Pocong Tampan

Pocong Tampan
Musim Kedua - Akhir dari Ratu Masako


__ADS_3

Dear readers tersayang... Jangan lupa sebelum membaca di Like and komentar di babnya. Kalau sudah habis membaca jangan lupa juga buat Vote pakai poin kalian buat dapetin Giveaway dari Vie.


Sssttt... bocoran Giveaway dari Vie nih...


(Totebag PoTam, Hand gel sanitizer dan Masker kain. Semuanya hadiah ekslusif dari dana Vie pribadi lho.)


Caranya.... kirim poin kalian buat Vote sebanyak-banyaknya... Poin ya jangan Koin dan follow instagram @vie_junaeni.


Terima kasih and Happy Reading. 😘😊


*******


Pia mengejar Pak Herdi yang berada di tubuh Anan. Namun, saat Pak Herdi sudah berada di depan pintu ruang pemujaan tersebut, ia lupa kalau ia berada di tubuh Anan sehingga tidak bisa menembus pintu tersebut.


"Aduh... kepalaku sakit!" pekik Pak Herdi.


Lalu ia berusaha keras mendobrak pintu tersebut, akan tetapi tubuhnya tak cukup kuat. Pia mulai mendekat ke arah Pak Herdi. Ia menyembunyikan sesuatu di balik tubuhnya.


Kedua mata Pak Herdi mulai waspada, ia mencari benda-benda sekitar yang dapat melawan Pia. Ia lepas kedua sepatu Anan dan ia coba gunakan sebagai senjata.


"Mundur gak! atau saya lempar kamu pakai sepatu kulit ini, tebel ini lumayan kalau sampai muka kamu," ancam Pak Herdi yang bersiap melempar sepatu itu pada Pia.


"Tunggu, Pak Anan, ini kuncinya, aku sudah muka dikendalikan oleh Ratu Masako," ucap Lia menyerahkan kunci ruang tersebut.


"Lalu kenapa kau menjadi abdinya?" tanya Pak Herdi.


"Dia berjanji akan menolong suamiku, tapi nyatanya aku tertipu, dia membunuh suamiku, dan kemarin dia membunuh Miss Suzuki, aku yakin dia juga akan membunuhku," ucapnya.


"Makanya udah tau Ratu Iblis masih juga kamu percaya, sini kuncinya!" Pak Herdi meraih kunci di tangan Pia.


"Lalu bagaimana ya memusnahkan ruang pemujaan ini?" gumam Pak Herdi.


"Kita coba bakar, aku ambil dulu pemantik dari dapur, sebentar Pak."


Pia segera bergegas meraih pemantik api di dapur.


Saat ia mengendap menuju dapur menyembunyikan dirinya dari Ratu Masako, terlihat kilatan sinar hitam dan ungu sedang beradu melakukan perlawanan.


Blast!


Hampir saja, Pia terkena kilatan sinar ungu yang mengarah padanya.


Brak!


Ratu Masako menghantam meja makan besar dan menghancurkannya.


"Kurang ajar kau Ungu... rasakan ini, hiyaaaa!" Teriakan Ratu Masako menggema di ruang makan tersebut.


Pia bergegas menuju Pak Herdi setelah ia dapatkan pemantik api tersebut.


Ratu Kencana Ungu sempat melirik ke arah Pia, namun saat dia lengah Ratu Masako berhasil menghantam dada Ratu Kencana Ungu.


"Aarrgghh...!"


"Kau rasakan itu Ungu! akuilah tenagamu mulai menipis, dan kini aku bisa menghabisimu dan juga titisanmu ini, lalu aku akan memakai tubuh suaminya saja untuk mediaku, bagaimana?"

__ADS_1


Ratu Masako makin mendekat ke arah Ratu Kencana Ungu yang masih kesakitan memegangi dadanya.


Tiba-tiba, tubuh bagian bawah Ratu Masako mendadak berubah menjadi asap hitam.


"Lihat, siapa kini yang kalah..." ucap Ratu Kencana Ungu dengan lirih.


"Tidak, bagaimana bisa, bagaimana bisa ini terjadi, Piaaaaaaaaaaaa...."


Asap hitam itu makin lama makin naik menyelimuti tubuh Ratu Masako.


"Kau tak akan pernah bisa kembali," ucap Ratu Kencana Ungu.


Blar!


Dengan kekuatan terakhirnya Ratu Masako menghantam Ratu Kencana Ungu sampai terpelanting.


"Kau juga tak akan bisa kembali."


Ratu Masako lalu menghilang untuk selamanya.


"Akhirnya bisa juga ruangan ini kita bakar, hahaha..." ucap Pak Herdi.


"Pak, tapi kalau kalau ruangan ini terbakar, berarti bisa menyebar ke seluruh ruangan dong, Pak. Bahkan satu rumah," sahut Pia.


"Ia dong, kamu benar jadi kebakaran."


"Jadi, Pak..." Pia menatap Pak Herdi di tubuh Anan.


