
Sebelum membaca jangan lupa ya di Like, Vote, and rate bintang lima ya...
Note : hanya yang memenuhi syarat ya yang aku undi, nantikan pemenangnya di tanggal 10 Juli 2020.
Happy Reading 😊😊😊
*****
"Dewa elo juga, daripada di rumah, tadi katanya kesepian," tegur Anan menunjuk Dewa.
"Gue mau latihan sama band gue, nanti malam aja gue manggung di resto luh," sahut Dewa lalu berbalik badan dan melangkah menuju halte bis.
BRAK...!!!
Tiba-tiba sebuah mobil truk pengangkut pasir melintas kencang dan menabrak Dewa sampai terpental jauh sekitar dua ratus meter.
"Astagfirullah... Dewa...!!!" Dita berteriak dan menghampiri Sadewa bersamaan dengan Anan.
Dewa segera dilarikan ke rumah sakit segera di dampingi oleh Anan di dalam ambulance, sementara Dita memesan taxi online untuk pulang sebentar menaruh belanjaan dan kucing nya.
"Yeaayy... Anta punya kucing baru, namanya siapa bunda?" tanya Anta setibanya Dita di rumah.
"Terserah Anta mau kasih nama siapa, bunda ke rumah sakit dulu ya, mau nengok opa Kevin, sama temen bunda tadi yang ketabrak." ucap Dita.
"Iya deh bunda, Anta mau kasih nama Komo," ucap Anta menggendong kucing tersebut di pelukannya.
"Iya terserah Anta, bunda pergi dulu ya... Sya jagain Anta lagi ya, terus kamu tulis pengumuman di depan kita cari karyawan aja buat bantu kamu," ucap Dita.
"Oke Ta, tenang aja sih, kamu jangan lupa makan," ucap Tasya yang di jawab anggukan oleh Dita.
Dita memesan ojek online untuk menuju rumah sakit.
***
"Gimana kondisi Dewa?" tanya Dita.
"Dia harus operasi Ta, luka di kepala dia lumayan parah, dan uang operasinya juga gak sedikit," sahut Anan.
"Pakai uang ku dulu," ucap Dita.
"Kemaren biaya rumah sakit ibunya Andri elu juga yang nanggung, masa ini juga, nanti uang elu habis," Cegah Anan.
"Gak usah khawatir, aku masih punya banyak simpanan uang kok," Dita menuju meja administrasi bersama Anan untuk mengurus biaya perawatan Dewa.
"Baby... kamu tuh ya susah banget di cari di restoran..." Hyena yang tiba di rumah sakit langsung menggandeng tangan Anan.
"Elu ngapain di sini?" tanya Anan melepas tangan Hyena dari lengannya.
"Aku tadi telpon Andri, katanya ibunya masuk rumah sakit ini, jadi aku kesini, eh taunya aku lihat kamu di sini, ini siapa? eh bentar dia bukannya yang waktu itu kayaknya pernah liat deh di Restoran?" tanya Hyena.
"Ini..." Anan memandang Dita penuh ragu bergantian dengan memandang Hyena.
"Hai aku Dita, aku investor baru di restoran," Dita mengulurkan tangannya ke arah Hyena.
"Hai aku Hyena, pacarnya Anan," Hyena membalas uluran tangan Dita.
Gimana kalau aku bilang aku istrinya Anan ya dia pasti pingsan hehehe.
"Eh tolong lepas dong!" ucap Hyena yang sedari tadi jabatan tangannya belum di lepas oleh Dita.
"Eh iya maaf ya," balas Dita.
"Bentar, tadi bilang apa, investor?" Hyena menegaskan ucapan Anan.
"Iya dia bakal bantu keuangan restoran," ucap Anan.
"Tapi restoran itukan punya papi aku, saham papi aja ada 60 persen di sana," ucap Hyena.
"Restoran itu atas nama gue sama Andri, nanti uangnya bakal kami ganti kok pelan-pelan biar tuh resto jadi milik kita seutuhnya," sahut Anan.
"Nah mungkin saya bisa bantu untuk menggantinya," sahut Dita menyela pembicaraan Anan dan Hyena.
