CINTA DALAM DOA

CINTA DALAM DOA
Holiday


__ADS_3

Pagi-pagi sekali aku sudah beranjak dari tidur bersama, kami menunaikan salat Subuh berjamaah. Selesai itu Siti langsung memasak untuk sarapan kami, dan seperti biasa aku akan mengajak Zidane bermain karena Vika belum sampai ke sini. Jadi kami sedang repot-repotnya mengurus Zidane.


‌Hari ini aku akan menjemput Vika di Terminal. Karena hari ini dia akan tinggal bersama kami dan akan melanjutkan sekolah di kota Bandar Lampung.


Sebelumnya aku bekerja di proyek bangunan bulan lalu, namun proyek sudah rampung. Aku mulai bingung mau kerja apa lagi, sedangkan nanti Vika akan tinggal bersamaku dan aku memulai memutar otak, untuk mengatur keuangan yang masih tersisa.


Sedari tadi melamun dan tanpa sadar tidak fokus mengajak Zidane bermain. Tiba-tiba Siti mengagetkanku, membuat lamunanku terhenti.


‌“Hayo! Ayah, ini, bengong mikirin apa? Sampai Si Zidane main sendiri?”  tanya Siti.


‌“Hemm, Bunda, nih. Bikin kaget saja, hehee, maaf, ya, Bun,” ujarku dengan wajah terkejut.


“Ayah, jangan pernah menutupi sesuatu dengan istri. Bukannya kita harus terbuka satu sama lain, ditambah bahaya sekali momong anak sambil bengong?” tanya Siti.


‌“Maaf, Bun. Tiba-tiba Ayah kepikiran soal ini, jadi gak fokus,” ujarku.


‌“Mikirin apa Ayah, cerita barang kali Bunda bisa bantu?” tanya Siti.


‌“Ini, Bun, kan Ayah sudah selesai kerja di proyek, dan aku belum dapat pekerjaan baru. Apa lagi nanti Vika tinggal bersama kita, kalau aku belum dapat pekerjaan dalam waktu dekat, nanti kita makan apa Bun?” tanyaku sedikit cemas.


‌“Berdoa, saja, Ayah, sama Allah SWT, rezeki sudah diatur Insyaallah. Pasti nanti ada jalan keluar,” balas Siti.


‌“Ya, Bun, makasih. Sudah mau ingetin, oh, ya, sehabis jemput Vika. Aku akan cari kerjaan baru doakan, ya, semoga cepat dapak perkerjaan baru,” ujarku.


‌“Ya, sebagai pasangan suami istri. Kita harus saling mendukung satu sama lain, semoga Ayah dapat kemudahan dalam mencari rezeki dan segera mendapatkan perkerjaan layak,” ucap Siti.


“Memang, kamu Istri pilihan terbaikku, hehehe, tidak pernah salah menjadikanmu pelabuhan terakhirku,” ujarku merayu.


“Ayah, ini, pagi-pagi sudah menggombal. Kamu cepetan sarapan, nanti telat jemput Adek Vika di Terminal, semua sudah bunda siapin di meja,” ucap Siti.


“I—iya Bun, ini, mau sarapan. I love you, makasih sayang,” ujarku.


“Ya, sama-sama. I love you so much, hehe,” balas siti.


“Ya, udah. Ayah, makan dulu, hehe,” ujarku.


“Buruan! Yah, biar gantian aku yang ajak main Zidane.”


“A—asiap, Bun,” ujarku.


Aku pun langsung bergegas cepat-cepat untuk sarapan, karena takut telat dan pastinya Vika menunggu lama nantinya. Selesai makan dan sudah rapih pun, aku langsung menelpon Vika memastikan bahwa Ia sudah sampai mana.


“Assalamualaikum, hallo, Adek, kamu sudah sampai mana?”  tanyaku.


“Walaikumsalam, Bang, ini, sudah di Natar.  Mungkin 15-20 menit, lagi sampai ke Terminal Raja Basa,”  balas Vika.


