
Sebelum membaca jangan lupa ya di Like, Vote, and rate bintang lima ya...
Jangan bosen juga bacanya ya...
Happy Reading 😊😊😊
*****
"Terus kamu tega ngebiarin aku naik taxi sendirian sama orang asing?" Dita menatap Anan dengan tajam.
"Ya, ummm... Oke deh gue temenin elo, pesen gih!" ujar Anan.
Tak lama kemudian taxi online yang di pesan Dita pun datang.
"Halo selamat malam, tujuannya rumah sakit sesuai aplikasi ya?" tanya sang supir.
"Iya pak," sahut Dita.
"Pak supirnya kok bawa anak ya malem-malem gini cari orderan?" bisik Anan pada Dita tapi terdengar sampai ke telinga si supir.
"Kenapa pak? bawa anak? anak siapa ya pak?" tanya nya sambil melirik ke arah spion dan fokus menyetir.
"Ummm anu pak..."
"Husss gak kok pak, gak apa-apa cuma tadi dia ngomongin anak saya di rumah siapa yang jagain," ucap Dita menatap Anan agar tak meneruskan lagi pembicaraannya.
"Oh gitu..." sahutnya.
"Ta, berarti anak itu..."
Anak kecil yang duduk di kursi depan samping pak supir kemudian menoleh ke arah belakang. Wajahnya pucat dan bagian hidungnya tak berdaging sehingga tulang hidungnya terlihat jelad. Dari telinganya masih mengucur darah bercampur nanah. Bau busuk menusuk hidung Anan dan Dita sebenarnya tapi mereka tahan agar tak di curigai si supir.
Hantu anak kecil itu masih menoleh pada Dita. Anak itu masih tersenyum menyeringai dengan bola matanya yang berubah hitam semua. Anan meremas tangan Dita karena ketakutan dan menundukkan kepalanya tak mau melihat ke arah hantu anak kecil tersebut.
"Dengerin lagu ya bu, biar gak bosen lagi macet gini," ucap Pak supir.
"Iya pak silahkan," jawab Dita.
Lagu Lo Siento dari Super Junior langsung terdengar di dalam mobil tersebut. Namun, tak berapa lama kemudian lagu tersebut berubah menjadi lagu anak-anak doraemon.
"Kok berubah ya? saya sering nih ngalamin kaya gini?" tanyanya.
"Coba puter lagi pak cari siaran radio yang lain," ucap Dita.
Si supir merubah stasiun radio lagi menjadi siaran berita olahraga terbaru. Tak berapa lama kemudian lagu di radio tersebut berubah lagi menjadi lagu doraemon.
"Tuh kan berubah terus jadi lagu doraemon," gumam si supir.
"Iya lah pak orang tuh anak maunya denger lagu doraemon," sahut Anan keceplosan.
"Anaann..." ucap Dita dengan gemas.
"Duh maaf keceplosan," Anan menutup bibirnya dengan kedua tangannya.
Pak supir menepi, menghentikan laju mobilnya.
"Anak? maksudnya gimana?" tanya Pak supir.
"Udah Ta bilangin aja!" bisik Anan.
"Gimana ya pak? maksudnya gini nih, ada hantu anak kecil di mobil bapak, dan dia tepat duduk di sana," Dita menunjuk kursi depan.
Tiba-tiba suara radio berbunyi dengan kencangnya mengagetkan Dita, Anan dan Pak supir seketika itu.
"Astagfirullah..." ucap Dita.
Pak supir langsung mematikan radio di dalam mobilnya segera.
Suara radio itu berbunyi lagi lebih keras dan tak mau berhenti serta tak bisa di matikan.
"Keluar Nan, ayo kita keluar," pinta Dita mendorong bahu Anan pelan.
Pak supir juga ikut serta keluar dari mobilnya dengan paniknya. Seorang polisi lalu lintas melintas menghentikan motor besarnya untuk menegur pak supir.
"SELAMAT MALAM... TOLONG MATIKAN RADIO NYA...!!" perintah pak polisi.
"GAK BISA PAK...!" jawab pak supir sambil menutup kedua telinganya begitu juga dengan Anan dan Dita.
Polisi tersebut masuk ke dalam mobil dan mematikan radionya.
"Ini bisa di matikan," ucap Pak Polisi.
