Pocong Tampan

Pocong Tampan
The Wedding (Part 1)


__ADS_3

Sebelum membaca klik like yak...


let's vote for me boleh yak...


apalagi koin seikhlasnya juga boleh banget...


Rate bintang lima jangan lupa...


thank u so much... love u all... 😘😍😊


****


Di beranda lantai dua rumah besar milik keluarga Anan, Dita memandang langit malam, bulan tampak melingkar sempurna memancarkan cahaya terang yang didapat dari pantulan sang matahari. Disekitar bulan banyak pula bintang - bintang yang berkelipan. Seharian itu Dita tak bertemu Anan, Tante Dewi sengaja mencegah mereka agar tak bertemu.


"Boleh aku bergabung." Aiko datang menghampiri Dita.


"Silahkan nyonya." ucap Dita.


"Panggil aku mami."


"Eh iy mami, kok belum tidur?" tanya Dita mempersilahkan Aiko untuk duduk.


"Ini, aku ingin memberikanmu kado ini." Aiko menyerahkan kotak perhiasan hadiah untuk pernikahan Anan dan Dita.


"Ini apa mami?"


"Bukalah."


Dita membuka kotak beludru tersebut dan terpana melihat satu set perhiasan Swarovski yang sangat cantik dan pasti harganya sangat mahal.


"Saya gak pantes mi pakai ini, ini terlalu mahal buatku." Ucap Dita seraya menyerahkan kembali kotak perhiasan itu namun mami Aiko menolaknya.


"Itu memang untukmu, kamu harusnya memakainya saat pernikahan besok ya." Mami Aiko memegang kedua bahu Dita sambil memandangi nya membuat Dita merasa risih dan canggung dengan keadaan kala itu.


"Ada yang aneh sama aku mi?" Tanya Dita penasaran dan heran dipandang seperti itu.


"Tidak ada yang aneh kok, istirahat lah, kan besok kamu akan menikah, nah mami masuk ke dalam dulu ya mami juga mau istirahat."


"Iya mi, jangan lupa minum obat dan vitamin ya."


"Tentu saja." Aiko masuk ke dalam rumah dan sempat melihat Dita dari balik tirai.


"Pantas saja sang ratu sangat menginginkan nya." Gumam Aiko.


Dita memandangi bintang yang berkelipan di langit malam yang terang itu sambil bergumam.


"Ayah, ibu, Ali kalian pasti ngeliatin aku dari atas sana kan? Seandainya saja kalian masih ada aku pasti bakal bahagia banget, terus kalian pakai seragam yang senada warnanya foto-foto sama Dita dan Anan di sebuah gedung atau kebun bertenda."


Tak terasa air mata menetes ajtuh di pipi Dita.


"Mereka pasti seneng dan selalu ngedoain kamu bahagia kok Ta."


Anita yang datang tiba-tiba langsung mengusap air mata di pipi Dita.


"huaaaaa... Anita....hu....hu..." Dita memeluk Anita, tangisnya tak lagi dapat dibendung saat memeluk Anita, begitu juga dengan Anita.

__ADS_1


"Besok jangan pergi ya Nit, jangan pernah pergi setelah aku menikah, aku mohon Nit."


Tangis Dita makin pecah bersamaan dengan tangis Anita yang juga pecah.


Doni yang melintas di beranda itu tiba-tiba menghentikan langkahnya. Doni bersembunyi di balik tirai memperhatikan Dita dan Anita yang saling berpelukan.


"Kenapa hati ku sakit yak, kok aku sedih banget kayaknya kalau Anita pergi."


Gumam Doni sambil masih memperhatikan Dita dan Anita.


****


Sinar matahari pagi itu tersenyum menyapa para penghuni bumi dengan kehangatannya. Anan yang sedari subuh sudah siap dengan setelan jas pernikahan yang berwarna hitam dengan kemeja putih dan dasi biru itu makin gelisah mondar-mandir di hadapan cermin. Suara ketukan pintu terdengar di pintu kamar Anan.


"Boleh saya masuk." Pinta pak Kevin dengan setelan jas yang tak kalah rapih.


"Boleh om silahkan." Jawab Anan dengan sopan.


"Kamu gugup yak?" Tanya Kevin.


