
Sebelum membaca jangan lupa ya di Like, Vote, and rate bintang lima ya...
Happy Reading semoga makin suka 😊😊😊
******
Mark pulang ke rumah dengan terburu-buru. Namun, sebelum ia naik ke kamarnya ia sempat menoleh ke arah dapur memperhatikan sosok Dita yang sedang memasak sup ayam.
"Cantik ya, sayang istri orang, hmmm bisa gak ya di godain," gumam Mark lalu melangkahkan kakinya menuju dapur.
"Hai, masak apa?" tanya Mark.
Dita yang sedang menciduk kuah sup itu dan hendak memasukkannya ke dalam mangkuk saji jadi terkejut karena teguran Mark. Kuah sup panas itu terlempar ke wajah hantu Samanta.
"Ouch... this is hurt!" pekik Samanta.
"Ih si Mark ya ngagetin aja! kamu ngapain pulang bukannya kamu masih kuliah?" tanya Dita.
Suara keran air mengucur deras tiba-tiba membuat Mark terkejut. Pasalnya hantu Samanta yang membukanya karena hendak mengusap wajahnya yang panas dengan air.
"Kok perannya kebuka sendiri sih?" gumam Mark menoleh ke arah keran.
"Oh mungkin ada ikatan batin sama aku, soalnya aku mau cuci tangan hehehe," sahut Dita asal menuju keran air dan menyenggol hantu Samanta untuk pindah dan menutup keran airnya.
Hantu Samanta duduk di meja di hadapan Mark. Ia menggoda Mark dengan menaikkan kakinya ke atas paha Mark.
"Eh apaan tuh, kok kayak ada yang... ah gak mungkin lah mungkin ada binatang kali ya," gumam Mark sambil memeriksa ke dalam kolong meja makan.
"Kamu ngapain Mark?" tanya Dita membuat Mark gantian terkejut dan kepalanya mengantuk meja dengan keras.
"Adaw...!!! eng-enggak kok cuma cari binatang, tadi seperti ada yang naik ke paha aku," ucap Mark mencoba menjelaskan yang ia rasa.
Dita menatap tajam ke arah Samanta agar berhenti menggoda Mark.
"Kamu mau makan?" tanya Dita dan di jawab anggukan oleh Mark.
Mark menyendok sup ayam buatan Dita dan melahapnya dengan roti gurih bertabur bawang putih tabur.
"Kamu gak pernah makan nasi ya?" tanya Dita.
"Emmm enggak paling stok beras cuma buat bikin bubur granny," sahut Mark.
"Cobain deh makan nasi, rasanya enak tau campur sup, ya harusnya mah pakai sambel sama tempe goreng biar mantap tapi aku cuma nemu bahan ini," ucap Dita.
"Sumpah ini juga enak banget, aku yakin banget nanti restoran kamu pasti laku keras," ucap Mark dengan mulut penuh itu.
"Dah makan dulu yang bener, nanti keselek lho," ucap Dita.
Selesai makan, Mark mencoba membantu Dita mencuci piring. Tangannya menyentuh punggung tangan Dita secara sengaja. Kala Dita menoleh padanya, ada tawa nakal dan berusaha menggoda Mark tebarkan.
"Hmm... jijik banget ngeliatinnya, gak pantes kamu senyum seperti itu sama aku," ucap Dita.
"Loh emang kenapa? pantes aja kok, kamu tuh cantik banget dan aku tuh seneng banget lihat wajah kamu ini, mana pinter masak, pinter urus anak, coba aja kamu masih sendiri aku udah kejar deh sampai mana juga," ucap Mark.
Mangkuk saji yang isi supnya sudah si habiskan Mark itu terjatuh begitu saja. Bagi Dita yang bisa melihat tampak Samanta sangat kesal dan menyenggol dengan sengaja mangkuk tersebut.
"Kok jatuh ya?" gumam Mark.
