernah memberi hamba ujian melampaui kemampuan hamba ya allah. Jika memang dia adalah bagian dari ujian yang engkau berikan, kuatkan hamba untuk menjalaninya." Gumam lia berdoa agar dia mampu menjalani ujian yang akan di berikkan kepadanya, melalui pak jevin.
'Mungkin ini cara-Nya agar aku lebih dekat kepada-Nya. Agar aku selalu berserah dan tidak menerka-nerka akan seperti apa masa depanku nantinya. Agar aku lebih mengerti dan ikhlas dalam menjalani hidup.' Batin lia mencoba untuk legowo.
Batin lia semakin berkecamuk saat menyadari berbagai fakta dan perubahan yang terjadi dalam beberapa hari terakhir. Bukannya mau menolak atau apa, tapi dia takut berharap. Dia takut jika suatu saat harapan itu benar-benar tumbuh dan menyakitinya. Dia sadar dengan posisinya saat ini. Dia berusaha menekan seluruh harapan yang mulai muncul agar dia tidak akan terlalu sakit di kemudian hari.
...****************...
Jangan lupa dukungannya teman-teman 😘😘
__ADS_1