Pocong Tampan

Pocong Tampan
Musim Kedua - Noey dan Yoona


__ADS_3

Sebelum membaca jangan lupa ya di Like, Vote, and rate bintang lima ya...


Happy Reading 😊😊😊


******


Malam itu, Noey menikahi Yoona di depan kedua orang tua di dampingi Dita dan Anan. Setelah di beri pengertian akhirnya orang tua Noey bisa datang menikahkan Yoona dengan anak mereka. Keluarga Yoona juga sempat tak percaya, tapi demi kebaikan bersama dan anak Yoona nantinya akhirnya mereka menerima pernikahan yang tak lazim itu.


Tasya juga hadir bersama Anta menemani Dita. Banyak makanan yang sudah Dita santap untuk memberikan ekstra tenaga padanya agar bisa menjadi mediasi demi mempertemukan Noey dengan yang ingin melihatnya. Hanya saja cukup orang tua Noey dan orang tua Yoona saja yang Dita bisa pertemukan.


Yoona paham setelah pernikahan ini ia tetap akan berpisah dengan Noey pria yang sangat di cintainya. Tangisan demi tangisan mengiringi pernikahan Noey dan Yoona. Begitu pula dengan Dita yang tak bisa menahan air matanya setiap menjadi media untuk Noey dan keluarganya.


"Anta ini udah mie yang ke berapa yang kamu makan?" tanya Tasya.


Anta menunjukkan tiga jari di tangannya. "Lima tante," ucap Anta.


"Astaga Anta... nih kalau lima kayak gini jarinya," Tasya menunjukkan kembali lima jari di hadapan Anta.


"Kamu gak kenyang apa, perasaan bunda yang kerja keras kamu yang kelaparan," gumam Tasya.


"Anta kan bantuin bunda juga tante..."


"Bantu apa?" tanya Tasya gemas.


"Bantuin doa buat bunda wleeekkk..." Anta menjulurkan lidahnya.


"Ih gemes banget sih," Tasya mencubit kedua pipi Anta.


"Pulang yuk udah malam," ajak Anan yang merangkul bahu Dita yang lelah.


"Terus Noey gimana, apa dia udah pamit?" tanya Tasya.


"Iya, Noey udah pamit, sekarang dia udah tenang di sana," sahut Dita.


"Ayo kita pulang terus istirahat besok gantian yanda sama bunda yang nikah ya Anta," ucap Anan.


"Nikah itu apa yanda?" tanya Anta dengan polosnya.


"Duh repot ah capek jelasinnya yuk ah pulang," sahut Tasya menggendong Anta.


Dita dan Anan hanya tertawa memandangi Tasya yang berdebat dengan Anta sepanjang perjalanan pulang soal apa itu pernikahan.


***


"Oh jadi karena dia kamu ninggalin aku?" Hyena menyapa Anan yang sedari tadi menunggu di depan mini market Dita.


"Sya, bawa Anta masuk!" Anan memberi perintah pada Tasya yang segera membawa Anta masuk ke dalam rumah.


"Mau masuk ke dalam?" Dita mencoba bersikap baik pada Hyena.


"Gak perlu di sini aja, biar semua tau kalau kamu itu cuma datang kesini buat ngerebut calon suami orang!" Hyena meneriaki Dita ditengah beberapa orang yang masih berlalu lalang di hadapan mereka.


"Jaga ucapan kamu ya, kamu gak pernah memiliki aku, jadi Dita gak pernah ngerebut aku dari kamu!" Anan gantian meneriaki Hyena.


"Baby kamu ya, apa sih lebih nya dia dari aku?!" Hyena mendorong Dita jatuh ke aspal membuat gelang di tangannya berbunyi dan memanggil Pak Herdi.


"Kamu gak apa-apa Bun?" Anan menolong Dita.


"Enggak, aku gak apa-apa," sahut Dita.


"Mau saya bantuin Ta? saya takut-takutin nih, apa Saya bantuin jambak?" tanya Pak Herdi yang berdiri di samping Dita.


"Gak usah pak, liatin aja dulu mau marah-marah sampai mana dia hehehehe," bisik Dita.