"Hmmm kena angin kali," sahut Dita asal lalu menghampiri dan membersihkan pecahan mangkuk tersebut.
__ADS_1
"Aw...!" Telunjuk Dita terkena pecahan beling saat mau membersihkannya.
"Tuh kan luka, gak usah bersihin, kamu diem aja di sini, biar aku yang bantu ya," ucap Mark seraya membersihkan sisa pecahan mangkuknya.
Dita meraih kotak p3k di atas lemari TV. Dita merebahkan bokongnya di kursi meja makan sembari mencoba membersihkan lukanya. Mark dengan sigap meraih tangan Dita dan membersihkannya. Pria itu mengobati luka Dita sambil menatapnya dengan lekat.
"Gak baik pandang istri orang seperti itu," Dita menarik tangannya dari Mark.
"Kenapa ya, istri orang itu lebih menggoda, lebih menantang untuk di kejar," ucap Mark Lirih dan hanya di dengar oleh Dita sekilas. Dita menoleh pada Mark dengan tatapan tajam. Mark membereskan kotak P3K sementara Dita membersihkan bekas tumpahan sup tersebut.
Tasya datang bersama Jerry sambil membawa banyak belanjaan.
"Banyak banget belanja nya, kan sudah ku bilang untuk kamu simpan Sya," tegur Dita.
"Aku belanja dikit kok, nih belanjaan si Jerry," Tasya menunjuk ke arah Jerry.
"Ih habisnya aku gemes banget banyak barang-barang lucu Mbak Dita, eh ada my baby Mark, Oh iya aku beli alat bantu denger untuk Granny Rose, biar gak ngerasa dosa bentak-bentak orang tua hihihi..." ucap Jerry seraya menunjukkan alat bantu pendengaran untuk Nenek Rose.
"Oh iya aku lupa terus tuh mau beliin Granny alat itu, makasih ya, eh siapa nama kamu?" tanya Mark.
"Ih kebiasaan deh masa secantik ini kamu lupa nama aku, nama ku Yerry, panggilan sayangnya Riri khusus buat my baby Mark," ucap Jerry.
Tasya menahan tawanya tapi tidak dengan Dita entah kenapa Dita malah merasa Mark itu menyebalkan.
"Sya, aku udah masak sup ayam, aku mau istirahat ya, Anan sama Anta lagi pergi," ucap Dita.
"Padahal aku udah beli bahan makanan Ta, ya udah bagus deh kalau kamu udah masak hehehe," jawab Tasya.
"Ri, nenek Rose kamu bersihin ya tubuhnya, dan kayaknya dia capek banget lho, kamu gak boleh ninggalin dia lagi, atau kamu gak boleh kerja di sini lagi!" ancam Dita seraya menaiki tangga menuju kamarnya.
"Yah, kok mbak Dita gitu sih ngomongnya?" gumam Jerry.
Dita menutup pintu kamarnya saat Mark mau menghampiri. Dita menghubungi Anan untuk segera pulang, namun Anan akan mampir ke supermarket membeli barang perlengkapan keluarga dan bahan makanan untuk mereka. Anan juga memberitahukan pada Dita kalau ia membeli sebuah mobil sedan berwarna kuning bekas pakai di sebuah showroom mobil bekas.
"Terserah yanda aja kalau emang suka sama mobilnya dan kondisinya masih bagus, udah ya cepet pulang jangan lama-lama," pinta Dita.
"Oke bunda sayang I love you..." Anan menutup sambungan ponselnya di seberang sana.
Dita memanggil Pak Herdi saat menatap sosok misterius di jendela lantai dua rumah di seberangnya
"Kenapa lagi Ta, saya lagi mandi tau bersihin bekas ompol tadi," ucap Pak Herdi.
Mendengar penuturan Pak Herdi Dita tak mau langsung menoleh.
"Sekarang udah pakai baju belum?" tanya Dita.
"Udah..."
Dita menoleh pada Pak Herdi.
