Pocong Tampan

Pocong Tampan
Musim Kedua - Bertemu


__ADS_3

Dear readers tersayang... Jangan lupa sebelum membaca di Like and komentar di babnya. Kalau sudah habis membaca jangan lupa juga buat Vote pakai poin kalian buat dapetin Giveaway dari Vie.


Terima kasih and Happy Reading. 😘😊


*******


"Bunda... Kenapa kita harus pergi dari sini, sih?" tanya Anta saat berada di bandara.


"Ada hal yang harus Bunda dan Yanda selesaikan," ucap Dita.


"Tapi, Bunda... Anta takut kehilangan Bunda sama Yanda," ucap Anta.


"Kenapa kamu harus takut, Bunda sama Yanda gak akan pernah pergi dari kamu, lalu sebentar lagi Anta akan punya adek bayi dan gak akan kesepian, Anta punya temen main nanti," ucap Dita.


Petugas keamanan bandara datang menghampiri keluarga Anan.


"Halo, Saya Edward. Maaf bisakah Anda ikut saya menuju tempat pemeriksaan tas?" pintanya.


"Ada apa ya, Pak?" tanya Anan seraya mengikuti langkah petugas tersebut.


"Ini, apakah Anda membawa ular di tas ini?" tanyanya seraya menunjukkan layar monitor.


Aduh, ini pasti si Anta nih bawa Ratu Sanca.


"Maaf, Pak. Apakah Anda membawa ular ini?" tanya petugas itu lagi.


"Mungkin mainan kali, Pak."


Dita dan Anta menghampiri Anan dan menanyakan perihal pemanggilan Anan. Betapa terkejutnya Dita saat melihat isi tas Anta di layar monitor tersebut.


"Kamu bawa Ratu Sanca, ya?" bisik Dita.


"Kasihan soalnya Bunda gak ada yang ngurusin nanti," jawab Anta dengan cara berbisik juga.


Dita langsung menepuk dahinya sendiri.


"Udah jadi boneka, kok. Coba aja Bunda buka!" pinta Anta dengan suara lirih.


"Coba mana tas Anta, Pak!" pinta Dita pada Pak Penjaga.


"Tapi, Nyonya... saya harap Anda berhati-hati, yang saya lihat tadi ular itu bergerak," ucap Pak Penjaga itu dengan nada ketakutan.


"Bapak, salah lihat kali," balas Dita.


"Ratu Sanca, awas ya kalau bergerak, aku buang kamu ke tempat mesin pembuangan sampah itu," ancam Dita.


Saat Dita membuka tas ransel Anta yang berwarna merah muda itu, Dita lalu mengeluarkan boneka ular yang berukuran sedang.


"Maaf, Pak. Ini boneka anak saya," ucap Dita.


"Ta-tapi, tadi saya lihat dalam tas itu ada ular yang bergerak," sahut Pak Penjaga.


"Coba Bapak istirahat dulu, mungkin terlalu capek," ucap Anan sambil menepuk bahu si penjaga dan kedua matanya melirik ke arah Anta tajam.


Anta langsung bersembunyi di balik tubuh Dita. Ia tahu tatapan Ayahnya barusan pasti akan berlanjut menjadi omelan panjang sepanjang perjalanan pulang kampung halaman Ibundanya.


***


Anta mendekap tas ranselnya di dalam pesawat tersebut. Terdengar tangisan dari Lee yang merengek meminta daging mentah pada Ibunya.


"Emang tadi gak bawa stok?" tanya Doni.


"Bawa, tapi habis, duh gimana nih..." gumam Shinta.

__ADS_1


"Coba minta tolong ke pramugari, kali aja mereka ada stok daging," ucap Dita memberi saran.


"Aku aja yang minta," sahut Anan.


"Nah betul, secara mukanya Pak Bos kan bisa bikin para pramugari itu kepincut," ucap Doni.


Dita langsung menatap tajam ke arah Doni dan Anan secara bergantian.


"Maaf, maaf Kak..." Doni langsung kembali duduk bersama Shinta. Sementara Tasya yang duduk dengan Tante Dewi sudah tertawa sedari tadi.


"Aku aja yang minta, kamu duduk sini!" perintah Dita yang langsung membuat Anan duduk dan tak bisa membantah.


Anan menoleh ke arah Anta yang sedari tadi memandang jendela pesawat. Minggu depan Anta berusia lima tahun.


"Hei, Anta lagi lihat apa?" tanya Anan.


"Yanda, udah gak marah lagi sama Anta, kok tanyain Anta sekarang?"


"Mau marah juga percuma, kamu udah terlanjur bawa Ratu Sanca ke sini," sahut Anan.


"Ya, maafin Anta. Yanda, itu hantu perempuan di baling-baling itu kasian ya, bukannya masuk aja," ucap Anta seraya menunjuk hantu perempuan yang lehernya terjerat baling-baling sayap pesawat. Hantu itu malah melambaikan tangannya pada Anta.


