Pocong Tampan

Pocong Tampan
Surprise...


__ADS_3

Jangan lupa Vote sebelum membaca..


Sangat berarti lho vote nya... 😊😊😊


***


"Akhirnya buka infus juga... aaahhh senangnya." Dita merenggangkan tubuhnya.


"Tapi belom boleh pulang yak, tunggu visit dokter nanti sore." ucap Suster yang membukakan selang infus Dita.


"Yaaahh kirain udah boleh pulang suster."


Suster itu menggeleng tersenyum.


"Saya tanya nih sus, saya takut biaya rumah sakitnya gede nanti tabungan saya gak cukup."


"Tenang aja nona cantik, kamu gak usah pikirin biaya rumah sakitnya, pihak kepolisian sudah menanggung semuanya, karena kamu selaku korban dan saksi penting di kasus kemaren."


"Serius suster, udah dibayarin?"


Suster itu mengangguk.


"Alhamdulillah... saya jadi tenang hehehehe."


"Jadi udah boleh pulang nih?" tanya Dita lagi penuh harap.


"Belum sayang... tunggu visit dokter nanti sore yak.


ucap suster itu tersenyum manis lalu pamit keluar ruangan Dita .


"Kamu mau pulang kemana Ta?" tanya Andri.


"Oh iya, wahana pasti tutup yak, hmmm cari kontrakan baru, kerjaan baru pastinya nih, huaaaaa." Dita mengacak-acak rambutnya kesal.


"Sekarang ikut aku yuk!"


"Kemana?"


"Surprise...!!! Hehehe." Andri menarik tangan Dita turun dari ranjangnya.


"Awww... masih nyeri Ndri perut ku."


"Sorry Ta, pelan-pelan yuk."


"Anan mana?"


"Nanti juga ketemu disana."


***


Dita meminta ijin pada suster untuk berjalan-jalan sebentar ketaman mencari alasan agar bisa mengikuti Andri.


"Kenapa sih di lift itu ada aja yang nungguin."


Dita melihat seorang kakek yang tanpa kedua tangannya sedang berdiri di sudut lift sedang menunduk.


"Ayo Ta masuk." ucap Andri.


"Tuh liat." Dita menunjuk kakek itu dengan bibirnya.


"Oh... permisi ya kek, numpang-numpang kita satu jenis kok." ucap Andri


Biarpun penuh keraguan akhirnya Dita memberanikan diri masuk kedalam lift.

__ADS_1


"Permisi kek, numpang-numpang, aku belum satu jenis ya kek, masih manusia."


Kakek itu mengangkat wajahnya yang pucat pasi kearah Dita menyeringai. Darah dari tangannya yang sepertinya terpotong diatas siku menetes kelantai lift.


Dita tak mau melihat fenomena yang membuat Andri tertawa itu.


"Harusnya perban dulu ya Ta jangan jalan-jalan nanti kalo dia kepeleset dia yang sakit tuh jatoh gara-gara darahnya hahahahha."


Dita menepuk pundak Andri.


"Aku lagi gak pengen becanda."


Dita merasakan tengkuknya merinding dengan hembusan nafas kakek itu yang sudah melayang berada di belakangnya.


"Ndri dia dibelakang ku yak?" Dita menutuo matanya sambil takut-takut bertanya pada Andri.


"Wah iya, modus nih kakek mau cium-cium leher temen saya yak." sahut Andri.


"Andri ah, jangan becanda buruan udah sampe belom nih?"


"Bentar satu lantai lagi, Dah sampe yuk, awas kek jangan modus sama cewe-cewe di lift yak,Ta tungguin...!!"


Dita sudah berlari meninggalkan Andri keluar dari lift yang sudah naik lima lantai dari ruangan kamarnya berada.


"Hosh hosh parah kamu, perut aku nyeri nih."


Ucap Dita dengan nafas tersengal-sengal menghindari kakek hantu lift tadi.


"Lagian siapa suruh lari-larian." sahut Andri.


