
Jangan lupa Like and vote nya sebelum membaca... 😊😘
***
"Makasih ya bang, ni duitnya ambil aja kembaliannya."
"Makasih ya neng." ucap driver ojek online yang Dita pesan sudah sampai membawanya ke apartemen Dokter Dewi.
"Oh... my bodyguard udah pada standbye nih nungguin aku ya..??"
Ucap Dita ke arah Anan dan Andri yang sudah bertolak pinggang menunggunya di halaman apartemen.
"Ko kamu udah paham Ndri arah masuk lewat depan? aku aja kemaren naik lift nya dari parkiran bawah situ." Dita bertanya pada Andri yang sudah berjalan duluan menuju lift dari arah depan.
"Ehm ya aku pernah kesini lah disini ada rumah temenku juga."
"Oh iya lantai berapa?" tanya Dita melirik Andri.
"Lantai dua puluh."
"Wah sama dong sama Tante nya Anan."
Andri tertunduk tak mau menatap Dita dan Anan lalu masuk ke lift menahan pintunya agar Dita dan Anan bisa masuk.
"kyaaaaaa.... itu." Dita menutup matanya menarik lengan Anan untuk bersembunyi.
Andri dan Anan menoleh pada anak laki-laki yang meringkuk di sudut lift. Sadar dirinya sedang diamati Anan dan Andri anak laki-laki bitu lalu berdiri dengan bunyi gemerutuk tulang yang saling beradu.
"Hmmm patah tulang gue rasa nih bocah." ucap Andri.
Anak itu tertawa melihat kearah mereka dengan matanya yang hitam, dari telinga dan hidungnya keluar darah yang menetes perlahan.
"Dek kalo tidur jangan malem-malem sampe mata panda gitu." celetuk Anan yang langsung diberi tepukan di punggungnya oleh Dita.
"Awww sakit Ta." ucap Anan.
"Lagian iseng banget pada punya mulut asal jeplak aja."
Anak itu masih tersenyum menyeringai ke arah Dita.
"Mau main denganku?" ucap anak itu.
"Enggak dek enggak kita gak mau main." sahut Dita.
"Mau main apa?" tanya Andri.
"Ih si Andri yak malah ngajak main." sahut Dita.
"Ayo kak kita main terjun payung dari lantai atas terus kebawah kaya aku dulu." ucap Anak itu sambil tertawa.
"Kalian main aja aku mah enggak ya, kalian mah enak abis jatoh bangkit lagi lah aku langsung isdet... kakak gak ikut yak." Dita masih berbicara di balik tubuh Anan.
"Lah kocak si Dita hehehe kan sama bangkit lagi juga." Andri menertawakan Dita.
"Enggak ah masih pengen hidup." jawab Dkta ketus.
__ADS_1
"Nama kamu siapa dek?" tanya Anan.
"Aku Bani."
Tring... Pintu lift terbuka di lantai 20.
"Oke Bani mainnya kapan-kapan yak." Dita langsung berlari ke luar lift tanpa menoleh ke Bani.
"Yuhuuu..." Jen sudah berada di depan pintu rumah Dokter Dewi menunggu Dita.
"Hadeh udah capek-capek ngibrit sampe sini ketemu hantu lagi."
Dita tersengal-sengal mencari nafas di depan pintu apartemen 205 milik Dokter Dewi.
"Pasti ketemu Bani di lift ya kan? kasian dia baru sebulan jadi hantu."
"Emang dia kenapa?"
"Jatuh dari lantai 10 Tuing... aaaa mati deh." sahut Jen memeragakan pesawat jatuh dengan tangannya.
"Kasian juga yak, aku masuk yak." ucap Dita."
"Wah ada cowok ganteng baru nih." ucap Jen melihat Andri.
"Apa cuma aku yak yang tamunya hantu semua lagi kongkow kayak gini ngumpul." Gerutu Dita melihat Anan, Andri dan Jen duduk di sofa ruang tamu.
"Kamu siapa?" tanya Jen pada Andri.
"Hai aku Andri, kenalin nih." Andri mengulurkan tangannya dan berjabat tangan dengan Jen.
"Hai aku Jen, gebetannya Anan, hampir jadian sih."
"Oh gitu Nan, jadi hampir jadian, oh gitu..." Dita sudah bertolak pinggang di hadapan Anan.
"Mana aku tau Ta perasaan kayaknya enggak deh, aku kan gak inget." sahut Anan.
"Cieeee Dita cemburu nih?" Andri melirik kearah Dita.
"Enggak kok biasa aja, bisa pada pergi gak aku mau bebenah."
"Iyakah Ta, kamu cemburu?" Anan menghampiri Dita tersenyum manis penuh harap mendengar jawaban Dita.
"Apaan sih, pede banget, kocaaakkk...!!!" Dita mengibaskan rambutnya ke wajah Anan .
"Emang mereka jadian yak?" tanya Jen pada Andri.
"Ya gitu deh pada malu malu meong."
"Masa sih? Dita Elo jadian sama Anan? kan dia hantu." tanya Jen.
"Siapa yang jadian, ditembak aja enggak." Dita meraih kemoceng membersihkan debu.
"Yah kode tuh Nan, hahahhaha gue mau rebahan dulu ah." Andri masuk kedalam kamar Dokter Dewi.
"Kok kamu tau itu kamar?" tanya Dita.
__ADS_1
"Enggak cuma feeling aja eh bener taunya kamar." Andri menghilang ke dalam kamar dokter Dewi.
"Hmmm sepertinya ada yang aneh antara Andri dan dokter Dewi jangan jangan nih."
"Ta, emang mau ditembak?" ucap Anan .
"Nan menurut kamu Andri sama Tante kamu ada hubungan gak sih?"
"Ta kamu gak dengerin aku yak?"
"Apaan sih kamu tuh yang gak dengerin aku."
"Tau ah... aku mau pergi aja tanya masa lalu aku sama si Jennifer."
"Oh... gitu rupanya baiklah silahkan pergi saja sama dia, huh."
"Oke aku pergi sama Jen yak, ayok Jen kita ngobrol di luar." ajak Anan.
Dita tak mau menoleh ke Anan, namun hatinya sedih bercampur marah.
Menyibukkan diri dengan menyapu, mengepel, dan mengelap kaca.
"Dasar cowok gak peka."
"Siapa yang gak peka." sahut Anan di belakang Dita.
"Kamu tuh yang... Eh ngapain disini bukannya ngobrol sama Jen?"
Cup..
Anan mengecup bibir Dita seketika. Pipi Dita merona saking malunya dengan jantung yang berdegup makin kencang.
"Peka kan? perlu di tembak juga?"
"Gak usah nanti aku mati lagi."
"I love you Dita."
"Hmmmm... oh iya belom bersihin kamar mandi."
"Tuh kan ngeles mulu."
"Berisik ih, udah bantuin aku bebenahin rumah Tante kamu."
"Jen ngajak nanti malem ke club' house kamu mau?"
"Boleh tuh siapa tau kamu bisa inget dikit-dikit Nan."
Anan memandang langit sore dari balik jendela apartemen itu memikirkan bagaimana ia bisa meninggal, benarkah ia terjerumus dengan narkoba atau memang ia mati dibunuh.
***
To be continued...
Happy Reading...
__ADS_1
😘😘😘