Pocong Tampan

Pocong Tampan
Rumah Seberang


__ADS_3

Sebelum membaca klik like yak...


let's vote for me boleh yak...


apalagi koin seikhlasnya juga boleh banget...


Rate bintang lima jangan lupa...


thank u so much... love u all... 😘😍


***


Masih dini hari dengan cuaca hujan deras dengan angin dingin yang berhembus menusuk seperti menembus ke dalam sumsum tulang di beranda kamar Dita kala itu. Dita masih berjongkok dengan pak Herdi berada di sampingnya. Tiba-tiba Dita melihat ke arah kaca jendela di hadapannya. Anan sudah berdiri dengan menempelkan wajah dan kedua telapak tangannya.


"HAH? Yanda ku tersayang sejak kapan disitu?"


pekik Dita yang mulai khawatir dengan raut wajah Anan karena terlihat jutek dan tak bersahabat.


"Kamu ngapain pegang-pegang mukanya si tofu basi Ta?" tanya Anan dengan wajah yang mulai garang dan terlihat kesal.


"Dih siapa yang pegang aku cuma mabok dikit tau." sahut Dita berdiri membuka jendela kamarnya lalu masuk.


"Ah masa tadi aku liat kamu megang dia lho." Anan masih bersikeras.


"Ya ampun gak sayangku, cintaku, kasihku, suamiku paling tampan sedunia, percaya deh sama istri mu yang cantik nya dari hati, baik hati dan tidak sombong ini." Dita memberikan senyum maut termanisnya pada Anan.


"Hmm... terus pada ngapain disitu sama para pria bungkusan itu?" Anan menunjuk pocong berwajah hitam dan pak Herdi di hadapannya.


"Tadi ceritanya aku bangun ke toilet terus si potem itu lewat depan jendela taunya mau nunjukin sesuatu hal yang mencurigakan Nan." sahut Dita mencoba menjelaskan.


"Tunggu, apa kata kamu potem?" tanya Anan.


"Iya kata Pak Herdi si item aku bilang aja potem, pocong item hahahhaha." Dita menepuk-nepuk bahu Anan sambil tertawa tapi tatapan om pocong berwajah hitam itu makin menyeramkan melihat Dita.


"Yah aku diliatin deh tuh." Dita bersembunyi di balik tubuh Anan.


"Hahahaha potem... hahhaha pocong item bisa aja kamu Ta." Anan tertawa terbahak-bahak memegang perutnya sambil menunjuk ke arah pocong berwajah hitam tadi.


"Udah Nan, udahan tuh dia ngeliatin aja dari tadi marah." Dita menghentikan Anan yang tertawa.


"Dih iya, serem juga lama-lama Ta." ucap Anan.


"Mau gue keroyok Menyan?" ucap pak Herdi yang mendekat ke hadapan Anan bersama pocong berwajah hitam tadi.


"Lah kok mainnya keroyokan sih, mau gue Iket bareng kali Lo berdua sekalian, terus gue gelindingin berdua sekalian hahaha." Anan meledek ke duanya.


Pak Herdi dan pocong berwajah hitam tadi makin mendekat dengan wajah menyeramkan nya itu.


"Oke oke oke maaf ya, baunya udah gak enak ini ada bau bangke - bangkenya gitu nih menusuk ke hidung gue." Anan berusaha menahan tawanya.


"Anan kalau ngomong yak asal jeplak aja kayak sandal mangap sol bawahnya." Dita menepuk bahu Anan.


"Ya maaf, coba ceritain gimana tadi yang kamu lihat?" tanya Anan menarik Dita duduk ke atas ranjang keduanya.


"Gini nih tadi kata pak Herdi sama potem mereka lihat para manusia dari luar negeri, pokoknya bukan orang sini asli deh, terus mereka pada keluar dari mobil box terus masuk ke ruang gudang yang dibelakang sana."


ucap Dita mencoba menjelaskan.


"Terus gimana lagi, maksudnya orang-orang itu ngapain di taro di dalam mobil box emang gak panas apa?" tanya Anan.


"Nah kita curiga mereka itu melakukan perdagangan manusia Nan." ucap Dita.


