Pocong Tampan

Pocong Tampan
Hampir...


__ADS_3

"Ta Ta bangun Ta, kesiangan kita, keburu ngomel ntar nenek lampir." Anita mengguncang tubuh Dita karena waktu sudah menunjukkan pukul tujuh pagi.


"Hah jam berapa ini Nit?"


"Jam tujuh buruan ayok." Anita sedang memoles wajahnya di cermin.


Dita buru-buru kearah kamar mandi, namun ia melirik jendela rumahnya dilihatnya kondisi luar yang sudah mulai ramai kedatangan panitia penyelenggara dari balik tirai.


"Cepet Ta, mandi...!!"


"Iya iya aku mandi nih."


Setelah selesai mandi Dita melirik kearah Tania.


"Hai nyonya cantik, jangan keluar ya rame kamu bakalan gak suka ntar." ucap Dita.


"Hmmm haruskah aku membawa salah satu dari mereka kemari?" Tersungging smirk dari wajahnya.


"Jangan ya cantik, penuh ntar mau tidur dimana nanti kalo kamu bawa korban kemari."


Tania bersenandung dan menghilang tak perduli apa yang Dita katakan.


"Hiiisss kalo sampe kejadian awas aja, belum pernah aku kirim ke dukun tuh hantu terus dimasukin dalam botol terus di buang ke sungai yang jauh hahhahaha seru juga tuh."


"Ta kamu ngapain ngomong sendiri kaya gitu?" tegur Anita.


"Hehehe enggak cuma ngedumel aja kira-kira acara nanti bakal gimana yak hmmm." Dita pura-pura berpikir sambil mengganti kaos seragam panitia acara seperti yang dipakai Anita.


***


"Seru juga ya acaranya." ucap Doni menyantap nasi box jatah makan siangnya.


"Iya rame juga, mana ada doorprize sepeda motor lagi, keren banget dah ni pabrik." sahut Anita.


"Ta Lo ngapain sih dari tadi mata elo keliling mulu nyari siapa sih?" tanya Doni heran.


"Ah enggak kok cuma ngawasin aja."


"Tenang aja aman acaranya banyak yang jagain kolam noh." sahut Doni.


Kamu gak tau aja Don, aku lagi ngawasin Tania takut nya dia beneran cari temen lagi, terus dapet korban baru lagi aja ntar jadi tumbal buat nemenin dia huh.


"Nanti habis makan semua kembali ke section jaga yak!" Bu Devi hadir mengagetkan Doni, Dita dan Anita.


"Siap bu." jawab Dita.


Bu Devi lalu berlalu pergi.


"Yuk ah balik ke section ngeri aku sama nenek lampir itu." ajak Anita .


"Hayo ah, kaki gue udah goyang aja nih denger dangdutan." sahut Doni.


"Tahan Don, tahan diliatin noh sama Bu Devi."


Doni berusaha untuk berdiri tegak dengan tangan bersedekap didada mengamati sekeliling namun kakinya tak bisa ia diamkan karena mengikuti alunan gendang yang ditabuh.


"Dah goyang aja mang..." Dita menggoda Doni.


"Aduh naik juga nih gue ke panggung." sahut Doni.


"Alah paling kamu sanggup nyawer dua ribuan aja tuh hahaha." Anita menepuk bahu Doni.


"Neng Dita dipanggil Pak Herdi." Kang Ujang menghampiri Dita.


"Oh iya kang." Dita lalu bergegas menuju ruangan Pak Herdi.

__ADS_1


"Permisi pak... ada perlu apa ya pak?" tanya Dita pada pak Herdi yang sedang mengintip suasana luar dari balik jendelanya.


"Bikinin saya kopi Ta." pak Herdi berbalik menoleh Dita.


"Astagfirullah... mata bapak kenapa? kaya panda gitu item semua." Dita berusaha menahan tawanya.


"Semalem gak bisa tidur Ta, ya kaya gini deh."


"Lagian bapak sok sokan nginep udah tau gak betah hihihi."


"Yeee kamu ngeledek aja sih, bikinin kopi dong, kan kopi buatan kamu enak tuh."


"Bapak tuh butuh tidur bukan ngopi, bikin susu hangat aja ya pak, terus bapak tidur deh di sofa."


"Susu apa Ta?"


"Susu kental manis lah pak ish ada-ada aja nanyanya, bentar pak aku otw."


Tak berapa lama Dita sudah kembali dengan segelas susu hangat untuk pak Herdi ditangannya.


"Minum pak, terus bapak tidur di sini." Dita menepuk sofa yang ia duduki.


"Nanti kalo bos pabriknya cari saya gimana?"


"Alah tenang aja pak, kan ada Bu Devi."


