
Sebelum membaca klik like yak...
let's vote for me boleh yak...
apalagi koin seikhlasnya juga boleh banget...
Rate bintang lima jangan lupa...
thank u so much... love u all... 😘😍😊
****
"Kenapa Herdi membuat wasiat ini ya, dimana dia sekarang?" gumam pak Kevin menyerahkan kartu tersebut pada Dita.
"Anda yang bernama Anandita Mikhaela kan?" tanya Kevin.
"Iya saya pak." sahut Dita.
"Ini kartu yang dibuat Pak Herdi untuk mu, apa kau calon istrinya? Pak Herdi pernah bercerita kau itu calon istrinya." ucap pak Kevin.
"Maaf ya pak, Dita itu calon istri saya dua hari lagi kami menikah." sahut Anan dengan nada kesal. Pak Herdi tertawa melihat tingkah Anan yang kesal.
"Tapi ini, aduh bagaimana sih menghubungi si Herdi ini." gumam pak Kevin kesal.
"Tante aja yang jelasin kemana pak Herdi." ucap Dita.
"Gak bisa Ta, coba komunikasi Ta, perlihatkan sosok Herdi padanya." Tante Dewi menepuk bahu Dita spontan.
"Aduh sakit tau Tante, tapi gimana caranya?" Dita mengusap bahunya.
"Coba pegang pak Herdi terus kamu pegang pak Kevin kayak waktu sama Andri." Tante Dewi memberi ide.
"Bisa gak, gak usah pegang - pegang dia." sahut Anan kesal.
"Nan posesif kamu itu sweet banget tau, tapi logika nya juga jalan, gak akan terjadi apa - apa kok kalau aku pegang pak Herdi."
"Tapi aku gak suka aku cemburu." sahut Anan yang di tertawakan pak Herdi dan tante Dewi.
"Ini ada apa sih sebenarnya siapa pegang siapa saya kok gak paham?" ucap pak Kevin bingung dan heran.
"Sebentar ya pak, coba pinjem tangannya." ucap Dita meraih tangan Pak Kevin. "Pak Herdi coba pinjem tangannya." Dita meraih tangan pak Herdi dan menaruhnya di bahu Dita.
"Melihat sesuatu gak pak?" tanya Dita pada pak Kevin.
"Aku lihat apa? maksudnya apa sih?" tanya Pak Kevin.
"Wah gak bisa nih, bentar aku konsentrasi yak." ucap Dita. Pak Herdi makin mendekat dan melingkarkan tangannya di leher Dita.
"Bisa lepasin gak!" teriak Anan ke Pak Herdi.
"Po...po...pocong...!" Pak Kevin jatuh tak sadarkan diri melihat penampakan pak Herdi.
"Berhasil Nan." Tante Dewi menepuk - nepuk punggung Anan.
__ADS_1
"Ya tapi aku gak suka dia kaya gitu sama Dita, lepas gak!" Anan melepas lingkaran lengan pak Herdi di leher Dita.
"Sumpah merinding lho, dulu Andri gak gini banget, ini kenapa Pak Herdi bikin merinding gini ya?" Dita bergidik ngeri menjauh dari pak Herdi.
"Terus si Kevin gimana ini?" tanya Tante Dewi.
"Bantuin angkat Nan." Dita mendorong Anan pelan agar membantu Tante Dewi mengangkat pak Kevin ke sofa di ruang kerjanya.
Setelah Pak kevin sadar Dita mencoba kembali ritualnya tadi mempertemukan pak Herdi dan pak Kevin. Kali ini pak Kevin lebih kuat melihat penampakan pak Herdi. Semua cerita yang terjadi di ceritakan kepadanya panjang lebar mengenai kematian pak Herdi dan kecelakaan yang menimpa pak Kevin.
Sayangnya ketika Tante Dewi menyuruh pak Herdi menceritakan soal Lisa, tenaga Dita sudah habis dan harus mengakhiri pertemuan pak Herdi dan pak Kevin itu.
"Maaf ya Tante, dah di nikmatin aja siapa tau jodoh hehehe." bisik Dita dengan balasan wajah cemberut dari Tante Dewi.
****
"Bagaimana apakah sudah selesai?" tanya kapten Jihan.
"Sudah kapten, terima kasih sudah mengawal saya." sahut pak Kevin.
"Pengawalan saya belum berakhir, mari semuanya saya akan mengawal sampai kerumah Bu Dokter." jawab kapten Jihan dengan senyumnya yang terlihat gagah bijaksana di balik sosok wanita tangguh itu.
