
Hayo sebelum pada baca tolong ya tombol Likenya di pencet dulu, jangan lupa rate bintang lima. Lalu, kirimkan poin kamu untuk Vote, kirim koin juga boleh banget lho...
Happy Reading... 🥰😊
******
"Udah kamu tenang aja, aku gak akan merebut suami kamu, kok. Toh aku bukan pelakor." sahut Tasya mulai kesal melepas pegangan tangan Doni di tangan kanannya.
"Maksud kamu apa sih? kamu kan istri saya, kok pakai bilang pelakor?" tanya Doni pada Tasya.
Semua mata tertuju pada Doni.
"Mitha kamu mending pulang aja deh, nanti kalau Doni sudah kembali ingatannya aku akan hubungi kamu," ucap Shinta.
"Tapi, Kak..."
"Kakak mau Doni cepet sembuh, kamu juga maunya begitu, kan?" tanya Shinta seraya menyentuh kedua bahu Mitha.
"Iya sih, Kak. Tapi..."
"Ya udah kita ikuti perintah dokter, yang penting Doni lekas sembuh, bagaimana?" Shinta memberi penawaran.
"Baiklah, tapi aku gak mau Doni deket-deket sama wanita itu," tunjuk Mitha.
"Iya, aku pastiin Doni gak akan deket dengan wanita itu, sekarang kamu pulang aja, ya. Kamu urus rumah dengan baik," pinta Shinta.
"Baik, Kak. Oh iya nanti aku ambil Lee dari rumah Bu Dewi."
"JANGAN...!!!" Shinta berteriak mengejutkan semua yang hadir di sana.
Pak Herdi yang sedari tadi duduk di samping ranjang Doni sampai masuk ke kolong ranjang mendengar teriakan Shinta.
"Hisss Pocong Lebay!" lirik Tasya ke arah Pak Herdi.
"Kaget, Sya. Sampai takut saya sama tuh perempuan," sahut Pak Herdi.
Doni menahan tawanya menyaksikan adegan Pak Herdi barusan.
"Kenapa jangan, Kak?" tanya Mitha.
"Biar aja Lee sama Ibu Dewi, nanti aku aja yang ambil, soalnya Ibu Dewi mau latihan punya bayi katanya," ucap Shinta mencoba berbohong pada Mitha.
"Oh, ya sudah kalau gitu, saya pamit pulang."
Tiba-tiba Mitha menghampiri Doni dan menatapnya sangat dekat.
"Kamu beneran lupa sama aku, Don?" tanya Mitha masih memaksakan keinginannya.
Doni mendorong dahi Mitha dengan jari telunjuknya. "Maaf kamu siapa ya, saya gak kenal?"
Mitha kembali tertunduk lesu.
"Mitha pamit, Kak."
Wanita itu langsung ke luar menuju parkiran rumah sakit.
"Coba minggir, Sya." Shinta menarik lengan Tasya menjauh dari ranjang Doni.
Pletak!
__ADS_1
Pukul tangan Shinta mendarat di kepala Doni dengan kencangnya.
"Aduh, sakit kak!"
"Amnesia ya? oh gitu rupanya? kamu tuh gak bisa bohongi Kakak," ucap Shinta merutuk dengan kesalnya.
"Tapi ini beneran sakit, Kak. Kepala aku kan habis operasi," rengek Doni.
"Apa kamu bilang? jadi maksud Kak Shinta Doni bercanda? bohongan gitu?"
Tasya melirik tajam ke arah Doni.
"Sebenarnya sih, aku juga curiga kalau Doni bohong, liat aja Pak Herdi dari tadi kasih jempol terus ke Doni, pasti yang ngajarin Pak Herdi, iya kan?" Dita mencoba menerka.
"Hehehee... tau aja." Pak Herdi muncul kembali di samping ranjang Doni.
"Iya tuh Pak Herdi yang ngajarin aku, kata dia nanti kamu pura-pura amnesia aja biar menjauh dari Mitha," ucap Doni.
"Tapi aku gak ngajarin kamu buat bilang Tasya itu istri kamu ya, itu udah berlebihan, huuu."
Pak Herdi menoyor kepala Doni.
"Ya maaf, habisnya gimana lagi biar Tasya gak pergi, hehehe..." Doni meringis ke arah Tasya.
"Kalian bicara sama siapa, sih?" tanya Shinta.
"Tuh!"
Doni, Tasya dan Dita menunjuk ke arah Pak Herdi bersamaan.
"Pasti hantu, ya?"
"Ah tau ah, mau sampai kapan kamu pura-pura amnesia?" tanya Shinta.
"Gak tau, sampai Mitha gak tahan sama aku terus minta cerai," sahut Doni.
"Tapi, bukannya Mitha sedang mengandung anak kamu?" tanya Tasya.
