Pocong Tampan

Pocong Tampan
Musim Kedua - Pergi ke Festival (Part 2)


__ADS_3

Dear pembaca tercinta yang selalu setia menunggu Pocong Tampan up. Vie mohon dong, mohon banget, jangan bosen buat VOTE ya... pokoknya vote vote vote...


Di like juga tiap babnya, terus komen, terus kasih vote deh.


Mampir ya ke Novel terbaru aku yang uwwu


"Diculik Cinta" yang siap mengocok perut kalian.


Happy Reading...


******


Seorang wanita Jepang dari kaum bangsawan menggunakan baju berlapis dengan gaya busana indah yang disebut kimono junihitoe itu muncul dari gumpalan asap hitam di tengah keramaian festival tersebut.


"Ratu Masako...," lirih Dita seraya menutup mulutnya tak percaya.


"Ah... Dita, dan kau anaknya Aiko, apa kabar?" ucapnya seraya menunjuk ke arah Anan.


"Kalian, udah saling kenal?" tanya Mitha memandang heran ke arah mereka bertiga di hadapannya.


Ratu Masako menghampiri Dita lalu memeluknya.


"Tentu saja kami kenal sangat akrab malah," ucap sang Ratu.


"Idih, akrab dari mana? berkali-kali kamu mencoba membunuhku hayo?" Dita melepas pelukan sang Ratu.


"Hahaha... sampai sekarang pun aku juga masih ingin membunuhmu, tubuh mu ini tak akan aku sia-siakan," ucapnya seraya tersenyum menyeringai.


Dita langsung bersembunyi di balik tubuh Anan. Selang beberapa detik kemudian, Anta datang dengan berlari-lari seraya bercanda dengan hantu Rian. Lalu mereka tak sengaja menabrak tubuh Ratu Masako sampai jatuh tersungkur. Wajah Ratu Masako membentur aspal jalan.


"Aduh... maafin Anta, nek," ucapnya langsung memeluk kaki Anan setelah ia tahu ia melakukan kesalahan.


"Kamu sih Rian, tadi ngajakin aku lari-lari." Anta menunjuk Rian dan menyalahkannya.


"Kok aku, sih? kan kamu juga yang ajak aku lari," sahut Rian.


"Apa-apaan ini, siapa yang kau panggil nenek, hah?" bentaknya langsung berdiri dan bertolak pinggang memarahi Anta dan Rian.


Mitha yang baru itu melihat Ratu Masako marah-marah, langsung mundur beberapa langkah, nyalinya ciut juga. Ia bergegas pergi diam-diam mencari Doni untuk pulang.


"Ma-maafin Anta ya, nek..."


Anta berusaha untuk meminta maaf, biar bagaimanapun bundanya selalu mengajarkannya untuk hormat pada orang yang lebih tua. Anta masih belum tau kalau Ratu Masako bukanlah manusia.


"Maafin saya juga, nek," ucap Rian.


"Nenek? enak saja! kau tak lihat ya aku itu masih cantik seperti ini?" tukasnya seraya menunjuk ke arah dirinya sendiri.


"Bunda, kenal sama nenek ini?" bisik Anta.


Dita menggelengkan kepalanya, "Jangan sampai kenal, Nta."


"Heh, sudah kubilang, jangan panggil aku nenek....!" pekiknya dengan geram.


"Bunda, kok dia melayang, kakinya gak ada ya?" Anta menunjuk ke arah bawah tubuh Ratu Masako.


"Wah... dia hantu ya, bunda?" Anta langsung mendekati Ratu Masako lalu menarik bagian bawah kimono-nya untuk melihat kaki yang menapak atau tidak.


"Astaga, apa yang kau lakukan?" Ratu Masako langsung menarik pakaiannya dari tangan Anta.


"Idih, masa kakinya gak ada, tulang semua," ucap Anta dengan polosnya. Rian malah tertawa terbahak -terbahak menimpali Anta.


"Masa sih, Nta? coba bunda lihat, yanda jangan liat ya, malu ngintip dalaman perempuan," ucap Dita lalu berjongkok bersama Anta menarik bagian bawah kimono sang Ratu Masako.


"Heh, kalian ini ya apa-apaan, sih?" teriak Ratu Masako memarahi Dita dan Anta.


"Ih bener, aku baru tau lho kalau kakinya cuma tulang, jadi dari bagian pinggang ke atas ada bentuknya, dari bagian pinggang ke bawah cuma tulang. Hidih aku tak menyangka, padahal wajahnya lumayan cantik, meski kalau di lihat-lihat emang mulai keriput kayak nenek-nenek, sih."

__ADS_1


Dita membicarakan Ratu Masako begitu saja dengan Anan dan Anta.


"HEH...!!!"


Bentakan Ratu Masako langsung membuat Dita, Anan dan Anta tersentak bersamaan saking terkejutnya.


"Kalian, benar-benar sudah menghinaku," ucap Ratu Masako dengan geram. Aura hitam di sekeliling tubuhnya berpendar. Hawa dingin langsung terasa menyentuh permukaan kulit keluarga Anan. Mereka memutuskan untuk mundur selangkah demi selangkah untuk menghindari sang Ratu Masako.


Namun, iring-iringan dashi dan mikoshi beserta rombongan pawai yang berpakaian kimono dan anime tokoh kartun dari Jepang langsung menabrak Ratu Masako dan menginjak-injak tubuhnya tanpa sadar.


"Kabur bunda, ayo cepat kita kabur...!" seru Anan yang langsung mengajak istri dan anaknya itu berlari menghindari Ratu Masako. Rian mengikuti mereka di belakangnya.


"Kita pulang aja, yanda," ucap Dita bergegas menuju mobilnya. Anan akhirnya menggendong Anta agar lebih cepat dalam berlari.


