
Sebelum membaca klik like yak...
let's vote for me boleh yak ... apalagi koin seikhlasnya juga boleh banget yak... thank u so much... love u all... 😘😍😊
***
Dita kembali ke rumah sakit bersama Adelia mencari Anan pastinya.
"Dita..." Andri menyapa Dita yang berada di depan ruangan dokter Dewi.
"Hayo... ngapain ada disini?" tanya Dita.
"Enggak, emang kebenaran lagi disini kok.'
"Hmmm bilang aja nemenin Tante Dewi kan?" goda Dita .
"Apaan sih, emang lagi di sini aja sumpah, siapa ni." tanya Andri melihat Adelia di belakang Dita.
"Oh ini Adel, ayo Adel Salim sama om gosong, eh maaf om Andri." ledek Dita.
"Ah Dita nih ya kalo isengnya kumat pengen aku cium deh." sahut Andri menggoda Dita.
"Ngomong apa barusan?" Anan menarik baju Andri kebelakang.
"Eh ada lontong kisut, sorry bro kelepasan."
"Jaga tuh mulut, yang ini cuma gue yang boleh cium, ya gak Ta." Anan mengedipkan satu matanya ke arah Dita.
"Ih malu tau ada anak kecil." Dita menutup telinga Adel segera.
Adelia menghampiri Andri mencium punggung tangannya.
"Om kok tangannya bau angus." ucap adel melepas tangan Andri.
"Hahahahha... gue bilang apa tempe angus, anak kecil tuh gak bisa boong." Anan makin meledek Andri.
"Aduh mau bales gue takut dia nangis, gue diemin nih bocah ngelunjak, kan sama angusnya masa dia ngatain gue ah dasar arang sate." ucap Andri kesal melirik Adelia yang menatap dengan tatapan polos dan datar dari ujung ruangan.
"Udah ah udah sama anak kecil tuh harus sabar, aku kesini mau cari alamat rumah Adel, Tante Dewi ada gak? aku mau nanya sama dia." ucap Dita.
"Tante Dewi tadi ada pasien korban kecelakaan yang satu badannya kebelah dari pinggang ke bawah ancur nah yang satu lagi kepalanya berdarah terus darahnya kemana-mana tadi Ta." Anan menjelaskan.
"Dih kaya gak biasa liat darah aja." sahut Dita.
"Eh kamu mau ngapain tadi, cari alamat dia kan?" tanya Andri.
__ADS_1
"Iya terus..?"
"Kita keruang arsip di kamar mayat aja gimana?"
"Ide yang bagus, yuk." ajak Dita lalu mereka pergi ke kamar mayat di rumah sakit itu.
***
"Gak ada dokter jaganya gimana nih?" Dita celingukan mencari sosok dokter diruang jaga itu.
"Lah yang gantiin aku mana yak?" Andri masuk ke dalam kamar mayat membukakan pintu untuk Dita.
"Hebat kan gue bisa buka pintunya." Andri berucap bangga.
"Iyalah kode pintunya aja belom diganti wajar aja kalo elo tau." sahut Anan menuju meja arsip mencari alamat para mayat yang pernah ada di ruangan itu.
"Assalamualaikum permisi numpang-numpang anak perawan cantik baik hati dan tidak sombong suka menabung numpang ijin masuk yak." ucap Dita.
Adelia tertawa cekikikan melihat Dita lalu tiba-tiba Adel ketakutan menuju balik tubuh Andri untuk bersembunyi.
"Hmmm perasaan gak enak nih kalo Adel kaya gitu, ya kan Nan pasti ada yang aneh deh di belakangku?" tanya Dita.
"Jangan noleh Ta kalo gak kuat." Andri menutup wajah Adel begitu pula Anan yang terlihat agak jijik melihat ke belakang Dita.
"Tuh kan... terus gimana?" Dita melirik darah yang mengalir ke arah sepatu sketsnya.
