
Sebelum membaca jangan lupa ya di Like, Vote, and rate bintang lima ya...
Jangan bosen juga bacanya ya...
Happy Reading 😊😊😊
*****
"Yanda?" Tante Dewi menatap Dita.
Dita menunjuk Anan yang ada di belakang Tante Dewi.
Tante Dewi menoleh ke arah Anan.
Matanya terbelalak, dengan tangannya menutup mulutnya yang menganga.
"Anan, macannya tante?"
Air mata menetes di pipi tante Dewi kala melihat Anan. Dia menyentuh pipi kedua pipi Anan yang tersenyum agak risih.
"Ini Anan kan Ta?" tanya Tante Dewi.
"Harusnya sih iya tapi..." Dita menoleh ke Anan.
"Tenang, untuk saat ini gue, maksudnya aku, aku akan jadi yanda buat si kecil siapa namanya?"
"Anta." sahut Dita.
"Iya buat Anta," ucap Anan lalu mendekati Anta menyanyikan lagu selamat ulang tahun bersama Anta lalu Tasya mengambil foto keduanya.
"Tante gak ngerti deh Ta, maksudnya gimana sih, kok dia gak inget sama kamu?" bisik tante Dewi.
"Tante masih inget tentang bayi laki-laki Dita yang hilang?"
Tante Dewi mengangguk.
"Ratu Kencana Ungu mengambilnya dan menukar dia dengan Anan setelah dua tahun Anta lahir, tapi konsekuensinya, mungkin Anan akan lupa dengan keberadaan kita, jadi kalau cinta kami kuat pasti aku yakin kok kalau Anan bakal kembali sama Dita, jadi aku gak mau maksa Anan buat inget semua," ucap Dita menjelaskan.
"Ih ribet banget sih kisah cinta kamu sama Anan gemes tau dengernya," ucap Tante Dewi.
"Ada lagi yang bakal buat tante makin syok," ucap Dita.
"Apa lagi mau cerita apa lagi?"
"Coba nengok, balik badan liat tuh siapa," Dita menunjuk Andri yang baru keluar dari dapur membawa hidangan aneka macam burger, kentang goreng, ayam goreng krispi, puding dan cemilan lainnya.
"Andri..."
BRUG...
Tante Dewi tak sadarkan diri jatuh ke lantai.
"Yah dia pingsan," ucap Dita lirih.
"Saya ganteng banget ya sampai dia pingsan lihat saya hehehe," ucap Andri dengan penuh percaya diri.
"Pede banget luh, yang ada tuh dia takut liat lu saking seramnya hahaha," ucap Anan meledek Andri.
"Sialan lu cong, bantuin gue nih angkat mbaknya," Andri membopong tubuh Tante Dewi dan meletakkannya di sofa sudut ruangan.
"Punya minyak kayu putih gak apa balsem gitu?" pinta Dita.
Anan segera mengambil nya di kotak P3K.
"Bunda, ante kenapa?" tanya Anta.
"Ante kecapean, coba Anta kipas kipas," ucap Dita
"Hihihi, lucu ya kaya sate di kipasin," Anta malah tertawa melihat Tasya yang sibuk mengipasi tante Dewi.
"Ini minyak anginnya," ucap Anan menyerahkan benda tersebut pada Dita, kedua tangan mereka bersentuhan dan saling bertatapan.
"Berasa liat adegan drakor deh romantis gimana gitu hihihi," ucap Tasya menepuk-nepuk bahu Andri.
"Sakit tau...!!" pekik Andri mengejutkan Anan dan Dita yang langsung salah tingkah.
"Ah rese banget sih ganggu aja baru saya mau foto adegan tadi," Tasya menggerutu memukul bahu Andri lagi.
"Bisa gak sih gak usah mukul, perasaan kayak pernah ngalamin adegan begini ya, berasa dejavu gue," gumam Andri.
Tante Dewi tersadar dan ketakutan saat melihat Andri.
"Kenapa hantu Andri bisa datang lagi Ta?" tanya Tante Dewi ketakutan.
"Eh enak aja saya bukan hantu mbak," sahut Andri menegaskan.