"Tadi gak bisa pak, tanya deh sama penumpang saya?" ucap Pak supir sambil menunjuk ke arah Dita dan Anan.
"Iya pak, bener."
Dita dan Anan mengangguk bersamaan.
"Ya sudah kalau begitu, lain kali mohon di cek dulu mobilnya siapa tau ada yang rusak, daripada mengganggu ketertiban umum, silahkan di lanjutkan kembali perjalanannya," ucap Pak Polisi lalu pergi dengan motor besarnya.
"Kok bisa gini ya?" gumam Pak Supir.
"Mohon maaf sebelumnya apa bapak punya anak yang sudah meninggal?"
tanya Dita perlahan.
"Saya belum nikah bu, bener deh masih perjaka," sahutnya.
"Terus itu anak siapa Ta, tuh tuh dia merangkak ke atap mobil tuh," ucap Anan menunjuk ke arah hantu anak kecil itu sambil bersembunyi di balik tubuh Dita.
"Mana sih kok saya gak lihat hantunya?" ucap Pak Supir menoleh ke kanan kirinya dan belakangnya.
"Gimana ya pak? yakin bapak gak inget kenapa tuh anak menghantui bapak?" tanya Dita.
Tiba-tiba raut wajahnya makin panik lalu pergi menuju mobilnya dan tancap gas meninggalkan Dita dan Anan.
"Wah parah... masa kita di tinggal, mana sepi banget taman di belakang kita, gimana nih Ta?" Anan merajuk kepada Dita mengguncang tangan kita bagai anak kecil.
"Ih apaan sih, cemen banget sih, masa jadi penakut gini Anan aku Yaa Allah..." ucap Dita.
__ADS_1
"Apaan sih Ta..." Anan mendorong bahu Dita.
"Aww sakit..."
"Iya maaf, maaf gak apa-apa kan? nih aku usap nih biar gak sakit," ucap Anan sambil mengusap bahu Dita yang tadi ia dorong.
Dita menatap tangan Anan yang mengusap bahunya sambil tersenyum sendiri. Anan tersadar lalu melepas tangannya seketika.
"Maaf Ta, maaf ya..." ucap Anan.
"Gak apa-apa kok, tuh ada taxi yang lewat," tunjuk Dita.
Anan menghentikan taxi tersebut dan mempersilahkan Dita masuk ke dalamnya.
"Dingin banget ini mobilnya," ucap Dita saat memasukinya.
"Ke rumah sakit kota ya pak," perintah Anan yang di jawab anggukan oleh pak supir.
"Ta, kira-kira hantu tadi kenapa ya gangguin tuh bapak?" tanya Anan.
"Entah, mungkin bapak itu buat anak itu celaka," jawab Dita memeluk dirinya sendiri.
"Lah, lo kenapa Ta?"
"Dingin..."
"Perasaan gue biasa aja deh," ucap Anan.
Tak lama kemudian mobil taxi yang mengantar Dita dan Anan tadi sampai di gerbang rumah sakit kota.
"Cepet banget udah sampe aja," ucap Dita.
Anan mengeluarkan uang dan hendak menyerahkannya pada Pak supir tapi di larang oleh Dita.
"Gue aja yang bayar!"
"Aku aja yang bayar!"
"Gue aja!"
"Aku aja!"
Mobil taxi itu tiba-tiba melaju dengan kencang meninggalkan Dita dan Anan.
"Kok, pergi gitu aja kan belum bayar, hayo loh supirnya ngambek," ucap Anan.
"Lah ada supir ngambek terus gak mau di bayar, duh jangan-jangan kita naik..."
"MOBIL HANTU...!!"
Ucap Dita dan Anan bersamaan lalu berlari masuk ke dalam rumah sakit.
"Tante... gimana Om Kevin?" tanya Dita.
"Alhamdulillah Ta, tadi udah sadar, cuma masih di ruang ICU dengan alat bantu," ucap Tante Dewi.
"Halo Tante," Anan menyapa tante Dewi.
Tante Dewi langsung memeluk Anan dengan erat. Entah kenapa Anan merasa sangat nyaman dengan pelukan tante Dewi tersebut. Anan merasa pelukan wanita itu seperti pelukan seorang ibu baginya.
"Aaahhh sayang banget sama kalian..." ucap Dita.
