Pocong Tampan

Pocong Tampan
END - The Last Of Aiko


__ADS_3

Sebelum membaca jangan lupa ya di Like, Vote, and rate bintang lima ya... Jangan bosen bacanya ya...


Happy Reading 😊😘


*****


Dua ajudan Aiko mengikat Dita di kursi makan samping tante Dewi.


"TIDAK.......!!!!"


Tante Dewi berteriak sekuat tenaganya.


Pak Herdi berusaha melompat mendorong tubuh Aiko sampai menjatuhkan belati di tangannya.


Semua mata terkejut melihat Aiko yang jatuh dengan sendirinya terkecuali Dita dan Aiko yang bisa melihat penampakan Pak Herdi.


"Kurang ajar kau...!"


Aiko mencoba bangkit lalu meraih botol dalam sebuah laci dan memasukkan Pak Herdi ke dalamnya.


"Assalamualaikum Dita... Dita..." suara Tasya datang dari arah pintu utama rumah besar milik Arjuna.


"TASYA LARI...!!!" Dita berusaha berteriak sekuat tenaganya mencegah tasya masuk.


"Kalian urus tamu kita!" perintah mami Aiko pada ajudannya.


Aiko kembali melanjutkan keinginannya untuk memasukkan Pak Herdi ke dalam botol yang ia pegang.


"LEPASKAN...! LEPASKAN DIA...!" pekik Dita.


"Lepaskan? kau pikir aku akan membiarkan penjagamu lepas hahaha. Kau ini hebat juga ya bisa mempunyai penjaga hantu, oh iya aku harus bersiap kau kan masih punya hantu perempuan yang bisa menjagamu," ucap Aiko yang sudah berhasil memasukkan Pak Herdi dalam botol lalu ia menutupinya.


"Maksud mami?" tanya Dita heran.


"Hantu perempuan yang ada di hari pernikahan mu waktu itu... Nah persis seperti dia."


Aiko menunjuk Tasya yang tertangkap oleh dua ajudannya.


"Tasya kamu ngapain kesini sih aku kan suruh kamu sembunyi sama Shinta," Ucap Dita dengan tangan masih terikat.


"Tuh kan bener perasaan saya gak enak, ternyata kamu kenapa-napa," sahut Tasya.


Aiko mendekati Tasya dan dengan sengaja menyayat tipis kulit lengan gadis itu.


"Awwwww..." pekik Tasya.


"Kau manusia?" tanya Aiko.


"Iyalah aku manusia, sakit tau!"


Tasya meniup luka sayatan di lengan atasnya karena terasa perih.


"Oh aku tau, apa jangan-jangan kalian kembar ya?"


Aiko tertawa menyeringai dengan tatapan jahatnya.


"Kembar apaan sih, saya tuh gak punya kembaran sadako!" sahut Tasya asal karena teringat dengan film seram Sadako yang pernah ia tonton bersama Doni.


"HEH namaku Aiko, puteri Aiko."


Aiko mendekatkan belati di tangannya ke pipi Tasya.


"Ih muka serem mirip sadako gitu ngaku-ngaku puteri cih." sahut Tasya dengan wajah ketusnya.


"Wah aku suka dengan gadis ini."


Aiko menyobek perut Tasya dengan belatinya.


Dua ajudan itu melepas tangan Tasya, lalu tangan kanan Tasya menyentuh perutnya yang mulai mengeluarkan darah segar.


"Kau suka itu nak? Hahahhaha aku suka itu!" Aiko tertawa dengan puas .


Tasya menatap telapak tangan kanannya yang penuh darah, lalu ia menatap ke arah Dita, kemudian ia tersenyum dan tergeletak tak sadarkan diri.


"TASYA...!!!"


Teriakan Dita terdengar sangat memilukan menyayat kalbu yang mendengarnya. Sang sahabat tergeletak tak berdaya di lantai.


"Bawa dia...!"


Aiko memberi perintah pada Pia yang segera menarik lengan Tasya dan menyeretnya ke belakang.


"Pia... Pia.. tolong Pia sadarlah... itu Tasya Pia temen kamu, tolongin Tasya Pia please...," ucap Dita menoleh pada Pia agar sadar dan menolong Tasya. Pandangan Pia kosong dan tak menggubris permohonan Dita. Pia terus menarik Tasya ke arah teras belakang.


Dita mencoba mencari Doni namun tak juga ia temukan karena Dita sempat berpikir semoga Doni mengikuti Tasya ke rumah itu.


