
Sebelum membaca klik like yak...
let's vote for me boleh yak...
apalagi koin seikhlasnya juga boleh banget...
Rate bintang lima jangan lupa...
thank u so much... love u all... 😘😍😊
***
"Ini kenapa nak Dita, kok nak Dewi pingsan sih?" tanya ibu Desi yang panik melihat Tante Dewi dan mendengar tangisan Andara namun setelah sampai di kamar bayi tersebut Andara sudah terdiam di atas kasurnya.
"Emm... anu ibu, emmmm." Dita memandang hantu Sandra yang menyuruh Dita untuk merahasiakan penampakannya.
"Mungkin Tante Dewi capek Bu." Dita menghampiri Tante Dewi dan berusaha membopongnya namun tak kuat.
"Bentar ya Tante aku panggil Anan dulu." Dita langsung menuju ruang tamu dan menarik Anan segera diikuti oleh Andri dan Anita yang bingung melihat Dita.
"Bantuin aku angkat Tante, berat nih." ucap Dita.
Anan segera menolong Dita mengangkat Tante Dewi menuju sofa.
Andri terkejut melihat Sandra lalu mereka saling berpelukan melepas rindu karena akhirnya Sandra benar-benar bisa melihat dan menyentuh Andri.
"Mbak Sandra kok disini? gak mungkin kan mau bawa dedek bayinya?" tanya Anita agak takut.
"Enggak kok, saya cuma mau nengok Andara sebentar terus jemput Andri." sahutnya.
"Jemput Andri?"
"Oh iya, tugas gue udah selesai Nit, anak gue udah lahir selamat, jadi gue harus pergi."
Ada kesedihan merangkak di hati Anita, tat kala melihat Andri dan Sandra yang saling tersenyum menyentuh tubuh putri mungilnya yang sudah kenyang menyusu pada dot bayi rasa susu vanila buatan sang nenek.
"Suatu hari nanti Andara pasti kangen sama orang tua nya, kasian sedari lahir Andara sudah yatim piatu." gumam Anita.
*Di ruang tamu rumah Andri.*
Dita menepuk pipi Tante Dewi sambil mengoleskan minyak angin pada hidung Tante Dewi sampai akhirnya dia tersadar.
"Tante minum dulu nih." Dita menyodorkan teh manis hangat untuk Tante Dewi.
"Makasih Ta."
"Kenapa Tante pingsan Ta?" tanya Anan.
"Karena aku Nan." sahut Sandra yang datang dengan Andri.
"Hmmmm pantesan aja." sahut Anan menoleh ke Sandra.
"Ta, bisakah kami muncul di depan mereka?" tanya Sandra pada Dita.
"Kalau Andri sih bisa seperti waktu itu, tapi kalau kamu kak aku bingung, tapi kucoba dulu yak." sahut Dita.
"Dita kamu bicara sama siapa?" tanya ibunya Andri penuh keheranan.
__ADS_1
"Hmmm gini Bu, di hadapan saya sudah ada Andri dan Sandra mereka mau berkomunikasi dengan ibu." ucap Dita pelan.
"Apa?" ibu Desi terkejut dengan tubuh yang hampir lunglai terasa lemas mendengarnya, lalu dia menguatkan diri untuk mengambil keputusan.
"Mbak suster tolong bawa bapak kebelakang yak tolong suapi dia dulu di taman belakang." perintah Ibu Desi agar suaminya tidak bertambah sedih dan syok melihat penampakan Sandra dan Andri nanti.
"Lebih baik bapak enggak usah tau." ucap Ibu Desi saat suaminya sudah di bawa kebelakang.
"Kamu kuat Ta?" tanya Anan menahan lengan Dita.
"Hmmmm aku coba deh, tapi aku makan dulu boleh gak, biar gak laper banget gitu?" tanya Dita polos.
"Yah.... Dita mah kebiasaan bikin gue gemes pengen cium." sahut Andri yang langsung di beri pukulan pelan di kepala oleh Sandra.
"Mulai deh ganjen nya." sahut Sandra.
"Nak Dita lapar? Ibu masak ayam sama tempe tahu bacem, mau?" tanya Ibu Desi.
"Mau banget Bu, ada sambel nya gak Bu?" tanya Dita polos.
"Ada, yuk." ajak ibu Desi.
"Dih Dita celamitan banget sih." sahut Tante Dewi.
"Emang lapar sih Tante, Dita mah gak munafik kok hihihi."
Anan menepuk jidatnya. "Untung cinta." gumam Anan.
"Gimana kalau kita pada makan dulu aja, Andri dan Sandra bisa nunggu kan?" ibu Desi menawarkan dengan sopan.
"Kayaknya ibu udah gak takut nih sama penampakan kita San?" tanya Andri ke Sandra.
