Pocong Tampan

Pocong Tampan
Bani dan Keluarganya


__ADS_3

Sebelum membaca klik like yak...


let's vote for me boleh yak...


apalagi koin seikhlasnya juga boleh banget...


Rate bintang lima jangan lupa...


thank u so much... love u all... 😘😍😊


***


Dita dan yang lainnya sudah sampai di apartemen dokter Dewi.


"Kamu ngapain sih Nan ko ikut pulang kesini?" tanya Tante Dewi.


"Rumah aku kan di sini." jawab Anan sambil tersenyum lebar.


"Hah? disini? maksud kamu?"


"Aku sewa apartemen yang di depan rumah Tante hehhee."


"Mau ngapain iseng banget kamu tinggal di situ?"


"Aku mau jagain Dita biar gak di isengin sama cowok lain nanti."


"Hadeehh ampun deh bucin banget ni bocah." Tante Dewi menepuk jidat nya.


"Ngomong apa dia Tante?" tanya Dita yang datang bersama Anita sambil membawa bungkusan batagor dari sebrang apartemen.


,"Kamu tau gak Ta dia tuh tinggal disini?"


"Iya tau, iseng banget yak sok banget mentang-mentang kaya, dia sewa tuh apartemen."


"Hadeeehhh..." Tante Dewi menarik nafas panjang.


Mereka masuk ke dalam apartemen menuju lift.


"Kaka Dita huhuhuhu... mama papa aku kak." Bani datang memeluk Dita sambil menangis.


"Kamu kenapa Bani?" Dita menyerahkan bungkusan batagornya pada Anan dan membelai kepala Bani.


"Tolongin mereka kak." ucap Bani sambil menangis.


"Kenapa Ta?" tanya Tante Dewi heran melihat Dita.


"Tante tau anak kecil yang meninggal jatuh dari lantai sepuluh namanya Bani?"


"Enggak Ta, emang kenapa?"


"Dia minta kita tolong mama papanya sekarang."


"Yaudah ayok buruan kita tolong." Dita, Anan, Tante Dewi dan Anita bergegas menemani Bani menuju lantai sepuluh.


Sesampainya disana Anan langsung mengetuk pintu rumah Bani namun tak ada jawaban.


"Kamu yakin mereka di dalam?" tanya Dita.


"Iya kak mereka, mereka huhuhu..."

__ADS_1


"Coba Nit kamu ke dalam, bisa nembus gak?" Dita menoleh pada Anita.


"Aku coba ya Ta."


Dua kali Anita menabrak pintu apartemen bertuliskan 213 itu namun gagal.


"Aku ambil ancang-ancang dulu nih." Anita menuju ujung koridor lalu lari sekencang-kencangnya menabrak pintu rumah Bani dan akhirnya berhasil masuk. Karena tak bisa menahan keseimbangan untuk berhenti Anita keterusan sampai luar jendela dan terjun bebas ke lantai bawah.


"Lama banget sih Anita mana sih gak ada kabar." gumam Dita.


"Gimana Ta, coba Nan ketok lagi."


Perintah Tante Dewi.


"Gak ada yang nyaut Tante." sahut Anan.


Anita tiba-tiba datang dari dalam lift.


"Sorry Ta aku kebablasan keluar jendela maaf yak hehehe, nih aku coba lagi."


Anita berhasil masuk mencoba mencari tau keberadaan orang tua Bani. Anita mencoba membuka pintu kamar orang tua Bani dan betapa terkejutnya ia dengan pemandangan mengerikan di depannya itu.


Orang tua Bani sudah bersimbah darah di atas ranjangnya. Pada bagian dada papa nya Bani penuh dengan luka tusukan, di samping tubuhnya tergeletak mama nya Bani yang telungkup dengan tangan kiri meneteskan darah kelantai karena luka sayatan. Di lantai samping ranjang mereka tergeletak pisau dapur penuh dengan darah.


Anita panik lalu berusaha membuka pintu rumah Bani namun tak bisa akhirnya dia menembus keluar pintu itu lagi.


"Gawat Ta, gawat." ucap Anita penuh kepanikan dan ketakutan.


"Gawat kenapa?"


"Orang tua Bani mati Ta, mati." Anita mengguncang bahu Dita.


"Apa? inalillahi yang bener Nit?"


"Kenapa Ta?" tanya Tante Dewi.


Anan mencoba mendobrak pintu apartemen itu namun sulit untuk tubuh seukuran Anan.


"Panggil security Tante, kata Anita orang tua Bani udah gak ada?"


"Pergi maksudnya?"


"Bukan tapi meninggal."


"Apa? Tante coba hubungin security di bawah."


