
Sebelum membaca jangan lupa ya di Like, Vote, and rate bintang lima ya...
Happy Reading 😊😊😊
******
Dita dan Anan menaiki busway menuju bazar makanan dan barang-barang tradisional daerah setempat. Anan membuka jaketnya dan menutupi lutut Dita dengan jaketnya. Dita menoleh pada Anan.
"Biar gak dingin, lagian juga biar gak diliatin sama yang naik," ucap Anan.
"Kamu tuh ya..."
"Apa?"
"Selalu gemesin," Dita mencubit lengan Anan yang terasa kencang dan berotot.
Anan langsung menundukkan kepalanya dan meremas tangan Dita karena ketakutan melihat penampakan yang baru saja ia lihat. Seorang anak laki-laki menggelayut di punggung seorang perempuan paruh baya yang berjalan dengan membungkuk dan memilih duduk di kursi depan Anan.
Anak berwajah pucat dan bermata hitam seperti mata panda itu lalu menoleh pada Anan dan Dita sambil bermain cilukba.
"Ta... itu..." bisik Anan makin meremas tangan Dita.
"Hadap sana dek jangan hadap sini," bisik Dita menunjuk anak kecil tersebut agar menghadap ke depan.
"Duh... sakit banget ini rasanya," ibu itu mengeluh kesakitan di bagian punggungnya.
"Heh kamu jangan naik ke punggung itu, hayo pergi sana," ucap Dita.
Hantu anak kecil itu malah melotot memperlihatkan lidahnya yang menjulur sampai menyentuh lutut Anan dengan senyum menyeringai.
"Ta, ayo turun sini aja," Anan buru-buru menarik tangan Dita dan memberhentikan bis di pemberhentian terdekat.
"Makasih ya pak," ucap Anan pada sang supir dan turun terburu-buru menarik Dita sampai kaki Dita terantuk trotoar.
Hantu anak kecil itu malah berteriak melengking saat Anan dan Dita turun dari bis.
"Aduh... sakit tau!" rengek Dita.
"Maaf Ta, gue takut banget soalnya, elo gak apa-apa Kan?" tanya Anan khawatir.
"Gak apa-apa sih cuma nyeri aja di ujung kaki, lagian kita kan belum sampai kok turun sini sih?" tanya Dita.
"Gak apa deh horor banget gue soalnya dalam bis tadi, lagian biar romantis jalan bentar ke bazar sana," ucap Anan memalingkan wajahnya agar tak di lihat Dita saat wajahnya memerah menahan malu.
"Nan, aku boleh tanya gak?" ucap Dita yang baru sadar tangannya gantian di gandeng oleh Anan.
"Tanya apa?"
"Kamu pernah mimpi apa gitu yang berhubungan dengan aku?" tanya Dita.
"Gue gak pernah mimpi jorok apa mesum ngebayangin elu ya kalau arah pembicaraan elo kesana," sahut Anan.
__ADS_1
"Ih mulai deh nyambung banget otaknya ke arah begituan kayak dulu juga, kirain bakal ilang," Dita mengigit tangan Anan dengan gemas.
"Awww sakit Ta, kalau mau gigit mah jangan tangan Ta, tapi..."
"Tapi apa?" Dita menghentikan langkah Anan.
Anan menunjuk bibirnya menggoda Dita yang langsung tertawa sinis melihat kelucuan Anan.
Kring kring...
Suara bel sepeda yang melintas membuat Anan dan Dita berpencar karena menghindari sepeda tersebut.
"Woi... ini jalanan buat pejalan kaki bukan buat sepeda!" bentak Anan meneriaki si pengendara sepeda tadi.
"Maaf bang, buru-buru," sahut pengendara sepeda itu dari kejauhan.
"Rese banget tuh orang gak tau apa kalau tadi gue mau digigit ya Ta... lah si Dita gue di tinggal," Anan langsung buru-buru menghampiri Dita dan menyusulnya.
"Kok gue di tinggal sih?" tanya Anan.
"Lagian lama banget jalannya nanti keburu malam tau udah jam delapan nih," sahut Dita.
"Ya maaf," ucap Anan sambil meringis berjalan mendahului Dita lalu berjalan mundur menghadap Dita.
***
Keduanya sampai di bazar yang sudah ramah pengunjung. Anan dan Dita menikmati berbagai permainan yang menyenangkan di sana.