Tante Dewi juga ikut menangis kala melihat Tasya yang di tarik oleh Pia.


"Kau tunggu kejam Aiko, kau kakak ipar yang pernah ku kagumi ternyata berhati iblis...!"


Tante Dewi membentak Aiko dengan perasaan penuh amarah.


"Hei sudah ku bilang Aiko kakak iparmu itu tidak kejam, karena kekejaman hanya ada padaku hahahaha." Tawa Aiko jahat menggelegar di seluruh ruangan.


Aiko melepas ikatan Dita dan menariknya ke arah altar persembahan di samping tubuh Om Kevin.


"Ikut aku...!" ucap Aiko memerintahkan Dita.


"Aku enggak mau...!" Sahut Dita.


Tapi Aiko yang jahat itu tak mau mendengarkan.


"Aku ingin membawamu menemui Ratu Masako," ucapnya.


Aiko yang jahat membawa Dita masuk ke dunia Ratu Masako. Dunia yang persis sama saat Dita bertemu Ratu Masako.


Aiko mendorong Dita jatuh ke lantai.


"Berikan salam hormatmu kepada Ratu Masako!"


Aiko yang jahat memerintahkan Dita untuk berlutut dan mencium kaki Ratu Masako yang sedang berdiri si hadapan Aiko.

__ADS_1


"Idih enggak mau, nanti kalau kakinya bau gimana? aku jijik... hiyyy..." Sahut Dita.


"Kau ini ya..."


"Sudah hentikan, biarkan saja, kau lihat kan anak ini memang menyenangkan dan aku sudah menyukainya," ucap sang ratu mengulurkan tangannya mencoba membantu Dita berdiri.


"Gak usah makasih, aku bisa berdiri sendiri."


Tiba-tiba sinar ungu datang memancar menghujani Ratu Masako dan Aiko.


Duaarrr... Duarrr...


Seseorang datang melindungi Dita. Wajahnya bersinar bagaikan malaikat yang turun dari langit untuk menyelamatkannya. Pantulan sinar ungu terus berkilauan membuat Dita kesulitan untuk mengenali wajah pria yang memeluknya itu. Akan tetapi, Dita dapat mengenali aroma tubuh pria yang mendekapnya itu.


"Yandaku sayang...,"


ucap Dita lirih saat berada di dekapan pria itu.


"Anan di belakang mu!"


Ratu Kencana Ungu berteriak ke arah Anan yang segera memukul wanita di belakangnya secara spontan dengan keras. Aiko jatuh tersungkur ke lantai dan tak sadarkan diri.


Ratu Kencana Ungu kini bertanding melawan Ratu Masako dengan sinar yang terpancar dari keduanya dan saling memantul. Sinar yang keluar dari mereka sangat menyilaukan sampai Dita tak bisa melihat jelas apa yang sedang terjadi.


"Bunda sehat?" tanya Anan dengan memamerkan wajah tampannya yang tersenyum senang.


Plak...! Dita menampar pipi Anan.


"Sakit bunda, aduh...!"


Anan mengusap pipi kanannya yang memerah karena tamparan Dita.


"Kamu tuh kemana aja, aku tuh frustasi tau gak tanpa kamu, kamu ngilang gitu aja gak ada kabar, kamu tahu yanda, apa yang kamu lakukan itu jahat...!"


Ucap Dita sambil memukul dada Anan berkali-kali dan menangis.


"Maaf bunda, maaf banget, aku gak bisa keluar dari dunia ini, aku gak bisa nemuin kamu di dunia nyata, padahal aku tuh selalu mandangin kamu dari dunia ini," ucap Anan menyentuh kedua pipi Dita dan mengusap air mata yang jatuh berlinang dari pipinya.


"Kamu jahat yanda kamu jahat, aku tuh gak bisa hidup tanpa kamu tahu gak!" Dita masih terus memukul dada Anan.


"Iya maafin aku, sayangnya aku, cantiknya aku, maafin aku." ucap Anan.


Tiba-tiba kaki Anan dipegang oleh Aiko yang terbaring di lantai.


"Astaga bangun-bangun makan nasi sama ayam bakar, ih si mami ngagetin Anan aja."


Anan mencoba meraih tubuh mami Aiko yang baik hati dan memeluknya.


"Maafin mami ya Nan, anak ganteng macannya mami, mami gak bisa kendalikan kepribadian mami yang lain, maafin mami."


