
Sebelum membaca klik like yak...
let's vote for me boleh yak...
apalagi koin seikhlasnya juga boleh...
Rate bintang lima jangan lupa...
thank u so much... love u all... 😘😍
****
"Jadi bagaimana ratu apa ratu bisa membantu saya?" pinta Dita penuh harapan.
"Tentu bisa dia kan hanya abdi bagiku, pulanglah besok kawanmu itu sudah ada di hotel tempat kau menginap." ucap sang Ratu.
"Terima kasih Ratu Kencana Ungu yang baik hati ramah dan tidak sombong, pokoknya hebat banget deh, top pokoknya." puji Dita pada sang Ratu.
"Maaf boleh saya bicara hanya berdua dengan istri mu ?" pinta sang ratu pada Anan.
"Ya udah sana Anan duluan ke mobil." ucap Dita menyuruh Anan kembali ke mobil.
"Yakin kamu gak akan kenapa-kenapa?" tanya Anan masih ragu meninggalkan Dita.
"Iya yakin, dah sana duluan kasian Doni sendirian." sahut Dita mendorong Anan pelan.
Meski ragu dan masih saja menoleh ke belakang Anan akhirnya pergi ke mobil.
"Eh maaf nih mau tanya, pak kuncen di bawa kemana sih tadi?" tanya Dita ingin tahu
"Pria licik itu? sebenernya dia tak pantas menjaga gua ini berbeda dengan ayahnya yang baik dan tulus, dia itu sangat ingin menemui ku agar bisa memiliki ku dan meminta apa saja, dia itu mata duitan." ucap nya sambil tertawa.
"Jadi dia mau dibawa kemana tadi?" tanya Dita.
"Bersenang-senang dengan sang ular." sahut ratu sambil tertawa.
"Sama ular? hiyyy amit-amit deh." Dita bergidik ngeri.
"Memang dia pantas bersama ular." sahut sang ratu.
"Oh iya ratu mau bilang apa tadi?" tanya Dita.
"Jika aku membebaskan kawan mu apa kau akan melakukan perintah ku dan menuruti permintaan ku?" tanya Ratu Kencana Ungu pada Dita.
"Iya ratu jika saya bisa saya akan menuruti perintah mu." sahut Dita
"Meski nyawa taruhannya?" tanya sang ratu yang membuat dahi Dita mengernyit.
"Apa aku harus mengorbankan nyawa orang lain? apa kau meminta tumbal nyawa padaku?" tanya Dita.
"Hahaha tak perlu orang lain, aku membutuhkan nyawamu, apa kau bersedia?" tanya sang ratu.
Dita terdiam dan tak mengerti mau mengucapkan apa, yang dia tahu saat itu dia hanya memikirkan nyawa Tasya. Mungkin ini jalan terbaik untuk menyelamatkan Tasya. Dita hanya mengangguk kan kepalanya tanpa berucap apapun.
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu, silahkan kau pulang dan istirahat lah, nanti kawanmu akan segera kembali." sahut sang ratu.
"Baiklah ratu, saya akan pulang, terima kasih sebelumnya." ucap Dita dengan lirih tak semangat seperti tadi bertemu sang ratu.
Dita pamit dan melangkah pergi menuju mobilnya. Anan sudah berdiri di depan pintu mobil menunggu Dita.
"Kamu gak apa-apa kan bunda?" tanya Anan menyambut Dita dengan langsung memeluknya.
"Aku gak apa-apa, yuk balik ke hotel." ajak Dita.
"Terus mana Tasya, gimana keadaannya kak?" tanya Doni sangat cemas.
"Tasya akan kembali besok pagi di hotel, kota hanya harus menunggunya." sahut Dita.
"Udah cuma begitu Ta? tanpa syarat apapun?" tanya Anan.
"Iya, sang ratu kan sayang sama aku jadi dia akan membantu kita tanpa syarat apapun." sahut Dita.
"Yang bener? terus kenapa kamu murung gitu?" tanya Anan yang memperhatikan Dita dengan seksama.
