
Dear readers tersayang... Jangan lupa sebelum membaca di Like and komentar di babnya. Kalau sudah habis membaca jangan lupa juga buat Vote pakai poin kalian buat dapetin Giveaway dari Vie.
Terima kasih and Happy Reading. 😘😊
*******
"Cepat, Menyan!" seru Pak Herdi berusaha mencekik leher makluk itu.
Anan segera mencari sesuatu di ruangan itu, sampai akhirnya ia menemukan sebuah obat bertuliskan Lidocaine Injection.
"Nah, bagus ketemu obat ini," gumam Anan.
Anan segera mencari alat suntik untuk memasukkan obat bius tersebut dan menusuk makluk tadi.
Makhluk tersebut langsung tak sadarkan diri menerima suntikan obat bius dari Anan. Tubuh makhluk itu kaku namun bola matanya berputar melihat ke arah Anan dan Pak Herdi.
"Bunuh dia, Pak!" seru Anan.
"Kamu aja lah, pakai gunting operasi tuh!" Pak Herdi gantian memerintah.
"Ih gimana, sih! Pocong gak guna nih, padahal waktu dulu gue jadi pocong berguna banget lho," sahut Anan.
"Ya udah nih, tukeran lagi, mau?"
"Enggak ah, makasih!" sahut Anan.
Tiba-tiba sang Ratu dan makhluk Shirime itu datang ke ruang operasi tersebut.
"Hadeh... kenapa bisa sampai sini sih, kalian?" ucap Anan.
"Hmmm... Shirime angkat anak itu!" Ratu Masako memberi perintah. Wanita itu bersiap memasuki raga makhluk jahat yang baru lahir dari tubuh Mitha.
Shirime si makhluk botak albino mengangkat si kecil tersebut dan membaringkannya di atas ranjang rumah sakit di ruangan tersebut setelah melemparkan tubuh Mitha ke lantai.
Kilauan hijau yang berpendar menyelimuti tubuh Makhluk tersebut menyilaukan kedua mata Anan saat Ratu Masako hendak memasukinya.
"Ini gak bisa dibiarkan, Pak." Anan menghampiri ranjang rumah sakit tempat makhluk kecil itu di bandingkan.
Shirime langsung menepis tangan Anan dan meninju wajah Anan dengan kuat sampai tersungkur ke lantai. Shirime itu menginjak dada Anan dengan kuat.
"Aaarggghhh...!" Anan berteriak sekuat tenaganya menahan kaki si botak itu.
Pak Herdi yang hendak menolong Anan langsung di tahan oleh Ratu Masako. Telapak tangannya menahan langkah lompatan Pak Herdi.
"Aku memang tak bisa mengendalikan Dita dan suaminya, namun aku bisa mengendalikan mu, yang jelas-jelas kau itu hantu, dan aku bisa mengendalikan semua hantu di bumi ini," ucap Ratu Masako dengan sombongnya.
Pak Herdi berteriak sekuat tenaga untuk melepaskan dirinya dari jeratan Ratu Masako.
"Lepaskan Aku, Aaarggghhh!"
***
Sementara itu di ruang perawatan Doni, seorang suster memasang infus Doni kembali. Tiba-tiba datang seorang suster lainnya lalu menarik tangan suster yang berada di samping Doni.
__ADS_1
"Ada ribut atau kejadian apa sih di koridor ruang bersalin? kok ditutup sama Dokter Nicky?" tanya suster bertubuh gemuk itu.
"Aku juga gak tau, apa jangan-jangan ad penyakit menular, ya? hiyyy serem mendingan jangan ke sana," jawab suster yang satunya lagi.
"Iya bener jangan ke sana!"
Keduanya lalu pamit dari ruangan tersebut setelah merapihkan selang infus Doni.
"Jangan sampai lepas lagi ya, Pak."
Tasya dan Doni menganggukkan kepalanya bersamaan.
Doni langsung menarik selimutnya menutupi kepalanya.
"Kenapa, Don?" tanya Tasya.
"Itu, di belakang kamu, muncul dia," ucap Doni.
"Di belakang aku?" Tasya perlahan-lahan menoleh ke arah belakangnya dan mendapati hantu Mitha berdiri di belakangnya.
"Ka-ka-kamu mau ap-apa?" tanya Tasya dengan nada suara tergagap-gagap.
"Mitha langsung memeluk Tasya. Perut robeknya itu menempel di tubuh Tasya.
"Aduh, Mitha... gak usah pakai peluk, bisa gak?" tanya Tasya.