"Maksudnya tuh para manusia di suruh dagang?" Anan mengernyitkan dahinya.

__ADS_1


"Hadeh sama aja tadi Dita yang lemot lah ini si menyan juga lemot apa gara-gara baru bangun tidur ya masih pagi, hadeh..." sahut pak herdi dengan nada kesal.


"Kan katanya perdagangan manusia berarti di suruh pada dagang dong?" Anan masih bertanya dengan wajah polosnya.


"Hadeh coba di guncang dulu ya ini kepalanya siapa tau otaknya ngumpul." ucap Dita mengguncang kepala Anan dengan gemas.


"Apaan sih emang otak aku lumer apa kayak kue coklat lumer yang kamu buat kemaren." sahut Anan.


"Hahaha persis mirip sama tuh kue kan kalau di ketuk tengahnya tuh kue pakai sendok keluar tuh coklatnya lumer kan nah persis tuh kayak otak Lo." pak Herdi tertawa dengan puasnya.


Anan langsung menarik ikatan kepala pak Herdi membawanya jatuh ke lantai dan berguling ria di lantai.


"Astagfirullah... ni berdua ya akur dikit kenapa sih ini mau lanjut gak cerita nya?" Dita melempar keduanya dengan bantal dari kasurnya.


"Aduh... sakit ta." Anan mengeluh karena timpukan bantal Dita tepat mengenai wajahnya.


"Lagian kalian berantem mulu sih ini aku kan lagi cerita serius." sahut Dita mulai kesal.


"Nih kan dia duluan ngatain aku Ta rese nih pocong nih ngajak ribut mulu." rengek Anan.


"Lah Lo duluan ya yang main kekerasan fisik narik-narik ikatan pocong gue." sahut pak Herdi kesal.


"Stop sih stop, aku muak, aku jijik dengan perdebatan kalian, hentikan semuanya, aku mohon hentikan." ucap Dita dengan raut wajah ala pemain sinetron yang wajahnya di perbesar jelas dengan iringan lagu menegangkan.


"Apaan sih Ta garing tau." sahut Anan.


"Iya Ta, gak jelas ih." sahut Pak Herdi juga.


Keduanya memandang Dita dengan tatapan aneh.


"Hehehe gak pantes ya akting aku." ucap Dita tersipu malu dengan kelakuannya barusan.


"Ya udah coba jelasin lagi itu manusia suruh berdagang apa?" tanya Anan lagi.


"Ampun dah, manusia nya yang dijual Anan, di jadiin pekerja se*s komersil apa lainnya gitu terserah yang mau beli, bahkan bisa jadi mau di bunuh di ambil organ tubuhnya kaya dia tuh si item." sahut pak Herdi mencoba menjelaskan meski agak kesal menghadapi kelakuan Anan.


"Tuh sayatan di dekat perutnya, kemungkinan ginjalnya hilang semua."


"Wuidih harusnya Tante Dewi nih yang ngecek kondisinya." sahut Anan.


"Kamu mau nyuruh Tante Dewi ngecek kondisinya?" tanya Dita ke Anan.


"Iya kan dia dokter jadi paham." sahut Anan.


"Yang ada pas Tante Dewi liat nih pocong auto gedubrak pingsan dari malem sampe pagi kayak waktu abis liat kamu dulu Yandaku sayangku." Dita mencubit ke dua pipi Anan dengan gemas.


"Heheha iya ya, ya kali."


"Lagian dia udah mati kalau mau di cek atau autopsi ya jasadnya." sahut pak herdi.


"Iya ya, kira-kira di mana jasadnya?" tanya Anan.


"Aku tahu pernah lihat potem menghilang di pohon besar dekat gudang waktu pas kebakaran kayaknya si potem di kubur disitu deh." ucap Dita.


"Wah bisa jadi tuh terus cara menyelidiki nya gimana nih?" tanya Anan lagi.


"Aku mau hubungi kapten Jihan terus aku ceritain semuanya supaya dia bisa menyelidiki asal kalau mau gerebeknya pas mobil box nya datang atau pergi membawa muatan manusia, ya gak?"


Dita memberi ide.


"Wah bener tuh ide yang bagus." sahut pak Herdi tersenyum bangga ke arah Dita.


