Pocong Tampan

Pocong Tampan
Obrolan Pagi


__ADS_3

Sebelum membaca klik like yak...


let's vote for me boleh yak...


apalagi koin seikhlasnya juga boleh...


Rate bintang lima jangan lupa...


thank u so much... love u all... 😘😍


****


"Hehehe iya kali ya, oh iya saya mau tanya nih tapi jangan marah ya Ta?"


"Mau tanya apa?" Dita menoleh pada Tasya.


"Waktu di pulau xx pas saya di culik Jeff kok saya lihat pak bos Anan berubah jadi pocong ya?"


Pertanyaan Tasya membuat Dita menoleh padanya.


"Kamu yakin dengan apa yang kamu lihat?" tanya Dita.


"Yakin, pak bos berubah kan ?" tanya Tasya penuh ingin tahu.


"Satria baja Hitam kali ah berubah hahaha." sahut Dita.


"Bunda sayang, temenin sarapan yuk." ajak Anan merangkul bahu Dita dan mencium kepala Dita.


Tasya melihat ke arah Anan sambil tersenyum agak takut dan mundur perlahan-lahan.


"Mau kemana Sya, mau nanya langsung gak?" tanya Dita.


"Enggak jadi deh, saya mau mandi dulu, malu bau asem gini." ucap Tasya langsung bergegas menuju kamarnya untuk mandi.


"Tasya kenapa sih Ta?" tanya Anan.


"Dia takut sama kamu, katanya waktu kamu berantem sama Kuyang dia lihat kamu berubah jadi pocong." ucap Dita menjelaskan.


"Hahahaha kasian Tasya gitu aja langsung takut." Anan menertawakan Tasya.


Jauh di lubuk hati Dita dan Anan keduanya sangat sedih jika sebentar lagi Anan akan berubah seterusnya menjadi pocong bahkan bisa saja Anan akan menghilang. Namun, Dita dan Anan berusaha untuk tertawa, berusaha terlihat bahagia demi pasangannya masing-masing.


"Hari ini cek kandungan ya, biar kamu bisa melahirkan di rumah sakit punya papi." ucap Anan sembari duduk di kursi meja makan.


"Betul Ta, nanti sama dokter Rahmat aja spesialis ginekologi yang paling terkenal di rumah sakit." sahut Tante Dewi.


"Enggak bisa! aku gak mau ya Tante kalau Dita di periksa sama dokter cowok, aku maunya cewek, semua yang terlibat dengan persalinan Dita harus cewek-cewek." ucap Anan dengan nada ancaman disana.


"Hmmmm posesif banget sih, sama dokter aja cemburu." sahut Tante Dewi.

__ADS_1


"Om Kevin ngobrol sama Dita aja, aku bisa cemburu lho." ucap Anan menoleh pada om Kevin yang tertegun lalu tersenyum tak berani menoleh pada Dita.


"Yaelah sampe segitunya Yanda." ucap Dita


"Harus dong bunda, aku gak mau ada yang nyentuh kamu selain aku titik." ancam Anan.


"Iya iya iya ada kok dokter perempuan buat Dita, lagian kalian tuh so sweet banget sih." ucap Tante Dewi.


"Nah gitu dong, eh Doni mana ya kok belum sarapan?" tanya Anan mencari Doni.


"Tasya juga gak ada ya?" tanya Tante Dewi.


"Tasya lagi mandi Tante, kalau Doni gak tau deh." sahut Dita.


"Jangan-jangan belum bangun lagi." om Kevin langsung mengecek ke kamar Doni.


"Hmmmm dasar Doni padahal tadi pagi gempar suara sirine polisi depan rumah juga gak bangun kali tuh." ucap Tante Dewi menyantap sarapannya.


"Gimana persiapan pernikahannya Tante?" tanya Dita.


"Sip... udah beres kok, udah sih kamu bumil tenang-tenang aja pokoknya Minggu besok Tante nikah tapi semua karyawan Tante undang." sahut Tante Dewi.


"Berarti gak private party dong?" tanya Anan.