Anan jadi merasa risih karena di peluk oleh dua wanita yang belum dia ingat.
"Ma... maaf bisa tolong lepas," ucap Anan.
"Eh iya lupa," ucap Dita.
Tak jauh dari keberadaan mereka Andri datang dengan ibunya yang terbaring tak sadarkan diri menuju ruang Instalasi Gawat Darurat.
"Onta, ibu lu kenapa?" Teriak Anan.
"Jatuh di kamar mandi," sahut Andri.
"Maaf ya gue nemuin si Onta dulu," ucap Anan meninggalkan Dita dan Tante Dewi.
"Heh jangan di liatin aja, nanti baper lagi," ucap Dita menyentak Tante Dewi yang memperhatikan Andri tanpa henti.
"Enggak Ta, tante cuma heran aja kenapa bisa ada yang mirip banget mana namanya sama juga lagi kayak Andri," ucap Tante Dewi.
"Keajaiban, sama kaya Anan yang hadir kembali," ucap Dita.
Andri dan Anan terlihat cemas keduanya seperti memikirkan sesuatu yang sulit di pecahkan.
"Aku ke mereka dulu ya," ucap Dita.
"Ya udah tante balik lagi jagain Mas Kevin," Tante Dewi lalu pergi menuju lift.
"Gimana kondisi ibu kamu?" tanya Dita.
"Ibu jatuh, kepalanya membentur bak kamar mandi, jadi harus ada penanganan lebih lanjut tapi..." ucapan Andri terhenti.
"Pakai duit tabungan gue aja buat uang muka nya nanti sisanya gampang lah kita bisa cari," ucap Anan.
"Tapi Cong, nanti hutang elu ke Hyena gimana? belum lagi kan elo pengen banget beli tuh restoran?" tanya Andri.
"Gak apa pake dulu aja," ucap Anan.
"Gini ya, mohon maaf sebelumnya, daripada kalian nanti terus-terusan bergantung sama Hyena gimana kalau gantian bergantung sama aku, nih pakai uang ku dulu," ucap Dita menyodorkan kartu hitam saktinya.
"Idih kocak, elo tuh baru kenal sama kita masa iya bisa percaya pinjemin uang ke kita?" tanya Anan.
"Tapi cong dia itu..." ucapan Andri terhenti karena kode mata Dita yang berkedip-kedip kepadanya.
"Kenapa nih orang?" tanya Anan.
"Gak kenapa-kenapa, oh iya masih inget soal investasi aku di restoran kamu gak?" tanya Dita.
Anan mengangguk.
"Nah... anggap aja ini sebagai uang investasi nya, yang penting sekarang pikirin kondisi ibu kamu dulu," ucap Dita menyerahkan kartu itu ke tangan Andri.
__ADS_1
"Ya udah Ndri, terima aja kalau gitu caranya, nanti gue tulis di pembukuan," ucap Anan.
Akhirnya Dita menemani Andri dan Anan menuju meja administrasi.
***
Anan mengantar Dita pulang tetapi tak sampai depan ruko Dita. Anan langsung pergi karena takut ada hantu yang kemarin menunggunya di depan ruko Dita.
"Ta sampai sini aja ya, gue mau balik ke rumah sakit lagi nih," ucap Anan lalu berbalik badan segera meninggalkan Dita.
"Ma...makasih... hadeh penakut banget sih sekarang lagian cuma hantu kayak gitu doang emangnya dia pikir aku bakalan takut apa, ya pasti... takut...Lah..."
Hantu pengendara motor yang ditakuti Anan tadi sudah berada di hadapan Dita.
"Serem banget sih bang, aduh ngapain sih masih di sini?" tanya Dita sambil menunduk tak berani melihat.
Dita mengguncangkan gelang di tangannya memanggil Pak Herdi.
"Tolong saya..." ucap hantu pengendara motor tersebut dengan suara parau yang menyeramkan.
"Heh, jangan ganggu Dita...!" pinta Pak Herdi yang langsung hadir di belakang si hantu pengendara.
Hantu itu menoleh pada Pak Herdi.
"Aaahhh hantu bungkus...!!!" ucapnya lalu menghilang.
"Perasaan ganteng saya cakep saya kenapa dia takut ya Ta?" tanya Pak Herdi.
