Pocong Tampan

Pocong Tampan
Berada di Club' House lagi


__ADS_3

Sebelum membaca klik like yak...


let's vote for me boleh yak...


apalagi koin seikhlasnya juga boleh banget...


Rate bintang lima jangan lupa...


thank u so much... love u all... 😘😍😊


***


"Wuidih... mau kemana Ta pakai dress hitam sama topeng?" tanya Tante Dewi melihat Dita yang sedang bercermin itu.


"Emmm mau ke pesta ulang tahun temen Tante."


"Jam berapa Ta udah jam delapan malam gini, mau mulai jam berapa tuh pesta?"


"Ummm gak tau Tante, aku mau berangkat ya."


"Sama siapa?"


"Sama Anan, sama Doni, sama Anita."


"Inget ya Ta jangan..."


"Jangan pulang malam-malam, oke ngerti daah Tante." Dita mencium tangan Tante Dewi lalu segera pergi.


"Tapi gak janji Tante bisa aja pulangnya malem banget hihihi maaf ya Tante mudah - mudahan pas aku pulang udah tidur." gumam Dita.


"Wuidih cantik banget kak Dita." Doni terpesona dengan Dita yang menggunakan dress hitam itu.


"Hussst jangan kenceng - kenceng Tante Dewi masih nyimak di dalam." bisik Dita.


"Aduh aduh pak sakit." Anan menjewer telinga kanan Doni sambil membawanya menuju lift.


"Enggak ada yang boleh bilang Dita cantik selain gue." ancam Anan ke Doni.


"Tapi emang kak Dita cantik pak lihat deh, aarrgggg iya iya ampun pak." Anan melepas cengkeraman dari leher Doni.


"Oke deh, kak Dita jelek pak." ucap Doni


"APA?" Anan mencekik Doni kembali.


"Anan udah udah nanti kalau keterusan dia mati lho." Dita melepas tangan Anan dari leher Doni.


"Lagian dia ngatain kamu jelek." sahut Anan.


"Saya serba salah bilang kak Dita cantik di marahin bilang jelek makin marah." ucap Doni.


"Udah diem aja makanya!" bentak Anan.


"Anita mana ya?" Dita mencari sosok Anita.


"Aku disini..." ucap Anita pelan.


Dita menahan tawanya menutup wajahnya di pundak Anan. Sementara Doni sudah terbahak-bahak menertawakan Anita.


"Tuh kan pada ngetawain aku." ucap Anita.


"Kok bisa kegedean gitu Nit, itu dress apa daster?" Anan tertawa menunjuk Anita namun Dita memukulnya.


"Sakit Ta."


"Kasian Anita malah diketawain." ucap Dita.


"Huhuhu kayaknya ketukar deh sama ibu gemuk yang di mall waktu itu, aku jadi ikut."


Anita merajuk.


"Jangan dong Nit, ayo ikut mending dikasih ikat pinggang jadi..."


"Jadi kayak karung beras yang di buntel dong aku huhuhu." Anita menangis kesal.

__ADS_1


"Udah sih gak keliatan ini, yang penting di mata Doni masih cantik ya gak Don?" Anan menyikut lengan Doni lalu menatap Doni dengan tatapan penuh ancaman.


"Iya pak iya, cantik." sahut Doni segera.


"Ah Doni aku jadi malu nih." Anita menggoyangkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri sambil menyentuh dress kebesaran yang ia kenakan.


"Kok gue bayangin nya kayak ondel - ondel pake baju model baru yak hihihi."


Pletak...!


"Anan nanti Anita nangis lagi." Dita menjitak kepala Anan.


"Aduh sakit Ta ni kok jadi sering kdrt sih?" protes Anan.


"Habisnya mulutmu tuh cuap - cuap gak jelas."


"Ya udah yuk jalan." Anita melingkarkan lengannya di lengan Doni.


"Kemana Nit?" tanya Doni.


"Katanya mau ke club' House, ayo jalan sekarang udah setengah sembilan tuh nanti kan antri masuknya." ajak Anita semangat.


"Nah gitu dong, ayo pangeran ku." Dita menoleh ke Anan.


"Duh lemes lutut aku di gombalin kamu Ta."


"Ya udah gak jadi gombal." Dita melepas pegangannya dari lengan Anan.


"Eits tuan putri gitu aja ngambek." Anan buru - buru menyusul Dita dan merangkul bahunya menuju mobilnya di parkiran apartemen.


***


"Hei bro akhirnya datang juga." Shane menyapa Anan sambil merangkulnya.


"Iya dong, gue bawa Dita sama Doni nih."


"Yoi gak apa - apa, makin rame makin seru, yuk ke atas." ajak Shane menaiki tangga dalam club' House yang berlantai tiga itu. Tiba - tiba terlintas di pikiran Anan saat menaiki anak tangga, terlebih mengenai anak tangga menuju lantai tiga. Terlihat bayangan perkelahian yang tak bisa ia ingat wajah siapa saja yang sedang berkelahi itu.


"Tunggu bentar." ucap Anan menyentuh dinding di sampingnya. "Ini cat nya ganti ya?" tanya Anan.


Anan teringat dirinya tersungkur dengan kepala menabrak dinding itu.


"Nan kamu kenapa?" tanya Dita khawatir.


"Enggak Ta, enggak apa - apa." jawab Anan.


"Oke kita lanjut naik ke atas, anak - anak paling ngumpul di sana."


"Anak - anak siapa?" tanya Anan penasaran.


"Temen - temen abang elo, si James sama lainnya." ucap Shane lalu bersiul.


