
Sebelum membaca klik like yak...
let's vote for me boleh yak ... apalagi koin seikhlasnya juga boleh banget yak... thank u so much... love u all... 😘😍😊
***
"Gak diterusin Ta?" goda Andri.
"Apaan sih orang cuma nunjukin Anan apa artinya roti sobek." sahut Dita kesal.
"Lah kamu nunjukin roti sih pake narik baju hahahha."
"Jangan-jangan kamu juga gak tau ya artinya roti sobek?"
"Emang apaan sih, kaya apa rotinya?" tanya Andri penasaran dan Anan yang sudah mengerti menertawakannya.
Dita menarik kaus Anan kembali.
"Nih roti sobek perut kotak kayak gini."
"Oh... sixpack, itu juga gue punya nih..."
Andri mengangkat kausnya menunjukkan perut kotaknya.
"Waw... waw... waw..." sahut Anita yang sedari tadi berada disampingnya Andri memperhatikan perut kotaknya Andri.
"Eh ngapain elo nakutin gue aja." Andri menutup perutnya.
"Yah udahan baru juga di amatin Ndri." ucap Anita.
"Eh mumpung pada di sini kita bikin rencana, gimana kalo Anan samperin James liat reaksinya gimana, mau gak Nan?" ucap Dita.
"Terus kalo dia tanya aku siapa aku jawab apa?"
"Ya kamu jawab kamu itu Manan kembarannya Anan." sahut Dita.
"Terus gue ngapain dong?" tanya Andri.
"Kamu ngawal Anan sama aku." sahut Dita.
"Idih ogah... lontong kisut kaya gini gue kawal dih ogah." jawab Andri ketus.
"Hei tempe angus, liat dong gue bukan lontong kisut lagi tau kan nih badan adek gue bagus kan tegap keren kaya model." ledek Anan.
"Gak lama Nan, elo puasin aja ada disitu." Andri lalu menghilang entah kemana.
"Yah Andri aku belum kelar ngomongnya." ucap Dita kecewa.
"Kan ada aku Ta, aku yang jadi pengawal kalian tenang aja." sahut Anita dengan bangga.
"Hmmmm terpaksa deh." gumam Dita.
***
Dita dan Anan menuju ruang perawatan James didepan mereka sudah ada Anita yang berjalan bak bodyguard melindungi Dita dan Anan.
Tok tok...
"Aku dulu yang masuk yak." ucap Dita.
"Kamu....?? Anandita kan? kok bisa di sini?" ucap James dengan pelindung leher dan tangan kanannya yang masih di gips.
"Aku kerja disini." sahut Dita .
"Iya kah kamu kerja disini? oh iya aku hubungin telpon kamu kok gak bisa yak?"
"Aku ganti nomer telpon lupa backup data juga pas ganti hape, bentar ada yang mau ketemu kamu." Dita menyuruh Anan masuk.
__ADS_1
"Ini si Anita ngapain sih tangannya gak jelas gini ngalangin aja." bisik Anan.
"Aku kan lagi jadi bodyguard ya harus kaya gini." jawab Anita.
"Hadeh... Rempong banget sih." Dita menepis rentangan tangan Anita.
"Hai James." sapa Anan.
"Elo... mau apa elo kesini, elo udah mati pergi elo...!!" James meraih gelas dengan tangan kirinya dan melemparnya ke tubuh Anan.
"Tenang James, Mananta kesini cuma mau nyapa kamu aja kok." ucap Dita.
"Dia udah mati Ta, kenapa kalian bisa kenal, jauh-jauh Ta." James berkata dengan panik.
"Gue Mananta saudara kembarnya Anan, elo temennya Anan kan?"
"Hah..? saudara kembar? oh gue pikir..." James berucap lebih lega.
"Kamu takut yak kalo dia hantunya Anan?"
"Enggak kok cuma panik aja, lagian kamu kenal dimana sama dia?" tanya James.
"Barusan ketemu di depan dia cari pasien yang namanya James terus aku bawa kesini." Dita coba memberi alasan.
"Oh... ." James menghela nafas panjang.
Dita membereskan gelas yang berantakan tadi dan meminjam pel dari mbak cleaning service rumah sakit untuk membersihkan lantai kamar James.
"Aku pamit dulu ya James nanti aku jenguk kamu lagi." ucap Anan.
"Iya Nan, eh Manan thanks yah udah jenguk gue." sahut James.
"Kok udahan ngobrolnya?" tanya Dita .
Lalu Anan menarik Dita keluar sambil melambai ke James. "Dah James..." ucap Dita.
"Kenapa sih Nan kok cepet banget ngobrolnya?" tanya Dita.