"Gak bisa!" Tegas Hyena berucap dan menatap Dita tajam.
"Lho kenapa gak bisa?" tanya Anan.
"Papi mau jual aja restoran itu, supaya kamu kerja sama papi di perusahaannya, perkara Andri nanti gampang aku bisa minta jabatan yang pantas buat Andri, jadi kita bakal sering ketemu baby," ucap Hyena melingkarkan tangannya di lengan Anan lagi.
"Tapi papi elu gak bisa gitu dong, harus bicara dulu sama Andri dan gue?" ucap Anan dengan nada lebih tinggi.
"Baby kamu kok gitu sih sama aku," mata Hyena berkaca-kaca menahan tangisnya.
"Ta, urusan Dewa udah beres kan? aku mau ngomong sama Andri dulu ya," ucap Anan lalu pamit meninggalkan Dita.
Hyena memandang ke arah Dita sebentar memperhatikan sosok Dita dari ujung kepala sampai ujung kaki lalu bergegas menyusul Anan menemui Andri.
Ponsel Dita berbunyi tenyata tante Dewi yang menghubunginya.
"Kamu dimana Ta?"
"Ada di rumah sakit," jawab Dita.
"Pas banget, coba kamu kesini ke ruangan om Kevin ya," pinta Tante Dewi.
__ADS_1
"Oke aku kesana segera," Dita menutup sambungan ponselnya dan bergegas menuju ruangan om Kevin.
Tok...tok...
"Masuk Ta," ucap Tante Dewi dari dalam ruangan.
"Hai tante... hai om udah sadar wah alhamdulilah seneng banget deh," ucap Dita menghampiri om Kevin yang dengan posisi duduk di atas ranjangnya, lalu Dita mencium punggung tangannya yang masih memakai selang infus.
"Jangan kak, jangan cium tangan saya, kan saya jadi malu," ucapnya.
"Kak? maksudnya? kok om Kevin panggil saya kak, jangan-jangan dia berbalik muda lagi ya tante, ngira saya lebih tua?" tanya Dita.
"Mending kalau kayak gitu Ta, tante masih bisa maklum bawa pulangnya, kamu tanya dong dia siapa," ucap Tante Dewi dengan raut wajah kesal sambil bertolak pinggang.
"Maksudnya? eh kamu siapa emangnya?" Dita memandangi om Kevin di hadapannya.
"Hehehe, saya Doni kak," ucapnya sambil meringis.
"APA...?! DONI...?!" Dita berteriak tak percaya dengan apa yang dia dengar.
"Ini kan bercanda kan tante?" Dita menoleh pada Tante Dewi.
"Coba tanya ke dia, dari tadi tante tanyain dia bilang gak bercanda," sahut Tante Dewi dengan perasaan kesal dan menahan marah.
"Doni...!!! ini beneran kamu?" Dita memperhatikan Doni dengan seksama yang terus mengangguk dan meminta maaf.
"Saya juga gak tau kak, kenapa bisa masuk ke dalam tubuh pak Kevin, sumpah deh bukan mau saya juga bisa kembali kesini di dalam tubuh pak Kevin," Doni berusaha meminta maaf dengan perasaan yang aneh dan bingung juga.
"Kalau Doni bisa ada di raga om Kevin berarti om Kevin bisa ada di raga Doni?" tanya Dita sambil mengigit ujung jarinya.
"Nah kemungkinan bisa gitu Ta, cuma pas aku cek kondisi tubuh Doni, dia belum sadar juga sampai sekarang," sahut Tante Dewi.
"Ini... aduh ribet banget sih nih, nanti kerjaan om Kevin gimana, terus masa yang tinggal sama tante si Doni ini sih, nanti om Kevin kasian, mana harus masuk ke tubuh Doni lagi," ucap Dita menghela nafas panjang dan merebahkan tubuhnya duduk di sofa.
"Nah itu Ta, kenapa coba harus Doni, kasian kan om Kevin biasa punya badan tetap berisi tiba-tiba pindah ke tubuh kerempeng kurang gizi kayak Doni, duh gak bisa bayangin nanti pas Kevin sadar," Tante Dewi ikut menghela nafas panjang dan merebahkan dirinya di sofa duduk di samping Dita.