Pak Herdi berpindah posisi ke sofa samping Dita.


"Susunya enak kan?"


"Enak lah manis kaya kamu."


"Jiah jiah jiah dia gombalin aku hahaha."


"Emang kamu manis sih." Pak Herdi menggoda Dita.


"Yah... jangan dong Ta, tidurin saya dulu."


"Astagfirullah... nyebut pak nyebut." Dita menutup bagian dadanya dengan kedua tangannya.


"Aduh salah ucap lagi kan saya, maksudnya temenin saya tidur."


"Hiyaaa itu apalagi pak, udah ah aku pergi ya, met bobo pak."


Pak Herdi menarik tangan Dita membuat Dita terjatuh di pangkuan pak Herdi.


Mereka saling bertatapan dengan keheningan seketika di ruangan itu, padahal diluar sana alunan musik dangdut terdengar keras sekali.


Pak Herdi sudah menggapai tengkuk Dita membawanya mendekat ke wajahnya. Deru nafas mereka sudah beradu seiring detak jantung mereka yang bersahutan berdegup kencang.


Hidung mereka sudah bersentuhan dan pak Herdi sudah siap membawa bibir Dita ke arah bibirnya dan ...


BRAK....!!!!


Lemari kabinet Pak Herdi terjatuh begitu saja dan dokumen nya berantakan di lantai.


Dita tersadar lalu berdiri menghindari pak Herdi mencoba merapikan dokumen yang berceceran itu.


"Kok jatuh ya Ta?" tanya Pak Herdi heran.


"Lah aku juga gak tau Pak?"


"Aku panggil kang Ujang ya pak, berat kuga kabinetnya."


Pak Herdi mengangguk sambil merapikan dokumen-dokumen itu.

__ADS_1


Dita membawa kang Ujang dan Doni untuk menolong pak Herdi merapikan ruangannya.


***


Acara hari pertama family gathering telah usai namun para panitia masih sibuk untuk mempersiapkan acara keesokan harinya.


"Tadi hampir aja loh ada anak cowo yang tenggelam." ucap Anita


"Terus gimana Nit kondisi anaknya sekarang?"


"Gak papa sih tadi langsung di tolongin sama Aden, anak baru temennya Doni, lagian kamu pada kemana sih sama Kang Ujang dan Doni?"


"Oh diruangan Pak Herdi tadi kabinetnya jatuh gitu berantakan."


"Kok bisa?"


"Aku juga gak ngerti, aku kedalam rumah dulu ya mau kekamar mandi."


"Oke aku mau ke depan beli nasgor, nitip gak?"


"Boleh sekalian yak, dua bungkus Nit."


"Eh buseh laper apa doyan loh ckckkckc."


Dita menuju kamar mandi mencari Tania.


"Heh nyonya kamu yak yang mau nenggelamin anak tadi?"


"Hahaha kenapa harus aku kan aku sudah punya banyak teman disini, lagi pula aku maunya kamu yang temani aku, mati...!!! hihihihihihihihi."


Dita langsung beralih mencari Jessie.


"Apa kamu Jess yang ngelakuinnya?"


Dita menggoncang bahu Jessie.


"Jessie kan ujian aku temenin tadi Ta, tapi murni aku gak kasih contekan lho."


"Ngelakuin apa sih kak?" tanya Jessie.


"Kamu kan tenggelam disini aku takut kamu mau cari pengganti dengan nenggelamin anak lain tadi."


"Enggak kok, Jessie aja masih belum kelar, hasil ujiannya dua hari lagi baru keluar."


"Terus siapa dong yak?" ucap Dita berpikir sambil mondar mandir.


"Emang anak itu aja kali Ta yang ceroboh." sahut Andri.


"Makanya jangan asik pacaran aja." Anan berdiri disudut pintu.


"Oh oh itu kamu toh yang jatohin kabinet pak Herdi yak..??" Dita mencengkeram kedua tangan Anan.


"Iya terus kenapa? makanya kalo lagi pacaran jangan mikirin aku, kan aku jadi dateng ngerasa kepanggil sama kamu, untung aku dateng telat waktu coba kalo telat kamu udah..."


"Heh sembarangan kalo ngomong yak!!"


"Eh lontong kisut, Emang Dita ngapain sama bosnya ?"


"Eh jangan kepo yak." Dita membekap mulut Anan agar tak bisa bersuara menceritakan hal yang terjadi tadi.


Seketika pertemuan itu buyar karena kedatangan Anita membawa nasi goreng ke dalam rumah Dita. Anita memutuskan masih menginap malam itu disana.


***


To be continued

__ADS_1


Happy Reading 😘😘😘


__ADS_2