"Hmmm gagal deh cari info."
"Kapan-kapan deh nanti aja, yuk balik."
"Eh bentar deh, itu kan Jenifer." tunjuk Dita.
"Iya itu dia ngapain dia disini?"
"Jen, pssssttt Jennie..."
Jen menoleh kearah suara bisikan Dita dan menghampirinya.
"Kamu ngapain di sini?" tanya Dita.
"Aku tadi ngikutin kamu sampe sini terus keliling rumah sakit ini sampai nemuin Shane. Duh kasian banget Ta my baby Shane tak berdaya, kakinya di gips nge gantung gitu terus pake pelindung leher gak bisa gerak terus dia tuh..."
"Stop stop gak mau denger udah ngerti bucin akut nya kamu sama dia."
"Hai Anan, sepertinya ada yang aneh dari Anan." Jen menghampiri Anan menyentuh pipi Anan lalu pundak Anan namun Dita buru-buru menepis tangan Jen dan menghalanginya mendekati Anan.
"Jangan sentuh milik aku..!" ucap Dita sambil merentangkan kedua tangannya.
"Hahahahha milik kamu, ih lucu ih si Dita mah, emang ada cap apa tag yang tertulis miliknya Dita begitu..?" ledek Jen.
"Ada... bentar yak."
Cup.... Dita mencium pipi kanan Anan dengan cepat membuat wajah Anan memerah saking malunya.
"Itu cap nya, kamu kan janji mau jauhin Anan tuh sana jagain Shane...!" perintah Dita.
__ADS_1
"Aku cuma pastiin aja kok, kayaknya Anan udah jadi manusia deh."
"Emang..." sahut Dita.
"Kok bisa?"
"Bisa lah, ceritanya panjang kalo diceritain kejadiannya dari malem sampe pagi, udah yuk Nan balik ruangan kamu Dita menarik tangan Anan menjauhin Jen.
"Ok... have fun yak kalian...!" seru Jen.
Tring... pintu lift terbuka.
Dita menarik tangan Anan masuk ke lift.
"Ta...." ucap Anan pelan.
"Apa...??!!" pekik Dita sambil menoleh ke Anan.
"Pipi yang sebelah belum di cap nih ngiri." ucap Anan sambil menunjukkan pipi sebelah kirinya.
"Oh... minta di cap?" goda Dita.
Anan mengangguk senang lalu menyodorkan pipi sebelah kirinya ke wajah Dita.
Dita menampar pelan pipi Anan. "Tuh capnya lebih gede pake tangan." ucap Dita.
Anita yang melihat kelakuan Anan dan Dita makin tertawa cekikikan menahan perutnya yang sakit saking geli nya tertawa.
Bibir Anan sudah maju dimonyongkan kecewa.
Gak usah sok seksi deh, tuh bibir cipokable banget tau nagihin, ups keceplosan bisa ge er nih si Anan kalo denger.
Dita menutup wajahnya malu, namun tak ada reaksi dari Anan yang masih nampak kecewa.
Anan... Anan ganteng... Anan tampan....
batin Dita sambil menatap Anan tajam dan gemas.
"Kenapa liatin kaya gitu? ada yang aneh?" tanya Anan sebal.
"Kamu gak bisa denger isi hati aku?" tanya Dita .
"Emang kamu ngomong apa barusan?"
Dita coba membatin mengatai - ngatai Anan dengan ucapan serapah dalam hati sambil tersenyum gemas.
"Tuh denger gak, aku bilang apa?" tanya Dita memastikan.
Anan menggeleng.
"Yesss bagus... kamu gak bisa denger isi hati aku lagi." Dita tertawa kecil mengejek Anan.
"Oh gitu emang ngomong apa kamu barusan..?" Anan memojokkan Dita ke dinding lift kedua tangannya mengunci Dita.
"Ah aku suka nih adegan romantisn akan di mulai." sahut Anita menyimak kegirangan.
"Gak ngomong apa-apa kok, beneran sumpah." ucap Dita lirih menundukkan tubuhnya namun tak bisa.
Kali ini wajah Dita yang memerah ditambah wajah Anan yang semakin dekat kearahnya, Dita menutup matanya tak sanggup melihat wajah Anan yang makin mempesona di pandang.
"Yak dan....mmmmuuuahh." Anita dengan gemas menyimak adegan romantis Anan dan Dita.
Tring.... pintu lift terbuka .
"Heh...! Kalian berdua...!! pada ngapain di situ?" Dokter Dewi sudah berada di depan lift dengan menjinjing tas bermerk ditangan cantiknya.
***
__ADS_1
To be continue...
Happy Reading... 😘😘