Pocong Tampan

Pocong Tampan
Musim Kedua - Rencana Pulang


__ADS_3

Dear readers tersayang... Jangan lupa sebelum membaca di Like and komentar di babnya. Kalau sudah habis membaca jangan lupa juga buat Vote pakai poin kalian buat dapetin Giveaway dari Vie.


Terima kasih and Happy Reading. 😘😊


*******


"Saya? saya akan kembali?" tanya Pak Herdi menunjuk dirinya sendiri.


Ratu Kencana Ungu mengangguk dengan senyuman, lalu menghilang.


Anan dan Dita saling bertatapan lalu keduanya menatap ke arah Pak Herdi.


Pak Herdi lalu melompat dan duduk di tepi ranjang Dita seraya merenung. Anan langsung menghamburkan dirinya memeluk Pak Herdi.


"Gak lucu, Menyan!"


"Gue bakal kangen sama elu, Bro! Jadi kita harus manfaatkan waktu kita sebaik mungkin," ucap Anan.


Pak Herdi langsung memiting leher Anan dan beberapa kali memberi jitakan di pucuk kepala Anan.


"Aww... sakit, Pocong!" pekik Anan mencoba lepas dari Pak Herdi.


"Katanya mau memanfaatkan waktu sebaik mungkin, nah waktu terbaik saya sama kamu itu ya kayak gini," ucap Pak Herdi seraya kembali menarik kepala Anan dan menjepitnya di ketiak.


"Ya, tapi gak gini juga kali," ucap Anan.


"Saya bangga sama kamu, gak sia-sia saya merelakan Dita buat kamu. Tetaplah jadi suami terbaik untuk Dita dan Ayah terbaik untuk Anta dan adiknya nanti."


"Pak Herdi gak lagi keracunan obat, kan? tumben banget nih ngomongnya bijak," Anan menyentuh bahu Pak Herdi dan memperhatikan wajah pocong di hadapannya itu.


"Balik badan, Nan!" pinta Pak Herdi.


"Mau ngapain?"


"Udah balik badan aja!" seru Pak Herdi.


"Oke deh."


Anan akhirnya menyerah dan segera berbalik badan.


Pluk.


Pak Herdi dengan isengnya langsung hinggap di punggung Anan.


"Astaga, berat banget... ngapain sih minta gendong segala?" keluh Anan.


"Kapan lagi ada pocong minta gendong sama kamu," sahut Pak Herdi.


Dita tertawa menyaksikan adegan tersebut, sampai tak henti-hentinya ia tertawa terbahak-bahak sampai perutnya terasa sakit karena terkocok kegelian. Akan tetapi, tak bisa dipungkiri ia juga sangat sedih dan akan kehilangan jika Pak Herdi harus kembali dan menghilang. Tak terasa buliran bening tumpah juga dari sarangnya yang sembab.


"Kok, kamu nangis, Ta?" tanya Pak Herdi.


"Umm... enggak, aku terharu aja lihat kalian akrab gitu," ucap Dita.


"Dita mau aku gendong, gak?" tanya Pak Herdi.


"Gak ada, gak ada, aku aja yang gendong kamu kayak gini, enak aja pakai menghayal mau gendong Dita," protes Anan.


"Ya kali dia mau, Nan. Kali aja Dita ngidam minta di bopong sama pocong, hehehehe."


"Heh, ngidam tuh yang cantik, segala makanan di dunia ini juga aku kasih, tapi kalau sampai dia ngidam minta gendong pocong, awas aja."


"Awas kenapa?" tanya Dita masih dengan tawanya.


"Awas aja bisa habis tuh pocong aku telanjangin enggak pakai main kafan," seru Anan.


"Haish... gak lucu dong Nan, kalau ada pocong gak pakai baju, kalah saing nanti tuyul sama keimutan saya, ahhahahaha..."

__ADS_1


Brug!


"Capek, ah... ngelunjak lama-lama." Anan membanting tubuh Pak Herdi ke lantai.


"Sakit, tau Nan. Oh iy kapan kita kembali ke negara kita?" tanya Pak Herdi.


"Kalau besok bagaimana?" tanya Anan menoleh ke arah Dita.


"Boleh sih, tapi Tante Dewi, Anta, Doni, Tasya dan lainnya, bagaimana?" tanya Dita.


"Kita aja yang pergi, mereka gak usah terlibat, aku yakin, kita bertiga bisa menghancurkan tempat pemujaan Ratu Masako berasal," ucap Anan.


"Iya, saya juga yakin," ucap Pak Herdi.


"Ummm... kita harus bilang apa ke mereka?" tanya Dita.


"Bilang aja, ada keperluan tentang warisan rumah, nanti aku jelasin sama Tante Dewi pelan-pelan," sahut Anan.


"Oke, aku percaya jika aku bersama kalian maka semuanya akan beres dan baik-baik aja," ucap Dita.


Tadinya Pak Herdi ingin memeluk Dita, tapi Anan sudah lebih dulu menghalangi dan memeluk Dita.


"Hmmm... bucin akut dasar, daripada enggak peluk sama sekali, saya ikutan aja lah," Pak Herdi memeluk Anan yang sedang memeluk Dita dari belakang.


"Duh, dipeluk pocong panas juga ya, mana sesak nafas lagi," getutu Anan.


"Eh tapi jangan bilang- bilang sama Tasya ya, kalau saya mau pergi..."


