Pocong Tampan

Pocong Tampan
Menyelamatkan Arjuna


__ADS_3

Sebelum membaca klik like yak...


let's vote for me boleh yak...


apalagi koin seikhlasnya juga boleh...


Rate bintang lima jangan lupa...


thank u so much... love u all... 😘😍


*****


"Ini rumahnya?"


tanya Kevin pada istrinya itu sesampainya di gerbang rumah besar bernuansa kuno di pinggiran kota Okinawa.


"Iya ini rumahnya." sahut Dewi lalu memasuki halaman gerbang yang terbuka otomatis setelah memberi tahu penghuni di dalam rumah itu dari intercom.


Salah satu pelayan rumah adalah adik Bu Mey yang bernama Diki.


"Selamat datang nyonya, akhirnya nyonya kesini juga." ucap Pak Diki.


"Halo pak apa kabar?" sapa Dewi dengan senyum merekah.


"Lekas bawa tuan nyonya, sekarang juga!" ucap Pak Diki dengan wajah penuh ketakutan.


"Ada apa ini? apa yang terjadi?" raut wajah Dewi berubah panik karena merasa ada sesuatu yang aneh yang ingin di tunjukkan Pak Diki.


"Lekas nyonya Dewi ikut saya! sebelum nyonya Aiko pulang."


Dewi dan Kevin saling berpandangan lalu keduanya bergegas mengikuti Pak Diki.


Pak Diki membuka sebuah kamar, di dalamnya terlihat seseorang di kursi roda yang sedang menatap jendela kamarnya.


Kursi roda itu bergerak dan berbalik.


"Mas Arjuna?" Dewi segera memeluk Arjuna yang tiba-tiba meneteskan air matanya melihat Dewi.


"Apa yang terjadi?" tanya Dewi dengan raut wajah cemas penuh ingin tahu.


"Tak ada waktu menjelaskan, cepatlah sebelum nyonya Aiko pulang dari pertemuannya!" ucap Pak Diki lalu memasukkan obat-obatan dan beberapa pakaian ganti tuan Arjuna. Pak Diki lalu mendorong kursi roda tuan Arjuna keluar dari kamar.


Seorang pelayan wanita menegur Pak Diki dengan bahasa Jepangnya, ia menanyakan kemana Pak Diki akan membawa tuan Arjuna.


"Saya akan membawa tuan untuk terapi, ini adik tuan Arjuna." jawab pak Diki dengan bahasa Jepang.


"Apa nyonya Aiko tau?" tanya pelayan itu.


"Iya ini atas perintah nyonya." sahut pak Diki memberi isyarat pada Dewi dan Kevin untuk mengangguk.

__ADS_1


"Lekas pesan taxi, yang penting kita harus membawa tuan Arjuna pergi dari sini." bisik pak Diki.


Kevin langsung memesan taxi untuk mereka tumpangi dan langsung menuju bandara karena kalau mereka ke hotel terdekat nyonya Aiko pasti akan menemukan mereka.


"Apa yang terjadi sebenarnya Pak?" tanya Tante Dewi ke pak Diki yang duduk di sampingnya saat berada di pesawat sementara Arjuna tertidur karena pengaruh obat yang baru ia minum di samping Kevin.


"Yang saya tau nyonya membuat tuan seperti ini, dan saya curiga nyonya mengikuti sekte sesat di kota ini." ucap pak Diki.


"Sekte sesat? setahuku malah aku curiga mas Arjuna yang mengikuti pesugihan." ucap yang Dewi lirih.


"Entahlah nyonya, tuan sangat menderita, sesekali tuan menulis sesuatu kepada saya untuk membawanya pergi meski ia kesulitan untuk menulisnya. Kadang tuan menulis kata Manan, tuan ingin sekali bertemu dengan den Manan." ucap pak Diki.


"Manan sudah tiada pak." ucap Tante Dewi lalu menceritakan pertukaran antara Anan dan Manan pada pak Diki yang sontak terkejut tak menyangka.


"Jadi selama ini aku selalu menyangka kalau mas Arjuna yang jahat dan menumbalkan anak-anaknya, namun kini aku tak menyangka jika Aiko yang melakukannya." ucap Tante Dewi dengan raut wajah yang sangat tak mengerti dengan keadaan ini.