"Aku gak murung kok, mungkin cuma letih capek banget kan kita belum tidur." sahut Dita mencoba berbohong lalu tiba-tiba ia tak sadarkan diri di pelukan Anan yang langsung menangkapnya.
"Don gimana ini?" tanya Anan panik.
"Bawa masuk pak bos, kecapean kali kak Dita
" sahut Doni membuka pintu mobil belakang.
"Kak Dita lebih penting pak bos, kita bawa ke klinik dua puluh empat jam aja buat periksa." ucap Doni.
"Oke kalau gitu, ayo Don buruan." Anan memangku Dita di kursi belakang mobil.
Doni melajukan mobilnya mencari klinik terdekat di pagi buta itu
***
"Itu Rumah sakit Don, kesitu aja." perintah Anan.
"Gak jadi ke klinik nih pak bos?" tanya Doni.
"Eh dongdong kalau udah ada rumah sakit kenapa harus cari klinik, ya lebih lengkap rumah sakit dong." ucap Anan kesal pada Doni.
"Oh iya iya, maaf deh bos, oke kita masuk ya ." Doni melajukan mobilnya masuk ke dalam rumah sakit dan menurunkan Dita serta Anan di depan pintu bertuliskan IGD.
"Aku parkir mobil dulu ya pak." ucap Doni yang diberi jawaban anggukan oleh Anan.
"Sus tolong ini istri saya pingsan." ucap Anan membaringkan Dita di salah satu kasur rumah sakit di ruang pasien gawat darurat itu.
"Baik pak, sebentar ya pak saya panggilkan dokter jaga." ucap suster tersebut.
Anan terus saja memegang tangan Dita dan membelai rambutnya.
"Sayang kamu kenapa kaya gini sih, please jangan buat aku panik." gumam Anan lalu mencium tangan Dita.
__ADS_1
***
Di lobby hotel Tante Dewi tersadar dari tidur lelapnya. Kepala Tante Dewi sudah berada di atas pangkuan om Kevin.
"Ini dimana ya?" gumam Tante Dewi sembari merenggangkan otot-otot nya.
"HAH kita masih di lobby!" pekik Tante Dewi segera tersadar dan terbangun melihat arloji ditangan kirinya.
"Astaga jam tiga, dan kita masih tidur disini, bangun mas bangun." Tante Dewi menepuk paha om Kevin membangunkannya.
"Lima menit lagi, masih ngantuk nih." sahut om Kevin.
"Heh lima menit dari mana sih, bangun cepetan kita masih di lobby nih." ucap Tante Dewi makin menepuk paha om Kevin dengan kencang.
"Aduh...panas Dew, perih nih." sahutnya sambil menguap lebar.
"Ih bau banget, lagian bukannya cepetan bangun, sadar dong." ucap Tante Dewi.
"Lah Doni mana Dewi?" tanya om Kevin.
"Nah itu dia saya baru mau tanya, coba kamu telpon Doni gih." ucap Tante Dewi.
"Oke, oke." om Kevin segera mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Doni.
"Kamu dimana Don?" tanya om Kevin saat Doni mengangkat sambungan teleponnya.
"Saya di Rumah Sakit Melati pak bos." sahut Doni.
"Kamu ngapain di rumah sakit?" tanya om Kevin.
"APA? RUMAH SAKIT? sini hape nya." Tante Dewi langsung meraih ponsel di tangan om Kevin.
"Siapa yang sakit Don?" tanya Tante Dewi mulai cemas.
"Kak Dita Bu yang sakit tadi pingsan." sahut Doni.
"Apa? kok bisa?" tanya Tante Dewi
"Ceritanya panjang Bu..."
****
To be continued...
alias bersambung ya...
mohon maaf kalau ada typo
Selamat berpuasa buat yang menjalankan puasanya yak semoga selalu diberi kemudahan dan kelancaran aamiin.
Jangan lupa main ke 9 lives ya ramaikan disana.
Vie Love you
__ADS_1