"Heh, maaf ya, emangnya ada apa dengan tubuh saya, ada yang salah gitu bu, kak Dita? koko ada menghina tubuh saya sih?" Ucap Doni tak terima di bicarakan oleh dua orang wanita kesayangan di hadapannya.
Dita dan Tante Dewi saling bertatapan lalu tertawa.
"Kok ngetawain saya sih?" tanya Doni.
"Ya habisnya tante tuh bingung ya, Kevin kan atletis biasa olahraga, makan makanan sehat, takutnya dia gak muat nanti masuk ke raga kamu," sahut Tante Dewi.
"Tapi kan saya juga sehat bu, cuma emang males mandi doang sih kadang-kadang," Doni meringis menahan malu.
"Tuh kan, tambah kasian lagi nanti sama Kevin punya badan jorok kayak gitu," Tante Dewi melotot ke arah Doni.
"Ya udah mau gimana lagi, kita tunggu aja sampai mereka bertukar tempat seperti semula lagi tante, nanti aku cari tau gimana caranya, lagian kamu juga sih nih kayaknya gak sabaran mau masuk raga kamu malah masuk ke om Kevin ya kan?" Dita menunjuk Doni.
"Hehehe... habisnya aku gak sabaran mau ngedate sama Tasya jalan bareng gitu," sahut Doni.
"Yah..."
Doni menghela nafas panjang yang terasa makin berat.
"Kasihan Don, masa nanti kalau ada yang lihat Tasya jalan sama kamu di kira nanti Tasya jalan sama om om," Dita berbisik pada Doni tapi terdengar oleh tante Dewi yang langsung melotot ke arah Dita.
"Hehehe... biasa aja kali tante tatapannya maut banget," ucap Dita.
"Belum pernah coba mesin kejut jantung ya Ta?" tanya Tante Dewi masa menatap Dita tajam.
"Enggak tante makasih, jangan sampe pakai alat kayak gitu hehehe," sahut Dita.
***
Sesampainya Dita di rumah ia menceritakan pada Tasya perihal Doni dan Om Kevin yang bertukar tubuh.
"Kok bisa gitu ya Ta?" tanya Tasya.
"Nah itu dia, aku juga gak ngerti, nanti coba cari tau deh solusinya supaya bisa bertukar tubuh seperti semula," ucap Dita.
"Bunda... ayo daftar sekolah," Ajak Anta yang memeluk Dita dari belakang.
"Oh iya bunda sampai lupa kan mau pilih sekolah yang bagus buat kamu, nih tadi ada brosur sekolah yang udah bunda ambilin," Dita mengeluarkan beberapa kertas brosur dari dalam tasnya.
"Bagus-bagus Ta, yang ini juga banyak permainannya Anta pasti suka," ucap Tasya sambil melihat brosur yang di letakkan Dita di atas meja kasir.
Seorang pria muda memasuki mini market Dita dengan penuh kikuk dan canggung.
"Mencurigakan tuh orang," bisik Tasya.
Dita mengangguk dan ikut memperhatikan.
"Om mau cari apa?" Anta langsung menegur pria muda tersebut.
"Aduh si Anta main tegor aja bukannya di awasin dulu," Dita menepuk dahinya sendiri.
"Polos banget anak kamu mah Ta," sahut Tasya.
"Eng anu, umm anu..."
"Kalau mau beli minuman keras kita gak jual ya, kalau mau beli rokok ada di deket meja kasir tapi kayanya kamu belum pantes deh buat merokok," Dita ikut menghampiri anak muda tersebut yang ternyata berseragam Sekolah Menengah Pertama Matahari.
"Bukan kak, bukan itu, saya mau cari itu yang ada sayapnya," ucapnya berbisik karena malu ketika dua orang ibu masuk ke dalam mini market juga.
__ADS_1
"Yang ada sayapnya? oh Anta tau yang mainan barbie Anta ada sayapnya bisa di pakai jadi kayak kupu-kupu, om cari mainan itu kan?" Anta mencoba menebak.
"Bukan mainan tapi... yang dipakai perempuan tiap bulan," ucapnya.
