Pocong Tampan

Pocong Tampan
Musim Kedua - Gunung Hijau (Part 1)


__ADS_3

Dear pembaca tercinta yang selalu setia menunggu Pocong Tampan up. Vie mohon dong, mohon banget, jangan bosen buat VOTE ya... pokoknya vote vote vote...


Di like juga tiap babnya, terus komen, terus kasih vote deh.


Mampir ke 9 Lives ya sama Diculik Cinta.


Butuh dukungan viewer, like, dan komen di sana. Bintang lima juga jangan lupa hehehe...


Happy Reading...


******


"Astagfirullah... ka-kamu mau apa?" tanya Tasya yang terkejut melihat penampakan hantu anak kecil tersebut.


Perut anak itu berongga, semua organ ususnya tak ada lagi terlihat. Tasya hanya melihat tulang punggung dan rusuk yang tampak di sana. Mata hantu anak kecil itu berwarna merah. Ia menunjuk ke arah pintu kamar lalu berteriak, "PERGI...!"


Sontak saja Tasya langsung ketakutan dan membalikkan tubuhnya berniat keluar dari kamar Nenek Eleanor. Akan tetapi sang Nenek langsung memukul wajah Tasya. Gadis itu jatuh ke lantai tak sadarkan diri.


Anta yang sedang mengejar hantu anak perempuan kecil tadi tiba-tiba menghentikan langkahnya.


"Pak Herdi, perasaan Anta gak enak, kita cari Tante Tasya, yuk!" ajak Anta.


Pak Herdi lalu mengikuti Anta menuju ke dalam rumah nenek tadi. Saat Anta masuk ke dalam rumah tersebut, tiba-tiba nenek itu mendekap Anta dan memasukkan Anta ke dalam kamar berukuran kecil.


Di dalam sana, Anta bertemu dengan para hantu anak kecil korban keganasan nenek dan kakek tua yang tinggal di dalam rumah dekat hutan itu. Mereka sangat menyukai daging manusia yang masih anak-anak. Sifat kanibalisme yang mereka punya sering memakan korban anak-anak yang sedang berwisata di bumi perkemahan Gunung Hijau tersebut.


Di saat sang Nenek sedang merebus air dalam kuali besar tadi, Pak Herdi lalu berusaha menyadarkan Tasya. Tangan gadis itu terikat dengan mulut sudah di bekap. Tasya yang sadar langsung menatap Pak Herdi dan berusaha membuka ikatan tangannya.


Pak Herdi memberi perintah pada Tasya agar diam dulu. Lalu ia bebaskan Tasya perlahan-lahan. Tasya menceritakan yang terjadi pada Pak Herdi akibat kekejaman si nenek dan kakek kanibal itu terhadap anak-anak. Betapa geramnya sosok Pak Herdi yang langsung melompat menuju dapur dan mendorong nenek itu jatuh ke kuali besar. Air mendidih itu menyiram tubuh sang nenek yang langsung melepuh.


Nenek itu berteriak sekuat tenaga. Namun, tak ada yang datang menolongnya. Kini, sang nenek dapat melihat penampakan para hantu anak kecil yang pernah ia santap tempo dulu.


Tasya mendobrak pintu tempat Anta di sekap berkali-kali, namun tak juga terbuka. Sampai akhirnya Pak Herdi menyuruh Tasya untuk pergi mencari bantuan. Pak Herdi akan menjaga Anta sementara berada di sana.


Nenek kanibal yang kulitnya melepuh akibat terkena siraman air mendidih itu lalu tertimpa kuali besar yang tak sengaja ditendang oleh nenek itu sendiri. Perlahan tapi pasti nenek itu mati. Pak Herdi menembus pintu kamar tempat Anta di sekap. Betapa terkejutnya ia saat mendapati Anta malah asik bermain dengan dua hantu perempuan di kamar itu.


"Saya pikir kamu udah nangis ketakutan, taunya malah asik main," ucap Pak Herdi yang di jawab dengan tawa meringis dari Anta.


Selang lima belas menit kemudian, Tasya datang bersama Logan dan dua petugas keamanan setempat untuk menolong Anta.


Logan dan para petugas langsung di kejutkan dengan mayat Nenek Kanibal yang sudah terbaring menelungkup tak bernyawa itu.


"Tolong dobrak pintu kamar ini, Anta ada di sini," ucap Tasya.

__ADS_1


Akhirnya setelah pintu itu didobrak Anta bisa keluar dengan selamat.


"Kamu enggak apa-apa kan, sayang?" tanya Tasya.


"Enggak apa-apa, Anta kan sama mereka di dalam," tunjuk Anta dengan polosnya ke arah dalam kamar. Logan yang mendengar hal tersebut jadi menoleh ke arah dalam kamar dan tak menemukan apa-apa.