"Udah, jangan diliatin, udah jadi hantu malah gila kayak gitu," sahut Anan menutup tirai jendela Anta.


Dita kembali dengan membawa daging untung Lee, daging mentah pastinya. Hal yang sulit dia utarakan pada si Pramugari, namun akhirnya di setujui juga dengan perjanjian tertentu yang tidak boleh bocor ke media.


"Oh iya, Anta minggu depan kan ulang tahun, mau kado apa?" tanya Anan.


"Anta mau kado, Yanda Bunda sama Anta tetap sama-sama terus," sahut Anta ada raut kesedihan di wajahnya.


"Anta dari tadi ngomongnya gitu terus, kenapa sih?" tanya Dita


"Anta cuma takut aja, Anta juga gak tau kenapa, Anta cuma takut Bunda sama Yanda pergi," ucap Anta.


Dita dan Anan saling menatap bersamaan. Lalu keduanya memeluk Anta yang duduk di antara mereka.


***


"Kamu cari siapa, Yanda?" tanya Dita.


"Aku punya kejutan buat kamu, aku juga kemarin baru tau kalau dia sekarang tinggal di sini," ucap Anan.


"Siapa, siapa yang Yanda maksud?" tanya Dita.


"Pocong... gue di sini!" sahut Andri yang melambaikan tangannya.


"Onta! Elo apa kabar?" tanya Anan seraya berlari dan menghamburkan dirinya pada Andri.


Andri menggendong Anan berputar-putar seraya tertawa. Banyak pasang mata yang mengira keduanya sepasang kekasih dengan lirikan sinis mereka.


"Hadeh, kejadian lagi dikira pasangan, kebiasaan banget sih!" gumam Dita menepuk dahinya sendiri.


"Eh harus sadar kan gue, lepas, Andri!" pekik Anan.


"Nah elo juga main nomplok aja," sahut Andri bergidik jijik.


"Hahaha... elo juga main gendong gue aja."


"Eh, udah, udah sih berisik banget dari tadi diliatin orang-orang tuh!" ucap Dita.


"Dita... kangen banget gue sama elo." Andri berusaha untuk memeluk Dita, akan tetapi Anan sudah keburu menghalangi dan membuat Andri memeluknya.


"Kok badan kamu enggak mungil ya, Ta?"

__ADS_1


"Hai, Andri..." Dita melambai di hadapan Andri yang baru saja membuka matanya.


"Ah, kampret luh! kirain Dita," gerutu Andri.


"Gak akan gue biarin elu peluk istri gue," sahut Anan.


"Ah... Anta... cantik banget, masih inget sama Om?"


Anta mengangguk.


"Yang nih boleh gue peluk kan, Nan?" bentar doang, dikit..."


"Bentar aja, lho..."


Andri memeluk Anta lalu menggendongnya.


"Katanya cuma peluk, kok pakai gendong sih?" seru Anan.


"Bentar doang, dah Anta turun ya, Ayah kamu posesif banget kaga asik," ucap Andri yang langsung diberi toyoran di kepala oleh Anan.


"Hai, semua!" Andri menyapa Tante Dewi dan yang lainnya.


"Tasya... kamu kok tambah cantik, sih..."


Doni langsung merentangkan kedua tangannya sebelum Andri mencoba mendekati dan memeluk Tasya.


"Oh... Udah ada yang punya, ya." gumam Andri yang hanya bisa melambai.


"Aku mau kok dipeluk," ucap Shinta.


"Gak, Mbak. Makasih hehehe," sahut Andri.


"Oh iya, ibu kemana?" tanya Dita pada Andri.


"Ibu sudah meninggal, Ta. Maaf aku baru kasih kabar, aku kehilangan kontak kalian sampai kemarin Anan menemukanku di postingan iklan elektronik produk shampo pria terbaru," ucap Andri.


"Aku turut berduka cita ya," ucap Dita.


"Yuk semuanya aku antar pulang, aku kan tinggal di apartemen yang sama dengan kalian," ucap Andri.


"Emangnya elo bawa mobil yang muat sama kita semua?" tanya Anan.


"Siapa bilang aku bawa mobil, tuh lihat!"


Sebuah mini bus pariwisata bergambar foto Andri dengan produk shampo pria terbaru, terpampang di hadapan semuanya.


"Astaga, narsis banget temen gue," ucap Anan.


"Bukan gitu, ini bus gratis tau, dari perusahaan tempat gue kerja, jadi muat buat jemput kalian," sahut Andri.


******


Bersambung...


Mampir juga ke :


- 9 Lives


- Diculik Cinta


- With Ghost


- Forced To Love

__ADS_1


- Kakakku Cinta Pertamaku


Vie Love You All... 😘😘


__ADS_2