
Sebelum membaca klik like yak...
let's vote for me boleh yak...
apalagi koin seikhlasnya juga boleh banget...
Rate bintang lima jangan lupa...
thank u so much... love u all... 😘😍😊
***
Dita membuka map biru tersebut, terdapat beberapa lembar kertas di dalamnya dan betapa terkejutnya Dita saat ia membaca lembaran wasiat pak Herdi tersebut.
"Aku enggak salah baca kan Nan?" Dita menatap Anan.
"Itu benar memang nama kamu." ucap Anan menunjuk nama Dita yang tertulis di lembaran wasiat milik Pak Herdi.
"Kenapa harus saya pak, saya gak punya hubungan apa - apa sama pak Herdi, memangnya tidak ada pihak keluarga yang lain?" tanya Dita yang terkejut setelah membaca wasiat pak Herdi yang menyatakan lima puluh persen dari kekayaannya diberikan kepada Dita, dua puluh lima persen kepada yayasan kesehatan untuk anak dan dua puluh lima persen lainnya di berikan untuk pembangunan rumah ibadah.
"Anda sudah membacanya kan? sebenarnya beliau memiliki sepupu yang jauh di kota Utara."
"Lalu kenapa diberikan kepada saya? saya masih merasa bingung dan heran." ucap Dita menyedot milkshake nya yang baru saja tiba.
"Semua kekayaan Tuan Herdi adalah hasil jerih payahnya keluarga Tuan Winata semata, asal tau saja keluarga sepupunya itu selalu bergantung kepada Tuan Winata ayah Tuan Herdi. Salah satu perusahaan milik Tuan Herdi juga sudah jatuh ke tangan keluarga sepupunya itu.
"Lalu?" tanya Anan.
"Sudah belakangan ini beberapa kali sepupu Tuan Herdi yang bernama Tuan Anwar datang ke lapas menjenguk Tuan Herdi padahal beliau tak pernah hadir memberikan dukungan saat persidangan dan sebelum-sebelumnya sekedar untuk silaturahmi"
"Lalu kenapa dia tiba-tiba menjenguk pak Herdi ke lapas?" tanya Dita.
__ADS_1
"Dia hendak meminjam uang karena terlilit hutang berjudi di Hongkong."
"Lalu pak Herdi tak mau meminjamkan uang padanya jadi anda curiga sepupunya ini membunuh pak Herdi?" ucap Anan.
"Tepat sekali, beberapa waktu lalu saat Tuan Herdi melakukan operasi pemasangan tangan palsu, setelah operasi semuanya baik-baik saja dan beliau diperbolehkan pulang, sampai di pesawat menuju lapas Tuan Herdi mengalami kejang - kejang yang membuat nyawanya hampir tak tertolong, namun ia masih dapat bertahan sehingga ia di rawat di rumah sakit keluarga."
"Milik saya." ucap Anan ada nada bangga di ucapannya.
"Oh jadi anda pemilik rumah sakit itu bukan ibu dokter Dewi Maharani?" tanya bapak pengacara kepada Anan.
"Iya dia juga pemiliknya, dan dokter Dewi itu Tante saya."
"Oh begitu." pak Kevin tersenyum hangat kepada Anan dan Dita.
"Jadi maksud pembicaraan ini, ada kemungkinan kali ini kematian pak Herdi karena pembunuhan yang direncanakan oleh sepupunya?" tanya Dita yang asik mengunyah kentangnya.
"Benar sekali, namun setelah saya menyelidiki rekaman cctv tadi tidak ada pengunjung yang mirip tuan Anwar."
"Mungkin si Anwar itu membayar orang lain untuk melakukan nya." sahut Anan.
"Hmmmm jadi begitu yak, kasian sekali pak Herdi." ucap Dita penuh kesedihan.
"Mohon maaf, saya pikir anda itu calon istri tuan Herdi saat membuat wasiat ini karena tuan bilang dia sangat mencintai anda." ucap Pak Kevin.
"Ehm ehm maaf ya pak, Dita ini cuma punya saya, milik saya, dan kami akan menikah Minggu depan, jadi pak Herdi itu cinta yang bertepuk sebelah tangan " sahut Anan.
"Maafkan saya, maafkan ucapan saya, saya hanya menyampaikan wasiat dan pesan tuan Herdi." ucap Pak Kevin penuh penyesalan.
"Enggak apa-apa pak, Anan emang suka gitu." sahut Dita sambil melotot ke arah Anan.
"Baiklah kalau begitu saya harap anda besok bisa datang ke kantor saya untuk menandatangani dokumen yang akan saya siapkan. Mengenai wasiat ini akan saya rahasiakan dari sepupu Tuan Herdi, saya telah membuat wasiat palsu yang disarankan oleh tuan Herdi dimana wasiat itu tertulis bahwa tuan Herdi menyerahkan seluruh harta tuan Herdi untuk yayasan amal."
__ADS_1
"Karena jika si Anwar tau sebagian harta pak Herdi adalah Dita kemungkinan nyawa Dita terancam kan?" ucap Anan.
"Anda benar tuan muda, jadi saya harapkan kehadiran nona Dita besok di kantor saya."
"Emmm saya akan memikirkan nya Pak pengacara, saya bingung saya tak merasa berhak atas harta pak Herdi." ucap Dita.
"Anda baik sekali nona, biasanya banyak orang yang akan senang dan berebut mendapat harta, tidak bimbang seperti anda ini."
"Iya dong pak, makanya saya jatuh cinta sama perempuan ini." sahut Anan.
"Begitu pula tuan Herdi." ucap Pak pengacara menimpali.
"Baiklah saya permisi pamit, terima kasih atas waktunya, ini uang untuk membayar makanan ini."
"Tak usah Pak, pakai uang saya saja." ucap Anan bangga sambil tersenyum.
"Terima kasih tuan Anan, oh iya sampaikan salam saya pada dokter Dewi." ucap Pak Kevin tersenyum malu.
"Wah... mau minta nomor telepon Tante sekalian gak?" Anan menggoda pak Kevin.
"Saya sudah punya, namun saya tak pernah berani untuk menghubungi dokter Dewi, yang saya tau dia juga sudah punya pasangan seorang photograper."
"Oh udah putus pak, Tante Dewi jomblo." sahut Dita tertawa kecil.
"Hmmm baiklah, terima kasih informasinya, jangan lupa nona Dita datang ke kantor saya besok siang."
"Oke pak." sahut Dita.
****
To be continue...
__ADS_1
Happy Reading...
Jangan lupa di vote dan tengok novel baruku juga ya di 9 lives, ikuti tentang keseruan Zee si penyihir bersama para makhluk aneh lainnya. 😘😘😘