
Azan magrib berkumandang dan mereka memutuskan untuk mencari rest area menunaikan solat magrib disana.
"Beli nasi pecel dulu ya neng, bapak laper." ucap salah satu supir ambulance pada Dita .
"Silahkan pak."
"Aku juga ah, kayanya bakso enak tuh Ta, Yuk ah ngebakso."
Dita mengikuti Anita namun niatnya tak jadi ikut makan bakso karena melihat penampakan anak kecil dengan tubuh penuh lubang dan di bagian lubangnya mengeluarkan larva sebesar ulat daun yang menggeliat menggelikan.
Setiap si ibu penjual bakso itu memberi kuah pada mangkuknya, lalu anak kecil itu menetesi dengan air liur dan lendir yang keluar dari hidungnya.
"Duh mual ih liatnya, yakin elo Nit mau makan bakso?"
"Yakin lah enak banget baunya sedep."
"Aku ke minimarket depan sana lah." Dita menghindari tatapan penampakan anak itu.
"Mau aku pesenin gak Ta?"
"Gak usah ..!!"
Ih mending aku makan popmie aja deh di sana.
"Itu anaknya sendiri tuh biasanya dijadiin tumbal pesugihan, jadi pas dia ke gunung yang katanya tempat pesugihan dia dikasih makan ayam sama daging kambing guling terus dia makan deh eh taunya anaknya sendiri yang dia makan buat di jadiin pesugihan kaya gitu." ucap Andri menjelaskan.
"Sotoy loh, tau dari mana emangnya?" tanya Anan merangkul bahu Dita.
"Yee lontong kisut nyaut aja kaga percaya, gue pernah baca tuh di majalah misteri gitu."
"Tega banget yak ibunya ngorbanin anaknya."
ucap Dita.
"Ya namanya dia kalah sama dunia ya apa aja dia lakuin tuh."
"Pantes emasnya gede-gede yak hehehe." Dita menyeduh popmie yang dia ambil di mini market.
"Pada mau gak nih?" tanya Dita.
"Pake ditanya lagi, ya mau lah" sahut Anan.
"Kamu mau Ndri?"
"Kaga level ah masa popmie, tapi boleh deh."
"Sompret...!!! si Aden mana yak?"
__ADS_1
"Nemenin Doni kayaknya dia tadi ngikutin Doni, nih abisin aku beli lagi." Dita menaruh cup mie nya di atas meja depan minimarket.
"Buat siapa mbak beli lagi?" tanya Mbak kasir.
"Buat saya mbak?"
"Cepet banget yang tadi udah abis aja hehehe."
"Maklum mba anak perawan dengan masa pertumbuhan makan banyak hehehhe."
"Tapi gak gemuk yak, beda sama saya, saya mah baru liat mbak nyeduh mie aja langsung naik dua kilo."
"Wkwkkwkwkw mbaknya pelawak yak, bisa aja bidadari sungai."
Dita tersenyum ke arah mbak kasir yang masih mengamatinya membawa dua cup mie yang diseduh.
"Cepetan nih abisin, sampe di pantau aku sama tuh mbak kasir beli tiga cup mie seduh gini."
"Thanks ya Ta." sahut Andri.
***
"Setengah jam lagi sampe, lumayan juga ya Nit, kampungnya Doni sama Aden di pelosok gini."
"Hoaaamm ho 'oh, eh ada apaan tuh rame - rame?"
"Ada apaan sih Don?" tanya Dita turun dari mobil ambulance.
"Coba gue tanya dulu." ucap Doni berjalan ke arah keramaian yang menyebabkan kemacetan ini.
"Wah lama ini macetnya ada kecelakaan di depan sana." ucap Doni.
"Terus gak ada jalan lain ini bang selain jalan ini?" tanya supir ambulance.
"Gak ada Pak, ini doang." jawab Doni.
"Terus gimana ini?" tanya Anita
"Aku barusan dari sana udah ada yang evakuasi sih tapi rada susah satu keluarga ke timpa truk pasir. Barusan Ibunya yang ketarik tinggal anaknya masih kejebak, sama Bapaknya juga kegencet treknya" ucap seorang bapak yang terjebak macet juga.
"Ahhh astagfirullahaladzim... ngeri yak, yuk Ta liat." ajak Anita penasaran.
"Enggak ah sini aja."
Dita takut jika dia sampai melihat para penampakan korban kecelakaan itu.
Baru saja Anita dan Doni pergi melihat situasi seorang anak kecil sudah bermain cilukba dengan Dita dari samping ambulance.
__ADS_1
"Hai kakak..!!" sapa anak itu.
"Hai hehehe... jangan lari-lari dek itu badannya lepas aduh ngilu liatnya."
Hantu anak perempuan itu sepertinya tak sadar kalau tubuhnya terpisah terbelah dua saat di evakuasi.
Seorang ibu menghampiri Dita.
"Neng punten, liat anak saya?"
"Enggak Bu, anak yang mana yak?"
"Duh lari kemana lagi tuh anak yak." ucap ibu tu lalu dari arah berlawanan datang sebuah motor berkecepatan tinggi menabrak ibu itu namun tembus tak terjadi apa-apa.
Si Ibu syok karena barusan sepeda motor itu melewati tubuhnya.
"Kayaknya dia gak sadar deh Ta kalo dia udah mati." ucap Anan.
"Neng liat saya kan? terus kenapa saya, kenapa kok tadi..."
"Pergilah bu, bawa anak dan suami ibu ke alam kalian."
"Maksud kamu? saya, anak saya, suami saya udah meninggal?"
Dita mengangguk. Tangis ibu itu pecah dengan kesedihan mendalam.
Di sembrang sana seorang pria yang Dita duga adalah suami ibu itu tiba-tiba muncul dari kegelapan.
Tubuh bagian bawah bapak itu hancur dari paha ke mata kaki terkoyak koyak penuh darah dan daging yang terlihat. Tangan kanannya juga hancur, matanya hampir copot keluar lepas dari kelopaknya dengan bagian rahang tengkorak yang sudah bergeser.
Dita tak sanggup melihatnya, dia memeluk Anan yang berada disampingnya.
"Udah gak ada Ta, suaminya udah samperin ibunya sama anaknya terus mereka udah hilang." ucap Anan memeluk Dita.
"Ah alhamdulillah semoga mereka tenang gk ada beban lagi." ucap Dita menghembuskan nafasnya lega.
"Ni berdua dari tadi malah mesra-mesraan deh." ucap Andri.
"Berisik Lo ganggu aja." Anan tak mau melepaskan pelukan Dita.
Namun karena Anita memanggil akhirnya Anan melepaskan pelukannya juga.
Mereka melanjutkan perjalanannya yang hampir sampai setelah evakuasi korban kecelakaan itu selesai.
****
To be continued
__ADS_1
Happy Reading....