Pocong Tampan

Pocong Tampan
Di Hotel (Part 2)


__ADS_3

Sebelum membaca klik like yak...


let's vote for me boleh yak...


apalagi koin seikhlasnya juga boleh banget...


Rate bintang lima jangan lupa...


thank u so much... love u all... 😘😍😊


***


"Doni awas yak kalau ngompol." Ancam Anita melihat Doni sudah gemetar menahan takut.


Pintu lift terbuka Doni langsung berlari sampai menukik ke lantai karena kakinya yang gemetaran tak tahan untuk berjalan.


"Turun gak nek? Saya banting nih yak." Ucap pak Herdi dengan kesal dan geram.


"Baiklah ganteng, silahkan pergi nanti kembali lagi ya ke sini hihihihihi." Pintu lift tertutup hantu nenek itu melambai genit seiring pintu lift tertutup.


"Ni bocah ngapain lagi nyusruk di sini."


Ucap Anan menggoda Doni.


"Takut pak lemes, ngeri mana bau banget mual aku pak bos." Ucap Doni merintih ketakutan.


"Ayo bangun Don, mau pipis dulu gak?" Tanya Anita menarik tangan Doni naik.


"Boleh Nit, pegangin yak." Sahut Doni.


"Idih kalian tuh ya hiyyy aku tak menyangka main pegang aja lagi." Sahut Anan.


"Ye kamu tuh Nan udah nikah aja malah makin mesum pikirannya, ini lho tangannya dipegangin nanti aku tunggu di pintu luar gitu."


Ucap Anita lalu membopong Doni menuju toilet kamar yang dipesan.


"Ooohh ya kali mau pegangan yang lain kaya Dita tadi sore."


Plak... Dita memukul kepala belakang Anan. "Hush kalau ngomong tuh di ayak, vulgar banget main jeplak aja." Sahut Dita menatap Anan tajam.


"Tau mesum banget Lo." Sahut pak Herdi ikut memukul Anan, namun Anan tak terima dan ingin menyerang pak Herdi. Mbak Maya langsung menghalangi.


"Saya pusing ya, fokus aja pada pekerjaan kita nanti." Sahut Maya kesal.


"Tau nih, udah diem aja pada." Dita menarik tangan Anan.


"Wah bagus banget ini lumayan juga." Puji Dita melihat dekorasi di dalam kamar hotel.


"Nah ada minuman, aku mau..."


"Bunda jangan...!" Pekik Anan.


"Kenapa kok jangan?" Tanya Dita menaruh botol soda itu kembali.


"Aku gak tau mana botol yang udah Doni kasih racun."

__ADS_1


"Racun?" Tanya Dita heran.


"Iya buat bikin mabok Shane sama James terus gak bisa ngomong bohong dia nanti langsung jawab jujur." Ucap Anan menjelaskan.


"Yah terus aku minum yang mana?"


"Minum aja kak, yang udah aku kasih obat botol sampanye itu di samping tv, Shane sama James mana mau minum soda." Sahut Doni yang keluar dari kamar mandi.


"Nah gitu dong." Dita membuka botol soda di hadapannya dan meminumnya.


"Pak bos ini Shane udah di lift."


"Nah kalian ngumpet gih rame banget ini nanti mereka heran." Sahut Anan.


"Waras Nan?" Pak Herdi menoyor Anan.


"Ini orang tua bener-bener ya ngajakin ribut." Sahut Anan menarik ikatan kepala pak Herdi.


"Hei stop noh bel pintunya bunyi." Ucap Dita.


"Cepetan sana pada ngumpet!" Perintah Anan.


"Ya gak usah Nan, mereka kan gak keliatan." Ucap Dita.


"Oh maksudnya si tofu basi ini ya, kalian gak usah ngumpet hahaha." Ucap Anan geli sendiri lalu melihat ke semua mata yang memandangnya.


"Iya paham, dah diem-diem di situ kalian, terus bunda kamu ngumpet yak nanti kalau aku butuh kamu baru kamu keluar."


"Oke." Dita lalu masuk ke dalam kamar mandi.


Doni membuka pintu dan langsung terkejut. "Yaaaaaaaa dia lagi ampun dah...."


"What's wrong bro? Ada yang aneh?" Tanya Shane.


"Eng... Enggak silahkan masuk." Ucap Doni.


"Hai sob, makasih ya udah ngundang gue." Sahut James menepuk tangan Doni.


"Eh Manan apa kabar bro?" Shane langsung merangkul Anan.


