
" ........Seperti dicontohkan Ibunyai Lutjeng Luthfiyah, bahwa ketika memanggil suami tercintanya (KH. M. Nashrullah Baqier Adelan) yang sedang sibuk memperbaiki sepeda motor. Nyai Luthjeng pertama mulai memanggil dengan nada halus (pelan-pelan) penuh rasa cinta.
“Buya, dahar riyen (makan dulu)!” Suaminya tidak mendengarnya.
Kedua kali, sedikit dengan nada agak lebih tinggi, “Buyaa, dahar riyen (makan dulu)!” Suaminya masih tetap tidak mendengar. Dan yang ketiga kalinya dengan nada lebih keras sembari teriak, “Buyaaa, dahar riyen (makan dulu)!” Akhirnya sang suami pun mendengar.
Jika dalam rumah tangga tidak didasari suatu pemahaman antara suami-istri, khawatir ketika seorang perempuan tidak sabar dengan karakter laki-laki semacam itu, maka istri akan cenderung suka ngomel-ngomel.
Maka, atas dasar diciptakannya perbedaan laki-laki dan perempuan tersebut, begitu juga korpus kalosumnya perempuan 30% lebih tebal dibanding laki-laki. Oleh karena itu, perempuan dapat merangkap segala kerjaan atau kegiatan.
Misalnya, ketika seorang istri sedang memasak dengan dua kompor gas sekaligus, masing-masing isi tungku ada 2, berarti jumlahnya 4 tungku. Tungku pertama digunakan untuk masak nasi, tungku kedua dipakai masak sayur, tungku ketiga dipakai goreng ikan, dan tungku keempat dipakai goreng bumbu sambal.
Dengan mengerjakan ke empat tungku tersebut, seorang istri masih bisa memperhatikan atau mengawasi anaknya yang sedang bermain. Bahkan, seorang istri juga masih sanggup menerima telefon meskipun ia sedang memasak.
__ADS_1
Sementara kemampuan otak bicara laki-laki hanya di otak bagian kiri, sedangkan kemampuan otak bicara perempuan ada di sebelah kiri juga sebelah kanan bagian depan. Maka, kemampuan bicara laki-laki dalam sehari, katanya, yang pandai bicara atau cerewet hanya 7000, yang tidak cerewet hanya 5000.
Berbeda dengan perempuan, yang cerewet 20.000 sedangkan yang tidak cerewet 16.000. Jauh sekali, bukan? Maka dengan demikian, cerewetnya perempuan adalah anugerah. Perempuan tidak ingin dimaklumi, tetapi dari perkara itu semua laki-laki harus dapat mengambil hikmahnya. Dalam QS. Ali ‘Imran [3]: 191 dijelaskan:
رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَٰطِلًا
“Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia.”
Semua ada tujuan dan hikmahnya, termasuk sifat cerewetnya perempuan. Begitu juga keadaan laki-laki yang seperti itu adalah ujian, juga perempuan yang cerewet seperti demikian juga sebagai ujian. Maka ujian yang lulus adalah cerewet yang membangun, bukan cerewet yang mujair.
Laki-laki harus Bekerja
__ADS_1
Sebagai laki-laki (suami) maka bekerjalah. Alasan kenapa laki-laki harus bekerja? Bekerja adalah pelampiasan rasa syukur atas karunia Allah. Dalam QS. Al-Naba’ [34]: 13 disebutkan bahwa ;
اعْمَلُوا آلَ دَاوُدَ شُكْرًا وَقَلِيلٌ مِنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ
“Bekerjalah hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-ku yang berterima kasih.”
Jadi, orang yang bersyukur salah satunya adalah dengan bekerja, bekerja itu berproses dalam upaya menjemput rizki. Apabila tercapai hasil usahanya, maka itu ada hubungannya dengan taqdir, karena berkaitan dengan ada usaha kerasnya itu.
Apabila kurang puas dengan hasilnya, maka ada keharusan untuk qana’ah yakni ‘suatu sikap rela menerima dan........
...🌷🌷🌷...
__ADS_1
...To be continued...