Pocong Tampan

Pocong Tampan
Musim Kedua - Mitha Pamit


__ADS_3

Dear readers tersayang... Jangan lupa sebelum membaca di Like and komentar di babnya. Kalau sudah habis membaca jangan lupa juga buat Vote pakai poin kalian buat dapetin Giveaway dari Vie.


Terima kasih and Happy Reading. 😘😊


*******


Masih berada di dalam ruang perawatan Doni.


"Terserah kamu lah! aku gak perduli, pokoknya aku mau nikah sama Tasya, perkara kamu mau gentayangan, bodo amat!" seru Doni bersikeras seraya menatap Mitha dengan tajam.


"Kamu emang gak pernah ya sedikit pun suka sama aku?" tanya Mitha dengan raut wajah sedihnya.


Doni menggelengkan kepalanya, "Maaf... Aku emang gak pernah bisa suka sama cewek lain selain Tasya," jawab Doni.


"Hmmm... okelah kalau begitu aku akan mengalah, sampai kapanpun juga aku tak bisa memiliki kamu, Don. Okelah aku ijinkan kalian boleh nikah," ucap Mitha.


"Yess Horeeee!" Doni bersorak gembira mengangkat kedua tangannya lalu tersadar ada rasa sakit di bagian tusukan jarum infus yang tak sengaja tertarik.


"Tunggu senjata, memangnya aku mau nikah sama Doni?" Tasya memotong kebahagiaan Doni.


"Emang kamu gak mau, Sya?" tanya Mitha Lagi dengan wajah tampak senang.


"Hmmm.... aku udah agak males ya sama Doni, tapi gak tega takut dia bunuh diri nanti," ucap Tasya lalu tertawa menggoda Doni.


"Ia, aku bakal bunuh diri demi kamu di pohon toge!" ancam Doni.


Mitha jadi tertawa sampai isi bagian dalam perutnya terlihat bergejolak seolah hendak tumpah keluar dari sarangnya.


"Stop, stop, stop! jangan ketawa Mitha, aku ngeri berceceran tuh usus," pinta Tasya dengan nada panik.


"Oh iya lupa hehehe... Aku lucu ya?" tanya Mitha.


"Apanya yang lucu serem begitu juga!" pekik Doni.


"Lucu dong, kalau perempuan melahirkan terus meninggal kan katanya jadi sundel bolong yang belakangnya bolong eh aku malah perut depannya yang bolong, hahahaha..." Mitha kembali tertawa mengerikan.


"Udah ah Mitha, sumpah kaga lucu, serem!" seru Tasya.


"Baiklah aku mau pergi tapi sebelum itu..."


"Apa lagi..." sahut Doni memotong pembicaraan Mitha.


"Ummm... Aku minta kiss boleh, Don?" tanya Mitha seraya menunjuk ke arah bibirnya sendiri.


"APA?" pekik Doni.


"Iya, aku minta cium, tapi yang lama lima menit," pinta Mitha.


"Astaga, keburu mati aku kehabisan nafas," sahut Doni.


Pria itu lalu menoleh ke arah Tasya, ia meminta jawaban dari Tasya dengan tatapan kedua matanya.


"Ya udah silahkan, dia kan istri kamu, Don."


Tasya mempersilahkan.


"Hmmm... oke lima detik ya," ucap Doni.


"Gak mau, aku maunya lima menit," pinta Mitha.


"Sepuluhdetik aja," sahut Doni.


"Satu menit."

__ADS_1


"Tiga puluh detik atau enggak sama sekali," ancam Doni.


"Oke, oke, tiga puluh detik. Tasya itungin ya waktunya..." Mitha menoleh ke arah Tasya.


"Oke, aku balik badan dulu terus aku hitung satu sampai tiga puluh ya, yuk mulai, satu, dua, tiga..."


Mitha langsung menghampiri Doni dan mencium bibir Doni dengan ganasnya.


Ada rasa mual yang Doni rasakan tapi ia harus bertahan.


Setelah tiga puluh detik berlalu, Mitha menghilang.


"Huek... huek..." Doni segera turun dari ranjangnya dan menuju kamar mandi seraya membawa alat infusnya.


"Udahan, Don?" tanya Tasya.


"Tau amat, hiiyyy..." sahut Doni.


"Asik dong habis sedot-sedotan sama hantu," ucap Tasya tertawa geli.


"Kalau sedotnya sama kamu mah semalaman juga aku gak akan nyerah," sahut Doni.


Plak!


Tasya menampar pipi Doni dengan kesalnya.


"Sembarangan aja kalau ngomong," ucap Tasya.


"Oh iya gimana ya kabar Dita sama Anan di ruangan sana?" tanya Doni.


"Oh iya, iya, gara-gara si Mitha, padahal tadi suster-suster pada ngomongin lho kalau area itu ditutup," ucap Tasya.


Tiba-tiba kalung yang dipakai Doni di lehernya mengeluarkan cahaya ungu yang menyilaukan kedua mata Doni dan Tasya namum terasa hangat memenuhi ruangan.