"Tuh aku sebel banget sama Mark masa tadi dia godain aku," ucap Dita mengadu pada sosok yang selalu menjaganya itu.
"Wah kurang ajar! seharusnya orang kedua yang berhak godain kamu itu ya aku," ucap Pak Herdi dengan lantang.
"Apaan sih!" Dita menepuk bahu Pak Herdi.
"Ta, bentar sini, sepertinya ada yang ngintip kamu," ucap Pak Herdi seraya melompat menuju pintu kamar. Pak Herdi menarik pintu kamar Dita perlahan lalu menariknya cepat. Benar saja dugaan Pak Herdi, Mark terjatuh ke lantai di hadapannya.
"Eh, kok pintunya gerak sendiri ya hehehe," ucap Mark seraya berdiri menggaruk-garuk kepalanya salah tingkah.
__ADS_1
"Kamu ngapain di deket pintu, kamu nguping ya?" tanya Dita dari dekat jendela.
"Enggak kok, tadi pas aku lewat aku denger kamu kok seperti lagi ngobrol sama seseorang jadi aku penasaran, padahal kan kamu lagi sendirian hehehe," sahut Mark meringis pada Dita dengan wajah malunya.
"Oh... aku tadi lagi telpon Anan kok," ucap Dita.
"Tapi... ummm ya udah aku balik ke kampus dulu ya," ucap Mark sembari menenteng laptop di tangannya.
Dita masih mengamati jendela rumah di seberang sana. Sosok perempuan bertubuh mungil memandangi Dita dari balik tirai sana.
"Lihat apa Ta?" tanya Pak Herdi menyentak Dita.
"Ih ngagetin aja nih! tuh lihat siapa tuh di seberang sana?" tanya Dita menunjuk ke arah seberang sana dengan bibirnya yang maju sedikit.
"Oh... sepertinya manusia bukan hantu," ucap Pak Herdi.
"Kok aura sekeliling tubuhnya serem ya gelap gitu?" gumam Dita.
"Kamu mau aku lihat kesana?" tanya Pak Herdi.
"Gak usah, nanti aku tanya sama Samanta tentang tetangga di sana," ucap Dita.
"Oke, kalau gitu saya lanjut mandi lagi ya Ta," ucap Pak Herdi.
"Pantes masih bau pesing tau pak hahahaha," Dita meledek Pak Herdi dengan mengendus tubuh Pak Herdi dari sampingnya.
Sementara itu di lantai bawah.
"Kok Granny Rose bau pesing banget ya ruangannya?" gumam Jerry.
Suara aneh terdengar dari bawah ranjang nenek Rose. Hantu Samanta sedang menggoda Jerry dengan suara ujung kuku yang menggaruk Lantai, berderit membuat ngilu telinga Jerry.
"Ih suara apa tuh ya, jangan-jangan suara cicit tikus," gumam Jerry.
Suara itu terus berulang terdengar dan membuat Jerry penasaran mencari asal suaranya.
"Dari kolong nih, coba lihat ah," Jerry meraih ponselnya dan menekan tombol torch untuk menerangi kolong ranjang.
"Apaan sih gak ada apa-apa juga," Jerry mematikan nyala senter di ponselnya.
"Eh apa tuh ya barusan?" gumamnya lalu ia kembali lagi menyinari kolong ranjang nenek Rose.
"Aaaaaaaaaaa...!!!" Jerry berteriak sambil berlari keluar kamar nenek Rose menghampiri Tasya.
******
Bersambung ya, hayo abis baca jangan lupa bayar pakai VOTE ya...
Jangan lupa main ya ke cerita ku lainny
- WITH GHOST (UP)
-Â Â Â Â Â Â Â Â Â Kakakku Cinta Pertamaku (Season 2)
-Â Â Â Â Â Â Â Â Â 9 Lives (END)
-Â Â Â Â Â Â Â Â Â Gue Bukan Player (END)
Vie Love You All 😘😘😘
__ADS_1