Tasya menceritakan kejadian yang dialaminya kepada petugas, dan dugaan keterlibatan si nenek itu yang membuat para anak-anak hilang.


Logan segera bekerja sama dengan para guru dan petugas keamanan setempat untuk menghubungi polisi di wilayah Gunung Hijau dan mengumpulkan para peserta perkemahan dari sekolah Anta agar kembali segera ke villa tempat mereka.


Karena hari sudah gelap, maka panitia memutuskan untuk menghabiskan malam di villa dan tak ada kegiatan keluar dari area villa di malam hari.


"Nanti setelah makan malam, semua peserta menggambar pemandangan alam yang tadi di lihat ya, nanti para orang tua mendampingi," ucap Miss Lucy.


"Baik, Bu!" kompak semuanya menyahut.


Logan berkoordinasi dengan para guru kompak menyembunyikan kejadian nenek kanibal tadi. Upaya itu dilakukan agar para peserta tidak merasa terancam dan ketakutan. Tasya juga sudah mewanti-wanti Tasya agar tak mengatakan apapun pada kawan-kawannya.


"Terima kasih ya, Pak." Tasya memandangi sosok pocong di sampingnya itu.


"Untuk apa?" tanya Pak Herdi.


"Untuk selalu menjaga aku, Anta dan keluarga Dita." Tasya menggenggam tangan Pak Herdi.


Di bawah sinar bulan purnama itu Tasya dan Pak Herdi saling berpandangan. Sementara Anta sibuk dengan menggambar pemandangan yang ia bisa.


Seseorang memandangi Tasya dan Anta dari luar perkemahan. Sosok Kakek, suami dari nenek kanibal, tadi sedang memperhatikan mereka dari kejauhan.


***


Di rumah sakit Happy.


Sebelum Doni dan Mitha pamit, pria itu masih berusaha meyakinkan Dita kalau dia tak pernah menyentuh Mitha. Melihat gelagat Doni yang Dita paham sebelumnya, ia percaya. Hanya saja Dita ingin Doni mencari tahu bagaimana Mitha bisa hamil, tanpa sepengetahuan Mitha. Dita ingin Doni berpura-pura menyayangi istrinya yang sedang hamil itu.


Meskipun Doni merasa jijik dan membenci Mitha, namun ia harus tetap menuruti perintah Dita. Ia harus membuktikan kalau apa yang ia ucapkan benar.


"Sayang, aku mau makan bubur kacang hijau, kamu bisa buatin gak, buat aku, eh bukan buat dedek bayi dia kepingin, nih. Kamu mau ya buatin, please...?" ucap Mitha seraya mengusap perutnya.


Doni yang sedang fokus menyetir lalu mengangguk tanpa menoleh.


Tumben langsung mau, biasanya protes terus, apa karena aku hamil anaknya, ya?


Mitha memandangi wajah tampan Doni. Tak berapa lama kemudian, Doni menghentikan laju mobilnya di sebuah pertokoan.

__ADS_1


"Kita mau apa berhenti di sini?" tanya Mitha.


"Kamu mau bubur kacang hijau, kan?"


Mitha mengangguk menjawab pertanyaan Doni.


"Ya udah, tunggu sini, aku mau beli kacang hijaunya dulu," ucap Doni lalu keluar dari mobil menuju ke dalam toko tersebut.


"Kok, Doni baik banget ya, hmmm semoga karena kehadiran bayi ini dia jadi sayang sama aku," gumam Mitha.


Sementara itu di bagian dalam toko tersebut, Doni melihat bagian-bagian rak yang menjual pernak-pernik benda yang unik. Pandangannya terpaku pada tali merah dengan liontin yang koin tempo dulu.


"Apa ini dijual?" tanya Doni.


"Iya, itu dijual, kalung itu bagus untukmu, dia bisa melindunginya dari gangguan makhluk gaib," ucap Nyonya pemilik toko itu.


"Kau percaya makhluk gaib, Nak?" tanyanya.


Doni mengangguk, lalu berucap, "Seperti perempuan yang berdiri di dekat tangga itu, kan?" tunjuk Doni dengan lirikan matanya.


Hantu perempuan yang rambutnya menutupi wajah dengan gaun putih selutut itu sedang berdiri menunduk di samping tangga. Tangan dan kakinya penuh luka borok yang berongga.


"Oh, sudah ku duga kau bisa melihatnya," ucap Nyonya itu seraya tersenyum.


"Aku beli ini," ucap Doni.


*******


Bersambung...


Mampir juga ke :


- 9 Lives (Jilid II - On Going)


- Diculik Cinta (On Going)


- With Ghost (END)


- Gue Bukan Player (END)


- Kakakku Cinta Pertamaku (END - Musim Kedua hiatus 😁)


Vie Love You All... 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2