"Pas Tante pikir-pikir waktu pernikahan pertama kan udah secara keluarga tuh laguan Tante juga gak ikhlas waktu nikah sama yang dulu, kalau yang ini Tante mah ikhlas banget jadi Tante gak mau kalah dong sama para abg nikahnya pakai WO juga di gedung hehehe." sahutnya.


"Gak apa-apa nanti nikah lagi ya Yanda." sahut Dita.


"Emang kamu mau nikah lagi? aku sih gak pernah ya berniat nikah lagi mengkhianati kamu." sahut Anan.


"Eh salah ngomong kan, maksudnya itu kita buat acara pernikahan lagi yang mewah banget gitu Yanda mau gak?" tanya Dita dengan tatapan mautnya menggoda Anan.


"Boleh tuh nebeng sama tante Dewi yuk." sahut Anan.


Tak...!! suara garpu Tante Dewi di tancapkan ke meja berkali-kali menunjukkan kekesalannya pada Anan.


"Hehehehe." Dita dan Anan tertawa berbarengan.


"Itu si Doni susah banget di banguninnya sampai aku siram air segayung tadi." ucap om Kevin menuruni tangga dan duduk kembali di kursi makannya.


"Sekarang mana si Doni?" tanya Tante Dewi.


"Mandi dia, tuh turun eh si Tasya yang turun." ucap om Kevin.


"Ada yang salah ya sama saya kok semua pada ngeliatin saya ya, saya jadi bingung nih." Tasya menengok ke samping kanan, kiri dan belakangnya mengecek sesuatu yang salah dari dirinya.


"Yeee percaya diri sekali kamu nak, kita lagi nunggu Doni mau ngomel malah kamu yang turun." ucap Tante Dewi tertawa menutup bibirnya.


"Oh kirain ada yang salah sama Tasya hehehe saya boleh ya duduk disini?" tanya Tasya.

__ADS_1


"Silahkan Sya." sahut Tante Dewi.


"Makasih." senyum Tasya ke semuanya tapi tak mau memandang ke arah Anan.


"Itu si Susi masih ngikutin kamu aja Sya?" tanya Dita memperhatikan Susi yang menunjukkan barisan giginya alias nyengir cantik pada Dita.


"Masih Ta, tidur aja sama saya." ucap Tasya .


"Ada yang aneh nih sama pembicaraan kalian ya? jangan bilang kalau ada hantu disini?" tanya Tante Dewi penuh selidik meski nada bicaranya ketakutan.


"Mau jujur apa enggak Tante?" tanya Dita.


"Udah-udah gak usah ngomong, Tante udah paham, ayo mas kita berangkat sekarang." Tante Dewi menghabiskan segelas teh herbalnya segera.


"Lah mau kemana Tante?" tanya Anan.


"Tante ijin ya mau cari seragam buat kalian, sekalian cek WO juga." Tante Dewi menarik lengan om Kevin.


"Cie udah gak perlu pakai supir, udah gitu gak di pingit lagi." Dita meledek Tante Dewi dengan sengaja.


"Ah kamu juga waktu itu gak dipingit wleeekk." Tante Dewi menjulurkan lidahnya pada Dita lalu bergegas pergi.


"Yah kok Bu bos sama pak bos Kevin udah jalan sih." ucap Doni menuruni tangga segera


"Mereka mau pergi Don buat cek-cek persiapan pernikahan bukan mau kerja ke rumah sakit." sahut Dita.


"Hai Doni." Susi menyapa Doni dengan tatapan genitnya.


"Idih itu matanya kenapa kedip - kedip cacingan ya?" tanya Doni pada Susi dengan perasaan takut dan agak jijik mengingat sebelah wajah Susi yang mengerikan.


"Terus saya berangkat kerjanya gimana?" tanya Doni.


"Elo jadi supir gue aja lah, gue mau santai duduk dibelakang ngelus - ngelus perut Dita." sahut Anan.


****


To be continued...


mohon maaf kalau ada typo.


Jangan lupa main juga ke cerita ku lainnya :


- Kakakku Cinta Pertamaku (End)


- 9 Lives (Ramaikan disana)


- Gue Bukan Player (Ramaikan juga disana)


Makasih ya Vie Love you all readers 😘❤️

__ADS_1


__ADS_2