"Kebakaran Pia, kebakaran... Kamu bantu saya tolong Dita sama Dewi di sana tadi."


Asap mulai menyelimuti rumah besar tersebut. Pak Herdi lalu membopng tubuh Dita yang sudah tak berdaya. Sementara Pia mencoba menyadarkan Tante Dewi. Setelah wanita itu bangun, Pia membantu Tante Dewi berjalan dengan memapah tubuhnya. Mereka berusaha mencari jalan keluar rumah besar yang dulunya milik Tuan Arjuna.


Pak Herdi akhirnya berhasil membawa Dita keluar dari rumah dan kini ia berada di luar gerbang dengan keletihan melanda. Ia turunkan tubuh Dita di tepi jalan. Untungnya Pia juga berhasil keluar memapah tubuh Tante Dewi yang masih lunglai.


"Uhuk... uhuk... Anan kamu sama Dita enggak apa-apa kan?" tanya Tante Dewi.


Tiba-tiba tubuh Anan jatuh ke atas aspal karena Pak Herdi mulai keluar dari tubuh Anan.


"Anan, Anan? duh gimana ini dia pingsan... Coba Pia kamu bangunkan Dita!" pinta Tante Dewi dengan nada panik.


"Baik, Bu."


Setelah Pia berusaha menyadarkan Dita dengan menepuk pipinya, Dita tak kunjung sadarkan diri begitu juga dengan Anan. Kepanikan mulai melanda seiring dengan tangisan yang mengalir begitu saja dengan derasnya di kedua mata Tante Dewi.


Pak Herdi juga berusaha menyadarkan Dita dan Anan tapi ia tak mampu. Ia juga berusaha mencari sosok Ratu Kencana Ungu yang entah kemana.


"Bagaimana ini?" keluh Pak Herdi.


Sesaat kemudian tak jauh dari tempat Dita dan Anan tergeletak. Sorotan lampu mobil menyilaukan kedua mata Pia dan Tante Dewi.


"Kamu berhentiin mobil itu, Pia!" perintah Tante Dewi.


"Siap, Bu!"


Pia bergegas merentangkan kedua tangannya menghentikan mobil tersebut.

__ADS_1


Ternyata memang mobil itu berniat berhenti di depan rumah besar yang terbakar itu. Hawa panas menyeruak kala seseorang turun dari dalam mobil.


"Tante Dewi..." pekik Tasya dan Anta bersamaan.


"Astagfirullah, apa yang terjadi?" tanya Doni.


"Nanti aja ceritanya, sekarang angkat Dita sama Anan ke dalam mobil, kita bawa ke rumah sakit, lalu kamu hubungi pemadam kebakaran, kita ke rumah sakit sekarang!"


Tanpa menahan waktu Doni dan Tasya bergegas mengangkat tubuh Anan dan Dita bergantian dan memasukkannya ke dalam mobil. Mereka bergegas menuju ke rumah sakit meskipun berhimpitan.


Doni berusaha mengeluarkan ponsel-nya dan menghubungi pemadam kebakaran untuk bergegas menuju rumah besar tersebut.


"Kamu kok tahu kita di rumah itu, Don?" tanya Tante Dewi.


"Tadi, aduh sempit nih, kita ke rumah sakit cari Miss Suzuki taunya kita dikasih alamat sini, dan ternyata aku ingat dong ini alamat rumah Ibu yang lama," jawab Doni.


"Ini juga berkat Anta, dia nangis minta ketemu Yanda sama Bundanya," sahut Tasya.


"Kamu kenapa nangis, Anta?" tanya Tante Dewi pada Anta yang kini duduk di pangkuannya.


"Anta sedih, pokoknya Anta mau ketemu sama Yanda sama Bunda," sahut Anta yang menyeka air matanya berkali-kali.


Tasya dan Tante Dewi saling berpandangan, entah kenapa perasaan mereka mulai kalut dan galau. Ada kesedihan yang langsung menghinggapi mereka seiring perjalanan mereka menuju rumah sakit. Tasya membelai wajah Dita seraya menahan tangisnya. Namun, air mata itu memaksa keluar dan menetes ke pipi Dita.


Sementara di kursi belakang Doni juga melakukan hal yang sama dengan tubuh Anan.


"Aku mohon, bertahanlah, Pak Bos..." lirih Doni.


Pak Herdi yang duduk di samping Doni juga mengamati tubuh Anan yang kakinya dia pangku.


"Menyan... saya yakin kamu bisa bertahan bersama Dita," ucapnya.


*******


Masih bersambung ya, menuju END di musim kedua ini.


Kenapa mau selesai alias tamat?


Besok akan Vie jawab bersama episode terakhirnya.


Stay safe, stay health buat semuanya. Jangan lupa selalu cuci tangan dan pakai masker kalau ke luar rumah.


Mampir juga ke :


- 9 Lives


- Diculik Cinta


- With Ghost


- Forced To Love


- Kakakku Cinta Pertamaku


Vie Love You All... 😘😘

__ADS_1


__ADS_2