"Bukan!" sahut Doni dan Shinta bersamaan.
"Kok, Kak Shinta bisa bilang bukan?" tanya Doni.
"Kakak paham Don, Kakak pernah lihat penampakan makluk jepang yang mengerikan itu sedang berbicara dengan dengan seorang wanita yang dipanggil Ratu," ucap Shinta.
"Ratu Masako," sahut Dita.
"Ya entahlah siapapun itu namanya Ratu, yang jelas dia memerintahkan makhluk itu untuk menyamar menjadi kamu, dan menghasilkan anak dari Mitha. Kelak anak Mitha akan dia jadikan media yang membawanya menguasai dunia lagi," ucap Shinta.
"Astaga, ya ampun, jadi Kakak pernah liat si botak albino itu?" pekik Doni tak percaya dengan yang ia dengar.
"Ya, Don dan mereka juga berniat mencelakaimu, tapi tak bisa, dan malah pekerja gedung di perusahaan Mitha yang menjadi tumbal," jawab Shinta.
Dita, Tasya dan Pak Herdi sudah berbaris menyamping memperhatikan pembicaraan Shinta dan Doni seraya mengangguk-anggukan kepala mereka tanda menyimak dengan baik.
"Kakak sadar, sekarang Kakak gak mau kehilangan kamu, setelah kita kehilangan orang tua kita. Cuma kamu sama Lee keluarga yang Kakak punya sekarang," ucap Shinta seraya menyeka air matanya yang tiba-tiba saja menetes.
"Kak... sini aku mau peluk Kakak, jarang-jarang aku bisa dengar Kakak ngomong kayak gitu," ucap Doni seraya merentangkan kedua tangannya.
Shinta tersenyum lalu memeluk Doni dengan erat.
__ADS_1
"Maafin Kakak ya, aku selalu jadi orang yang egois yang gak pernah mentingin orang lain, Kakak menyesal, Don..." ujar Shinta.
Dita, Tasya dan Pak Herdi saling berpandangan lalu mereka ikut menangis. Pak Herdi yang berada di tengah kedua wanita itu langsung merangkul keduanya dan membawa kepala Dita dan Tasya berada di bahunya saat menangis. Dia menepuk-nepuk pelan kepala Tasya dan Dita yang bersandar di bahunya.
"Doni juga minta maaf ya, Kak," ucap Doni.
Pandangan Doni kemudian menoleh ke arah Pak Herdi. Doni melepas pelukannya dengan Shinta lalu melempar bantal di belakang tubuhnya ke arah Pak Herdi.
"Heh, tofu basi, hantu bungkus permen! enak banget kamu ya, memanfaatkan keadaan seperti itu," ucap Doni seraya menatap Pak Herdi dengan tatapan melotot seolah kedua matanya hendak keluar dari sarangnya.
"Hehehee... kebawa suasana, Don. Lagian Dita sama Tasya juga mau aja lagi diginiin," sahut Pak Herdi.
Dita dan Tasya baru tersadar dengan kejadian tersebut dan langsung menepuk bahu Pak Herdi dengan kerasnya.
"Aduh... sakit tau! cuma kalian kan yang bisa nyentuh aku kayak gini, harusnya jangan nyakitin dong!" seru Pak Herdi.
"Lagian kok mau-maunya ya kita nyender gitu, habisnya aku pikir tadi itu kamu tau, Sya," ucap Dita.
"Iya, aku juga pikir itu kamu, Ta," sahut Tasya.
"Ya udah lah aku pergi aja kalau begitu, asal tau aja ya, apa yang kalian berdua lakukan padaku itu, jahat...!"
Pak Herdi langsung menghilang menuju gelang Tasya.
"Hidih... Pocong Lebay dasar!" gerutu Tasya.
Seorang suster masuk membawakan makanan untuk Doni.
"Sya, suapin dong!" pinta Doni.
"Idih amit-amit, makan aja sendiri, punya tangan kan?" sahut Tasya yang kedua tangannya sudah bertolak pinggang.
"Sya, tolong suapin Doni, ya..." ucap Shinta dengan suara pelan namun kedua matanya melotot memandang Tasya.
"I-iya, Kak, siap laksanakan!"
Tasya langsung menghampiri Doni.
"Dita, kita pulang yuk, biarkan mereka berdua di sini, lagi pula ada yang ingin aku bicarakan," ajak Shinta.
"Oke. Tasya kamu sama Doni dulu ya, kalau dia macam-macam panggil aja Pak Herdi," seru Dita.
"Iya."
******
Bersambung...
Mampir juga ke :
- 9 Lives (END)
- Diculik Cinta (On Going)
- With Ghost (END)
- Forced To Love
- Kakakku Cinta Pertamaku (END - Musim Kedua hiatus 😁)
__ADS_1
Vie Love You All... 😘😘😘