__ADS_1


"Baby Kamu tuh harusnya belain aku bukan belain dia, kamu tuh masih punya hutang banyak sama aku!" pekik Hyena.


"Aku akan bayar semua hutang aku ke kamu, dan juga ke papi kamu kalau perlu itung aja, aku akan bayar semuanya, jangan mentang-mentang kamu punya uang ya kamu dengan seenaknya mau ngebeli aku!" Anan gantian memarahi Hyena.


Keributan itu akhirnya terdengar sampai seberang. Andri dan ibunya mengintip dari jendela apartemen mereka yang bisa langsung melihat ke arah rumah toko Dita. Andri bergegas keluar menghampiri Anan dan Dita yang di permalukan oleh Hyena.


"Ini kenapa pada ribut di sini sih?" suara Andri hadir melerai keduanya.


"Ndri, jadi kamu ada di sini juga? kamu kenapa ngebiarin Anan deket sama perempuan ini sih?" Hyena menunjuk dada Andri dengan dorongan.


"Memangnya kenapa? mereka berhak deket kok," sahut Andri.


"Andri kamu tuh, perempuan ****** itu udah ngerebut Anan dari aku dan kamu bilang mereka berhak untuk deket?" pekik Hyena.


"Asal kamu tahu Na, perempuan yang kamu bilang ****** itu istri Anan, dia kesini buat mencari Anan yang ternyata hilang ingatan, tapi namanya takdir cinta selalu mempertemukan mereka, dan perasaan cinta mereka juga kuat satu sama lain, biarpun Anan lupa tapi dia selalu jatuh cinta sama istrinya sendiri, harusnya kamu sadar kenapa Anan gak pernah suka sama kamu."


Andri mencoba menjelaskan ke Hyena yang masih saja susah mengerti.


"Tapi Ndri, Anan gak pernah bilang kan ke kita kalau dia udah nikah?"


"Kan tadi aku udah bilang kalau dua tahun lalu pas kita menemukan Anan itu dia sudah lupa ingatan, mana dia inget kalau dia sudah menikah dan punya anak, paham?"


"Aku gak nyangka ya kamu tuh sama aja malah membela si perebut pacar orang itu!"


"Kalau tujuan kamu mau mempermalukan Dita, kamu salah, malah kamu yang malu karena kamu yang di bilang perebut suami orang!" ucap Andri penuh tekanan.


Hyena menoleh ke arah Anan dan Dita dengan perasaan kesal dan marah. Hyena lalu mendorong Andri dengan bahunya agar menepi saat dia melangkah masuk ke dalam mobilnya.


"Aku gak akan biarkan kalian hidup tenang dan bahagia," gumam Hyena memandang Anan dan Dita sekali lagi sebelum masuk ke dalam mobil.


"Mending pada masuk ke dalam buruan Ta!" sahut Pak Herdi memberi perintah.


Mobil Hyena melaju dan tak lama berhenti karena ke empat ban mobilnya semuanya kempes. Bukan hanya kempis ban tapi juga rusak dan hancur. Hyena dan sang supir keluar dari mobil memandangi ban mobil tersebut.


"Masuk Nan, nenek lampir ngamuk!" ucap Andri menarik tangan Anan.


"Kamu yang kerjain ya pak Herdi?" tanya Dita.


"Iya hehehe habisnya gemes banget marah-marah mulu gak jelas, masih untung gak saya bikin kecelakaan," jawab Pak Herdi.


"Jangan dong! nanti kalau dia gentayangan kita juga yang repot tanggung jawab," ucap Dita.


"Iya juga ya," Pak Herdi melompat di samping Dita.


"Dita ngomong sama siapa sih Nan?" tanya Andri.


"Oh... sama penjaganya," sahut Anan.


"Penjaga gimana, orang gak ada siapa-siapa kok?"


"Ya penjaganya, bentuknya kayak bungkusan permen, hantu bungkus," sahut Anan.


"Pocong maksud luh?" tanya Andri.


"Iya..."


Andri mencengkeram tangan Anan ketakutan.


"Badan gede, lebih kekar dari gue tapi denger ada pocong beneran langsung mengkerut ciut nyali lu huuuu...!" Anan meledek Andri.