"Sebaiknya jangan bawa tuan Arjuna pulang nyonya, kita harus sembunyi sementara ini, karena saya yakin nyonya Aiko akan mencari tuan Arjuna disana." ucap Pak Diki.


"Baiklah, mas tolong carikan penginapan di kota xx, kita akan terbang menuju kesana setelah transit." ucap Tante Dewi menoleh pada om Kevin.


"Baiklah Dew, sebaiknya nanti kamu hubungi Dita dan Anan." ucap om Kevin.


***


Malam itu di rumah sakit keluarga milik Anan, Dita menunggu Anan yang masih sibuk menyelesaikan pekerjaannya.


"Besok Doni bakal anter gue ke gunung itu, terus gue mau bilang makasih ya Ta, gue mau pamit." ucap Cindi pada Dita.


"Gimana mau ngulang lagi Ta? kan dia udah isdet, itu Jojo juga mau pergi?" tanya Tasya.


"Iya saya mau nemenin Cindi jadi saya pamit juga ya." sahut Jojo.


"Nikah aja dulu biar halal." ucap Tasya asal.


"Ih ada gitu penghulu yang mau nikahin hantu?" tanya Susi yang sedari tadi menyimak.


"Hehehe iya yak." Tasya terkekeh.


"Eh Don, kamu mau sama siapa ke gunungnya?" tanya Dita.


"Sama Abang Johan tadi mau nganter." sahut Doni yang sebenarnya terpaksa menuruti perintah Dita.


"Ya udah sukur deh." Dita tersenyum.


"Bunda pulang yuk udah kelar nih!" ucap Anan.


"Eh pak bos, Ta boleh ijin gak, sebelum aku pamit boleh peluk pak bos gak?" pinta Cindi dengan genitnya.


"ENGGAK...!!!" Dita menggandeng tangan Anan meninggalkan semuanya.

__ADS_1


"Tunggu Ta, Tasya ikut, dah Doni..." Tasya menyusul Dita bersama Susi.


Doni memasang tampang cemberut sambil menunggu Johan.


Di halaman parkir rumah sakit, Dita melihat Lee yang berpakaian rapih sedang berdiri di samping pohon besar rumah om item.


"Tunggu bentar ya Yanda duluan ke mobil aku ada perlu sama om item." ucap Dita.


"Nanti anak kita sawan lho kalau kamu masih main sama om item." ujar Anan.


"Enggak tenang aja udah amit-amit, yuk Sya ikut aku." Dita menarik lengan Tasya diikuti Susi di belakangnya.


"Hai Lee!" sapa Dita mengejutkan Lee.


"Ih kamu makan apa?" Tasya menunjuk Lee yang pipinya menggembung.


"Astagfirullah itu kan buntut tikus, ih jorok...!!!" pekik Dita lalu ingin segera pergi dari sana.


Lee langsung menelan tikus itu buru-buru dan menahan Dita pergi.


"Dita dengerin, tolong dengerin aku dulu ya jangan pergi!" ucap nya.


"Ayo Ta, ih gak nyangka cakep-cakep gitu makannya tikus iyeeekk." ucap Tasya.


"Tapi iya lho cakep, hai...!"


Susi mendekati Lee yang tiba-tiba berubah wujud.


"Aaaaaaaaaaa...!" Tasya dan Susi berteriak bersamaan laku berlari kencang menuju mobil Anan.


"Hahahaha jadi kamu Lee, wah om item itu si oppa Lee ini toh." Dita tertawa terbahak-bahak melihat genderuwo berbadan besar di hadapannya yang sedang meringis tersenyum.


"Kamu ngapain om deketin Shinta?" tanya Dita.


"Kan tadinya mau bantuin kamu tuh, aku mau kasih dia pelajaran, tapi lama-lama dia ngegemesin gitu Ta, jadi keterusan saya macarin dia." ucap om item sambil tersipu malu meski wajahnya di penuhi dengan bulu lebat.


*****


To be continued


Jangan lupa mampir ke novel baru aku yak


"With Ghost"


dan novel ku lainnya ya guys...


- Kakakku Cinta Pertamaku


- 9 Lives

__ADS_1


- Gue Bukan Player


Ku tunggu like dan komen kalian disana.


__ADS_2