"Hahahaha... hahahahaha..." Dita tertawa terpingkal-pingkal sampai berjongkok di hadapan Pak Herdi memegangi perutnya yang kesakitan saat tertawa.
"Ta... kol kamu gitu sih malah ketawain saya??" ucap Pak Herdi menepuk kepala Dita agar berdiri.
Dita masih tak bisa mengendalikan dirinya dari tertawa.
"Sumpah lucu banget, gak jadi serem, masa... hahahahaha...!!!"
"Ditaaaaaaa!!!"
"Entar dulu mau atur nafas dulu, hufff hoaaaahhhh..." Dita berdiri setelah menghembuskan nafas kelegaannya.
"Apanya yang lucu sih?" tanya Pak Herdi makin tak mengerti.
"Lagian lucu banget, masa hantu takut sama hantu, apalagi hantu yang takut lebih serem dari yang di takutin," Dita menepuk-nepuk bahu Pak Herdi.
"Ah kamu mah, mentang-mentang hantu baru kali tuh setan, jadi takut sama saya, padahal cakepan saya ya Ta?" tanya Pak Herdi melompat di depan Dita.
"Iya lah cakepan bapak," Dita mengikuti Pak Herdi dengan cara melompat.
"Dita...." Pak Herdi menoleh ke arah Dita dengan lirikan mautnya.
"Saya..." Dita menjawab sambil mengedip - ngedipkan matanya.
"Saya sumpahin jalannya lompat terus nih," ucap Pak Herdi.
"Eh jangan, jangan gitu dong, kan cuma bercanda, eh gimana Anta hari ini?" tanya Dita.
"Biasa aja, malah udah bisa nanyi lagu twinkle twinkle little star, hebat ya saya aja gak hapal," ucap Pak Herdi.
"Apa hebatnya pak? perasaan itu lagu biasa aja." gumam Dita.
"Ta, bisa buatin saya spaghetti yang itu gak?" pinta Pak Herdi menunjuk spaghetti dalam kemasan di rak.
"Jiaaahhh dia laper, masa pocong malam spaghetti, biasanya kan bunga melati, apa tanah kuburan apa cacing tanah, apa tikus, darah, terus...."
"STOP...!!! tolong ya hargai saya, gak semua pocong makannya jorok dan menjijikan lho," ucap Pak Herdi membuat Dita makin tertawa lagi.
"Oke, aku buatin, hahaha aduh perutku sakit banget sumpah ketawa mulu gara-gara hantu bungkus," Dita meraih spaghetti kemasan yang di inginkan Pak Herdi lalu membawanya ke atas untuk di masak.
***
Alarm jam weker Dita berbunyi tepat pukul lima pagi. Dita meraih ponselnya yang juga berdering alarmnya minta di matikan bersama dengan jam wekernya.
Dita memastikan layar ponselnya sekali lagi karena sekilas melihat pengirim pesan bertuliskan Lovely Yanda di layar ponselnya.
"Serius nih Anan ngechat aku?" gumam Dita membuka layar ponselnya perlahan.
"Jam 10, di restoran jangan lupa, bantu Dewa."
Begitu pesan yang Dita baca.
"Yess hari ini kencan lagi, duh masa ninggalin Anta lagi sih sama toko, nanti Tasya capek juga lagi sendirian terus jaga tokonya," gumam Dita memandangi Anta dan Tasya.
"Tapi kalau Anta di bawa nanti dia polos banget lagi kalau lihat penampakan," Dita membelai rambut Anta.
"Emangnya mau kemana?" tanya Pak Herdi mengejutkan Dita karena suaranya terdengar tiba-tiba di samping wajah Dita.
"Bangun bangun makan nasi sama ayam...!!!" pekik Dita.
"Berantakan dong Ta kalau makan sama ayam si cekerin nasinya hahahahaha," ucap Pak Herdi tertawa geli sendiri.
krik krik krik
"Sumpah gak lucu pak," sahut Dita menggeleng-gelengkan kepalanya.
****
Bersambung ya, hayo abis baca jangan lupa bayar pakai VOTE ya...
To be continued...
Jangan lupa main ya ke cerita terbaru ku
“WITH GHOST”
ramaikan disana.
Baca juga :
- Kakakku Cinta Pertamaku (Season 2)
- 9 Lives (END)
__ADS_1
- Gue Bukan Player
Vie Love You All 😘😘😘