***


Satu jam kemudian para polisi dan petugas medis sudah sampai di apartemen mengevakuasi kedua jasad suami istri yang tak bernyawa itu, dugaan sementara pembunuhan, namun setelah di cek hasil cctv ternyata hasilnya sangatlah mengejutkan.


Terjadi pertengkaran hebat antara keduanya, Mamanya Bani memang sedikit depresi atas kematian anaknya dan masih belum menerima kematian Bani. Susi nama mamanya Bani tersinggung dengan pertengkaran hebat itu. Ibu Susi lantas menusuk suaminya yang bernama Heri berkali-kali saat tertidur pulas dengan pisau yang sudah disembunyikan nya di balik bantal.


Setelah Pak Heri di pastikan tak bernyawa, ibu Susi lantas menyayat urat nadinya sendiri hingga darah bersimbah kemana-mana dan detak jantung pun terhenti tak lama setelahnya. Mereka berdua tergeletak di ranjang pembaringannya.


***


Banyak penghuni apartemen yang berkerumun melihat kejadian itu bahkan mengambil selfie ataupun video live terkini di sosial medianya, pemandangan yang miris untuk disaksikan dan di sayangkan oleh Dita.


"Kakak ikut Bani yuk!" ajak Bani menarik jemari kanan Dita.

__ADS_1


"Mau kemana Bani?"


Bani tak menjawab hanya terdiam melangkah menaiki tangga darurat. Anita dan Anan mengikutinya dari arah belakangnya.


Sesampainya di atap paling atas apartemen Dita menjumpai sosok ibunda Bani yang menunggunya.


"Maafin Mama ya nak." Mama Bani langsung memeluknya.


"Mama kenapa bunuh papa?"


"Mama khilaf mama gak bisa tahan emosi mama seolah mama di kuasai sesuatu, papa pasti marah banget sama mama." ucap mama Bani sambil terisak.


"Enggak kok Tante, itu papanya Bani muncul." ucap Dita menyela.


Papa Bani sudah berdiri merentangkan kedua tangannya memberi sinyal kepada Bani dan mamanya untuk menghampiri pelukannya.


"Maafin aku Pa, maafin aku..." tangis mamanya Bani pecah memeluk suaminya itu.


"Aku tahu ma, aku tau kondisi kamu, aku yang salah juga karena tak sabar menghadapi mu, maafin aku juga ma." ucapnya memeluk Mama Bani dengan erat.


"Bani ayo kita pulang." ucap Papa Bani mengajak Bani untuk ikut serta bersamanya pergi ke alam lain.


Seberkas sinar datang di ujung atap apartemen itu lalu ketiganya melangkah masuk ke dalamnya.


"Dah kakak Dita, dah kakak Anan, dah Kakak Anita, kapan-kapan kita main terjun payung lagi yah." Bani melambaikan tangannya sambil tersenyum lebar.


"Daaaahhh Bani....!" ketiganya melambaikan tangan dengan kompak bersamaan.


"Terima kasih ya sudah menemani Bani." ucap mama Bani tersenyum hangat.


"Iya Tante, sama-sama." sahut Dita.


Keluarga Bani menghilang seiring dengan hilangnya sinar terang di atap apartemen itu.


Tak terasa bulir air mata menetes jatuh di pipi Dita dan Anita.


"Kok aku sedih ya Nit." ucap Dita.


"Aku juga Ta." Anita memeluk Dita dari samping.


"Aku kok gak di peluk?" tanya Anan.


"Hmmm gimana ya? sini deh aku peluk." ucap Dita memeluk Anan.


"Suatu saat kalau aku bisa menikahimu jangan sampai kita kaya mereka ya Ta, semasa hidupnya hanya bertengkar tidak saling memahami pas udah meninggal baru mereka sadar kesalahan mereka." Ucap Anan memeluk Dita.


"Iya Nan aku janji akan selalu ngerti buat kamu, dan kamu juga janji akan selalu ngerti buat aku." sahut Dita.


"Aaaaaahhhh so sweeeett.... kok aku jadi baper yak, mau peluk siapa nih aku?" Anita memeluk dirinya sendiri.


"Sini-sini aku peluk lagi." Dita melepaskan pelukannya dari Anan merentangkan kedua tangannya menyambut pelukan Anita, namun sebelum Anita menghampiri Dita, Dita sudah mendorong Anan agar tidak ikut memeluk Anita.


"Aduh, sakit tau Ta." Anan menepuk bokongnya yang mencium lantai saat itu.


"Hehehehe aku gak mau kamu ikutan peluk Anita."


Dita tertawa terkekeh.


***

__ADS_1


To be continued...


Happy Reading guys😘😘😘


__ADS_2