"Eh enak aja panggil mbak, emang saya tua banget apa, Ta coba liat kerutan tante setua itukah tante?" tanya Tante Dewi.
"Ini gimana sih tadi aja takut hantu sekarang aja takut sama kerutan," gumam Dita.
"Dua duanya aku takut tau Ta, jadi kalau dia bukan hantu dia siapa?" tunjuk tante Dewi ke arah Andri.
"Mungkin itu titisannya Andri ya sama kayak Anan," bisik Dita.
"Terus Sandranya mana?" bisik Tante Dewi.
"Mana aku tahu, orang adanya mereka berdua sih," ucap Dita.
"Halo semuanya... eh ada yang ulang tahun ya?" sapa Hyena saat datang masuk ke dalam.
Anta mengangguk menunjuk dirinya yang ulang tahun.
"Uwuu cantiknya yang ulang tahun, eh baby nanti malam jadi kan ketemu papi?" Hyena langsung merangkul lengan Anan dan menariknya menjauh.
__ADS_1
"Baby?" tanya Tasya pada Andri.
"Dia pacarnya Anan, yang punya tempat ini," sahut Andri.
Dita tiba-tiba merasakan kakinya lemas dan duduk di sofa. Bagai tersambar petir saat mendengar Anan punya pacar bagi Dita.
"Kayaknya Ratu gak bilang deh kalau ternyata pas saat ketemu si Anan punya pacar, ratu cuma bilang dia bakal lupa sama aku, bener-bener nyebelin nih Ratu," gumam Dita mengepal tangannya dan hendak memukulnya ke atas meja tapi karena takut sakit dia pindahkan ke atas sofa saat memukul.
"Kamu gak apa-apa Ta?" tanya Tasya.
"Aku bohong dong kalau bilang gak apa-apa, pasti aku sakit lah Sya," sahut Dita kesal.
"Kalau tante sih udah langsung aku samperin sama jambak," sahut Tante Dewi.
"Tapi dia kan lupa sama aku tante," Dita menaruh kepalanya di meja.
"Bunda kenapa sih?" tanya Anta.
"Mending Anta bawa pergi deh tante, beliin kado gitu, aku bawain kartunya nih, Sya anterin tante Dewi sama Anta cari kado buat Anta," pinta Dita.
"Nanti kamu gimana?" tanya Tasya.
"Aku mau urus pembayaran sama makanan yang buat aku bagi-bagi sekitar toko, nanti aku pulang sendiri gampang kok, bisa pesan taxi online, kalau aku takut aku bisa panggil Pak Herdi," ucap Dita.
"Bener nih ya? mending panggil pak Herdi sekarang," ucap Tasya.
"Iya nanti aku panggil, yuk aku anter ke mobil," Dita merapikan kue serta balon milik Anta dan mengantarnya ke mobil. Tante Dewi masih berdiri mematung menatap Andri.
"Tante inget ada Om Kevin ya sekarang, jangan clbk deh!" bisik Dita sambil menarik tante Dewi dan melirik ke arah Anan yang sedang berbincang dengan Hyena. Namun, diam-diam Anan juga memperhatikan Dita sekilas.
"Hei mau kemana?" tanya Andri.
"Bentar keluar dulu nanti aku balik lagi, huh oke deh kalau gak percaya," Dita menghampiri Andri dan meletakkan kartu hitam unlimited yang ia dapat dari Pak Herdi ke hadapan Andri.
"Nih buat jaminan, nanti aku balik," ucap Dita lalu keluar mengantar Tante Dewi ke mobilnya.
"Wuidih Nan, kartu hitam nih," Andri menunjukkan kartu tersebut kepada Anan dan Hyena.
Anan menghampiri Andri di ikuti Hyena.
"Halah papi aku juga punya, nanti aku juga mau minta buatin sama papi," ucap Hyena menyombongkan dirinya.
"Tapi setau aku ya Na, kartu itu cuma buat orang yang penghasilan tahunannya gede kaya papi kamu, nah kalau kamu mau buat ini usaha kamu sendiri apa coba, kan kamu masih kuliah?" ucap Andri.
"Lho ini buktinya tempat ini kan punya aku," sahut Hyena.
