
Teriakan Sindi berhasil membuat mamanya menghampiri Sindi, di goyang-goyangkan tubuh Sindi karena sudah pukul sembilan pagi, Sindi mengerutkan dahinya matanya mengercapnya
" Mama....." Sindi memanggil mamanya
Sindi melihat mamanya sedang duduk di sebelahnya, mamanya dengan sedikit kesal melihat putrinya yang susah di bangunkan pagi ini tidak seperti hari-hari biasanya...
" Apa kamu tidak pergi kuliah nak? mau jadi apa kamu tidak kuliah?." Ucap mamanya dengan menarik selimut yang menutupi tubuh putrinya itu
Sindi yang bangun segera memeluk mamanya
" Mama, maafkan Sindi ya, mama Sindi sangat takut." Ucap Sindi yang masih di dalam pelukan mamanya
Sindi memeluk mamanya dengan sangat erat seolah-olah Sindi tidak mau melepaskan ibunya, dalam fikiran mamanya ada apa dengan anak gadisnya ini, kenapa pagi hari sudah bersikap sangat aneh
__ADS_1
" Apa yang kamu makan semalam hm? sampai sikapmu sungguh aneh sekali." Ucap mama melepas pelukan putrinya sambil pergi meninggalkan Sindi
Hari itu Sindi benar-benar tidak ada niat untuk pergi kuliah, dia lebih memilih untuk bermalas-malasan di rumah, beberapa kali ia melihat ke layar ponsel miliknya, tapi tidak ada satu pun pesan dari Ikbal. dengan rasa kesal Sindi memutuskan untuk membantu mamanya membersihkan rumah.
Di RS beberapa orang masih tidak beranjak dari duduknya, mereka masih dengah setia menanti kabar baik dari dalam ruangan ICU, di saat di nyatakan kritis Ikbal langsung di pindahkan ke ruang ICU
Sekitar jam 11 siang, Irsyad yang baru saja menyelesaikan jam dinasnya, memutuskan untuk segera pulang karena kakak dan abang iparnya juga sudah keluar dari RS, saat melewatu lorong RS, Irsyad mendapati ke dua orang tua Ikbal sedang duduk sambil berpelukan di kursi depan ruang ICU. tanpa berfikir lagi Irsyad segera menghampiri
" Wa'alaikumsalam nak Irsyad."
" Om tante, saya setiap hari sudah memantau kondisi Ikbal maaf kalau boleh tahu Ikbal kenapa bisa seperti, padahal sudah sejak lama sakitnya tidak kambuh lagi, saya melihat beberapa tahun belakangan ini hidup Ikbal sungguh bahagia," Tanya Irsyad yang baru bisa bertemu dengan papa dan mama Ikbal, karena akhir-akhir ini Irsyad sibuk dengan jam kerja sambil memantau kondisi sahabatnya itu serta kelahiran keponakan kembarnya yang sangat menggemaskan bagi Irsyad
" Irysad." seru papa Ikbal dengan penampilan yang sudah sangat berantakan
__ADS_1
" Om, Ikbal kenapa, kenapa bisa kembali seperti ini kondisinya, malah kondisi Ikbal saat ini adalah kondisi yang paling terburuk selama Ikbal bersama dengan Irsyad." Irsyad bertanya kembali
" Ini semua salah saya Syad, saya sudah gagal menjadi orang tua, harusnya kami memikirkan perasaan Ikbal, bukan malah sebaliknya, kami malah melukainya." Jawab papa Ikbal dengan air mata yang sudah tidak bisa di tahan lagi
" Andaikan kami tidak memaksa keinginan kami mungkin..." Ucapan papa Ikbal berhenti dan membayangkan kemungkinan terburuk yang akan terjadi dengan sigap Irsyad memeluk ke dua orang tua dari sahabatnya itu yang sudah di anggap seperti orang tua sendiri bagi Irsyad
" Om dan tante harus optimis ya, Irsyad yakin kalau Ikbal pasti akan kembali sehat seperti sebelumnya." Irsyad memberikan dorongan kepada ke dua orang tua Ikbal
" Tante sangat berharap itu akan menjadi kenyataan nak." Ucap mama Ikbal dengan suara sangat pelan karena tangisannya masih belum reda
...🌷🌷🌷...
...To be continued ❤️...
__ADS_1