"Emangnya kenapa, Pak?" tanya Anan.


"Saya gak mau dia sedih, dia kan sedang mulai mendapatkan kebahagiaannya kembali bersama Doni, saya gak mau buat Tasya nanti jadi sedih kehilangan saya," ucap Pak Herdi.


"Emang dia bakal kehilangan kamu, Pak? kan udah ada ada Doni?" celetuk Anan.


"Yanda, gak boleh gitu apa ngomongnya, liat tuh Pak Herdi," tunjuk Dita.


Tak ada jawaban dari Pak Herdi, malah yang terdengar suara isak tangis.


"Kok, kok, malah nangis, sih? tuh kan Yanda, gara-gara kamu, tuh."


"Enggak tau pengen nangis aja huhuhuhu..." sahut Pak Herdi.


"Hmmm... biasanya Kuntilanak yang nangis, eh ini ini Pocong, nangisnya nakutin lagi," ucap Anan yang langsung di cubit pinggangnya oleh Dita.


"Aduh, sakit Bunda!"


"Habisnya kamu tuh, ya."


"Ya udah, ayo kita pulang!" ajak Anan.


"Iya, benar. Kita harus bergegas menuju negara kita karena kondisi Masako yang sedang melemah," ujar Dita.


"Baiklah, cepat atau lambat toh saya akan pergi, jadi saya akan berusaha semaksimal mungkin untuk kalian," ucap Pak Herdi yang merangkul bahu Anan dan Dita.


***


Suasana rumah Doni ramai dengan kiriman karangan bunga dari relasi bisnis Mitha yang cukup banyak. Akhirnya Shinta memutuskan untuk membawa Mitha ke rumah Duka yang deket dengan pemakaman.


Sang pemandi jenazah pun tampak kesulitan menangani perut Mitha yang sobekannya terbuka. Tak henti-hentinya ia merasa mula karena baru itu mendapatkan tubuh jenazah sangat mengerikan seperti Mitha.


Gosip pun menyebar dari tetangga ke tetangga lainnya, kalau Mitha terkena ilmu sihir hitam. Apalagi mereka bergosip mengenai keterlibatan Doni dan Shinta yang membuat Mitha meninggal.


Jenazah Mitha pun akhirnya di makamkan malam itu juga atas perintah keluarganya.


Shinta mengetuk rumah Tante Dewi bersama Lee dan Doni.


"Eh, udah jam sembilan gini, mau pada ngapain bertamu malam-malam gini?" tanya Tante Dewi.

__ADS_1


"Saya gak mau satu rumah dengan keluarga Mitha, pusing saya ngederin mereka bergosip tentang kita, ya Don?"


Shinta menoleh pada Doni.


"Iya bener, kesannya tuh saya pembunuh Mitha gitu," sahut Doni.


"Kita numpang tidur di sini ya, besok aku sama Doni mau balik kampung," ucap Shinta.


"Oh iya, besok aku sama Anan juga mau pulang ke negara kita," sahut Dita.


"Emangnya ada apa, Ta?" tanya Tasya yang belum mengerti sementara Anan sudah berbicara dengan Tante Dewi dan memilih untuk menceritakan yang sebenarnya.


"Hmmm tadinya sih cuma aku sama Anan dan Pak Herdi aja, kalian tetap di sini," jawab Dita.


"Gak bisa gitu, dong. Kak Shinta sama Doni aja mau pulang, masa cuma aku sama Anta dan Tante dewi di sini," protes Tasya.


"Hmmm baiklah kita pulang semua aja besok, aku pesen tiket sekarang," ucap Anan.


"Mau tinggal di mana, Nan?" tanya Tante Dewi.


"Apartemen Tante sama aku aja, siapa tau masih disewakan, nanti kita sewa aja lagi. Tante hubungi pemilik Apartemennya, tanyain ada orang yang sewa apa, gak gitu," ucap Anan memberi saran.


"Sekarang?" tanya Tante Dewi.


"Tahun depan. Nanti kita ngegembel dulu tinggal di jalan," sahut Anan.


Dita langsung memberi pukulan di bahu Anan.


"Cuma tanya, Nan. Oke Tante hubungi sekarang."


"Tapi, Samanta, Lily sama Jerry gimana?" tanya Tasya.


"Oh iya, hampir lupa. Kamu hubungi Logan sekarang, kita buat Samanta kembali tenang. Kalau Jerry dan Yerry tanya dulu mau tetap di sini apa mau ikut," ucap Dita.


"Oke, aku hubungi Logan."


"Tasya, sini bentar," pinta Dita.


Tasya mendekat ke arah Dita.


"Gelang Pak Herdi aku ambil ya, gak apa-apa kan?" tanya Dita.


"Kamu lebih butuh ya, Ta? Ya udah nih, tapi kalau aku mau ngobrol sama Pak Herdi tolong panggilin dia ya..." pinta Tasya.


"Oke."


Maaf, Sya... aku takut kalau kamu tahu jika Pak Herdi akan segera kembali, jadi lebih baik aku aja yang pakai gelang ini.


Dita memandangi gelang pemanggil Pak Herdi yang nampak berkilau.


******


Bersambung...


Mampir juga ke :


- 9 Lives


- Diculik Cinta


- With Ghost


- Forced To Love


- Kakakku Cinta Pertamaku


Vie Love You All... 😘😘

__ADS_1


__ADS_2