Aiko menangis sejadi-jadinya di pelukan Anan.


"Maafin mami juga ya Ta, mami tau mami salah sangat bersalah," Aiko menoleh pada Dita yang mengangguk tersenyum.


Boom...!!!


Kilauan yang besar kini menyebabkan bunyi dentuman yang besar. Membuat semuanya terpental tapi Anan berhasil melindungi Dita dari benturan.


"Akuilah kau telah kalah, dan pergilah dari dunia ini ke dalam dunia kegelapanmu!" Ratu Kencana Ungu mau memberi serangan terakhir namun Ratu Masako menahannya.


"Tunggu, aku punya hadiah sebelum aku pergi," ucap Ratu Masako.


Ratu Masako membuat lubang kegelapan terbuka yang membuat lubang itu mencoba menyedot Aiko, Anan dan Dita.


"Maafin Mami ya macan... Maafin Mami ya Dita..." Aiko tak bisa menahan hisapan lubang hitam yang dibuat Ratu Masako.


"MAMI....!!!"


Anan berteriak sekuat tenaga saat mami Aiko menghilang, namun tetap tak bisa mengembalikan Aiko. Ratu Kencana Ungu dengan sisa tenaga terakhirnya menutup lubang tersebut menyelamatkan Dita dan Anan dari lubang hitam tersebut.


"Yanda..."


Dita memeluk Anan dengan erat.


"Sekarang bunda balik ya, aku cuma bisa nganterin kamu balik ke dunia nyata dari sini," ucap Anan.


"Aku gak ngerti, maksud yanda apa?" tanya Dita mengguncang kedua bahu Anan.


"Aku harus pergi, waktu ku sudah habis di dunia nyata, Ratu Kencana Ungu hanya bisa menahanku sebentar di dunianya, tapi tetap saja dia tak bisa melawan takdir untuk mengambilku," ucap Anan dengan buliran bening yang menetes dari kedua matanya tanpa ia bisa tahan lagi.


"Enggak...! yanda gak boleh pergi...! Ratu tolongin Dita aku mohon, ratu pasti bisa menolong aku kan?" Dita menoleh pada sang Ratu Kencana Ungu yang tak sanggup menahan Dita. Air matanya juga mengalir membasahi pipinya. Sang ratu menggeleng dengan lemah.


"Maaf Ta, aku gak bisa," jawabnya lirih dengan nada yang sedih.


"RATU JAHAT...!!! Anan gak boleh pergi, kamu gak boleh pergi yandaaaaaaaa huhuhuhu aku gak bisa hidup tanpa kamu yandaaaaaaa."


Dita memeluk tubuh suami tercintanya itu dengan tangisan pilu yang tak bisa Dita tahan lagi.


Anan mencium kening Dita, lalu mencium kedua kelopak mata yang menangis itu, lalu kedua pipi istrinya itu, lalu hidungnya dan terakhir memberi Dita dengan ciuman yang sangat mesra. Anan memagut bibir Dita dengan penuh cinta dan mencurahkan seluruh kasih sayangnya.


"Maaf bunda, aku harus pergi."


Anan melepas pelukannya dari Dita, dan perlahan-lahan melepas genggaman tangan Dita yang tak mau terlepas. Wajah tampannya basah penuh air mata, lalu ia tersenyum pada Dita untuk terakhir kalinya.


"I love you..."


Ucap Anan lalu menghilang dalam kabut.


"ANAAAAAAAAAANNNNN...!!!"


Teriakan Dita membuatnya jatuh tak sadarkan diri di pangkuan Ratu Kencana Ungu.


Semenit kemudian, Dita sudah berada di dunia nyata di depan altar persembahan.


"Angkat tangan...!"


Kapten Jihan datang dengan pasukannya menyerbu rumah besar milik Arjuna, karena Doni tadi sempat kabur dan langsung menuju kantor polisi memberitahukan semua yang dia lihat pada Kapten Jihan.


"Panggil ambulance sekarang!"


Kapten Jihan memberi perintah pada anak buahnya saat melihat Dita dan Om Kevin tergeletak.

__ADS_1


Anak buah kapten Jihan lainnya menangkap dua ajudan Aiko yang ternyata nyonya Miyako dan adiknya. Polisi lainnya membebaskan Tante Dewi.


"Nyonya Dewi, maafkan saya, nyonya Aiko membunuh Diki adik saya huhuhuhu..." Bu Mey menangis di pelukan Tante Dewi.


