Pocong Tampan

Pocong Tampan
Ke Rumah Sakit


__ADS_3

Sebelum membaca klik like yak...


let's vote for me boleh yak...


apalagi koin seikhlasnya juga boleh banget...


Rate bintang lima jangan lupa...


thank u so much... love u all... 😘😍😊


***


Sesampainya di rumah sakit milik keluarga Anan.


"Nah kan aku lupa bawain makanan buat om item." Dita menepuk dahinya.


"Pura-pura gak lihat aja kita sembunyi, jangan lewat rumahnya." bisik Anan menarik Dita ke dalam rumah sakit.


"Eh iya aku inget, ponsel aku Nan." Dita mengeluarkan ponselnya dari tasnya.


"Teks yang waktu itu kamu tanya ke aku soal tulisan bahasa Jepang, nih udah aku translate." Dita menyerahkan ponselnya ke Anan.


Terjadi sesuatu dengan Arjuna dia tak sadarkan diri, lekas kembali.


"Apa maksudnya, apa yang terjadi dengan papi?" Anan mengetuk ponsel Dita ke dagunya.


"Aku juga gak tau maksudnya, coba nanti kita tanya Tante Dewi."


"Apa perlu kita ke Jepang Ta?" Anan menghentikan langkahnya.


"Bunuh diri namanya Nan, kita kan gak tau apa yang terjadi disana." ucap Dita.


"Apa mami bohong ya Ta soal papi?"


"Sekarang gini ya sayangku, meskipun aku juga bingung harus percaya mami apa papi kamu tapi pergi kesana dengan sisa waktu kamu ini sama aja bunuh diri, dan aku belum siap untuk kehilangan kamu." Dita memeluk Anan.


"Jadi gimana ini Ta?"


"Kita bicarakan dengan Tante Dewi bagaimana baiknya ya, pokoknya kamu sabar dulu." Dita menggandeng lengan Anan mengajaknya ke dalam rumah sakit menuju ruang Tante Dewi.


"Bagaimana keadaan Doni sama om Kevin Tante?" tanya Dita saat masuk keruang Tante Dewi menaruh bungkusan makanan di atas meja kerja Tante Dewi.


"Kondisi nya bagus mereka stabil." sahut Tante Dewi.


"Ah syukurlah, yuk Nan kita tengok, di ruabg berapa Tante?"


"Mereka Tante tempatkan satu kamar biar gampang jaganya lantai tiga ruang VIP satu." ucap Tante Dewi menyantap makanan yang dibawa Dita.


"Oke deh ayo Nan kita kesana." ajak Dita menarik lengan Anan.

__ADS_1


"Ya udah sana duluan nanti Tante nyusul habis makan, makasih ya enak banget ini makanannya." sahut Tante Dewi.


"Sama-sama Tante." ucap Dita.


Pintu lift terbuka Dita dan Anan masuk lift tersebut.


"Gak ketemu sama hantu kakek tapi ketemu wewe gombel." bisik Dita saat melihat Cindi yang tersenyum genit kala melihat Anan.


"Eh pak bos, mau kemana?" tanya Cindi dengan centilnya.


"Mau ke ruang om saya sama Doni lantai tiga..."


"VIP satu kan? kebetulan aku mau cek kesana, hihihi jodoh emang gak kemana." ucap Cindi.


"Cindi, nih lihat." Dita memamerkan tangannya dan tangan Anan yang sudah memiliki cincin yang sama cincin pernikahan sebagai pengikat.


"Apaan sih gak ngerti, cuma cincin kembar aja kok." sahut cindi agak kesal.


"Cuma... enak aja cuma kita tuh sudah suami istri tau." ucap Dita dengan sombongnya ke arah Cindi.


"Apa? kapan nikahnya?" lutut Cindi gemetar mencoba menopang tubuhnya agar tetap berdiri tegap saking terkejutnya.


"Emmm beberapa hari yang lalu, mah lihat foto nya gak, aku ada nih di ponsel aku." Dita mau menunjukkan ponselnya pada Cindi namun Cindi buru-buru menolak dan tak ingin melihat.


"Makasih Ta gak usah." Cindi tak mau menoleh pada Dita dan Anan saat keluar dari lift menuju ruangan Doni dan Om Kevin.


