
Sebelum membaca jangan lupa ya di Like, Vote, and rate bintang lima ya...
Happy Reading 😊😊😊
******
Anan mencoba mengintip ke dalam dapur, dirinya malah tak jadi takut saat melihat Pak Herdi di peluk hantu wanita itu. Anan malah menertawakan Pak Herdi yang kesusahan melepas pelukan si Michin.
Setelah berhasil melepas pelukan Michin, pak Herdi segera kabur menghilang di ikuti hantu perempuan itu yang mengejarnya.
"Hahahaha... itu lucu banget sih bunda," ucap Anan.
"Iya emang hahahaha," sahut Dita.
Ponsel Dita berbunyi.
"Dita....telpon nih," Tante Dewi memanggil Dita.
"Iya, aku kesana," sahut Dita.
"Erik... halo kenapa pak?" tanya Dita mengangkat sambungan teleponnya.
"Dewa sadar Ta, bisa segera kesini," pinta Erik.
"Syukurlah, oke pak, saya kesana," sahut Dita.
"Kenapa bun?" tanya Anan.
"Dewa sadar yanda, kita harus segera ke rumah sakit nya," jawab Dita.
"Oke, sekarang kita kesana," ucap Anan.
"Eh tunggu, Anta gimana?" tanya Tante Dewi.
"Jagain dulu ya tante, aku mohon ya..." ucap Dita.
"Gak mau ah, tadi kan katanya ada hantu."
"Udah pergi si Michin ngejar pak Herdi."
"Michin?" tanya Tante Dewi heran.
"Iya namanya Michin, itu lho yang tante bilang minum obat racun serangga karena di tinggal suaminya," jawab Dita.
"Astaga... jadi dia beneran jadu hantu gitu?"
"Iya, sekarang dia ngejar Pak Herdi katanya mirip suaminya Joon, hahahaha," ucap Dita.
"Tetep aja tante gak mau ya, Tante takut..."
Suara ketukan pintu mengejutkan ketiganya. Dita membuka pintunya. Tasya berserta Om Kevin dan Doni datang membawa banyak kantung belanja di tangannya.
"Nah kebetulan nih udah pada dateng, Sya jagain Anta ya, sekalian beresin, minta tolong tante Dewi dan lainnya," pinta Dita.
"Baru pulang Ta, ini saya bawa makanan, kita makan bareng," ucap Tasya.
"Aku sama Anan makan di luar aja, kita buru-buru tadi pak polisi Erik kasih tau kalau Sadewa sadar," ucap Dita.
"Oh... ya udah hati-hati," ucap Tasya.
Dita dah Anan segera pamit dari hadapan semuanya.
"Siapa sih dewa?" tanya Doni.
"Saya ceritain sembari makan yuk," ucap Tasya.
"Anta mau di bangunin gak?" tanya Tante Dewi.
__ADS_1
"Nanti nyium bau makanan juga Anta bangun," Tasya membuka kotak makanan berisi mie goreng udang di tangannya.
"Tante, Anta laper..." ucap Anta dari balik pintu kamar beberapa menit kemudian.
"Tuh kan apa aku bilang," ucap Tasya.
"Wah iya bener juga hahahaha," ucap Doni menghampiri Anta dan menggendongnya ke arah meja makan.
***
Dita sampai di rumah sakit tempat Dewa di rawat bersama Anan. Erik dan kawannya sudah menyambut Dita di depan kamar Sadewa.
"Silahkan masuk!" ucap Erik.
"Dita... Anan..." sapa Erik dengan wajah sumringah menyapa Dita.
"Hai kamu enggak apa-apa?" tanya Dita.
"Aku enggak apa-apa tapi masih agak pusing sih," jawab Dewa.
"Wa, ada yang gue mau omongin sama elo soal temen band lo," ucap Anan.
"Joy sama Ego?" tanya Dewa.
"Iya siapa lagi, kan emang temen lu cuma mereka, dan asal elu tau kalau kita curiga mereka yang mau bunuh kamu, makanya kamu dijaga polisi seperti ini," ucap Anan.
Raut wajah Dewa berubah seketika.
"Ada yang ingin membunuhku?" tanya Dewa.
"Iya, dan waktu itu aku sempet ketemu dua teman kamu itu dari kamar kamu, mereka mencurigakan," tukas Dita.
Wajah Dewa tampak sedih bercampur takut.
"Ada yang kamu sembunyikan dari kita?" tanya Dita.
"Perempuan yang mana?" tanya Anan.
Dewa melirik ke arah polisi Erik yang ternyata sudah berada di luar bersama kawannya.
"Malam itu, sepulang kami mengisi acara, kami mabuk dan bertemu siswi SMA Matahari yang pulang larut malam, entah kenapa malam itu Joy dan Ego kelewat batas," ucap Dewa menjelaskan dengan raut wajah yang sedih.
"Apa yang kalian lakukan?" tanya Dita penuh ingin tahu.
"Aku udah mencoba untuk melarang tapi si Ego mendorongku sampai kepala aku terbentur, lalu aku pingsan," jawab Dewa.
"Apa yang Joy dan Ego lakukan dengan gadis itu jadinya setelah kamu pingsan?" tanya Anan.
"Aku curiga mereka memperkosa gadis itu, dan entah apa yang terjadi pada gadis itu sekarang, apa masih hidup atau sudah mati," ucap Dewa.