"Punya papi kamu," sahut Anan.
"Sama aja baby, harta papi aku ya harta aku juga lah," sahut Hyena tak mau kalah.
"Maaf ya agak lama, jadi berapa tagihannya tulis aja nanti tinggal gesek, jangan lupa makanan tambahannya ya nanti tolong di anter hari ini," pinta Dita.
"Halo, aku boleh tanya gak? emang papi kamu punya usaha apa?" tanya Hyena pada Dita penasaran.
"Kok bisa punya kartu itu?"
"Ini pemberian bos aku yang udah meninggal, wasiat dari dia buat aku," ucap Dita.
"Berarti kamu semacam simpanan bos kamu ya?"
"Na..." Anan dan Andri mengucap bersamaan sambil menatap Hyena tajam memperingatkan untuk menjaga ucapannya.
"Aku punya suami kok, dia juga orang yang berkecukupan pemilik rumah sakit keluarga di negara saya, tapi udah di jual makanya saya pindah kesini dan punya usaha sendiri," ucap Dita.
"Terus suaminya mana?" Hyena masih penasaran dengan Dita.
Dita menoleh pada Anan. "Suami saya... hilang,"
Ada getaran yang membuat hati Anan terasa sakit saat mendengar ucapan Dita barusan tapi dia tak mengerti kenapa merasakan hal seperti itu. Anan hanya menatap Dita.
"Ehm ehm... maaf boleh minta pin nya?" Andri menyela.
Dita memijit pin pada alat gesek tersebut, lalu memberikan tanda tangannya.
"Ini alamatnya nya, Mini Market Ananta, tolong nanti segera kirim ya," pinta Dita.
"Kok namanya sama sih sama kamu baby?" ucap Hyena merangkul lengan Anan lagi.
"Maaf ya Ananta itu namaku Anandita dan Anta anakku," sahut Dita lalu pergi pamit dari restoran tersebut.
Dita bersembunyi sebentar di balik dinding restoran ke dalam yang dekat tempat sampah dan pintu belakang restoran. Dita menumpahkan air mata yang sedari tadi ia tahan.
Hantu nenek yang biasa berada di gang restoran tersebut berdiri di samping Dita yang berjongkok sambil menangis. Darah menetes dati tangannya yang terpotong.
"Astagfirullah nenek ngagetin aja, sana deh nek aku lagi gak mood jangan nakutin kaya gitu," Dita mendorong kaki hantu nenek tersebut yang kemudian ikut berjongkok di samping Dita.
"Kenapa kau tak takut padaku?" tanya hantu tersebut
"Masih banyak nek yang perlu saya takutin ketimbang nenek doang, udah biasa udah sering saya lihatnya," sahut Dita.
"Jadi apa kau bisa membantuku?" tanya hantu nenek itu.
"Aduh masalah saya aja udah bikin pusing nek, ini malah di mintain bantuan," ucap Dita.
Hantu nenek itu makin mendekat dengan wajah lebih seram dari yang tadi.
"Oke, oke aku bantuin tapi jangan sekarang ya nek, besok aja, aku janji besok aku balik sini lagi buat bantu nenek," ucap Dita.
Nenek itu tersenyum lalu menghilang di gang dekat pintu belakang restoran tempat Anan bekerja.
"Dita... kamu harus kuat, kalau Anan emang jodoh kamu pasti balik lagi ke kamu, ini ujian kamu pasti bisa, semangat Dita...!!"
ucap Dita menyemangati dirinya sendiri sambil mengangkat kedua tangannya.
__ADS_1
"Ngapain luh, ngomong sendiri gak jelas kayak gitu?" Anan menegur Dita dengan membawa plastik hitam besar berisi sampah.
"Enggak kok, tadi habis ngobrol sama nenek-nenek," ucap Dita asal.
"Wah parah luh, itu kan hantu lho," Anan menakuti Dita.
"Iya tau, gak punya tangan kan? darahnya masih pada ngucur, iya kan?" tanya Dita.
"Ati-ati dia lagi ngeliatin kamu tuh," ucap Dita membohongi Anan lalu pergi meninggalkan Anan.