Dita berusaha meraih uluran tangan Anan berjalan pelan-pelan mencari data Adelia pada arsip-arsip di laci. Namun rasa ingin tahunya juga besar tak tahan rasanya jika tak melirik sosok yang di belakangnya tadi.
Benar saja yang dikatakan Anan, ini sepertinya korban kecelakaan tadi tubuhnya terbelah dua dengan bagian pinggang kebawah hancur, terlihat darah berceceran dari badan pinggangnya yang terbelah. Kaki bagian bawahnya berjalan ke arah Dita dan Anan sementara setengah badan lainnya berada di atas kasur menatap tajam ke arah Dita.
"Aduh please jangan minta tolong, yang ini aja belum kelar, please ya Allah biar kan dia tenang jangan gentayangan." bisik Dita.
Hantu itu menunjukkan bagian bokongnya pada Dita, dengan sikap seperti menungging makin menyodorkan bokongnya.
"Kurang ajar banget nih cowok ngapain coba dia pantatin kita Ta." sahut Anan kesal.
"Bukan itu kali maksudnya." ucap Dita.
"Ta.. liat tangan noh hantu nunjuk pantatnya, coba gih deketin kali dia mau ngomong sesuatu." tunjuk Andri ke arah hantu itu.
"Serius Ndri, gak papa nih?" Dita agak ragu mendekati hantu itu.
"Maaf ya bukannya aku gak sopan nih, aku gak mau liat tampang mas nya maaf ya aku takut, jadi gak usah lama-lama mau bilang aja mas?" Dita mendekat ke kasur hantu itu dengan menutup wajahnya.
"Deketin lagi Ta." sahut Andri.
__ADS_1
"Aduh pusing banget ini anyirnya kamu aja sini yang kesini Ndri !"
"Yeee aku kan jagain Adel ya dek." Andri mencoba mencari alasan pada Dita.
"Hu bisa banget boongnya tempe angus." gerutu anan.
"Udah stop aku deketin nih biar cepat, mau ngomong apa mas?" Dita mendekat kan telinganya ke wajah hantu tersebut.
"Liontin untuk istriku ada disaku." ucap hantu itu lalu dia menghilang yang Dita dapati hanya jasad hancurnya tertutup kain biru di ranjang di hadapan Dita.
"Kalian pada ngapain di sini?" seorang dokter perempuan datang ke dalam kamar mayat.
"Ma maaf Kak, saya cuma mau cari alamat." ucap Dita menjauh dari mayat tadi.
"Cari alamat kok disini? cari alamat tuh sama pak RT." sahutnya.
"Kamu siapa?" tanya Anan.
"Lho yang harus tanya tuh aku, kalian itu siapa, aku mah dokter jaga di kamar ini." perempuan itu melepas kacamatanya dan menaruhnya dimeja.
"Saya Ananta, eh Mananta Prayoga anak pemilik rumah sakit ini."
ucap Anan.
"Kamu pikir saya percaya, tunggu di sini aku lagi panggil satpam." perempuan itu meraih gagang telpon dan menghubungi satpam.
"Gimana ini Nan?" tanya Dita mendekat pada Anan.
"Udah tenang aja." sahut Anan menggenggam tangan Dita.
Tak lama dua orang satpam datang ke ruang mayat itu.
"Tangkap dua orang ini pak karena melanggar aturan rumah sakit!" perintah perempuan itu.
Namun dua orang satpam itu tak berani menghampiri dan hanya diam saling pandang satu sama lain.
"Kok diem aja, tangkap sekarang pak atau saya laporkan sama Bu Dewi." ucapnya.
"Maaf Bu dokter, kita gak berani nangkep." ucap satpam yang bernama Parjo itu.
"Kenapa gak berani nangkep?"
"Itu bapak Manan yang punya rumah sakit ini keponakan Bu Bos." jawab Paijo membuat Anan tersenyum bangga mendengarnya.
***
__ADS_1
To be continued...
Happy Reading 😘😘😘