"Lho ini kan rumah saya?" tanya Pak Kevin penuh kebingungan.
"Terlalu bahaya jika anda tinggal disini, sebaiknya anda ikut saja." ucap kapten Jihan.
"Ummm maaf Tuan mau tinggal dimana?" tanya si mbok pelayan.
"Gak tau mbok nanti saya hubungi, tolong jaga rumah ini ya." ucap pak Kevin pada pelayannya itu.
Pak Kevin mengikuti rombongan Tante Dewi masuk ke mobil yang di kendarai oleh Doni menuju rumah Anan di kawal oleh mobil kapten Jihan dibelakangnya.
Si mbok pelayan menghubungi seseorang dari ponselnya.
"Halo bos, tuan Kevin sudah pergi dikawal polisi."
"Kemana dia pergi?" tanya seseorang di seberang sana.
"Saya gak tau bos, tadi dia gak bilang alamatnya, katanya nanti dia hubungi saya kasih tau tinggal dimana."
"Lalu apa brangkas nya sudah kamu temukan?"
"Maaf bos, belum."
"Dasar bodoh! hubungi saya kalau kamu sudah tau, brengsek!" seseorang diseberang sana menutup sambungan teleponnya.
****
Pintu gerbang utama rumah Anan terbuka mobil-mobil tersebut melaju menyusuri halaman rumah Anan yang luas itu.
"Nanti aku tidur dimana Tante?" ucap Dita teringat perjumpaan nya dengan hantu nyai yang menyeramkan tempo itu.
"Kamu di kamarku dong Ta." sahut Anan.
__ADS_1
"Sembarangan, belum nikah!" ucap Tante Dewi.
"Ya maksudnya kalau udah nikah hehehe." Anan menggaruk kepalanya.
Bu Mey dan beberapa pelayan sudah menunggu di depan pintu depan rumah keluarga Arjuna yang mewah nan megah itu.
"Selamat datang." ucap Bu Mey dengan senyum khasnya.
"Seperti yang saya sudah ceritakan tadi untuk sementara biarkan dia tidur di kamar Manan ya Bu."
"Saya bingung sebenarnya masa den Manan tidur nya maunya di kamar den Anan, eh malah kamar den Manan di tempati pak Kevin ini gimana sih Non?" tanya Bu Mey heran.
"Udah ikutin aja emang si Aden itu maunya gitu, oh iya persiapan pernikahannya bagaimana?" bisik Tante Dewi.
"Beres non, biar kejutan buat den Manan sama non Dita hihihi."
"Bagus Bu, makasih ya."
"Bu Mey, molly kemana?" tanya Anan.
"Waduh maaf den ibu lupa bilang, Molly sakit den kata dokter kena papo, papo apa ya?"
"Parvovirus, CPV gitu Bu?" sahut Tante Dewi.
"Iya bener, jadi nyawa molly gak ketolong maafin ibu den."
"Huaaaa Molly..." Anan berlari menuju kandang molly sambil menangis seperti anak kecil Dita mengikuti Anan dibelakangnya.
"Lah kaya bocah." sahut Anita.
"Baik Bu dokter saya harus pamit, jika ada kabar terbaru nanti saya akan hubungi Bu dokter." ucap kapten Jihan.
"Tentu jangan sungkan silahkan saja kapten."
"Oh iya jangan biarkan pak Kevin menghubungi siapapun saat ini."
"Ummm baiklah, ke siapapun ya termasuk orang rumahnya?"
"Iya karena saya masih curiga dengan orang-orang terdekat pak Kevin."
"Baiklah kapten, terima kasih untuk semuanya."
Dokter Dewi mengantar kapten Jihan ke mobilnya dan melaju pergi dari rumah besar keluarga Arjuna.
"Jadi dimana kamar kita Lisa?" tanya Pak Kevin memeluk Tante Dewi dari arah belakang.
"Hah, kamar kita? emmm ikut ibu Mey nanti dua yang kasih tau kamar kamu." Tante Dewi melepas pelukan pak kevin dan meninggalkannya masuk ke dalam.
***
To be continued...
Jangan lupa mampir ke 9 lives...
__ADS_1
Maaf kalo masih ada kata-kata yang typo.
Bulan ini Vie mau rajin up buat target 60rb kata siapa tau gajian aamiin... Thank you for your support guys jangan bosen bacanya ya... 😘😘😘