"Maafkan aku ya, Sya. Aku gak nyangka kamu baik banget sama aku dan mengkhawatirkan aku," ucap Mitha.
Tasya menarik selimut Doni. Gadis itu ingin Doni ikut melihat ke arah Mitha.
Mitha langsung melepas pelukannya dari Tasya dan langsung memeluk tubuh Doni.
"Huffhh untung aja gak berbekas darahnya di baju aku," gumam Tasya.
"Maafkan aku ya Doni aku sudah membuat anak kita seperti itu," ucap Mitha.
"Bentar-bentar, anak kita?" tanya Doni mencoba menepis Mitha lalu mengubah posisinya menjadi duduk.
"Ia, dia kan anak kita," ucap Mitha bersikeras.
"Ya ampun Mitha, sumpah deh di sumber petir saat ini juga aku berani, kalau aku gak pernah sentuh tubuh kamu apalagi berhubungan badan sama kamu," ucap Doni bersikeras juga menimpali Mitha.
"Maaf ya, Mitha. Tapi coba deh kamu pikir lagi, itu anak usia kandungannya cuma dua bulan udah lahir, terus dia lahirnya merobek perut kamu kayak gitu, terus tadi kata dokter dia punya ekor, masa iya ayah anak itu si Doni," Tasya menunjuk ke arah Doni.
"Maksud kamu, aku di hamili sama sejenis jin, hantu, setan atau semacamnya?" seru Mitha.
Doni dan Tasya menjawab dengan anggukan kepala bersamaan.
"Tidak, tidak mungkin, jelas-jelas dia itu Doni, pria yang menyentuh tubuhku itu Doni," ucap Mitha seraya menangis tersedu-sedu setengah tak percaya.
"Dia itu makhluk botak yang kulitnya albino dari Jepang, dan salah satu anak buahnya Ratu Masako, seorang perempuan Jepang yang memakai baju kimono, yang pernah menemui kamu, kamu ingat kan? Nah makhluk itu bisa mengubah bentuk menjadi siapapun termasuk aku," ucap Doni menjelaskan.
Mitha makin menangis dengan menutup wajahnya. Dari darah perutnya terus mengalir membuat Tasya dan Doni bergidik ngeri.
__ADS_1
"Pergilah Mitha, pergilah dengan tenang, aku sudah memaafkan mu," ucap Doni.
"Tapi, Doni..."
"Pergilah kau sudah minta maaf kan, dan kau juga sudah tau siapa yang menghamilimu, jadi pergilah," pinta Doni.
"Aku takut nanti kamu sedih aku tinggal, aku gak mau ninggalin kamu kalau kamu sedih," ucap Mitha seraya menggenggam kedua tangan Doni.
Pria di hadapan Mitha itu sempat memasang tampang jijik tanpa menoleh menatap Mitha.
"Tenang aja Mitha, aku ikhlas kok kalau kamu pergi, lebih cepat lebih baik. Eh maksudnya lebih cepat kamu kembali ke alam gaib, maka kamu akan merasa lebih baik gitu," ucap Doni berusaha melepaskan tangannya dari Mitha tapi tak bisa.
Tasya mencoba menahan tawanya sekuat tenaga agar tak terdengar dan menyinggung Mitha nantinya.
"Baiklah kalau kamu sudah ikhlas aku pergi."
"Ikhlas banget malah, tenang aja!" sahut Doni dengan tegas.
Mitha menoleh ke arah Tasya.
"Nah, pasti mau ngijinin aku nikah sama Tasya nih," ucap Doni dengan yakinnya.
"Jauhi suami aku ya, Sya!" ucap Mitha.
Jleb...
Tasya dan Doni saling berpandangan.
"Kamu gak salah ngomong kan, Mitha?" tanya Doni.
"Gak, gak salah ngomong, aku iri sama Tasya karena dia yang selalu ada di hati kamu," ucap Mitha.
"Tapi, Mitha... Tasya itu cinta pertama aku dan yang terakhir buat aku," ucap Doni.
"Pokoknya gak boleh, kalau enggak aku gak akan pergi nih, buat memastikan kalian gak akan pernah bersama," ucap Mitha dengan ngototnya.
"Hadeh... bucin banget nih cewek..." gumam Tasya seraya menepuk dahinya sendiri.
******
Bersambung...
Mampir juga ke :
- 9 Lives
- Diculik Cinta
- With Ghost
- Forced To Love
- Kakakku Cinta Pertamaku
__ADS_1
Vie Love You All... 😘😘