"Astagfirullah... jadi ada kemungkinan mereka berusaha membunuh kamu supaya kamu gak buka mulut?" tanya Dita dengan perasaan sangat cemas.
"Ya... kami sedang menggarap rekaman dan akan segera debut, Joy takut image band kami akan jelek dan merusak debut jika peristiwa itu sampai terkuak, mereka berusaha mengancam aku, tapi bayangan rasa bersalah itu terus saja menakutiku," ucap Dewa.
"Sampai sekarang elu gak tahu kabar kondisi gadis itu?" tanya Anan.
"Aku enggak tahu, dan hari itu hari di mana kita cari cincin nenek aku sempet mau cari keberadaan gadis itu ke kantor polisi, tapi aku tertabrak," sahut Dewa.
"Apa jangan-jangan kecelakaan itu juga di sengaja, karena mereka takut kamu akan melaporkan perbuatan bejat mereka ke kantor polisi?" Dita duduk di kursi samping ranjang Dewa.
"Entah lah."
"Kalau gitu elu harus menceritakan perbuatan mereka ke Erik, supaya mereka juga bisa melindungi elu dari kejaran Joy dan Ego," ucap Anan.
"Tapi kita udah tanda tangan debut sama pihak label, kalau sampai kita gak jadi debut, aku harus ganti rugi," ucap Dewa.
"Kalau polisi menangkap Joy dan Ego, selama kamu gak keluar dari label, kamu cari personil baru aja, bilang sama manajer kamu jadi kamu tetap debit dengan anggota baru tanpa melanggar kontrak," ucap Dita memberi saran.
__ADS_1
"Baiklah aku akan coba hubungi manajer di label, dan aku akan coba memberi laporan tentang Joy dan Ego," ucap Dewa.
"Ya udah kalau gitu, cepat kamu bicarakan sama Pak Erik, aku sama Anan pamit aja kalau gitu, nanti kalau ada perkembangan lebih lanjut kamu telpon aku atau Anan ya, di nomor ini," Dita mengeluarkan buku catatan kecil dan pulpen yang di selipkan di sisi buku yang selalu ia bawa dalam tasnya.
Dita tuliskan nomor telepon Anan dan dia di sana.
"Ini kamu simpen," ucap Dita menyerahkan secarik kertas pada Dewa.
"Oke Ta, oh iya makasih ya, aku tadi tanya ke suster kalian sudah menanggung biaya perawatan ku ya?" tanya Dewa.
"Iya," sahut Dita.
"Makasih ya sekali lagi, tanpa kalian aku mungkin udah mati, oh iya nanti aku ganti semua biaya perawatan aku kalau aku udah debut ya," ucap Dewa.
"Tenang aja, aku catet semua biaya selama kalau dirawat kalau begitu hehehee..."
"Berikut bunga juga enggak apa Ta," ucap Dewa.
"Sembarangan kamu pikir aku rentenir apa?!" ucap Dita agak kesal.
"Ya kali Ta hehehe, oh iya kalian sudah menikah ya?"
tanya Dewa saat melihat cincin yang sama di jari Anan dan Dita.
"Iya kami sudah menikah," Anan merangkul Dita.
"Hahahaha selamat ya, pasti kamu takut Dita aku ambil ya?"
"Tapi emang sebenarnya gue udah nikah kok sama Dita udah punya anak malah," sahut Anan dengan bangganya membuat Dewa melongo keheranan mendengarnya.
"Nanti kapan-kapan aku jelasin, aku sama Anan pamit ya, kamu ceritain semua tuh ke pak Erik," ucap Dita lalu dia dan Anan pamit dari hadapan Dewa.
***
Berhubung hari mulai malam, Anan dan Dita yang kelaparan memasuki sebuah mall yang masih satu perusahaan dengan sekolah dan rumah sakit Matahari corporation.
"Yanda, kaya ada yang aneh deh dengan mall ini, agak sepi gimana gitu?" ucap Dita saat berada di tangga eskalator naik sambil merangkul pinggang Anan.
"Kita beneran masuk mall kan ya?" Anan bertanya balik.
"Iya tapi kau tenang banget ya, udah gitu mbak-mbak spg nya mukanya pada pucat, jangan - jangan mereka..."
Dita menoleh pada Anan. "Hantu..." ucap Anan bersamaan dengan Dita.
"Kita turun aja yuk gak jadi naik terus kita keluar," ucap Anan menarik tangan Dita lalu menuruni tangga eskalator.
Tiba-tiba sebuah benda jatuh menggelinding dari atas melewati kaki Anan.
"Apaan tuh Bunda?" pekik Anan yang terkejut merasakan sesuatu mengenai kakinya.
Benda yang ternyata kepala manusia itu berbalik arah memperlihatkan wajahnya yang tersenyum ke arah Dita dan Anan.
"Ayo kabur bunda....!!!" Anan menarik Dita dengan paniknya menuju pintu keluar mall.
****
Bersambung ya, hayo abis baca jangan lupa bayar pakai VOTE ya...
Jangan lupa main ya ke cerita ku lainnya.
- WITH GHOST
-Â Â Â Â Â Â Â Â Â Kakakku Cinta Pertamaku (Season 2)
-Â Â Â Â Â Â Â Â Â 9 Lives (END)
-Â Â Â Â Â Â Â Â Â Gue Bukan Player
__ADS_1
Vie Love You All 😘😘😘