"Banget om, gimana ini urusannya yak?" Tanya Anan sedikit panik namun Kevin berusaha menenangkan dan memberikan beberapa wejangan pada Anan serta menceritakan pernikahannya dulu dengan Lisa istrinya.


Tante Dewi melirik Anan dan Kevin di kamarnya mencoba bersembunyi.


"Bodoh banget kamu Lisa, bisa-bisamya kamu tinggalin suami seperti Kevin."


Gumam Tante Dewi.


Kemudian Tante Dewi mengecek keadaan Dita di kamarnya. Rupanya Aiko sudah berada disana merias Dita dengan keahliannya yang jago berdandan dan belajar merias diri.


"Udah apa Tante mandangnya, kan aku malu." Sahut Dita.


"Keren juga kak Aiko ini jadi stylish." Tante Dewi menoleh takjub pada Aiko.


"Dulu waktu kamu nikah kan aku juga yang dandanin."


"Iya sih, yuk kita turun." Ajak Tante Dewi.


"Bentar dikit lagi siap, nah udah beres deh." Ucap Aiko.


"Dita boleh selfie sama kalian gak?" Tanya Dita.


"Boleh lah yuk selfie dulu." Tante Dewi mengeluarkan ponselnya.


Mereka pun asik ber-selfie ria bersama.


"Aku turun duluan yak." Tante Dewi keluar dari kamar Dita.


Di luar kamar Dita.


"Bu Mey gimana, yang dekor udah pada datang kan?" Bisik Tante Dewi pada Bu Mey.


"Siap nyonya begitu kalian pergi ke KUA nanti langsung pada dekor kilat pokoknya beres deh." Sahut Bu Mey dengan tersenyum.


"Bagus, makasih banyak ya Bu, saya ke KUA dulu nih anter Dita dan Anan."

__ADS_1


"Beres nyonya." Bu Mey lalu pergi ke lantai bawah menginstruksikan perintah Tante Dewi kepada pelayan dan tukang dekor yang masih bersembunyi.


Anan, pak Kevin dan Doni sudah menunggu di mobil, kaki Anan makin berguncang-guncang karena gugup dan tak sabar menuju kantor KUA setempat.


"Mami duluan aja, nanti Dita menyusul."


Ucap Dita lalu Aiko keluar dari kamar Dita menghampiri Tante Dewi.


Dita memandang sosok pak Herdi yang berada di sudut ruangan.


"Kamu yakin Ta mau menikah gak berubah pikiran gitu?" Goda pak Herdi.


"Ah pak bos bisa aja modusnya." Sahut Anita.


"Bercanda Nit, silahkan Ta, raihlah kebahagiaanmu." Ucap pak Herdi.


"Aku mau peluk." Ucap Dita menghamburkan tubuhnya memeluk pak Herdi.


"Ayo Ta nanti terlambat, Anan keburu marah - marah lagi." Ucap Anita.


"Pak Herdi gak ikut?" Tanya Dita.


"Saya disini aja, capek juga lompat - lompat terus hehehe."


"Ih si bapak kocak."


Sahut Anita lalu mendampingi Dita keluar dari kamar dan menuruni tangga menuju mobil yang sudah terparkir menunggunya.


"Waaaahhh cantik banget kak Dita." sahut Doni yang melongo saat Dita keluar dari pintu depan.


Plak... Anan memukul kepala Doni.


"Punya gue Don, jangan dilirik." ancam Anan.


"Cuma muji doang pak posesif banget dah ah." sahut Doni.


Dita melirik Anan sekilas dan tersenyum lalu masuk ke mobil belakang bersama Tante Dewi dan Aiko.


"Hadeh meleleh neng Abang di senyumin kaya gitu, jadi gak sabar nih." ucap Anan.


"Udah jangan berisik aja, ayo Don buruan jalan." perintah Tante Dewi.


"Siap Bu." sahut Doni menyalakan mesin mobilnya.


Anan masih melirik ke arah Dita mengeluarkan kepalanya dari kaca mobil.


"Nan tutup itu kaca mobil!" teriak Tante Dewi. yang menyetir mobil untuk Dita.


Dita duduk di samping Aiko di kursi belakang. Sementara Anita duduk di kursi depan dengan Tante Dewi. Anita sempat bertatapan dengan Aiko namun Aiko langsung menoleh ke arah lain.


****


To be continued...


jangan lupa vote nya lirik ke 9 lives juga yak...😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2