"Sehat gue bro."


"Mana nan istri Lo kata Doni Lo nikah?" Tanya James yang juga merangkul Anan.


"Adalah di rumah." Sahut Anan.


"Gue pikir Lo mau bagi-bagi ke gue." Ucap James sambil tertawa.


Hati Anan mendidih dan ingin mengamuk memukul James, namun pak Herdi menahan tangan Anan yang sudah mengepal.


"Nanti kita habisi nyan." Bisik pak Herdi.


"Gue bercanda Nan gitu aja marah ya Shane hahahhaa." James tertawa terbahak-bahak.


Anan berusaha tertawa meski wajahnya sudah merah padam menahan marah. "Ha..ha..ha iya iya." Sahut Anan.

__ADS_1


"Eh minum dulu bro." Doni menuangkan sampanye yang berisi obat tadi untuk James dan Shane.


"Wow Pommery wine, this is awesome man." Ucap James takjub.


"Iya dong gue pesen khusus buat kalian." Sahut Anan.


"Let's drink guys." Anan mengangkat botol wine nya membiarkan Shane dan James minum, Anan dan Doni terus menuangkan minumannya ke gelas mereka sampai mereka mabuk dan mulai berhalusinasi.


"Hahaha Nan Lo ada dua ya, oh iya Lo kan punya kembaran, kembaran yang udah gue biarin mati gitu aja hahahaha." Ucap James meracau.


"Ta keluar deh sekarang." Anita memanggil Dita. Dita segera keluar dari persembunyiannya.


"Tahan Anan ya Ta dia mulai emosi." Ucap Anita.


"Oke Nit."


"Wah Dita apa kabar? Cie yang udah nikah thank you banget ya udah ngundang gue." Ucap Shane.


"Padahal ya Ta sayang banget kalo Lo nikah sama Manan, setau gue kembarannya Anan tuh penyakitan, lemah beuh pasti lembek gak bakal bisa bahagiain Lo, coba Lo nikah sama gue, ya gak Shane?" Ucap James meracau.


"Wah parah Lo bro kenapa gak hargain si Manan nanti dia nangis aja di pojokan hahhahaa." Sahut Shane yang sudah lemas hanya bisa duduk sesekali menengguk minumannya.


Anan yang sudah tak sabar hampir saja memukul mereka bertubi-tubi tapi Dita menahannya.


"Sabar Yanda, kita cari tahu kebenarannya." Ucap Dita menahan dada Anan untuk maju.


"Aku boleh tanya?" Tanya mbak Maya pada Dita.


"Mari mbak aku bantu." Sahut Dita memperlihatkan mbak Maya di hadapan Shane dan James.


"Aaaaaaaaa Lo... Lo... Lo cewek yang waktu itu kan, yang bos Anwar bawa ke club' House?" James berteriak ketakutan menutupi wajahnya dengan bantal sofa.


"Jadi kamu masih ingat aku?" Tanya Maya dengan wajahnya yang menyeringai.


"Cewek yang mana sih? Maklum banyak cewek yang dibawa bos Anwar jadi gue lupa hahahha." Sahut Shane malah tertawa bukannya takut karena dia belum paham soal kematian Maya.


"Shane dia itu udah mati tau, gue inget banget mayatnya di buang ke septic tank sama bos Anwar." James menuju bahu Shane.


"APA? Septic tank? Bagaimana bisa kalian membuang ku sekeji itu?" Maya mulai memperlihatkan rupa aslinya tubuh penuh darah dan usus yang hampir keluar.


"Itu... itu.. ide bos Anwar biar gak ada yang cium bangke Lo. Harusnya lo nurut sama om Lo tapi Lo lari terus jatuh dari tangga perut Lo ketusuk pecahan botol yang udah Lo pecahin ke kepala anak buah bos Anwar." Ucap James ketakutan.


"Lalu apa yang terjadi sama Anan ?" Tanya Dita.


"Gue... Gue...gue gak tau...!" Pekik James.


"Lo tambahin lagi Don, minum nya." Perintah Anan ke Doni.


"Pinjem kamu ya Ta, sepertinya ******** ini perlu kita kasih pelajaran."


Pak Herdi ikut menampakkan diri begitu juga dengan Anita menakuti Shane dan James.


****


To be continued...

__ADS_1


Jangan lupa like nya, vote nya biar makin semangat nih up nya...


Mampir ke 9 "lives" juga ya 😘😘


__ADS_2