
Malam telah tiba dan sudah saatnya bagi manusia untuk tidur terlelap, tapi di sebuah kamar yang seluruh desain interiornya di dominasi dengan warna hitam tersebut tampak seorang pria yang masih terjaga.
"Aduhh.. Kenapa bayang-bayang lia selalu ada saat aku mau menutup mata. Ishh, dia benar-benar membuatku menjadi gila." Gumam jevin frustrasi. "Apa aku kirim dia pesan lagi ya?."
Jevin pun duduk bersandar dan mengirim pesan kepada lia.
Mister Black Forest Aneh๐
โ Hello, my future wife. Good night, jangan lupa sebelum tidur kamu harus berdo'a untuk jadi jodoh saya. Di sini saya selalu berdo'a agar kamu jadi jodoh saya. Ibu dari anak-anakku kelak.
"Sudah, kata ayah aku harus pelan-pelan mendekatinya. Jadi, aku akan mengirimi pesan kepadanya. Siapa tahu dia luluh dan menerimaku." Gumam jevin. Tak lama kemudian ponselnya bergetar tanda ada pesan masuk.
My Future Wife๐
โ Ninght too pak. Maaf saya tidak ingin berdoa seperti itu. Menurut saya itu terlalu unrealistis pak.
Jevin yang mendapat jawaban lugas tersebut pun di buat terperangah tak percaya.
"What.. Unrealistis, bagaimana bisa. Memang dia tuhan yang bisa menetukan jodoh orang lain. Tidak bisa di biarkan ini, pokoknya dia harus berdoa kalau aku harus jadi jodohnya." Ucap jevin dengan geram.
Mister Black Forest Aneh๐
โ Kenapa seperti itu, jodoh itu di tangan tuhan tahu. Dan saya yakin kalau kamu itu jodoh saya, maka dari itu kamu harus berdoa kalau kita harus berjodoh agar kita segera menikah. Restu allah itu nomor satu setelah restu orang tua lho.
Jevin menatap puas pada pesan yang baru saja di kirimnya. "Kalau begini dia tidak akan bisa berkata apa-apa lagi hehe." Ucap jevin dengan yakinnya.
My Future Wife๐
โ Memangnya bapak cenayang sampai segitu yakinnya jika saya adalah jodoh bapak. Iya memang jika restu allah itu nomor satu, tapi belum tentu restu itu untuk bapak menikahi saya. Bisa jadi untuk orang lain yang ingin menikahi saya.
__ADS_1
Jevin semakin di buat kesal dengan jawaban lia yang ada saja.
"Kenapa dia sepandai ini sih balesnya. Fix, bakal panjang ini urusannya." Ucap jevin kesal, dia menatap sederet kata yang ada di ponselnya dengan tajam seakan ingin membakar seluruh kata-kata lucknut tersebut.
Mister Black Foret Aneh๐
โ Baiklah, kalau begitu cukup kamu berdoa kepada allah agar jodoh kamu selalu di jaga dan di lindungi olehnya. Berdoa kepadanya agar jodoh kamu akan selalu ada bersama mu di samping kamu setiap saat. Dan aku akan menjadi orang itu.
My Future Wife๐
โ Kalau itu sudah pasti pak, dari dulu saya selalu mendoakan jodoh saya di setiap sujud saya. Saya selalu berdoa kepada allah agar allah selalu menjaganya, beri dia kesehatan, beri dia kecukupan entah dari materi maupun imateri. Pertemukan kita dalam keadaan baik. Itu yang selalu menjadi doa saya di luar doa untuk diri saya sendiri dan orang tua saya.
Jevin semakin di buat kagum kepada lia saat membaca balasan darinya. Kemantapan hatinya untuk memilihnya menjadi pendamping hidupnya semakin kuat.
"Dia gadis yang sangat manis, bukan hanya wajahnya yang terlihat manis tapi tingkah lakunya pun terlihat manis. Kalau aku benar-benar mampu meluluhkan hatinya dia pasti akan jauh lebih di sayangi dari pada aku." Gumam jevin.
Mister Black Forest Aneh๐
My Future Wife๐
โ Sama-sama pak. Serahkan segalanya kepada allah. Ninght too semoga mimpi indah pak.
Setelah mendapat balasan yang cukup manis tersebut jevin langsung merebahkan tubuhnya. Dia merasa tenang setelah mendapat pesan tersebut.
"Good ningt lia, aku yakin malam ini akan bermimpi yang sangat indah. Dan akan aku pastikan jika mimpi ini akan segera terwujud." Ucao jevin yakin.
