Pocong Tampan

Pocong Tampan
Permata Cindi


__ADS_3

Sebelum membaca klik like yak...


let's vote for me boleh yak...


apalagi koin seikhlasnya juga boleh...


Rate bintang lima jangan lupa...


thank u so much... love u all... 😘😍


*****


"Ta ini panas banget tau, mana rame lagi pasarnya." Tasya menggerutu.


"Pasar tuh sepi kalau lagi tutup Sya, ya wajarlah namanya pasar rame." sahut Dita.


"Pasar di rumahku sepi lho Ta." sahut Tasya.


"Kok bisa?"


"Iya namanya pasar sayur, paling yang beli kalau ada pengunjung turis lokal lewat."


"Warga yang lain gak beli?" tanya Dita mengernyitkan dahinya.


"Enggaklah kan semuanya punya kebun sayuran jadi sepi hahahhahaa."


krik...krik...krik...


Dita menatap Tasya dengan tatapan datar.


"Gak lucu ya Ta?" tanya Tasya.


"Gak usah di jawab ya, eh Don, kamu bawa foto karyawan Cindi kan?" tanya Dita pada Doni yang mengawal keduanya.


"Bawa kak, siap nih di kantong." ucap Doni menepuk kantongnya.


"Tuh toko Babah Liong." tunjuk Dita lalu ketiganya menuju kesana.


"Silahkan non mau cari, cincin, kalung, gelang emas batangan juga ada." ucap seorang pria tua berwajah cina itu.


"Pagi Koh, ini masih inget dengan perempuan yang jual batu permata hijau gak disini, orangnya kaya dia mukanya."


Dita meraih foto dari tangan Doni dan menunjukkannya pada penjual tersebut.


"Oh non yang ini iya saya ingat tapi batu permatanya sudah di beri teman saya yang punya toko berlian dan permata di Mall Kota." sahutnya.


"Yah cape deh, masa kita harus kesana Ta?" Tasya menghela nafas dalam.


"Nama tokonya di mall itu apa koh?" tanya Dita.


"Bentar ya saya ambil kartu namanya, nih yang ini nama tokonya." ucapnya sambil memberikan kartu nama Toko Perhiasan Sukses pada Dita.


"Ok deh koh makasih banyak ya." Dita pamit segera.


"Iya sama-sama non kapan-kapan datang lagi ya beli emas di sini."


Dita menoleh pada penjual tersebut sambil mengangguk tersenyum.

__ADS_1


***


Sesampainya di Mall Kota, Dita memutuskan untuk makan siang di restoran cepat saji.


Dita memerintahkan Doni untuk mengantri lalu membawakan semua pesanannya.


"Aku gak mau soda ya Don." ucap Dita.


"Iya ini yang teh madu tanpa es batu khusus buat kak Dita." ucap Doni meletakkan semua pesanan ke atas meja.


"Makasih ya." sahut Dita.


Sesuatu menarik celana Doni dan mengusap pahanya dari bawah meja. Merasa yang melakukannya Tasya, Doni hanya senyum-senyum menatap Tasya.


Tasya memberi kode pada Dita untuk melihat Doni. "Aneh nih cowok." bisik Tasya.


"Ehm..Ehm.." Doni makin tersenyum menatap Tasya menikmati sentuhan tangan di pahanya.


"Aku mau nambah saus lagi ya." Tasya berdiri menuju tempat saus mengejutkan Doni.


"Lho, kok Tasya berdiri?" tanya Doni heran menunjuk Tasya.


"Orang mau ambil saus kok." jawab Dita.


"Terus masa kak Dita yang pegang-pegang saya?" tanya Doni sambil melongok ke bawah meja.


"Idih najong aku pegang-pegang kamu mending pegang Anan yang udah pasti halal." jawab Dita.


Sosok Cindi melambaikan tangannya pada Doni dari bawah meja.


"Waaaaaaaaaaaa." Doni berteriak mengejutkan semua orang yang disana termasuk Dita dan Tasya.


"Kenapa sih Don?" tanya Dita.


"Cin...Cindi... Cindi ngesot kak." ucap Doni gemetaran.