"Saya tau Bu, kak Aiko mengendalikanmu," sahut Tante Dewi yang mengerti dengan keadaan yang terjadi pada Bu Mey.


"Lalu dimana nyonya Aiko?" tanya Kapten Jihan.


"Hanya Dita yang tau apa yang terjadi di dalam sana," sahut Tante Dewi menunjuk altar tempat Aiko membawa Dita masuk tadi.


"Di dalam sana? tapi tak ada apapun di sana," ucap Kapten Jihan merasa heran dan aneh.


"Ada kapten, nanti biar Dita yang jelaskan saat ia sudah sadar."


Tante Dewi menepuk bahu Kapten Jihan.


"Aaaaaaaaaaa....!!"


Terdengar suara teriakan dari arah belakang yang membuat Tante Dewi, Doni dan Kapten Jihan serta beberapa polisi menuju ke arah datangnya suara.


Pia menangis ketakutan melihat Tasya bersimbah darah di sampingnya.


"Tasya kenapa nyonya, dia kenapa?"


Tanya Pia dengan wajah panik.


"TASYA...!!!"


Doni berteriak saat melihat tubuh Tasya tergeletak di samping Pia.


"Tasya masih hidup, cepat bawa Tasya ke ambulance kapten," ucap Doni dengan panik.


"Yang ini juga sepertinya sama dengan Bu Mey, dia tak ingat dengan kejadian barusan karena terpengaruh dengan hipnotis Aiko," ucap Tante Dewi menjelaskan.


"Apa yang terjadi?" Om Kevin yang sudah sadar datang langsung menghampiri Dewi Istrinya.


"Mas..." Dewi langsung memeluk suaminya itu.


Rumah besar milik Arjuna di beri garis polisi untuk di amankan sementara oleh Kapten Jihan.


Dua ambulance datang lalu membawa Dita, dan Tasya. Tante Dewi dan Om Kevin masuk ke dalam ambulance untuk menemani Dita. Sementara Doni masuk ke ambulance satunya untuk menemani Tasya.


"Do...doni..."


Ucap Tasya perlahan-lahan dengan suara pelan.


"Tasya sayangnya aku...hu..hu.. aku pikir kamu mau ninggalin aku," ucap Doni memeluk Tasya.


"Aww... sakit Don..."


"Eh maaf Sya maaf..."


Tasya lalu menutup kedua matanya.


"TASYA....!!!" teriak Doni mengagetkan suster yang berada di hadapannya.


"Apaan sih, orang mau tidur juga." Sahut Tasya.


"Kamu gak mati, kan?"


"Ya enggak lah nih masih hidup, awas tangannya sakit nih perut aku...!" ucap Tasya dengan nada ketus.


"Ho Oh nih mas nya lebay! orang lukanya gak dalam kok, gak bakal mati." Sahut suster sambil memeriksa Tasya.


"Ya tapi kan sus..."


"Udah ah diem! saya mau tiduran bentar!"


Sahut Tasya.


Kedua mobil ambulance tersebut melaju menuju rumah sakit milik keluarga Arjuna.


Di mobil ambulance tempat Dita berada.


"Apa yang terjadi Dewi, kepala aku tadi di pukul seseorang?" ucap Kevin pada istrinya sambil memegang kepala belakangnya


"Coba lihat kepala kamu sayang..."


Tante Dewi mengamati kepala belakang Om Kevin.


"Iya nih memar duh coba suster minta obat buat memarnya?" Tante Dewi mengulurkan tangan kanan meminta obat pada suster di hadapan mereka.


"Bentar bu coba saya carikan," sahutnya.


"Di cium juga sembuh Dew."


Tatapan mata nakal om Kevin menggoda Tante Dewi.


"Ih kamu mah mas, bisa aja sih." Tante Dewi memukul manja dada om Kevin.


"Ehm ehm ehm... maaf bu ini obat salep bisa untuk luka memar."


Suster tersebut menyerahkan salep berbentuk tube pada Tante Dewi yang wajahnya langsung merona menahan malu.


*****


Bersambung...


Jangan lupa main ya ke cerita terbaru ku


“WITH GHOST”


ramaikan disana.


Baca juga :


-          Kakakku Cinta Pertamaku


-          9 Lives


-          Gue Bukan Player

__ADS_1


Vie Love You All… 😊


__ADS_2