“Oh, ya, sudah. Abang, langsung ke Terminal,” ujarku.


“Ya, Bang. Hati-hati di jalan!” ucap Siti.


“Ya, Adek. Nanti lagi, ya, assalamualaikum,” balasku.


“Walaikumsalam, Abangku,” ucap Vika.


Selesai nelpon aku langsung manasin mesin motor terlibih dahulu, dan setelahnya langsung menuju ke Terminal Raja Basa.


“Bun-bunda. Ayah berangkat, ya, ke Terminal,” ujarku.

__ADS_1


“Ya sayang. Hati-hati ya, kamu di jalan,” ucap Siti.


“Ya sayang, asalamualaikum” ujarku.


“Walaikumsalam, Ayah,” ucap Siti.


Seperti biasa aku selalu mencium kening dan pipi Istri dan anakku tercinta. Aku pun berangkat dengan motor yang sempat aku gadaikan dulu. Karena usaha mie ayam kami bangkrut, demi menyambung hidup. Dan alhamdulillah akhirnya aku bisa menebusnya kembali dari hasil gaji kerja di proyek kemarin.


Tak terasa dua puluh Lima menit, aku mengendarai sepeda motor akhrinya sampai di Terminal  Raja Basa, dan berharap Vika tidak terlalu lama menunggu di sana.


Setelah sampai dan memakirkan motorku, aku langsung menelpon Vika.


“Assalamualaikum dek, kamu dimana ini bang sudah sampai?” tanyaku.


“Walaikumsalam, Bang, ini, adek lagi di loket bus PO. Sumber Nusa,” balas Vika.


“Ya, sudah, Bang. Langsung ke sana, assalamualaikum,” ujarku.


“Ya, Bang. Vika tungguin, walaikumsalam,”  balas Vika.


Beberapa menit kemudian, lama keliling mencari loket PO. Sumber Nusa. Akhirnya pun ketemu dengan Vika, cukup sulit mencari keberadaan loket bus, karena ramai penumpang turun dari bus.


“Dek Vika, di sini kamu rupanya, Bang dari tadi muter-muter nyariin loketnya ternyata di sini heheh. Bang nyasar loh, Vika,”  ujarku.


“Hehe, maaf, Bang. Susah, ya, nyari Vika. Habisnya adek mau pindah dari sini takut, karena baru pertama kali ke sini,” balas Vika.


“Hehe, ya, sudah. Ayo, pulang ke rumah Vik, Kakakmu sudah nungguin di rumah,” ujarku.


“Ya, Bang. Vika juga gak sabar mau nemuin mereka,” ucap Vika.


“Bawa ke sini barang-barangnya, Vik. Biar Bang yang bawa,”  ujarku.


“Wah, jelas, enak, ini. Pasti jajanan kampung, hehehe, oh, ya, kabar Bapak dan ibu baik kan Dek Vik?” tanyaku.


“Alhamdulillah baik, Bang. Dan hasil panen tahun, ini, hampir semuanya berhasil,” balas Vika.


“Syukurlah dek ya, sudah. Buruan! Naik motor Bang,”  ujarku.


“Widih, Abang motornya baru?” tanya Vika.


“Kau ini, Dek Vik. Dari dulu suka ngeledek Bang terus, enggak pernah berubah. Ini, mah motor sudah lama Bang beli. Karena Bang rajin merawatnya jadi seperti baru,” balasku.


“Hehehe ya, suka lah. Vika senang banget ngeledek Bang, kesayanganku ini,” ucap Vika.


“Ayo, cepetan! Kak Siti nungguin,” ujarku.


“Ya Bang, bawel banget hehe,” ucap Vika.


“Bawel juga kan. Aku Abangmu, Vik, hehe,” kelakarku.


Kami pun langsung beranjak pulang ke rumah. Dan langsung mampir ke warung buat belikan pesanan Siti yaitu susu Zidane.