"Hai Shane." seorang gadis muda, cantik nan seksi sudah menyambut Shane lalu mencium pipi Shane dan melingkarkan tangannya di pinggang.


Aroma alkohol dan asap rokok ber adu menjadi satu aroma yang menyesakkan dada saat terhirup.


"Aku gak tahan Nan, aku mau turun." bisik Dita.


"Hei elo cewek yang waktu itu, nama elo Dita kan? apa kabar?" James yang mabuk mencoba memeluk Dita namun Anan sudah menghalanginya.


"Eh saudara kembarnya Anan apa kabar bro, bisa juga elo kesini?" James merangkul Anan kali ini, bau alkohol yang keluar dari mulutnya amat menjijikan terhirup Anan.


"Gue di undang Shane."


"Wah bagus bagus, sorry gue gak tau nomor elo mau nanya abang elo nomor dia udah gue hapus dari kontak gue lagian dia udah mati yak hahaha."


"Lepas James, mulut elo bau, mabok elo ya?" Anan melepas rangkulan James.


"Duduk yuk kita gabung sama Shane, elo tinggal pilih Nan mau cewek yang mana, jangan kaya kembaran elo, dia gak doyan cewek hahaha." ejek James.


"Maksudnya Nan?" bisik Dita.


"Mana aku tahu." Anan membalas bisikan Dita.

__ADS_1


Doni masih berdiri dikerumuni dua orang gadis sexi yang menari meliuk-liuk di sampingnya, Anita yang kesal mendorong gadis satunya sehingga salah paham pada gadis satunya lagi dan saling beradu mulut. Anita menarik Doni pergi menghindar menghampiri Dita dan Anan.


"Minum Nan, minum Ta." James menuangkan bir ke gelas Anan dan Dita.


"Makasih James gue gak minum." sahut Anan.


"Halah jangan sok suci elo macam Abang elo, gaya doang tukang berantem tapi guy, bencong tuh orang hahahhaa." karena mabuk James berkata kacau.


Dita menahan Anan agar tak terpancing emosi. "Apa lagi yang elo tau soal Abang gue James?" tanya Anan.


"Gimana ya, dia tuh preman tapi kalau sudah sampe sini melempem, cuma diem, paling dia ngerokok si pojokan, ya gak Shane?" James menoleh ke James yang asik mencumbu wanitanya.


"Makanya gue ajarin elo jadi laki lebih dari Abang Elo, tinggal elo pilih deh cewek mana yang mau elo basa pulang tuh."


"Gue udah punya pacar kok, calon istri malah nih Dita." ucap Anan bangga menoleh ke Dita.


"Wooooaaahhh baru aja gue mau embat si Dita taunya elo yang punya hahahaha."


Dita menahan tangan Anan yang sudah mengepal kesal sambil menggelengkan kepalanya kepada Anan.


"Hai James." seorang laki-laki besar berperut buncit menyapa James sambil menghisap cerutu.


"Hai bos Anwar apa kabar?" James hampir jatuh tersungkur saat bersalaman dengan laki - laki yang bernama Anwar itu.


"Kok mirip saudaranya Pak Herdi ya Nan?" bisik Dita.


"Iya Ta."


"Ini barang baru ya?" Anwar memperhatikan Dita dengan seksama.


"Bukan bos, pacarnya dia tuh sodara kembar nya Anan." sahut James menunjuk Anan.


"Anan? oh yang waktu itu, mau ngapain dia disini?" Anwar menarik James.


"Shane yang bawa dia kesini bos."


"Nanti kalau dia tahu soal sodaranya gimana?"


"Tenang bos liat aja tampang begonya tuh sama kayak sodara kembarnya dulu hahaha, oh iya silahkan ke ruang biasa bos, nanti gue hubungin si Rika suruh bawa anaknya kemari."


"Oke tapi yang spesial yak yang masih baru kalau bisa, terus ada lawan judinya gak gue?"


"Belum pada datang sih, nanti gue bilangin."


"Yang itu juga boleh, gue kasih elo duit lebih kalau bisa bawa dia ke gue." ucap Anwar menunjuk Dita.


"Ta kita turun aja yuk, aku takut kamu kenapa-kenapa nih." bisik Anan.


"Iya Nan." Dita dan Anan langsung berdiri menarik Doni hendak menuju lantai bawah.


"Mau kemana Nan?" tanya Shane.


"Mau joget gue." sahut Anan memberi alasan.


"Oke bro, have fun yak." Doni menenggak sebotol birnya.


Anan, Dita, Doni serta Anita menuruni tangga itu segera. Irama musik yang kencang sudah menyambut mereka ditambah kerumunan orang-orang bertopeng dengan pakaian serba hitam asik bergoyang mengikutinya hentakan musik.


"Ta ada yang ngeliatin kita." ucap Anita


"Mana? kok kamu tahu kan semua pakai topeng."


"Dia gak pakai topeng Ta, dan dia bukan manusia."


Dita menoleh ke arah yang di tunjuk Anita, di sudut sana seorang perempuan berambut panjang berwajah pucat dengan pakaian dress putih lusuh selutut dengan sobekan di perutnya sedang menatap Dita.


Tiba-tiba dari dahi perempuan itu meneteskan darah membasahi pakaian putih yang ia pakai, bagian perutnya juga mengeluarkan darah terlihat luka yang menganga disana dan memperlihatkan ususnya yang hampir keluar dari sarangnya.


****


To be continued....


Jangan lupa baca novelku yang lain yak...

__ADS_1


ramaikan 9 lives siapa tau pada suka bacanya... thank you...😘😘😘


__ADS_2