"Ih kenapa ini kalung, kok nyala?" Doni melepas kalung tersebut dari lehernya dan mengamati dengan seksama berdua dengan Tasya.


"Bisa kalian berikan kalung ini pada Dita?" suara seorang perempuan itu terdengar bertanya dan mengejutkan Tasya dan Doni.


Keduanya mundur berapa langkah.


"Kamu dapat darimana kalung itu?" tanya Tasya.


"Di toko antik," jawab Doni yang merapatkan dirinya pada Tasya.


Tasya perlahan memberanikan diri untuk mendekat.


"Ka-kamu, siapa?" tanya Tasya.


"Tolong, berikan kalung ini pada Dita, lekaslah waktu kita tak banyak," seru suara perempuan di dalam kalung tersebut.


"Kamu cepet ke tempat Dita sama Anan, aku takut sesuatu terjadi sama mereka dan mereka butuh kalung ini," ucap Doni memerintah.


"Oke, Don. Tapi kamu gak apa-apa kan kalau aku tinggal sendirian?" tanya Tasya.


"Aku gak apa-apa, cepat Sya, bawa kalung itu!" seru Doni.


Tasya segera meraih kalung tersebut lalu gadis itu berlari sekuat tenaga menuju lantai tiga ke ruangan bersalin tadi.


***


Teriakan Anan dan Pak Herdi terdengar oleh Dita.


"Apa yang terjadi di dalam kenapa mereka semua berteriak seperti itu," gumam Dita seraya berjalan mondar-mandir di depan ruangan tersebut.

__ADS_1


"Apa kita perlu masuk ke dalam, Ta?" tanya Shinta.


"Sepertinya iya, kalau begitu biar aku saja yang masuk," ucap Dita.


"Ta, kamu yakin?" tanya Shinta lagi.


"Aku yakin, tolong beri aku dukungan doa," pinta Dita yang di jawab anggukan oleh Shinta.


Saat Dita nekat hendak masuk ke dalam ruangan tersebut, Tasya memanggil namanya dari kejauhan.


"Ini..., kalung ini berpendar berwarna ungu, dan dia, suara wanita yang aku dengar bilang, berikan aku pada Dita," ucap Tasya dengan nafas yang masih tersengal-sengal.


"Dari mana Doni dapat kalung ini?" tanya Dita.


"Di toko antik, ini mungkin harus kamu pakai," ucap Tasya.


"Bagaimana keadaan Doni?" tanya Dita.


"Kondisi tubuhnya masih lemah tapi dia baik-baik saja, oh iya tadi juga ada Mitha, dia pamit," jawab Tasya.


Kalung yang dipegang Dita di tangannya berpendar berwarna ungu.


"Ratu Kencana Ungu?" Iris matanya seperti bersinar terkena pantulan sinar ungu dari kalung tersebut.


"Gunakan aku untuk membantumu menolong Anan," pinta Ratu Kencana Ungu.


"Tapi, bagaimana kau bisa...?"


"Cepat! waktuku tak banyak!" seru sang Ratu.


Dita langsung memakai kalung itu di lehernya. Ia lalu membuka pintu ruangan itu dan masuk ke dalamnya.


"Bunda, apa yang kamu lakukan di dalam sini? cepat pergi!" seru Anan ia berusaha melarang Dita untuk terlibat.


Dita terlanjur melihat Anan yang diinjak oleh si botak Shirime itu dan sedang Anan coba tahan dengan kedua tangannya. Sementara Pak Herdi tak bisa bergerak sama sekali karena dikendalikan oleh Ratu Masako.


"Yanda..." Dita hendak menghampiri Anan, namun Ratu Masako langsung menuju Dita dan mencekiknya. Ia menyudutkan Dita sampai ke dinding.


"Ini akan lebih baik jika aku masuk ke dalam ragamu dari pada ke raga si kecil itu, bagaimana Dita, boleh ya ku pinjam ragamu, untuk selamanya..." Ratu Masako tersenyum menyeringai ke arah Dita.


"Lepaskan! lepaskan istriku!" bentak Anan sekuat tenaganya.


Pak Herdi juga sampai mengeluarkan air matanya dengan wajah merah padam karena berusaha untuk menggerakkan tubuhnya agar ia dapat menolong Dita. Tapi, usahanya sia-sia. Bicara saja juga Pak Herdi tak mampu.


Tiba-tiba kalung yang Dita pakai berpendar mengeluarkan sinar ungu yang menyilaukan Ratu Masako. Iris kedua mata Dita juga sudah berubah menjadi warna ungu. Wajah Dita tersenyum dan mengeluarkan suara seseorang yang berbeda darinya. Sang Ratu Kencana Ungu kini merasuk ke dalam raganya.


"Halo, Masako..."


******


Bersambung...


Mampir juga ke :


- 9 Lives


- Diculik Cinta


- With Ghost


- Forced To Love


- Kakakku Cinta Pertamaku

__ADS_1


Vie Love You All... 😘😘


__ADS_2