
Sebelum membaca klik like yak...
let's vote for me boleh yak...
apalagi koin seikhlasnya juga boleh banget...
Rate bintang lima jangan lupa...
thank u so much... love u all... 😘😍😊
***
Dita melihat jasad perempuan tadi menelungkup di pinggir jalan, beberapa lembar daun pisang sudah menutupi tubuhnya. Tak lama suara sirine polisi dan ambulance datang bersahutan tiba bersamaan ke tempat lokasi. Kerumunan para penonton pun menyingkir dari sisi jalan, kali ini Dita dapat melihat Tante Dewi sedang berangkulan dengan Shinta menatap ngeri ke arah truk yang berguling, mesin truk nya masih berderu dengan lampu menyala, sepertinya sang supir sudah lari meninggalkan lokasi kejadian.
"Ayo Tante pergi dari sini." ajak Dita.
"Gimana mau pergi, tuh liat masih macet kan, harus ada evakuasi dulu baru bisa lancar lagi." sahut Joni.
"Mobil yang jagain siapa Ta kalo elo sama pak bos kesini?" tanya Johan yang masih stand bye merekam kejadian.
"Ada kok yang nunggu."
Semua mata menoleh pada Dita.
"satu, dua, tiga, empat, lima enam semua ada disini Ta, wah bercanda yak?" tanya Joni.
"Udah lah lagian mobil di tengah gitu maju gak bisa mundur apa lagi siapa yang mau ambil, tuh liat tuh mayatnya mau di keluarin." tunjuk Tante Dewi ke arah truk.
Polisi harus memajukan atau memundurkan truk yang melindas korban kecelakaan yang berjenis kelamin pria itu. Saat truk di mundurkan secara perlahan kemudian terdengar suara
Krek...
Suara bagian tulang yang remuk membuat semua yang menonton evakuasi itu terasa linu tubuh dan bagian giginya.
Tante Dewi memilih menutupi wajahnya tak tega. Dita juga sudah bersembunyi di balik punggung Anan hal itu membuat Anan meraih tangan Dita dan melingkarkan nya di pinggangnya sambil tersenyum.
Shinta merasa kesal melihatnya.
Mayat itu akhirnya bisa di keluarkan dari truk dengan kondisi terbelah dua, darah mengalir dari dalam tubuhnya sampai ada yang menyentuh sepatu kerja para polisi dan tenaga medis.
Evakuasi para korban akhirnya selesai membubarkan para penonton dan melancarkan arus kendaraan yang tadinya sempat membuat kemacetan.
__ADS_1
Hantu perempuan itu sudah berada di samping Dita dan berbisik kepadanya.
"Mas tunggu, boleh pinjem buku sama pulpennya?" Dita menghampiri salah satu tenaga medis.
"Mbaknya mau minta nomer telpon saya ya?" ucap mas itu sambil menyentuh rambut depannya yang klimis itu dan membawanya ke arah belakang.
"Ih pede... kocak...!! saya mau tulis sesuatu."
"Oh bilang terus terang juga gak papa kok mbak, nih." petugas medis itu menyodorkan pulpen dan buku note kecil dari sakunya.
Tolong kasih tau keluarga korban kalau mereka sudah menikah, mereka minta maaf terpaksa harus kawin lari, dan pastikan mereka di kubur berdampingan di area TPU Bukit Ayu di kampung halaman keduanya.
"Nih mas, tolong ya mas ini amanat dari kedua nya."
"Kok mbak tau ja-ja-jangan jangan mbak liat mereka yah."
"Katakanlah seperti itu, tolong urus jenasah mereka dengan baik ya mas."
Dita berlalu meninggalkan petugas medis yang masih celingukan mencari sosok para hantu, petugas itu takut hantu mereka mengikutinya.
"Udah Ta?" ucap Anita menepuk bahu Dita.
"Udah beres, tuh mbak sama masnya senyum Nit." tunjuk Dita ke arah hantunya dua korban tabrak lari Supir truk tadi.
"Kabur Nit, kabur...!!" Dita berlari menuju mobil yang sedari tadi menunggunya di susul Anita yang malah mencapai mobil Anan lebih dulu.
***
Dita tertidur pulas di pundak Anan di kursi belakang. Begitu pula Tante Dewi yang tertidur pulas tapi tak tahu kalo dia bersandar pada tubuh Andri di kursi tengah. Shinta memperhatikan Anan dan Dita dari kaca spion.
Harusnya elo tuh gak usah ikut, hmmm liat aja gue bakal pepet terus Pak Manan.
Shinta mengepalkan kedua tinjunya ke lututnya dengan kesal.
Akhirnya mobil yang mereka tumpangi sampai di sebuah arena outbound dengan banyak permainan menantang penuh petualangan.
Laki-laki pemilik arena itu sudah berada di depan halaman bersama seorang perempuan yang memegang sebuah buku dan pensil, sepertinya perempuan itu adalah sekretarisnya. Di belakang mereka terdapat dua pria berbadan tegap seperti bodyguard yang siap menjaga tuannya.
"Selamat datang di Wahana Batu Raden." ucapnya sambil menjabat tangan Tante Dewi dan lainnya bergantian.
"Bagaimana Bu Dewi, suka dengan tempatnya?"
__ADS_1
"Suka banget Pak."
"Oh iya kalian akan menginap kan? rasanya hari mulai gelap tak mungkin kan kalian harus pulang malam-malam?"
"Tentu pak lelah rasanya tubuh kami dalam perjalanan tadi, jadi besok pagi saja kami pulang dari sini, disini juga ada penginapan kan?"
"Oh tentu saja, penginapan disini sangat nyaman, bagaimana kalau dua penginapan samping sungai itu saja udaranya segar pemandangannya indah pastinya."
"Boleh, boleh saya suka."
"Baiklah bagaimana kalau sekarang kita makan dulu saya sampai lapar sudah menunggu Ibu dari tadi."
"Oh maaf pak, tadi kita kejebak macet ada kecelakaan di jalan makanya agak lama sampai sini."
"Baiklah kalau begitu mari ikuti saya kita menuju ruang makan."
"Terima kasih banyak ya pak atas sambutannya ini."
Tante Dewi menyuruh Johan dan Joni untuk mengangkat barang bawaan Tante Dewi menuju kamarnya.
"Perasaan cuma nginep semalem, lah ini bawaanya koper gede." gerutu Joni.
"Iya yak, kita aja bawa ransel kecil doang ini koper, dasar cewek."
"Heh kerja yang bener jangan pada ngomel aja." sahut Shinta.
"Jadi ini cuma dua kamar gitu?" tanya Joni.
"Ya gue rasa gue bertiga sama Bu Dewi sama Dita, kalian berdua sama pak bos lagian lumayan gede kok bukan kamar rumah kecil gitu deh."
"Elo pernah kemari Shin?" Tanya Johan.
"Enggak, gue liat di situs nya."
"Oh, kirain pernah ke sini." ucap Johan.
"Dah yuk masuk!" Shinta melangkah menuju ke dalam rumah Pak Untung.
***
To be continued...
__ADS_1
Happy Reading 😘😘😘