"Gak usah pakai liat sambil terpesona gitu ya, ini milik gue jangan coba-coba senyum-senyum sok ganteng gitu." Anan menghalangi tatapan pak Herdi ke Dita.

__ADS_1


"Hahaha sok ganteng, berarti Lo ngakuin kan gue ganteng?" ucap pak Herdi ada nada sombong yang terucap.


"Idih najong...!" sahut Anan membuang mukanya ke samping sambil mencibir dengan gerakan bibirnya yang maju seperti bibir bebek.


"Udah udah ah aku males denger kalian ribut lagi." pekik Dita menuju ke atas ranjangnya kembali merebahkan tubuhnya.


"Terus mau ngapain masih disini?" tanya Anan kepada kedua pocong itu.


"Pergi lah sana mau ngeliatin gue sama Dita bertempur ya hayo..."


"Idih males banget rugi mata gue ngeliat elo kalo Dita mah enggak wlek." sahut pak Herdi lalu menghilang pergi.


"Terus ngapain Lo masih disini?" tanya Anan ke pocong berwajah hitam itu.


"Tolong bukain ikatan saya." ucap nya menjulurkan ikatan nya pada Anan.


"Idih au amat." Anan mendorong tubuh pocong itu keluar dari jendela kamarnya lalu menghilang.


****


Pagi itu Dita mencoba menghubungi kapten Jihan dan menceritakan kejadian yang terjadi semalam tentang rumah di seberang rumah besar milik keluarga Anan.


"Kamu serius Ta, kamu lihat sendiri?" tanya kapten Jihan dari hubungan via telepon di seberang sana.


"Bukan aku yang lihat langsung kapten, tapi para pocong yang liat dan ceritain ke aku." sahut Dita.


"APA? para pocong, ah kamu mah selalu deh ngaco bawa-bawa hantu." sahut kapten Jihan.


"Serius, makanya kalo kapten gak percaya mending datang pas jam tiga pagi kalau aku lihat mobil box mau keluar dari rumah itu terus aku langsung hubungi kapten, gimana?" tanya Dita memberi sebuah ide.


"Hmmm percaya gak percaya sih Ta tapi demi kamu oke lah kalau begitu kamu hubungi saya kalau ada kejadian mencurigakan seperti semalam ya."


"Siap kapten."


Hubungan via telepon dengan kapten Jihan itu pun terputus oleh Dita.


"Serius Ta yang kamu ceritain itu?" Tante Dewi menegur Dita tiba-tiba dari arah belakang Dita.


"Bangun-bangun makan ayam goreng sama nasi campur sambel terasi." sahut Dita dengan cepat karena terkejut.


"Dih latah aja laper mikirin nya makanan hahaha." Tante Dewi menepuk Dita dengan gemas.


"Lagian Tante ngagetin mana pas posisi laper belum sarapan ya wajar dong mikir makan hehehe." sahut Dita.


"Itu serius Ta cerita kamu tadi?" tanya Tante Dewi lagi.


"Serius Tante emang kaya gitu kejadiannya." sahut Dita.


"Wah gak nyangka ya kalau gitu ckckckck." Tante Dewi berdecak penuh heran.


"Ya kan, makanya harus diselidiki kalau perlu di gerebek pas kejadian tuh."


"Bener banget Ta, ya udah yuk sarapan." ajak Tante Dewi.


"Nah betul banget Tante, aku laper ayo kita sarapan." Dita menggandeng tangan Tante Dewi menuju ruang makan.


****


To be continued... alias bersambung mohon maaf kalau ada typo bertebaran dan ini spesial crazy up untuk mengisi waktu luang kalian di waktu ke gabutan selama lockdown. Jaga kesehatan dan stay safe ya buat semuanya.


Selamat berpuasa buat yang menjalankan puasanya yak.


Dan jangan lupa Vie udah bela-belain crazy up ayo dong crazy vote kan Vie ngarep juga nih si pocong tampan nangkring di 20 besar apalagi 10 besar vote meski ngarep hehehe.

__ADS_1


Makasih buat yang selalu setia membacanya.


Love you all 😘😘😘


__ADS_2