Jevin memejamkan matanya hingga dia terlelap dalam mimpi indahnya.
***
__ADS_1
Di lain sisi di sebuah kos-kosan yang berukuran 3x5 tampak seorang gadis yang tengah menatap ponselnya dengan raut wajam penuh emosi karena sangat kesal pada pesan yang di bacanya.
"Pak jevin kurang garem sialan. Dia pikir dia siapa sampai memaksaku berdoa seperti ini. Ishh.. Rasanya pengen gue benjek-bejek jadi perkedel singkong." Omel lia dengan geram.
Lia membanting ponselnya ke kasur busa yang ada di kamar kosnya. "Akhhh.. males banget rasannya bales pesan unfaedah ni boss atu. Tapi kalau tidak di bales dia tersingung terus gue di pecat gimana, kan berabe nanti." Omel lia sembari mengambil poselnya kembali dan membalas pesan dari jevin.
"Aihh.. Heran gue kok bisa-bisanya doa viona istrinya sherk itu langsung ke kabul. Padahal sholatnya mah bolong-bolong kek gue. Atau jangan-jangan viona main dukun tapi salah mantra jadi nyasar ke gue gitu. Ishh.. Keterlaluan itu bocah." Gumam lia, pikirannya berkeliaran aneh karena terlalu pusing memikirkan tingkah aneh bin absurd dari bossnya tersebut.
Dia terlalu bingung dan syok dengan situasi yang dia hadapi saat ini, dia sama sekali tidak siap menghadapinya. Baginya dia hanya ingin fokus berkerja, berkerja dan berkerja agar dia menjadi sukses hingga membuat orang tuanya bangga dan tidak lagi kekurangan. Tidak masalah jika tubuhnya terasa letih karena terlalu banyak kegiatan yang di milikinya, asalkan keluarganya bahagia itu sudah cukup untuk membuatnya semangat.
"Bukannya aku mau menolakmu. Hanya saja rasa takut dan cemas yang akan selalu aku hadapi. Tidak pernah terpikirkan dalam hidupku untuk menjalin hubungan serius seperti ini. Aku tidak tahu niat kamu itu serius atau hanya main-main saja. Tapi yang pasti, kamu bukan prioritas untamaku untuk saat ini." Gumam lia sedih.
Matanya menerawang ke depan, seakan membayangkan bagaimana respon yang akan di berikan jevin kepadanya, jika nanti dia mengetahui segala gejolak yang memblengu hati dan hidupnya saat ini.
Masa lalunya terlalu menyakitkan untuk di ingat. Dia sendiri saja tidak tahu bagaimana bisa tuhan masih saja memberinya kesempatan di saat dia sendiri sudah berkali-kali menyerah.
"Ya allah rencana apa yang sudah engkau persiapkan untukku. Aku mohon, jangan beri aku cobaan yang besar. Aku takut jika aku tidak sanggup menerimanya lagi. Cobaan yang sudah engkau berikan sebelumnya itu masih menjadi bayang-bayang langkahku. Kali ini tolong beri aku waktu untuk lebih siap dan kuat dalam menghadapi rencanamu. Ya allah, tolong kuatkanlah hamba jika memang saat itu akan datang. Hanya kepadamu hamba berserah, hanya kepadamu hamba meminta pertolongan.." Air matanya luruh seketika.
Perasaannya berkecamuk, rasa takut dengan penolakan. Rasa takut dengan kekecewaan seakan membayangi pikirannya. Kedatangan jevin saat dia mengutarakan perasaannya saat itu seakan membuka masa lalunya yang sangat menyakitkan. Memang dia sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan masa lalunya. Tetapi dengan keseriusan yang terpancar di matanyalah yang membuatnya mau tidak mau suatu saat harus membukanya secara gamblang dan jujur.
'Apakah sudah saatnya? Tapi apakah aku sanggup untuk membuka dan memberitahukannya. Aku takut jika rasa kecewa dan sakit yang akan muncul di wajah mereka. Aku belum sanggup untuk melihat hal tersebut.' Batin lia cemas.
Dilema yang selalu menyelimuti hari-harinya seakan mengejeknya. Bayang-bayang rasa kecewa dan sakit dari kedua orang tuanya seakan membayanginya.
Lia menghela nafasnya yang seakan terlalu berat baginya. Setelah itu dia merebahkan tubuhnya dan memejamkan matanya.
'Untuk saat ini biarlah waktu berjalan. Aku tidak ingin terlalu memikirkannya.' Batin lia.
...****************...
__ADS_1
Jangan lupa dukungannya teman-teman ๐๐