
Anan memeluk Dita melindungi nya dari hawa panas mobil Andri yang meledak, Dita menangis sekencang-kencangnya melihat Andri yang terbakar tepat di depan matanya.
***
Seminggu setelah peristiwa kecelakaan itu berlalu, Dita masih tampak murung, meski hanya baru sebentar mengenal Andri namun melihat nya harus mati mengenaskan seperti itu Dita sangatlah sedih dan syok.
"Foto siapa Ta?" tanya Anita ketika melihat Dita memandangi foto di ponsel nya.
"Ini foto Andri, dokter itu, aku ambil gambarnya dari foto pas pemakaman.
"Kalo aku liat-liat cakep ya ada arab-arabnya gitu, sayang udah gak ada, duh jadi ikutan sedih kan." ucap Anita.
"Iya Nit, dia baik banget padahal."
"Jangan-jangan dia gebetan kamu yang kamu bilang waktu itu yak?"
"Bukan bukan dia, kita aja baru kenal pas nganter jasad Dimas."
"Oh... kirain."
"Ehem ehem semuanya keruang pak Herdi ya segera!" ucap Bu Devi ketus lalu pergi.
"Biasa aja kali jutek bener." sahut Anita.
Bu Devi menoleh padanya namun Anita lebih cepat berjongkok di bawah meja nya berpura-pura mencari sesuatu.
"Udah masuk orangnya." ucap Dita.
"Hehehehe aman..."
"Lagian kamu juga sih ceplas-ceplos."
***
"Baiklah terima kasih semua yang saya panggil sudah hadir, begini yah rencananya Minggu depan akan diadakan family gathering di wahana ini dari sebuah perusahaan susu formula XX di sini. Rencananya mereka akan sewa selama 2 hari dengan peserta kurang lebih seribu orang perharinya. Jadi saya harapkan kerja sama yang baik antar kalian semoga acara mereka berjalan dengan lancar."
"Pak maaf, emang ada live bandnya pak?" tanya Doni.
"Pihak mereka sendiri sih bilang ada, makanya mereka minta di buatkan panggung minimalis di sudut kolam besar itu, kenapa Don?"
"Wah asik dong pak, apalagi dangdutan."
"Eh kamu kerja ya bukannya ikut joget-joget dangdutan nantinya." sahut Bu Devi ketus seperti biasa.
"Iya Bu maaf."
__ADS_1
"Oke tiga hari ke depan pihak dekor panggung akan datang, dan saya percayakan Dita dan Anita membantu persiapan nya."
"Siap pak." Anita dan Dita menyahut kompak.
"Bagus, untuk Kang Ujang dan Doni tolong arahin karyawan lainnya untuk menjaga keamanan dengan baik jangan sampai ada kecelakaan anak tenggelam dan sebagainya, mengerti?"
"Ngerti bos." sahut Kang Ujang.
"Vi, saya harap kamu kerja sama urus konsumsi yak, kan saya denger mereka juga buka stand bazar tuh buat icip-icip makanan."
"Siap Di, tenang aja urusan itu mah nanti aku kontek pihak EO nya juga." sahut Bu Devi.
"Oke makasih sebelumnya dan saya harap kedepannya akan terus ada acara seperti ini disini untuk kemajuan wahana kita juga, semoga acaranya sukses."
"Amiiiiiinnnn." mereka menyahut kompak.
"Silahkan kembali ketempat kerja kalian."
***
"Kak, boleh minta mie rebus gak?" Jessie menarik kaus Dita membangunkannya.
"Hooaaammm Jess jam berapa ini minta mie rebus?" tanya Dita.
"Jam setengah dua hehehe."
"Ni pada setan banget yak jam segini bangunin cuma buat masak mie rebus."
"Emang kita setan hehehe."
Pok,
Anan dan Jessie ber toz ria.
Dita melangkahkan langkah gontai nya menuju dapur, dilihatnya Tania sedang menyisir rambut panjang nya di atas meja samping kompor.
"Hadeh ni lagi, nyalon di deket kompor, geser say mau masuk mie, situ mau juga?"
Tania menatap Dita tajam tanpa berkata apapun.
"Berarti mau kalo diem aja, untung stok mie masih setengah kardus." Dita menyiapkan panci dan merebus air lalu mie nya.
"Nih mienya udah jadi, tanpa telor yak lagi abis." Dita menaruh tiga mangkok mie nya di meja ruang tamu.
"Asik makasih kakak Dita yang cantik." sahut Jessie langsung menghampiri mangkuk mie rebusnya.
__ADS_1
"Kamu aja laper juga kan? nih buktinya bikin tiga." ucap Anan menghitung mangkok di hadapannya.
"Emang buat aku, noh nyonya besar yang punya rumah." Dita mengambil satu mangkok mie lalu menaruhnya di meja samping kompor depan Tania.
Tania acuh membiarkan mangkok mie Dita tanpa menyentuhnya. Namun saat Dita melangkah pergi kembali ke depan, Dita menoleh ke arah Tania yang sudah menuang habis mangkok mie itu ke dalam mulutnya.
"Hah dasar gengsi nya gede banget tuh hantu."
TOK TOK...
"Siapa sih jam segini ketok pintu?" gumam Dita.
"Hantu baru kali kak biasa nyariin kakak, hehehe." sahut Jessie sembari menyeruput mie rebusnya.
"Ah masa hantu ketok- ketok, sopan banget tuh hantu, biasanya kan nih para hantu langsung masuk nembus tembok apa pintu langsung cilukba muncul depan muka."
"Coba sini aku liat entar maling lagi." Anan beranjak dari tempatnya menuju pintu.
"Ini lagi aneh masa maling ketok-ketok, permisi Pak, Bu saya mau maling, mau numpang jarah hartanya boleh?"
Dita mengejek Anan, dan Anan langsung memiting kepala Dita menjepitnya ke bagian ketiaknya.
"Aduh duh ampun, sakit tau."
"Berisik banget sih kamunya." ucap Anan melepaskan jepitan nya.
Jessie tertawa terbahak-bahak melihat kelakuan Anan dan Dita.
Cekleeeek...
Anan membuka pintunya perlahan.
Sosok pria berdiri dihadapan pintu rumah Dita tertunduk lesu, bau gosong tercium dari aroma tubuh pria itu.
"Ka ka kamu siapa?" tanya Dita terbata-bata agak takut.
Pria itu perlahan mengangkat wajahnya dan tersenyum.
"Andri..." ucap Dita.
Andri melangkah menghampiri Dita dan memeluk nya erat.
***
To be continued
__ADS_1
Happy Reading...
Jangan lupa vote like dan komennya yak makasih 😊😊