Setelah masuk ke dalam mobil, Anan segera melajukannya menuju rumah.


"Kenapa dia bisa terinjak, ya?" tanya Dita sambil menaruh ujung jari telunjuknya pada bibirnya.


"Setau aku ya bun, Mikoshi itu merupakan bagian penting dari festival di Jepang, dan siapa pun yang bertugas mengaraknya akan mendapat kehormatan besar. Hal ini karena mikoshi dipercaya sebagai kendaraan untuk mengangkut dewa dari kuil. Makanya kemungkinan mereka bisa menyentuh tubuh Ratu Masako karena punya kemampuan seperti kita," ucap Anan menjelaskan.


"Wah, bisa jadi. Pasti remuk tuh tulang kakinya, hihihi..." ucap Dita yang langsung ditimpali tawa oleh Anta.


"Tapi tuan dan nyonya, bisakah antar aku dulu ke sekolah?" pinta Rian.


"Oh iya, hampir lupa, kamu gak mau ikut pulang ke rumah kita aja?" tanya Anan.


"Saya di sekolah aja, saya kan suka sekali keliling sekolah sebelum kelas dimulai."


Ucapan Rian sontak membuat Anan dan Dita tertawa.


"Baiklah kalau begitu, aku antar kamu pulang."


***


"Tante Dewi, kenapa sih, kok murung aja?" tegur Jerry seraya duduk di samping tante Dewi.


"Eh Jerry, aku tuh pengen banget punya anak tapi Tuhan belum kasih aku rejeki untuk punya anak, gimana ya?" tanya Tante Dewi.


"Sudah, mungkin memang aku yang tak bisa memberikan Kevin anak...."


Tante Dewi menundukkan wajahnya menahan air matanya jatuh menetes.


"Duh, Yerry jadi mau nangis, sini peluk...."


Jerry langsung memeluk Tante Dewi.


Anan datang bersama Dita dan Anta langsung terkejut melihat Jerry dan Tante Dewi saling berpelukan dan menangis.


"Ini ada apa ya?" tanya Anan.


"Yerry sedih nih ganteng denger cerita Tante Dewi," sahut Jerry.


Dita langsung menghampiri dan berlutut di hadapan Tante Dewi.


"Hai cantik...! kok nangis sih? Nanti kerutannya tambah banyak lho, mau?"


Dita menggoda tante Dewi yang langsung tertawa kecil melihat Dita.


"Jangan lah, susah kalau menjaga kulit ini kencang, dan awet muda, tau!"


"Nah, gitu dong senyum, sih cantiknya... tantenya siapa sih, nih."


Dita menertawakan Tante Dewi.


"Idih bunda sama nenek gak jelas!" celetuk Anta.


"Heh, sembarangan aja panggil nenek! kan aku udah bilang panggil tante...," ucap Tante Dewi langsung mendekat pada Anta dan mencubit pipinya dengan gemas.

__ADS_1


Tawa riuh langsung tercipta menghangatkan suasana malam di rumah tersebut.


***


Sesampainya Doni dan Mitha di rumah, perempuan itu langsung berlari menuju kamarnya untuk bersembunyi.


"Si Mitha kenapa, Don?" tanya Shinta yang merasa heran melihat Mitha langsung berlari begitu saja menuju kamarnya.


"Aku juga gak tau," sahut Doni yang mencubit pipi Lee dengan gemas.


"Gak ada makanan lain apa selain daging, suka banget kayaknya sama daging?" tanya Doni.


"Gak tau ni bocah, makanan lain gak mau, maunya daging aja," jawab Shinta.


"Tapi ini kan mentah, kak?" Doni langsung merasa mual melihat Lee memakan irisan daging mentah.


"Ah, sudahlah biarin, daripada dia terus merengek menangis kencang minta daging, tuh anteng."


Shinta menunjuk anaknya yang baru berusia hampir 7 bulan itu.


"Ke dokter anak gih, minta solusi!" Doni memberi saran.


"Iya, besok kamu yang antar kakak ya ke dokter anak," ucap Shinta.


"Ya, beres. Daripada si Lee makan daging mentah mulu, hiyy...!"


Sementara itu saat Mitha meringkuk di atas ranjangnya dengan menutupi tubuhnya dengan selimut, Ratu Masako sudah hadir dan menarik selimutnya.


"Kenapa kau meninggalkan, ku?" tanyanya dengan wajah menyeringai.


"Aku takut... kau sangat menyeramkan," jawab Mitha.


"Dasar gadis bodoh...! Jelas-jelas aku bisa ke sini karena panggilanmu, ini malah kau ketakutan karena aku," keluh Ratu Masako.


Doni membuka pintu kamarnya dan langsung terkejut saat melihat Ratu Masako sedang berbicara dengan Mitha.


"Siapa kamu?" tanya Doni.


Ratu Masako langsung menghilang saat Doni datang.


"Siapa dia, Mitha?" tanya Doni.


"Aku tak tahu, ku rasa dia hantu penunggu rumah ini," Tasya mencoba berbohong.


"Apa kau bisa melihat hantu?" tanya Doni pada Mitha.


Mitha menggelengkan kepalanya.


"Lalu kenapa kau bisa melihatnya?" tanya Doni lagi.


"Aku juga tak tahu, Doni sayangku suamiku," sahut Mitha.


Mendengar perkataan sayang dari Mitha membuat ia merasa jijik dan memutuskan untuk keluar kamar. Ia memilih tidur di sofa ruang tengah, di lantai bawah.


******


Bersambung ya...


Mampir juga ke :


- Diculik Cinta


- With Ghost


- 9 Lives


- Gue Bukan Player

__ADS_1


- Kakakku Cinta Pertamaku


Vie Love You All... 😘😘😘


__ADS_2