"Eh kak Dita, pak bos, maafin aku ya maaf..."


"Sudah sudah gak usah di lanjut lagi kita paham kok." Anan memotong ucapan Doni.


"Ta, ini om ganteng yang lagi tidur kayak pangeran udah ada yang punya belum yak?" tanya Cindi yang memperhatikan om Kevin dengan seksama.


"Jangan coba-coba dia punya Tante Dewi tuh, kepala rumah sakit sini." sahut Dita.


"Ah masa sih? kalau saingannya gitu mana aku berani." gumam Cindi.


Anan meraih botol air mineral di lemari pendingin lalu duduk di sofa. Dita masih memperhatikan keadaan Om Kevin dan Doni.


"Dah selesai, aku tinggal ya, oh iya selamat ya atas pernikahan kalian, kalau ada badai di pernikahan kalian, aku siap berlabuh kok Pak bos." ucap Cindi centil.


"Heh belum pernah aku masukin botol infus ke mulut kamu itu ya." ancam Dita menarik botol infus Doni hendak melempar nya ke Cindi namun Cindi segera keluar.


"Kak sakit kak sakit." rengek Doni.


"Eh maaf Don, habisnya geregetan pelakor sekarang pada berani banget terang - terangan." sahut Dita menggerutu, Anan tersenyum puas melihat kecemburuan Dita itu.


"Kak itu bukannya resepsionis yang di kantor pak Kevin." Doni menutup wajahnya saat melihat penampakan Marina.


"Iya namanya Marina dari tadi dia ngikutin aku sama Anan." sahut Dita.

__ADS_1


"Mau ngapain kak dia kesini?" tanya Doni.


"Mungkin mau ketemu kamu Don." sahut Anan menakuti Doni yang makin takut.


BRAK...!!


"DONI...!!" pekik Shinta yang langsung masuk keruangan membuka pintu menabrak Marina yang terhempas jatuh ke lantai.


"Wah kakak mu cari gara-gara Don." bisik Dita.


"Doni kamu kenapa, kamu gak kenapa-kenapa kan?" Shinta memegangi semua tubuh Doni sampai membuat Doni meringis saat Shinta menyentuh luka di bahunya.


"Sakit kak sakit." sahut Doni.


"Lagian kamu kenapa sih sampai ke tembak gini pasti gara-gara Dita yak?" Shinta menatap tajam ke arah Dita.


"Dih kok aku, namanya juga musibah gak ada yang tau Shinta." ucap Dita yang menahan tawanya karena melihat Marina siap menjambak rambut Shinta.


"Eh jangan!" cegah Doni membuat Shinta menoleh ke belakangnya.


"Apaan sih Don, ngagetin kakak aja." ucap Shinta lalu menoleh ke Anan.


"Eh pak bos, makin cakep aja." ucap Shinta mencoba menghampiri Anan namun Dita buru-buru mencegahnya dengan merentangkan kedua tangannya berdiri di hadapan Anan.


"Punya ku punya ku, sudah hak milik aku." ucap Dita menunjukkan cincin di jarinya.


"Ta bokong kamu nutupin wajah aku nih." protes Anan.


"Biar dia gak bisa lihat wajah kamu." sahut Dita makin menutupi wajah Anan dengan bokongnya.


"Jadi kalian sudah menikah?" tanya Shinta.


"Iya kak mereka sudah menikah, Doni saksinya datang ke pernikahan mereka." sahut Doni membenarkan.


"Kok aku gak diundang sih?" Shinta menoleh ke wajah Dita dengan muka smirk nya


"Karena kamu pasti bakal ngancurin pernikahan aku ya kan?" Dita memasang wajah yang sama seperti Shinta.


"Oke, selamat kalau begitu, nanti aku kirimkan kado pernikahan yak." Shinta menghampiri Doni lalu menepuk wajahnya.


"Kakak balik kerja dulu nanti kesini lagi ya." ucap Shinta lalu menoleh sebentar ke arah Dita dan Anan penuh dengan senyum licik.


****


To be continued...


Happy Reading... Jangan lupa votenya...


Stay Safe... Stay Health... 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2