CINTA DALAM DOA

CINTA DALAM DOA
Eps 77


__ADS_3

" Adik mau ke kamar mandi abang," Jawab Ais


" Baiklah, kalau begitu ganti baju adik ya,"


" Tapi bang, adik tidak membawa baju, adik hanya bawa baju, itu pun yang adik pakai ini, kan memang tidak nginap bang." Jelas Ais


" Iya abang tahu, tapi abang belikan baju untuk adik, jadi gunakan ya,"


" Baiklah bang,"


Juna berjalan ke kopernya untuk mengambil baju Ais yang ia belikan saat kerja kemarin, Setelah Ais menerima paper bag dari suaminya, langsung masuk ke dalam kamar mandi, disaat mau mengganti baju, Ais matanya melotot, melihat baju yang di berikan oleh suaminya itu.


" Ah abang pasti ingin, masak di hotel ini, aduh kenapa juga tadi Ais menggodanya, sekarang senjata makan tuan deh, dah siap aja kalau abang nanti pastinya tidak hanya sekali memintanya.


Disaat pintu kamar mandi terbuka, Juna terpanah dengan pemandangan yang membuat hasratnya bangkit lagi,


Juna memeluk Ais erat, Juna mengendus wangi rambut istrinya yang sudah menjadi candu baginya.


Tangan kokoh Juna sudah berada pada pinggang Ais saat Juna menyentuh leher Ais dengan hidung mancungnya.


Ais memejamkan matanya dengan jantung yang sudah berdetal begitu kencang


Hidung Juna semakin nakal menjalar ke arah telingan Ais yang merupakan titik sensitive bagi para wanita.


Tangan Juna perlahan menarik Outer yang dikenakan oleh Ais sampai bahu Ais terlihat jelas tanpa penghalang apapun.


Outher yang dikenakan oleh Ais sudah terlepas sempurna dan Juna menjatuhkannya di sembarang tempat.


KIni hanya ada baju tidur yang memperlihatkan lekuk tubuh melati yang masih menempel pada tubuh Ais


Jemari JUna menelusuri tangan istrinya meluai tangan menuju ke atas batas lengan


Bibir Juna perlahan menyentuh pundak Ais dan membuat si empunya merasakan sensasi sengatan listrik pada tubuhnya saat tiap bagian kulitnya disentuh oleh suaminya.


Ais terus memejamkan matanya dengan nafas sedikit naik turun tak beraturan


Gairah Juna semakin tak terkendali karena bukan hanya bibir Juna yang bekerja, namun hidung laki-laki itu pun juga ikut bergerak menciptakan sensasi sengatan listrik sang semakin menegang.

__ADS_1


Tangan nakal Juna mulai menurunkan baju tidur transparan yang masih deikenakan oleh istrinya.


Juna membalikkan tubuh Ais yang kini hanya memakai pakaian intinya


Juna mendekati wajah Ais yang masih setia dengan mata tertutup rapat menikmati sentuhan Juna padanya.


Bibir mereka berdua sudah menyatu tanpa sekat, Gairah kembali terasa kembali saat kedua tangannya tanpa henti menyentuh tiap inci bagian tubuh mulus sang istri.


Juna kembali menanamkan bibirnya dalam-dalam, memanggut bibir lembut memabukkan yang menyihirnya itu tanpa jeda seolah menumpahkan sejuta rasa, Juna dengan piawainya mulai mematik gelora Ais yang baru saja menyala, seolah-olah sengaja melemparkan bahan bakar ke dalamnya agar api itu semakin berkorbar.


Direbahkan tubuh langsing itu dengan bibir yang masih saling bertautan, sejenak Juna menjeda ciumannya, nafas mereka tersengal disertai dada yang naik turun, Ais terengah-engah matanya masih terpejam dengan wajah yang mulai merah merona, dan hal itu membuat Juna ingin meneerkam bulat-bulat saat ini juga.


Tangan Juna terulur ke saklar lampu utama kamar yang berada di atas kepala tempat tidur dan mematikannya, menyisakan pencahayaan remang-remang yang berasal dari lampu tidur di sisi kanan dan kiri tempat tidur besar tersebut.