***


Pukul dua dini hari, Dita dikejutkan oleh hantu Maria yang menjatuhkan cerminnya.

__ADS_1


"Suara apa tuh ya," Dita bergegas menuju kamar Anta dan Tasya yang ternyata masih tertidur pulas.


Cermin hantu Maria jatuh berkeping-keping di lantai.


"Kenapa kamu menjatuhkan diri sih?" gumam Dita.


Hantu Maria muncul di belakang Dita mengejutkannya.


"Astagfirullah dasar setan ngagetin aja nih!" ucap Dita menepuk bahu hantu Maria yang terkejut bisa di sentuh oleh Dita. Selama Maria ada di cermin baru Anta dan Dita manusia yang dapat menyentuhnya atau dia sentuh.


Hantu Maria menunjuk jendela luar, kepulan asap sudah membumbung tinggi ke lantai dua.


Dita langsung membangunkan Tasya.


"Gendong Anta cepetan Sya, kebakaran!" Teriak Dita dengan paniknya lalu membangunkan Anan yang tidur di sofa. Tombol panik yang menandakan kebakaran dan langsung terhubung memanggil pemadam kebakaran terdekat langsung Dita tekan.


Anan bergegas ke lantai bawah namun api sudah berkobar hebat di lantai bawah. Anan menghubungi Andri yang langsung terbangun dengan panik.


"Bawain gue tangga cepetan!" ucap Anan lalu menaruh ponselnya lagi dalam kantung.


"Bawa tas dan barang berharga kamu Ta!" perintah Anan lalu meraih Anta dari Tasya.


"Sya bantu Dita, selamatkan barang berharga yang kalian punya, cepat lakukan!" Anan memerintah Tasya untuk membantu Dita di kamar.


Anan berusaha memecahkan kaca jendela agar bisa terjun ke bawah karena Andri sudah menunggunya dengan tangga darurat. Karena tangga tersebut tidak sampai, akhirnya Andri dan pemilik ruko di sampingnya yang juga panik menunggu Anan melempar Anta ke kasur busa yang sudah di siapkan di bawah.


Saat Anan kesulitan memecahkan kaca jendela, Pak Herdi yang terpanggil oleh Dita datang membantu Anan mendobrak jendela.


"Yanda, Anta takut nih..." ucap Anta ketakutan.


"Kamu tenang ya, Anta di gendong pak Herdi ya, nanti terjun ke kasur itu," ucap Anan yang di jawab anggukan oleh Anta.


"Pak kamu lindungi Anta ya, seolah-olah saya lempar Anta dari sini, tapi kamu peluk dia saat jatuh, saya mohon tolong Anta pak," pinta Anan.


"Saya akan selalu jaga Anta, kamu selamatkan Tasya dan Dita," ucap Pak Herdi lalu memeluk Anta saat terjun ke kasur busa itu. Orang-orang yang tak bisa melihat Pak Herdi langsung menolong Anta dan tak sadar menginjak Pak Herdi.


"Anta sini sama om Andri," Andri menggendong Anta. Yang lain berusaha memadamkan api sementara menunggu mobil pemadam kebakaran datang.


"Bunda, Tasya... buruan ini makin panas nih apinya sampai atas!" Anan berteriak memanggil Dita dan Tasya.


"Kamu duluan Sya!" perintah Dita.


"Enggak kamu aja yang duluan Ta!" sahut Tasya.


"Ini kenapa pada ribut sih, cepetan lompat!"


"Kalian lebih berhak hidup daripada saya, demi Anta, kalian harus bersatu kembali demi Anta, kalian harus bahagia bersama Anta...!" ucap Tasya berteriak di tengah kobaran api tersebut.


"Kamu ngomong apa sih Sya? kita semua berhak hidup, ayo kamu lompat duluan...!" Dita mencoba mendorong Tasya.


******


Bersambung ya, hayo abis baca jangan lupa bayar pakai VOTE ya...


Jangan lupa main ya ke cerita ku lainnya.


- WITH GHOST


-          Kakakku Cinta Pertamaku (Season 2)


-          9 Lives (END)


-          Gue Bukan Player

__ADS_1


Vie Love You All 😘😘😘


__ADS_2