"Wah boong tuh cewek, bikin takut gue aja, tapi bentar... kok dia tau ya ciri-ciri si nenek, apa dia bisa lihat si nenek?"
"Bisa..." suara wanita tua mengejutkan Anan yang tiba-tiba hadir di samping Anan.
"Huaaaaaaaaaaa..." Anan berlari dan segera masuk ke dalam restoran.
***
Anan mengantarkan makanan yang Dita pesan ke alamat rumah toko yang Dita tempati.
"Hai ini pesanannya," ucap Anan saat Dita membuka pintu tokonya.
"Bentar ya, Sya makanannya udah dateng, kita bagi-bagi yuk sekarang," Dita memanggil Tasya.
"Anta tidur tapinya Ta," sahut Tasya.
"Ya udah tinggal aja, kan ada Pak Herdi yang jagain," ucap Dita.
"Aku boleh minta tolong?"
"Tolong apa lagi? gue mau pulang nih kan ini sama aja lembur gue anter makanan jam segini," sahut Anan agak kesal.
"Aku mau minta tolong bantuin bagi-bagi makanan, tenang aja nanti tenaga kamu aku bayar kok itung aja per jamnya berapa," pinta Dita.
"Oke deh," sahut Anan karena kalau sudah berhubungan dengan uang pastinya susah untuk Anan tolak.
"Astaga, itu kan hantu," ucap Anan menunjuk Doni yang berjalan bersama Tasya.
"Bukan, dia masih hidup kok, dia koma di rawat d rumah sakit kota sini, cuma roh dia bisa keluar dari tubuhnya, dia lagi berjuang buat sembuh dan kembali ke tubuhnya tapi setelah tubuhnya stabil dan sehat kembali," ucap Dita sambil membagikan makanan dengan selebaran promosi mini Market nya.
"Gue boleh tanya gak?" tanya Anan.
"Tanya aja," ucap Dita.
"Lo bisa lihat hantu ya sama kayak gue, kayak tadi eli kok tau ada hantu nenek tangan buntung di gang?"
"Oh... Itu ia bisa sih,"
"Kok elo gak takut sih?" tanya Anan.
"Waktu pertama kali aku lihat hal kayak gitu ya takut lah, sampai pingsan malah, tapi kamu... emmm maksudnya Anan punya aku, dia yang bantu aku dan ajarin aku biar gak takut hantu," sahut Dita dengan senyum manisnya menatap Anan.
Deg...
Duh nih cewek manis banget, kenapa gue deg degan kayak gini ya pas lihat dia senyum.
"Minta box nya lagi dong," ucap Dita mengulurkan tangannya ke Anan yang tak bereaksi hanya menatapnya.
"WOI...!!!"
Dita menepuk tangannya mengejutkan Anan.
"Eh iya ini," ucap Anan kikuk.
"Don, seneng banget ya bisa liat pak Bos sama Dita bareng kayak gitu, ih so sweet banget." ucap Tasya.
"Iya aku juga seneng, tapi kenapa ya pak Bos lupa sama kita?" tanya Doni.
"Nah itu saya juga gak tau kenapa, kita doain aja semoga pak bos bisa kembali ingat sama kita terutama sama Dita, ya Don."
"Bener tuh Sya, yuk kita berdoa," ajak Doni menundukkan kepalanya bersama Tasya.
"Kalian ngapain sih?" tanya Dita.
"Lagi berdoa kak," jawab Doni.
"Berdoa sih di tengah jalan gitu, minggir tuh sepeda mau lewat susah tuh," ucap Dita.
Tiba-tiba dari arah kanan Dita muncul sebuah bis berisikan penumpang yang oleng menuju ke arah Dita.
"DITA.....!!!"
Tasya berteriak sekuat tenaganya.
****
Bersambung ya, hayo abis baca jangan lupa bayar pakai VOTE ya...
To be continued...
Jangan lupa main ya ke cerita terbaru ku
“WITH GHOST”
ramaikan disana.
Baca juga :
- Kakakku Cinta Pertamaku (Season 2)
- 9 Lives (END)
- Gue Bukan Player
__ADS_1
Vie Love You All 😘😘😘