"Tapi bukan cuma kita ber empat Bu yang mau makan, aku minta siapin tiga piring lagi." ucap Dita.
"Tiga piring? buat siapa?"
"Andri sama Sandra sama temen aku juga Anita."
"Cakep." Anita mengulurkan ibu jarinya ke Dita.
"Mereka ikut makan?" tanya ibu Desi heran.
"Ya gitu Bu, hantu zaman now hehehe."
"Anita itu siapa?" ucap ibu Desi sambil mempersilahkan Dita, Anan, dan Tante Dewi duduk di ruang makan.
"Sahabat saya Bu, dia selalu jagain saya."
"Aaahhh Dita, sayang banget aku sama kamu." Anita memeluk Dita dari belakang.
"Oh gitu baiklah." ibu Desi menyiapkan tiga piring kosong di atas meja.
"Ta, kayanya Tante gak siap deh liat sendok atau piring melayang atau gerak sendiri, takutnya Bu Desi juga gitu." ucap Tante Dewi agak takut.
"Kita makannya di ruang tamu aja Ta, tolong ambilkan yak." ucap Sandra mengerti akan ketakutan Tante Dewi.
"Iya bener Ta. Oh ya lontong kisut tolong ambilin gue rada banyakan ya Tong, ini terakhir kalinya gue nyicipin masakan nyokap gue soalnya." sahut Andri ke Anan.
__ADS_1
"Iye tempe angus, tenang aja gue ambilin buat elo yang banyak, gue juga tau diri lagi dirumah elo." sahut Anan menyendok nasi dan lauk untuk Andri.
"Nak Anan bisa lihat juga kaya Dita?" tanya Bu Desi mendengar Anan seperti berbicara dengan Andri.
"Bisa Bu, kalau saya gak bisa lihat kasian Dita digangguin tempe angus terus."
"Siapa tempe angus?"
"Andri Bu, angusnya gak main-main kaya tempe bacem ini ada gosong-gosongnya gini Bu." ucap Anan tertawa sambil menusuk tempe bacem yang agak gosong dengan garpunya untuk Andri.
Ibu Desi bukannya tertawa malah merasa agak ngeri membayangkan sosok anaknya yang hangus.
"Kelakuan elo lontong kisut, nakutin nyokap gue aja, yang ikhlas kalau mau nolong gue." Andri menoyor kepala Anan.
"Ini udah gue ambilin yak, jangan sampe gue lempar ke muka elo ini nasi." ancam Anan hendak melempar piring ditangannya.
"Heh di depan orang tua masih aja ribut sih, kalau mau bantuin tuh yang bener Nan, taro di meja ruang tamu sekalian kaya aku tuh buat kak Sandra sama Anita.
"Tuh lontong kisut, dengerin apa kata bidadari gue." sahut Andri.
"Andri ngomong apa barusan?" Sandra menjewer telinga kiri Andri.
"Aduh aduh maaf, maksudnya bidadari Anan gitu." sahut Andri menoleh ke Sandra.
"Sukurin jewer aja San, tarik sampai putus tus kuping." sahut Anan melihat Sandra menarik telinga Andri menuju ruang tamu.
"Nan, kamu ngomong apa sih?" tanya Tante Dewi yang melihatnya heran sama seperti tatapan ibu Desi pada Anan.
"Noh tempe angus lagi di jewer sama Sandra bisa-bisanya dia gangguin Dita."
"Anan ngomongnya kecilin gak enak sama ibu Desi tau." Dita menimpuk Anan dengan beberapa nasi.
"Fiuh... Dita mah emang aku ayam apa di sebarin nasi di muka bukannya di suapin."
"Lagian ribut mulu sama Andri." bisik Dita gemas. "Udah sana kasih nasinya Andri!"
"Dih kok aku, biar aja dia ambil sendiri."
"Anan...!" Dita menatap tajam ke Anan.
"Oke, oke aku anterin ke mejanya."
"Sekalian minumnya Nan."
"Iyaaaaa." Anan lalu berdiri mengantarkan nasi dan sebotol air putih berukuran satu liter ke meja ruang tamu untuk Andri.
"Nak Dewi udah biasa ya liat nak Dita sama nak Anan kaya gini, ngomong sendiri gak jelas?" bisik ibu Desi.
"Udah biasa Bu, biarin aja emang mereka gitu sama alam lainnya, tapi kalau depan umum saya wanti - wanti sih takut dibilang gila hehehe." sahut Tante Dewi menahan tawanya.
"Aku denger Tante." ucap Dita yang duduk di sebrang kursi Tante Dewi.
"Eh Dita, berarti kupingnya masih bagus kalau denger hehee."
****
To be continue...
__ADS_1
Happy Reading... 😘😘😘