
"Kamu kenapa sih Ta, ngantuk banget?" tanya Anita yang melihat Dita tertidur di mejanya dan mengguncangnya.
"Aku gak bisa tidur Nit dari jam setengah dua sampe jam empat coba tuh ngantuk banget."
"Ngapain aja kamu ?"
"Pokonya aku gak bisa tidur tau." Dita merenggangkan tubuhnya lalu memejamkan mata dengan kepalanya di ujung kursi.
Pak Herdi sudah berada di depan pintu memerintahkan Anita untuk diam tanpa memberitahukan kedatangan nya pada Dita. Dia berjalan mengendap-endap ke hadapan Dita lalu menaruh telunjuknya di bibir Dita.
Pak Herdi menyentuh hidung Dita memperhatikan mulut Dita sambil tertawa karena mulut Dita sudah menganga saking kantuknya.
"Bentar aja Nit, ngantuk banget ." ucap Dita.
Pak Herdi menggoda Dita dengan menaruh wafer ke bibirnya."
"Anita aaaahhhh rese banget sih." ucap Dita Masi dengan mata terpejam.
"Abis ronda Ta?"
"Kok suara mu kaya pak Herdi ya Nit?"
Dita perlahan membuka matanya dan terkejut mendorong pak Herdi dihadapannya.
"Duh maafin saya pak, maaf ya."
Dita membantu Pak Herdi yang jatuh dengan posisi duduk.
Anita menahan tawanya mati-matian saking serunya adegan didepannya itu.
Dita membantu Pak Herdi menepis nepis debu di jas bagian belakang menuju bagian bokong dan paha Pak Herdi.
"Ta, ati - ati Ta salah tepuk."
"Ya kenapa pak, ini lagi aku bersihin."
__ADS_1
"Dita kamu modus yak?" seru Anita.
"Apaan?"
Dita dengan polosnya menoleh ke arah Anita padahal posisinya sedang jongkok dihadapan pinggang Pak Herdi.
Anita makin tertawa melihat tingkah Dita.
"Bangun Ta, ayo berdiri!" Ucap Pak Herdi menahan malu di wajahnya.
Dita menoleh ke atas ke arah wajah Pak Herdi lalu sadar posisinya sudah berada di depan sesuatu milik Pak Herdi yang berharga.
"Astagfirullah maaf pak maaf."
Mata Dita tertuju lurus kearah sesuatu itu lalu berdiri dengan wajah merona.
"Tuh kan modus wkwkkwkwkw." ejek Anita ke Dita.
"Cuci muka gih biar gak ngantuk." Pak Herdi menepuk lembut pipi Dita dan berlalu ke ruangannya.
"Yakin tuh gak mau diembat duda keren gitu?" Anita menggoda Dita.
"Berarti kamu suka kan cuma gak pede?"
"Enggak tahu lah, belom paham aku sama perasaanku." Dita menunduk ragu.
"Bikin kopi dulu lah biar gak ngantuk, mau gak?" tanya Anita.
Dita mengangguk tersenyum.
***
Sore itu terjadi keributan di bagian belakang wahana yang sedang di renovasi terjadi kecelakaan mengenai salah satu pekerja bangunan.
"Kenapa Don? mukamu panik gitu?" tanya Dita.
__ADS_1
"Parah Ta, Nit, Pak Herdi dimana?"
"Diruangan nya." sahut Anita.
Anita dan Dita melihat Doni keluar dari ruangan Pak Herdi disusul Pak Herdi dan Bu Devi yang berjalan terburu-buru ke arah wahana yang sedang di renov.
Dita dan Anita saling berpandangan dan tak butuh waktu lama langsung menyusul mereka.
Suasana di tempat kecelakaan sangat lah menyeramkan terlihat darah segar yang mengalir ke aliran adukan pasir dan semen. Dita melihat sumber aliran darah itu yang ternyata datang dari leher seorang pekerja bangunan yang sudah terbaring tanpa kepala, terpenggal.
Di seberang jasad itu terdapat seorang pekerja lagi yang tubuh bagian depan badannya hancur tertimpa reruntuhan semen dan tubuh belakang nya menimpa bongkahan batu koral besar menyebabkan isi perut nya keluar terburai.
Anita tak sadarkan diri melihat kengerian itu, Doni langsung membopongnya kembali ke ruang kerja.
Kang Ujang menghampiri Dita.
"Dita kuat kok Kang, Dita kuat." ucap Dita seolah menjawab pertanyaan yang terpancar dari wajah Kang Ujang.
"Pokoknya saya gak mau tau, kalian urus jenazahnya jangan sampai orang lain tau, apalagi tersebar, saya takut acara family gathering Minggu nanti dibatalkan."
Dita mendengar samar-samar perintah pak Herdi pada Mandor bangunan disitu.
"Cari tau keluarga mereka dimana, nanti saya kasih uang kompensasi dan urus asuransinya buat keluarga mereka, urus jenazahnya baik-baik dan bersihkan area ini, harus bersih sekarang juga, cepaaatt...!!
Sisa pekerja yang berjumlah delapan orang itu langsung bergerak cepat tanpa membantah mendengar perintah Pak Herdi.
Pak Herdi menoleh ke arah Dita menghampiri nya lalu menarik tangannya pergi dari area itu menuju kantor.
Dita menurut, namun ia menoleh kembali ke belakang, dilihatnya di sudut dekat area renovasi sana, Dita melihat dua sosok hantu pekerja tadi sudah berdiri.
Yang satu dengan tubuh hanya sampai leher sedang memegang kepalanya ditangan kanan dengan mata menatap ke arah Dita, yang satu lagi berdiri menatap ke arah Dita dengan tatapan kosong wajah pucat pasi, badan depannya terlihat hancur penuh darah, daging dan tulang yang terlihat ditambah isi perutnya bergelantung keluar dari tubuhnya membuat Dita mual dan bergidik ngeri membuatny makin menggenggam erat tangan Pak Herdi.
***
To be continued...
__ADS_1
Happy Reading...
Makasih Vote nya...