
Sigit berkali-kali kaget atas semua perbuatan sang istri dan putrinya, mangkanya sekarang keluarga Pamungkas serta Wijaya menarik sahamnya, tanpa bertanya lagi pak Sigit sudah tahu, malu malu malu malu itulah yang di rasa oleh pak Sigit sekarang, dunia serasa runtuh begitu saja, apa yang harus dia pertahankan sekarang.
__ADS_1
" Pak Sandi, pak Lian dan pak Juna, maaf kan kesalahan istri dan anak saya pak, saya kurang memperhatikan keluarga saya pak, saya sudah gagal menjadi suami serta papa buat anak dan istri saya." Pak Sandi menundukkan kepalanya
__ADS_1
" Pak sebenarnya anda orang baik, mungkin saja putri dan ostri bapak entah kurang apa, hanya bapak dan keluarga bapak yang tahu, saya disini hanya sebagai seorang suami yang merasa harga diri istri serta mama saya di injak-injak pak, kalau istri bapak menghina saya, saya bisa memaklumi, tapi ini istri saya seorang perempuan yang tidak tahu apa-apa tiba-tiba di hina begitu saja, dan begitu juga dengan mama saya, mama yang sudah melahirkan serta merawat saya, kenapa saya tidak tidak bisa menerima Karin, pasti bapak sudah tahu alasanya apa, kalau hati mungkin saya bisa menahannya pak, ini seorang anak kecil, mungkin bagi Karin Cio tidak berguna bagi dia, tapi bagi saya dan kedu orang tua saya, Cio adalah sumber kebahagian kita pak, meskipun dia adalah keponakan saya, tapi saya sudah menganggap seperti anak saya sendiri, dan bapak mungkin tahu masa lalu saya mengenai kegagalan rumah tangga saya dengan mantan istri saya, dimana saya ditinggalkan di saat saya sudah berjanji di hadapan Allah untuk menjadi kepala rumah tangga, tapi Allah lebih sayang kepada saya, jadi saya mohon pak, maaf kami juga atas perbuatan ini, Insya Allah kami akan selalu ada buat bapak tapi tidak untuk istri dan putri bapak, sudah cukup istri bapak menghina istri serta mama saya dan cukup juga untuk putri bapak yang sudah melukai Cio dan untung saja kejadian itu tidak membuat trauma pada diri Cio, jujur pak sebenarnya saya malu sama kedua abang saya ini, disini saya adalah kepala rumah tangga tapi kenapa malah kedua abang saya yang memberi solusi, apa bisa ini juga di katakan kalau saya juga gagal dalam menjadi kepala rumah tangga, hati saya begitu sakit disaat melihat air mata istri saya jatuh di pipinya saat dia menceritakan semua perlakuan istri bapak kepada istri saya, saya tidak meminta istri saya untuk sama-sama dari keluarga berada dan saya juga tidak minta untuk setara dengan saya, saya memilih dia menjadi pendamping hidup saya karena saya melihat sosok seorang perempuan yang memiliki hati yang sangat lembut, mempunyai Aklak yang baik tutur kata yang begitu santun," Sandi menarik nafas panjangnya lalu berbicara lagi yang lainnya hanya mendengar saja
__ADS_1
...🌷🌷🌷...
__ADS_1
...**To be continued ❤...
__ADS_1