Punggung tangannya membelai lembut sisi wajah Ais, membuat Ais itu semakin terlena saat merasakan sentuhan bak sengatan listrik yang menyentuh permukaan kulitnya.


Juna kembali menunduk dan mencium wajah Ais dengan lembut, mulai dari kening, kedua kelopak mata, hidung mancungnya, lalu kembali memanggut bibir yang sedikit terbuka itu dan berlama-lama disana, Juna semakin mendesakkan dirinya yang mulai terbakar gairah.


Ais semakin terbuai, sekujur tubuhnya melemas. Dirinya seakan-akan di ajak terbang ke awan-awan, ditemani jutaan kupu-kupu yang berterbangan mengerumuni, lalu nalurinya menuntun untuk membalas dan menyesap bibir yang sedari tadi mencicipinya dengan buas, semala ini Ais bermain lembut karena sudah tersiram bahan bakar yang lumayan banyak jadi Ais membalas ciuman dengannya buas.


Juna mulai mengangsurkan bibirnya menuruni leher Ais, membubuhkan jejak-jejak mesranya hingga bertebaran, membuat Ais itu mengigit bibirnya menahan desahan yang ingin keluar dari sana.


Juna mulai menanggalkan semua pakaiannya yang membungkus tubuhnya dan melemparkannya sembarangan lantai, Ais memekik kaget, lalu menyilangkan kedua tangannya di dada saat Ais melihat sudah tidak ada benang yang melekat ditubuhnya.


Juna langsung naik ke atas tempat tidur dan segera ******* bibir Ais dengan rakusnya, setelah puas di bibir Juna turun ke leher dengan meninggalkan jejak yang berwarna keunguan di sekujur leher Ais, kemudian ciuman Juna pindah ke dada Ais,, JUna mencium,, menjilati dan memgigitnya bergantian sehingga membuat Ais mendesah


Setelah puas disana, Juna turun ke bawah, turun..turun.... dan bersemanyam di sela-sela kaki Ais yang sudah sangat basah.


Juna mengecupnya... dan menjilatinya membuat Ais mendesah semakin gila, Ais menjambak rambut Juna dan menekan kepala Juna semakin kedalam di *******nya.


Juna menurut, JUna menjulurkan lidahnya ke dalam ******* Ais yang sudah basah... Juna memaikan lidahnya di sana.


Ais mendesah makin kencang membuat Juna makin gila


Tiba-tiba Ais bergetar dan berteriak memanggil nama suaminya...


Aaaah....aaaaah....aaaah...bang, abang...adik....adik... basah......bang

__ADS_1


Semburan cairan nikmat dari ******* Ais, dengan segera Juna menyapu bersih denngan lidahnya dan meneguknya


Mata indah Ais yang kini sudha sayu karena hasrtanya semakin membakara dirinya, JUna yang sudah paham bagaimana cara membangkitkan api itu dengan kian membara.


Juna memcicipi keselurahn kulit halus mulus Ais itu dengan rakusnya dan penuh pemujaan, ditambah dengan aroma wangi tubuh istrinya membuat lonjakan gairah dalam dirinya semakin naik tak terelakan.


Nafas Juna dan Ais kian memburu saling bersahutan dengan merdunya, seolah-olah irama rindu yang telah lama tertahan akhirnya bersua.


Sentuhan semakin intens, dan saaat dirasa tubuh Ais itu telah siap menerimanya, Juna mulai mendesakkan dirinya, meskipun hasratnya sudah meluap-luap hinga ke ubun-ubun, Juna mulai menyatukannya, disaat penyatuan itu terjadi, Ais kembali menjerit dan merintih disertai air mata yang merebak dari sudut matanya karena menahan sakit, meskipun sakitnya tidak seperti yang pertama tapi ini juga masih merasakan sakitnya, bahkan tangan Ais juga meremas kain seprei yang menutupi tempat tidur tersebut


Juna menghentikan pergerakan tubuhnya, membelai lembut kepala Ais dan mengecup wajah cantik istrinya dengan penuh kasih sayang, jemarinya menghapus kristal bening itu lalu membisikkan kata-kata mesra penuh janji yang menenangkan, bahwa semua yang akan baik-baik saja seperti yang sebelum-sebelumnya.