"Anta pakai tiap hari kok, semau Anta mau mainnya kapan," ucap Anta yang mulutnya langsung di bekap Dita.
"Husss udah jangan ngomong lagi, sana duduk sama tante Tasya," ucap Dita.
"Yah bunda kan Anta mau bantuin jualan," ucap Anta tapi akhirnya menuruti perintah Dita.
"Sini ikut aku!" Dita menyuruh anak muda tadi untuk mengikuti Dita menuju rak di belakang pemuda itu.
"Maksudnya yang ini," Dita menunjukkan salah satu pembalut wanita yang memiliki sayap di tepinya.
"Iya kak tapi kata dia, yang ada dinginnya," sahutnya sambil berbisik.
"Oh yang ini berati," ucap Dita menyerahkan pada anak muda itu tapi ditolak.
"Langsung bawa ke meja kasir kak, nanti langsung bungkus saya malu hehehe," ucapnya.
"Emang buat siapa sih?" tanya Dita.
"Pacar saya hehehe," sahutnya dengan senyum meringis dan wajah memerah.
"Ya ampun, manis banget sih kamu, sampe segitunya mau beliin pembalut buat pacarnya," pekik Dita.
"Sssttt jangan kenceng-kenceng kak," pinta anak muda itu.
"Oh oke, yuk bayar!"
Anak muda itu mengikuti Dita menuju meja kasir dan menyerahkan pembalut dingin dan bersayap itu ke Tasya.
"Langsung bungkus Sya," ucap Dita.
Tasya langsung tertawa terbahak-bahak sampai berjongkok dan menahan perutnya yang sakit.
"Ini kak, kembalinya ambil aja," Anak muda itu langsung bergegas pergi meninggalkan mini market Dita.
"Tasya kamu ya main ketawa aja kan kasihan dia malu banget dari tadi," ucap Dita.
"Lucu Ta, dari tadi tuh dia ketakutan mau cari pembalut buat apa coba masa laki pake pembalut hahahaha," sahut Tasya.
"Bukan buat dia, tapi buat ceweknya,"
"Uh... so sweet banget sih dia aja yang smp punya pacar masa saya enggak ya?"
"Kan ada Doni, salah sendiri kamu gantungin dia mulu," sahut Dita.
"Emang om Doni di gantung? kaya jemuran gitu bunda kan sakit?" celetuk Anta.
"Bukan gitu Ta, udah Anta mau sekolah yang mana?" tanya Dita.
"Mau yang ini aja yang ada gambar kakak tadi," Anta menunjuk brosur sekolah Matahari yang menerima pendaftaran kelompok bermain sampai sekolah menengah atas.
"Lah iya ini kan anak tadi yang jadi model brosur sekolahnya," ucap Dita.
"Coba liat, wah iya keren juga ya, pasti nge hits nih dia di sekolah sampai di jadiin model brosur," SAHUT Tasya.
"Nah Anta mau sekolah sama kakak tadi," ucap Anta.
"Ya gak bisa Anta, tadi itu smp sedangkan Anta masih kecil harus sekolah di kelompok bermain," ucap Dita.
"Tapi Anta maunya..."
"Hussss udah nurut bunda, nanti juga namanya satu gedung sekolah bisa ketemu kakak tadi," ucap Dita menghentikan rengekan Anta.
"Anta suka ya sama kakak tadi?" Tasya menggoda Anta
"Iya habis ganteng tau kakaknya hehehe," sahut Anta.
"Heh bocah kecil tau-tauan aja sama cowok ganteng," Dita menyentil hidung Anta pelan.
Seseorang masuk ke dalam mini market Dita membunyikan lonceng selamat datang.
"Yanda.....!!!"
Anta langsung berlari dan memeluk pria tersebut.
*****
Bersambung ya, hayo abis baca jangan lupa bayar pakai VOTE ya...
To be continued...
Jangan lupa main ya ke cerita terbaru ku
“WITH GHOST”
ramaikan disana.
Baca juga :
- Kakakku Cinta Pertamaku (Season 2)
- 9 Lives (END)
__ADS_1
- Gue Bukan Player
Vie Love You All 😘😘😘