“Bang, pelan-pelan bawa motornya!” ucap Vika.


“Ya, Adek. Kamu tenang saja,”  balasku datar.


Di perjalanan kami pun terjebak macet, dan aku mencari jalan alternatif lain agar estimasi waktu tempuh ke rumah lebih cepat.

__ADS_1


“Dek, macet total. Abang cari jalan lain ya?” tanyaku.


“Ya, nih, Bang. Kalau kita lewat rute, ini, terus. Kita bisa telat sampai rumah,”  balas Vika.


Aku pun memutuskan mencari jalan lain dan alhamdulillahnya. Di jalan alternatif sepi dan bisa cepat sampai rumah. Cukup 15 menit, kami menyusuri jalan tikus, akhirnya pun sampai di rumah.


“Ini  rumah Bang. Adek Vika, semoga betah,” ujarku.


“Insyaallah, betah. Vika kan tinggal bareng Bang dan Kak SitiSiti,  ditambah ada adek Zidane,” balas Vika.


“Ya sudah, mari! Masuk rumah Bang,”  ujarku


“Ya Bang,”  ucap Vika singkat.


Kami pun langsung mengetuk pintu rumah, dan mengajak Vika masuk ke gubuk deritaku yang ku beli hasil tabunganku waktu masih melajang.


“Assalamualaikum, Bun. Kami sampai,” ujarku.


“Walaikumsalam, Ayah. Bentar, ya sayang,”  balas Siti.


Beberapa menit menunggu akhirnya Siti membukakan pintu rumah, dan menyapa kami dengan senyum khasnya yang membuat mata ku terpana dan selalu jatuh cinta kepadanya.


“Wah Vika, sudah sampai. Gimana Vika, di perjalanan mabuk tidak?” tanya Siti kepada Vika.


“Hehe alhamdulillah Vika enggak, Mabuk kok, Kak,” balas Vika.


“Ya, sudah. Kamu buruan mandi terus makan. Habis itu, istirahat!” ucap Siti menyuruh Vika tidur lebih awal.


“Ya Kak, terima kasih,” balas Vika.


“Ya sudah, barang-barangnya ditaruh saja. Biar Bang dan Kak Siti yang bawa ke dalam,” ucap Siti.


“Ya Kakakku,” balas Vika.


Setelah selesai istirahat Siti dan Vika pun ngobrol di ruang tamu bersama, sambil bercerita tentang masa kecil kita masing-masing.


“Oh ya, Dek Vik. Kabar Bapak dan Ibu sehat kan?” tanya Siti.


“Alhamdulillah baik kok, Kak,” balas Vika.


“Syukurlah besok, kamu nanti cari Sekolah bareng Kak Siti, ya. Soalnya Bang Ahmad mau cari kerjaan lagi,”  ucap Siti.


“Loh Bang sudah berhenti kah dari pekerjaan sebelumnya?” tanya Vika tidak enak hati.


“Sudah rampung Vika, proyeknya,” potongku.


“Jadi enggak enak, pasti Vika bakal ngerepotin Bang dan Kak Siti di sini,” ucap Vika dengan wajah khawatir.


“Kok Vika bilang gitu, jelas enggak lah Vik, justru Kak Siti senang di rumah ada yang bantuin Kak masak dan jagain Adek Zidane,” ucap Siti.


“Hehe ya, Kak. Ngomong-ngomong  dari tadi kok gak ngelihat Zidane ke mana Kak?”  tanya Vika.


“Oh Dia lagi tidur, Vik,” balas Siti.


Selesai bincang-bincang kami pun makan siang bersama-sama dan menunaikan salat Zuhur berjamaah. Dan mengajak Vika jalan-jalan keliling agar cepat berbaur dengan masyarakat lainnya.


“Terkadang keluarga sendiri seperti orang lain, sedangkan orang lain seperti keluarga.”

__ADS_1


 -Rohid Bachtiar


__ADS_2