
Sebelum membaca klik like yak...
let's vote for me boleh yak ... apalagi koin seikhlasnya juga boleh banget yak... thank u so much... love u all... 😘😍😊
***
"Jadi kita jauh-jauh kesini ketemunya hantu lagi Nan?" bisik Dita.
"Ya mana kita tau kalo neneknya Adel udah jadi hantu." sahut Anan.
"Eh kalian harus lihat ke dalam rumah Adel deh." ucap Andri menepuk bahu Dita dan Anan.
"Kenapa Ndri?"
"Ibunya Adel dipukulin sama suaminya."
sahut Andri panik.
Anan dan Dita langsung menggedor pintu belakang rumah Adel.
"Kalian siapa? mau apa kerumah saya?" tanya seorang pria yang sepertinya berusia lebih muda dari ibunya Adel.
"Maaf ya pak, saya sepertinya mendengarkan ada keributan di dalam." ucap Anan yang melirik ibunya Adel sedang menangis disudut memegang pelipisnya yang memar.
"Bukan urusan kalian, pergi dari sini...!" bentak pria itu.
"Maaf ya pak, saya bisa telpon polisi atas tindak kekerasan yang bapak lakukan." sahut Dita.
"Oh tunggu sebentar dek, kita bisa bicarakan semua ini baik-baik, tidak ada tindak kekerasan hanya ribut kecil antar suami isteri aja kok." ucapnya mulai melunak.
Anan dan Dita saling berpandangan
"Boleh saya masuk pak? saya punya amanat dari Adel yang harus saya sampaikan pada ibunya." ucap Dita.
"Ada perihal apa ya, bisa lewat saya saja nanti saya sampaikan." ucap nya.
"Tapi saya harus bicara dengan ibunya, perihal neneknya Adel." Dita bersikeras untuk masuk.
Ada raut wajah terkejut dari wajah bapak itu mendengar ucapan Dita.
"Baiklah kalau begitu silahkan masuk, maaf nih lewat belakang." ucapnya mempersilahkan Dita dan Anan masuk.
"Perkenalkan saya Roni, bapaknya Adel." pria itu mengulurkan tangannya menjabat Anan dan Dita.
"Ngapain kamu disitu Bu, ayo cepet buatin minum." perintahnya.
"Itu istri saya Aminah mamanya Adel." ucapnya.
__ADS_1
"Pak saya mau numpang ke toilet ya pak." ucap Dita.
"Oh iya silahkan, ikut istri saya, toiletnya deket dapur, maaf rumah kami memang kecil jelek pula." ucapnya tersenyum.
Dita meninggal kan Anan di ruang an itu bersama Pak Roni.
"Ibu gak apa-apa?" tanya Dita pelan pada Bu Aminah.
"Gak apa apa neng." ucapnya menutupi luka di bahunya meski luka di pelipisnya tak bisa ia tutupi.
"Bu maaf saya boleh tanya?"
"Tanya apa neng, bukannya tadi mau pipis?" tanyanya sambil mengaduk gelas berisi teh panas.
"Gak jadi Bu, saya mau ngomong sama ibu soal Adel."
"Adel anak saya memangnya ada apa dengan dia, seminggu yang lalu jasadnya baru dikubur neng."
"Ibu percaya hantu?" tanya Dita.
"Maksudnya?"
"Adel gak tenang Bu, dia mau ketemu neneknya supaya dia bisa tenang."
"Kok saya mau ketawa ya neng dengernya."
"Iya kak." Adel datang dengan seorang nenek yang tersenyum pada Dita, tubuh nenek itu tak separah dan menyeramkan seperti tadi.
"Apa yang bisa buat mama kamu percaya kalau kakak bisa liat kamu Del?" tanya Dita.
"Mama suka simpan uang di bawah lemari kak biar gak ketauan bapak." sahut Adel.
"Oke, begini Bu kata Adel ibu suka simpan uang di bawah lemari biar gak ketauan bapaknya Adel."
Prang.....!!! gelas teh yang ibu buat untuk Dita dan Anan terjatuh dari tangannya pecah berantakan ke lantai.
"Ba ba bagaimana kamu tahu tentang hal itu?" tanya ibu Aminah terbata - bata.
"Kan saya sudah bilang Bu, saya bisa liat Adel dan dia ada disini sekarang bersama neneknya."
"Nenek? ibu saya?"
Dita menoleh ke nenek itu yang lalu mengangguk tersenyum ke arah Dita.
"Iya Bu nenek itu mengiyakan." ucap Dita.
"Bagaimana mungkin, ibu saya pulang kampung, suami saya sendiri yang mengantarkan." ucap ibu Aminah ada raut kepanikan di wajahnya.
__ADS_1
"Ada apa ini ribut-ribut?" Pak Roni membuka tirai yang menyekat dapur dan ruangannya.
"Pak, tolong jelaskan sama saya tolong jujur pak, kamu benar mengantar ibu pulang ke kampung atau enggak?" tanya ibu Aminah sambil menangis.
"Kan kamu tahu saya pesen tiket dua, terus saya anterin ibu kamu ke kampungnya, kenapa memangnya?"
"Anak ini bilang dia lihat hantunya Adel sama ibu mas."
"Hahahaha hari gini masih percaya hantu." Pak Roni tertawa terbahak-bahak.
"Dia pembunuh... dia pembunuh...!!" nenek itu menunjuk pak Roni namun tak dapat menyentuhnya.
"Bu, maaf sepertinya bapak ini membunuh neneknya Adel." Dita melangkah mundur menjauhi Pak Roni.
"Apa...??!! mas apa kamu?"
"Aaaaarrghhh sini kamu dasar istri sial banyak bacot...!!" Pak Roni menjambak rambut istrinya lalu menariknya ke ruang tamu melempar istrinya ke lantai sampai kepalanya membentur dinding dan pingsan.
Dita berusaha menolong ibu Aminah namun terlambat dan betapa kagetnya Dita bahwa ia mendapati Anan yang terbaring tak sadarkan diri. Di samping Anan terdapat sebatang kayu besar yang kemungkinan dipakai untuk melumpuhkan Anan.
Dita mencoba berlari menuju pintu keluar namun terkunci.
"Hahahaha... mau kemana kamu anak manis... sepertinya kamu akan jadi milikku malam ini?" Pak Roni memandang Dita penuh nafsu seperti serigala kelaparan yang hendak menerkam domba buruannya.
"Andri tolong aku." bisiknya.
"Aku dari tadi udah berusaha untuk nolong Anan Ta, tapi orang ini gak bisa aku sentuh."
sahut Andri berusaha melindungi Dita yang merentangkan kedua tangannya di depan tubuh Dita.
"TOLONG...!! SIAPAPUN TOLONG....!!! Dita berusaha menjerit sekuat tenaga.
"Persis nenek tua itu saat meminta tolong, namun apakah kamu sadar, tidak ada tetangga disekitar sini hahahaha."
"Jadi kamu membunuh neneknya Adel?" pekik Dita .
"Siapa suruh dia mengganggu kesenanganku, aku langsung menghajarnya dengan batang golok itu lalu menebas nya, ku lempar jasadnya ke lubang di kebun biar habis dimakan tikus hahhahaha."
"Dasar gilaaaa...!!" bentak Dita.
"Yah, mungkin aku gila, bahkan sekarang aku tambah gila, ingin segera ku lahap tubuhmu itu hahahhaa."
Dita mencengkeram pinggang Andri ketakutan yang sangat amat dia rasakan dan Andri masih berusaha melindungi Dita dari monster ini entah berhasil atau tidak...
***
To be continued...
__ADS_1
Happy Reading...😘😘