Diraih kedua tangan Ais yang mencengkeram sprei tadi, lalu Juna meletakkan kedua tangan halus berjemari lentik itu ke pungguh kokohnya.


" Berpeganglah padaku sayang, maaf jika ini masih sakit tapi rasa sakit ini akan terus berkurang dan berganti rasa kenikmatan, Abang berjanji, sakitnya hanya semnetara," Desahnya dengan suara serak,


Dara kembali meringis dan mencengkeramkan jemarinya di punggung Juna saat laki-laki yang sudah menjadi suaminya itu mulai bergerak lagi, tetapi lama kelamaan kelembuJuna merasakan tan Juna yang terus menarik dirinya dalam kubangan gairah, berhasil mengalihkan semua rasa sakitnya berganti menjadi rasa luar biasa yang tak mampu di ungkapkannya dengan kata-kata.


Kedua insan yang saling mencintai itu melebur menjadi satu, bukan hanya raga mereka yang bertautan, tetapi juga di iringi kalbu yang terpaut, membuat satu rasa yang bernama cinta semakin tumbuh subur di hati mereka tak kala keduannya memasrahkan diri untuk saling memeluk satu sama lain.


Suara gemercik air hujan terdengar seperti musik romatis, seolah-olah simfoni alam yang mengiringi mereka mereguk madu asmara, membuai dua anak manusia yang kini telah saling melengkapi


Juna meraskaan sesuatu yang telah padam selama 2 hari ini, kini kembali bergelora dan berkobar dengan hebatnya, bahkan mungkin rasa itu berkali-kali lipat lebih dasyat dari sebelumnya karena rasa rindu yang membara dan saat kulitnya besentuhan dengan kulit Ais .


Tubuh kokohnya melingkupi tubuh langsing Ais yang kini berada dalam kungkungannya, setelah berpacu hampir satu jam lebih, akhirnya mereka berdua menyerah ketika terpaan gelombang surga dunia menghempaskan dan menggulung kedua tanpa ampun


peluh bercucuran dari setiap pori-pori di permukaan kulit mereka dengan nafas yang masih tersengal, JUna meresapi rasa lega yang membanjirinya saat kebutuhan ragawinya terpenuhi.


Juna menggulingkan diri ke samping dan memeluk tubuh lansing istrinya itu agar makin merapat kepadanya dengan posisi Ais membelakanginya, Ais masih berusaha menetralkan nafasnya, kegiatan yang baru saja selesai sungguh menguras energinya.


Juna melihat istrinya yang sudah kembali seperti semula, dan mereka bergelumun di balik selimut, setiap gerakan Ais yang tidak sengaja menyentuh kulit Juna, membuat Juna bangkit kembali dan akhirnya Juna kembali dan kembali menerkam Ais, sampai berepa kali, Ais hanya bisa pasrah saja karena memang dari awal dia yang telah membakitkan singa yang sedang lapar karena sudah 2 hari ini tidak bertemu, sebenarnya Ais juga merasakan hal yang sama seperti JUna, tapi berhubung Ais perempuan jadi lebih memilih diam, agar suaminya memulainya dulu.


Diraihnya selimut yang tergeletak di lantai karena terjatuh ketika mereka memadu kasih tadi, lalu Juna menutupkannya ke tubuh polos mereka berdua, dikecupnya mesra bahu Ais yang tertutup selimut, kemudian kembali merengkuh Ais dalam dekapan hangatnya yang nyaman dan menyenangkan, hingga beberapa saat kemudian, tak lama berselang akhirnya mereka berdua terlelap bersama dengan hati yang membuncah bahagia.


🌹🌹🌹


Jangan lupa selalu mengikuti Giveway nya ya,, dan jangan lupa tinggalin jejak juga untuk Like, Vote, Rate dan tips ya kak, Happy Reading All..

__ADS_1


To be continued


__ADS_2