"Ah yaudah deh, sekarang ini dimana?"


"Tempat fenomenal yang pernah aku bilang dulu."


"Surprise...!! liat tuh siapa disana?"


"Anan...!!" Dita memeluk Anan yang sedang berdiri menatap sebuah kaca pada kamar bertuliskan ICU.


"Kamu liat apa sih?" tanya Dita pada Anan.


"Tuh liat aja deh."


"Apa sih aku gak keliatan coba aku deketin." Dita mengintip orang yang terbaring di ruangan itu dari kaca dengan seksama.


"Astagfirullah... kok mirip sih sama kamu?"


"Nah itu surprise aku, taaddaaaa si pasien fenomenal... anak pemilik rumah sakit yang udah koma setahun lebih lah pokonya."


"Maksudnya itu Anan? tapi bentar deh kok bawah hidungnya ada tahi lalat ya, beda ah sama Anan, kalo Anan hidungnya rada bengkok, yang itu mancung sempurna."


Dita bolak balik mengamati sosok yang terbaring di dalam dengan wajah milik Anan.


"Ah kamu mah, tetep gantengan aku kan?"


"Gantengan dia sih Nan." Dita masih menempelkan kedua tangannya pada kaca bak teropong yang mengintip dari balik kaca.


"Dita mah..."


"Hahahaha si lontong kisut ngambek."


"Ehm ehm maaf ya, kamu siapa ya dari tadi ngintip-ngintip di kaca?"


Tanya seorang perempuan memakai jas dokter Rumah Sakit XX bertuliskan Dr. Mahadewi di nametag nya.

__ADS_1


"Eh maaf dokter, saya cuma mau pastiin itu temen saya apa bukan?" ucap Dita mencari alasan yang tepat agar tak mencurigakan.


"Teman mu? siapa namanya?"


"Anan, Ananta Prayoga."


"APA...??? coba ulangi lagi...!" Dr. Mahadewi itu mendekatkan telinganya ke Dita ragu dengan yang didengarnya barusan.


"Anan."


"Nama lengkapnya siapa tadi?"


"Ananta Prayoga, Bu dokter."


"Hahh..." Dokter itu menutup mulutnya seolah tak percaya.


"Ada yang salah dok? oohh jadi aku salah yak, maaf ya dok, aku permisi kalau gitu."


"Tunggu, bisa ikut saya?" pinta dokter Mahadewi.


Dita menoleh pada Anan dan Andri lalu melihat mereka mengangguk.


"Oke deh, mari dok."


Dita mengikuti langkah dokter Mahadewi itu menuju ruangannya.


"Silahkan duduk." pinta dokter itu.


"Baik, makasih dokter... emmm dokter Mahadewi hehehe baru keliatan namanya."


"Panggil saja saya Dewi."


"Oke dokter Dewi."


"Dari mana kamu kenal Anan?"


"Dari mana ya, susah jelasinnya dok, pokonya pernah ketemu aja."


"Berapa kali kamu ketemu, dan kapan?"


"Emmm sering sih, beberapa hari lalu."


BRAKK...!!!!


Dokter Dewi menggebrak meja kerjanya membuat Jantung Dita terasa lompat dari dadany.


"Tolong jawab pertanyaan saya jujur!"


"Mmm saya lupa kapan, tapi sering ketemu sih."


"Dimana kamu ketemu Anan?" Suara dokter Dewi makin tinggi


"Dimana yak, oh iya di supermarket, eh apa dijalan yak, pokoknya pernah ketemu dok udah lama."


"Tolong jangan asal bicara yak mengenai keponakan saya."


"Jadi yang ada di kamar ICU itu keponakan dokter? itu Anan? apa dia koma?"


Dita mencoba menarik kesimpulan dari arah pembicaraan di ruang dokter Dewi itu ucapannya membuat raut wajah dokter Dewi menjadi keheranan dari raut kesalnya tadi melihat ke arah Dita.


***


To be continued...

__ADS_1


Happy Reading...


__ADS_2