"Gak bisa kali Nan, udahan aja, siapa tau kalengnya di lem," bisik Dita.
"Curang dong Ta namanya itu, wah gak bisa di biarin nih," Anan menghampiri kedai permainan tersebut lalu meninju kaleng tersebut tapi tetap tak jatuh.
"Wah elo main curang bang?" Anan membuat kehebohan dengan meneriaki si pemilik stand permainan yang bertampang sinis pada Anan.
"Elo aja yang gak bisa mainnya!" bentak si pemilik kedai.
"Wah balikin duit gue!" Anan bersiap untuk memukul si pemilik stand tapi Dita menahannya.
Banyak pengunjung yang melihat kejadian tersebut juga merasa tertipu dan menyerang si pemilik stand permainan tersebut menuntut ganti rugi.
"Rasain loh, sana noh pada minta uangnya balik sama si curang itu," pekik Anan.
"Udah sih, yuk ah pergi dari sini kita cari makan aku laper," ucap Dita menarik tangan Anan yang masih ingin berkerumun meminta pertanggung jawaban si pemilik stand curang tadi.
"Tapi kan Ta, aku jadi gak bisa bawain Anta boneka tuh," gerutu Anan.
"Ih so sweet banget sih Yandanya Anta, nanti aku beli aja terus aku bilang itu boneka dari kamu ya?" ucap Dita.
"Gak mau ah, nanti habis makan kita cari permainan lain yang hadiahnya boneka buat Anta,"sahut Anan.
"Terserah kamu aja lah!" Dita menepuk dahinya sendiri.
__ADS_1
Sampai di sebuah kedai sate jeroan ayam dan sosis, Dita menghentikan langkahnya.
"Enak nih," ucap Dita sambil memilih sepuluh macam sate jeroan dan sosis untuk di bakar.
Anan datang dengan dua gelas chococino di tangannya.
"Nih buat kamu," ucap Anan.
"Kamu...?" Dita tersenyum manis pada Anan dengan meraih gelas es chococino dari tangan Anan.
"Elo maksudnya, eh itu bukannya ibu yang jual ramen waktu itu ya?" tanya Anan pada Dita sambil menunjuk stand ramen di seberangnya.
"Kayaknya iya deh, apalagi itu si kakek yang kemarin masih nemenin hiiyyy," sahut Dita membuat Anan malah bersembunyi dari balik badan Dita saat hantu Kakek itu menoleh pada Anan dan Dita.
"Janganlah dia sampai lihat kita, duh balik badan yuk!" ajak Anan.
"Tapi Nan perhatiin deh, dia tuh ngikutin ibu itu tapi kayak mau mencekik ibu itu ya?" ucap Dita.
"Udah sih Ta, jangan di liatin terserah dia mau ngapain sama tuh ibu, kan itu buktinya si ibu gak bisa dia pegang," ucap Anan.
"Iya juga sih, tapi aku jadi penasaran," rengek Dita.
" Udah nih mending kita duduk dimana gitu, nih pesenan kamu udah selesai nih, makasih ya bu," ucap Anan menerima pesanan Dita.
"Iya-iya tuh ada kursi dekat taman tuh," tunjuk Dita yang langsung mengikuti perintah Anan untuk menghindari arwah si kakek di seberangnya itu.
"Coba minggir dulu biar aku bersihin kursinya," ucap Anan.
"Duh aku, hmmm tumben banget," Dita meledek Anan.
"Biar sopan manggilnya," sahut Anan.
"Kalau mau lebih sopan lagi bisalah panggil Om, apa Opa gitu hehehhee," ucap Dita meringis memandang Anan.
"Udah di bilang jangan ngeliatin kayak gitu."
Anan menoyor pipi Dita dengan telunjuknya.
******
Bersambung ya, hayo abis baca jangan lupa bayar pakai VOTE ya...
Jangan lupa main ya ke cerita ku lainnya.
- WITH GHOST
-Â Â Â Â Â Â Â Â Â Kakakku Cinta Pertamaku (Season 2)
-Â Â Â Â Â Â Â Â Â 9 Lives (END)
-Â Â Â Â Â Â Â Â Â Gue Bukan Player
__ADS_1
Vie Love You All 😘😘😘