Dita melongok ke bawah meja.


"Kok kamu bisa nyampe disitu?" tanya Dita.


"Kan udah belajar dari oppa ganteng, lagian dari tadi juga Doni ke enakan gue elus - elus masa giliran liat gue malah teriak huh!" sahut Cindi


"Hadeh..." Dita menepuk dahinya sendiri.


***


Selesai makan mereka menuju toko perhiasan berdasarkan kartu nama yang Dita bawa dan bertemu dengan pemiliknya.


"Wah maaf banget kak, batu permatanya udah jadi cincin yang di pesan seminggu lalu oleh sepasang calon pengantin, baru aja kemarin diambil." ucap pemilik toko.


"Tahu alamat yang pesen gak?" tanya Dita.


"Maaf banget kak, kami tak bisa memberitahukan informasi mengenai pembeli, mungkin mau cari permata yang lain, bisa pesan dalam bentuk bandul untuk kalung atau mata pada gelang maupun cincin, apalgi kami selalu membuat design yang limited edition." ujarnya.


"Hmmm saya butuhnya permata itu pak, ya udah kalau begitu, makasih ya pak sebelumnya." ucap Dita lalu pamit.


"Terus bagaimana dengan gue Ta?" tanya Cindi.

__ADS_1


"Ya udah gentayangan aja sana di rumah sakit nemenin Jojo, habis mau gimana lagi permatanya udah ke jual sih." sahut Dita.


Cindi menangis sejadi-jadinya di dalam mall itu.


"Lagian laper banget sih sama duit, baru nemu barang bagus yang bukan hak nya main jual aja." Tasya mencibir Cindi dari kejauhan.


***


Keesokan harinya menjelang pesta pernikahan Tante Dewi dan om Kevin.


"Tante yakin gak mau telpon papi?" tanya Anan pada Tante Dewi yang sudah rapi dengan riasan cantik bak pengantin Eropa dengan make up natural.


"Gak usah Nan, toh habis ini kita mau ke Jepang buat bulan madu sekalian ketemu papi sama mami kamu."


Tante Dewi memakai anting berlian yang berbentuk mawar di padukan dengan kalung dan gelang yang senada.


Anan mengantar Tante Dewi menuju meja akad nikah lalu ia duduk di samping Dita langsung menggenggam tangan Dita.


Ijab kabul berlangsung khidmat dengan sekali nafas. Akhirnya om Kevin dan Tante Dewi resmi menjadi suami istri. Pesta pernikahan berpindah ke sebuah hotel bernuansa klasik yang dipesan Tante Dewi. Tak banyak tamu undangan yang hadir hanya seratus orang terdekat yang mereka undang.


Tante Dewi juga mengundang Miss Suzuki untuk menghadiri pesta pernikahannya. Shinta juga hadir bersama Lee, pacarnya yang selalu dibanggakan.


Dita, Anan, Tasya dan Doni malah asik mengabadikan gambar dengan pasangan baru itu. Ditambah dengan Bu Mey, Pia dan para pelayan lainnya ikut hadir dengan pakaian berwarna senada yang sudah di siapkan Tante Dewi.


Di sudut hotel, Cindi datang di bopong oleh Jojo.


"Cie kompak bener nih." ucap Dita menghampiri keduanya.


"Kepo gue penasaran mau lihat pernikahannya Bu bos, ganteng ya suaminya." ucap Cindi


"Ah semua laki bening dikit juga kamu bilang ganteng." sahut Tasya.


"Eh bentar, cincinnya itu... itu batu permata gue Ta." ucap Cindi menunjuk cincin yang dipakai tante Dewi.


"Kamu yakin?" Dita memastikan ucapan Cindi.


"Yakin Ta itu permata gue." Cindi merajuk berharap Dita percaya.


Dita dan Tasya saling memandang.


*****


To be continued


Jangan lupa mampir ke novel baru aku yak


"With Ghost"


dan novel ku lainnya ya guys...


- Kakakku Cinta Pertamaku


- 9 Lives


- Gue Bukan Player


Ku tunggu like dan komen kalian disana.

__ADS_1


__ADS_2